
Aku menutup mulut ketika menguap. Tanganku yang menutup mulut di tarik oleh Senior Wonbin yang berjalan di sampingku.
Senior Wonbin memandangi tanganku yang memerah, "Kau belum memberikannya obat?"
Aku memandangnya, "Hanya terkena panas sedikit."
Senior Wonbin menatapku aneh, "Tetap bisa berbekas jika tidak di beri obat."
"Hmm.." gumamku dan menarik tanganku dari tangannya, tapi dia tidak melepaskan tanganku. "Senior..." pintaku.
Senior Wonbin menggenggam tanganku dan memasukkannya ke saku jaket yang ia kenakan.
Aku melirik kanan dan kiri, "Senior.." bisikku.
Senior Wonbin menatapku, "Salah sendiri kenapa terluka, aku akan menjagamu dengan baik hingga tiba di apartemen." jawabnya santai.
Walaupun masih sebal, aku tetap tersenyum. Tinggal bersamanya benar-benar sesuatu yang berbeda. Dia sedikit posesif, namun sangat tenang. Dia selalu menjagaku hingga rasanya akan aneh jika tidak ada dia di sekitarku.
+++
Setelah tinggal bersama, tidak lebih dari satu bulan kami bisa menahan diri kami masing-masing untuk tidak melakukan hubungan seksual. Jika melihat fisik Senior Wonbin, siapa yang bisa menahan dirinya jika berbagi tempat tidur terus-terusan?
Senior Wonbin memelukku dari belakang di tempat tidur setelah malam erotis kami. Ujung jarinya mengelus lenganku, bibirnya mengecup bahuku lembut.
Kepalaku menoleh ke belakang memandangnya.
Senior Wonbin menatapku dengan sebelah alis bergerak-gerak. "Kau menyukainya?" tanyanya.
Aku mengulum bibir menahan senyuman, "Hmm.." gumamku membenarkan.
"Aku masih bisa memberikannya lagi jika kau ingin.." goda Senior Wonbin.
Mataku terpejam menahan tawa, "Aku tidak sanggup lagi malam ini.." rengekku.
Senior Wonbin menahan tawa, lalu mengecup pipiku. "Hanya bercanda.." ucapnya.
Aku memutar tubuhku sedikit untuk memandangnya lebih jelas, "Tinggal bersamaku, bertemu setiap hari bersama, berhubungan seksual bersama..." ucapku pelan, "Apa kau tidak bosan?'
Senior Wonbin tampak kaget, "Hm? Apa maksudmu? Aku bosan?"
Kepalaku mengangguk, "Hmm.."
Mata Senior Wonbin menyipit, "Kau yang bosan denganku ya?"
Aku menahan tawa, "Aku? Bagaimana mungkin?" tanganku terulur ke pipinya.
Senior Wonbin mengerutkan hidungnya gemas, "Tidak perlu mempertanyakannya." ucapnya.
Aku tersenyum menatapnya, "Kita bertemu ketika masih sekolah... Sudah berjalan empat tahun sekarang." mataku memandang ke bawah, "Kudengar hubungan lama itu akan dilanda kebosanan.." lanjutku dengan suara semakin kecil.
"Pffftt... siapa yang mengatakannya?" tanya Senior Wonbin lucu.
Mataku memandangnya lagi, "Teman-teman kampusku yang sudah menjalani hubungan lama dengan pacar semasa SMA-nya sudah putus semua." jelasku.
Senior Wonbin menopang kepalanya dengan satu tangan untuk menatapku, "oh ya?"
"Hmm.." ucapku sedih, memikirkannya saja sudah membuatku sedih.
Senior Wonbin menahan senyuman, "Aku akan menceritakan sebuah kisah padamu." ucapnya.
Ucapan itu membuatku antusias, dia selalu bisa menciptakan sebuah cerita yang menarik. Kemampuannya semakin baik dan baik seiring berjalannya waktu.
"Ohh.." tanpa sadar aku berkomentar.
"Setelahnya, pertemuan itu mengantarkan mereka menjadi teman pena. Saling berbalas surat dari bulan ke bulan. Di libur semester selanjutnya mereka berjanji untuk saling bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan." Senior Wonbin melanjutkan, "Hubungan itu sangat manis, sangat jujur seperti usia mereka yang masih belia. Tapi seperti yang semua orang tau, kehidupan nyata itu tidak semanis percintaan remaja."
Kepalaku mengangguk membenarkan.
"Di masa kuliah mereka hampir berpisah karena apa pun yang mereka lakukan dan putuskan terasa sangat salah. Mereka masih egois dan berjiwa muda." Senior Wonbin mulai masuk ke ******* ceritanya. "Mereka juga sempat berpikir untuk menyudahi hubungan mereka karena terasa terlalu melelahkan. Lebih baik bertemu dengan orang baru saja. Mereka memutuskan untuk menjalani hidup seperti mereka putus dulu, mmm... seperti.. break." ia menemukan kata yang tepat.
Kisah itu sangat menarik perhatianku, aku penasaran bagaimana kisah mereka berakhir.
"Ya.. awalnya mereka merasa hidup jadi lebih nyaman setelah tidak bersama dulu. Tapi setelahnya... Mereka mulai merasa ada sesuatu yang kurang. Seperti hidup yang mereka lalui tidak lagi sama. Apa yang mereka ingin lakukan justru terasa tidak nyaman." ia diam sejenak menatapku.
"Mereka kembali bersama?" tanyaku ingin tau.
Senior Wonbin mengangguk membenarkan, "Sepasang kekasih ini bertemu lagi di suatu malam, membicarakan banyak hal. Tentang masa depan. Hingga mereka menyadari bahwa masing-masing dari mereka membayangkan masa depan bersama."
Mengetahui itu membuatku tersenyum lebar.
"Setelah itu, mereka tidak terpisahkan. Ketika waktu menjadi sulit, mereka akan bertengkar, berteriak satu sama lain, menangis dan saling memaki. Tapi mereka tau bahwa mereka tidak ingin berpisah." Senior Wonbin melanjutkan kisahnya, "Sesulit apa pun... Mereka pelan-pelan belajar untuk menangani masalah itu lebih baik dan lebih baik lagi. Bersama." ia memberi tekanan pada kata di akhir itu. "Lalu tanpa terasa sudah hampir 30 tahun mereka tinggal bersama, bertemu setiap hari, berhubungan seksual bersama.." ia berbisik di kalimat itu, membuatku tersenyum lucu. "Tapi mereka masih melakukannya.. Menghasilkan tiga anak yang sekarang sudah beranjak dewasa. Mereka masih berdebat, masih saling cemburu, masih saling ngambek. Tapi mereka tau mereka saling mencintai dan tidak ingin berpisah."
Aku menunggu kelanjutannya lagi, namun Senior Wonbin tidak mengatakan apa pun lagi. "lalu... Apakah mereka bahagia sampai akhir?"
Senior Wonbin tersenyum mendengar pertanyaanku, "Kisah mereka belum berakhir, mereka masih terus berdebat, saling cemburu, saling ngambek..." ucapnya.
Dahiku berkerut, "Oh ya? Ada kisah yang seperti itu?"
Senior Wonbin mengangguk membenarkan, "Ada.." jawabnya, "Mereka adalah orangtuaku..."
Aku berusaha mencerna dulu. Apa aku salah dengar? Dia bilang siapa? "Hm?"
Senior Wonbin tertawa kecil karena reaksi di wajahku, "Benar... Itu adalah kisah kedua orangtuaku." jelasnya, "Yang menghasilkan putra tampan sepertiku.." ucapnya sembari memegang pipinya dengan ekspresi manis.
Aku tersenyum tak percaya, "Wuah.. itu romantis sekali."
"Hmmm... Lebih romantis kisah kita." ucap Senior Wonbin dan memberikan kecupan di pipi dan rahangku.
Aku tertawa kecil, "Senior..."
Senior Wonbin mengangkat wajah menatapku, "Lihatkan? Hubungan panjang bisa saja berhasil, selama yang kau masih menginginkanku dan aku masih menginginkanmu."
Aku menahan senyuman, tanganku merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Jika suatu saat kau menginginkan orang lain.." ucapku pelan, "Kau bisa mengatakannya padaku." aku menatap kedua matanya, "Aku akan pergi sendiri."
Senior Wonbin menatapku aneh, "Kau terdengar seperti memang ingin pergi."
Ucapan itu membuatku ingin tertawa, "Senior..."
Senior Wonbin tersenyum dan menatapku lekat, "Jika kau yang menginginkan orang lain..." matanya menyipit, "Kau tidak akan bisa pergi." lanjutnya dengan nada mengancam.
Ucapan itu membuatku tertawa terbahak-bahak, "Nanti aku bisa jadi ide untuk ceritamu." ucapku.
Senior Wonbin tersenyum, menciumiku lagi. Lalu memberi celah di antara wajah kami, "Ide yang sangat bagus!" bisiknya, ia mencium pipiku sepenuh hati. Lalu loncat dari tempat tidur sembari menyibak selimut.
Aku memandangnya bingung karena turun dari tempat tidur, mengenakan ****** ******** dan membawa laptopnya keluar. Aku bergerak duduk, "Kau akan kemana?" tanyaku.
Senior Wonbin memandangku, "Tidurlah.. Aku akan menulis sebentar." ia mengedipkan sebelah mata dan hilang dari balik pintu.
Aku menahan senyuman, lalu kembali berbaring sembari menyelimuti diriku.