Season Of You

Season Of You
— 31 —



"Udara akan sangat dingin.." Senior Wonbin mengikat tali jaket hoody di leherku hingga membuatku tercekik.


"Senior.." pintaku sembari menarik tangannya dari leherku


Senior Wonbin tertawa lucu, "Tapi udaranya memang mulai dingin." ucapnya.


"Hmm.." ucapku mengerti. Ia membuatku mengenakan celana olahraga panjang dan jaket hooby, sementara ia mengenakan baju kaus lengan panjang dan celana pendek.


"Hei.." terdengar suara yang cukup friendly.


Aku dan Senior Wonbin menoleh.


"Senior.." ucap Senior Wonbin sembari mengangguk sopan, ia menarikku menghampiri Senior Pyo.


Senior Pyo tersenyum, "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya padaku. Ia terlihat sangat bugar, baju kaus lengan pendek dan celana olahraga yang ia kenakan tidak bisa menutupi otot di tubuhnya. Lengannya di tumbuhi bulu yang membuat terlihat seksi.


"Sudah sangat baik, Senior." jawabku.


"Syukurlah.." jawab Senior Pyo, ia melirik Senior Wonbin. "Seseorang terlihat sangat khawatir kemarin.." godanya.


Senior Wonbin menahan senyuman melirik Senior Pyo, "Cukup, Senior.." ucapnya.


Aku tidak tau harus tersipu atau tidak.


"Sudah... Ayo jogging.." ucap Senior Wonbin sembari menarik bahuku dan berjalan duluan.


Satu hal yang selalu tidak kupunya, stamina. 10 menit adalah batasku untuk berlari atau berolahraga. Wajahku terasa panas, keringat sudah memenuhi wajahku. Aku bergerak duduk ke bangku yang akan kulewati.


Senior Wonbin yang berlari di depanku bersama Senior Pyo berhenti, ia kembali ke belakang untuk menghampiriku. "Hei.. kau baik-baik saja?" tanyanya. Aku bisa merasakan tangannya menyentuh bahuku.


"Ya.. aku akan duduk disini saja dulu.. Kau lanjutkan saja lagi." ucapku padanya.


Senior Wonbin menghela nafas dalam, menyeka keringat di bawah dagunya. Ia menoleh pada Senior Pyo yang menunggu.


"Sudah.. lanjutkan saja.. Aku akan duduk disini." ucapku sembari mendorongnya pergi.


Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Duduk saja disini.." ucapnya mengingatkan.


Kepalaku mengangguk.


"Aku akan berlari memutari taman dan kembali kemari lagi." ucapnya memberitauku.


Ucapannya membuatku tersenyum, lalu mengangguk mengerti.


Senior Wonbin meremas bahuku sedikit, lalu kembali berlari lagi.


Aku menghembuskan nafas panjang, menyeka dahiku dari keringat. Mungkin ikut jogging sore itu bukan itu ide yang baik. Aku merasa wajahku sangat panas. Aku terkejut sesuatu yang dingin menempel di dahiku, lalu menoleh.


Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di sebelahku, ia berpakaian semi formal, rambut klimis berkacamata.


Tangannya terulur menempelkan sebuah botol minuman dingin ke dahiku.


"Wajahmu merah seperti udang rebus." ucapnya, ia punya suara berat yang seksi.


"Oh..." aku memegang botol di dahiku dari tangannya. lalu mengangguk sopan.


Pria itu memperhatikan wajahku, "Kau sedang sakit?" tanyanya.


"Hm?" Aku bingung sendiri karena dia tidak kunjung pergi. "Ti-tidak..." jawabku.


Pria itu mengulurkan tangan ke wajahku, memegang rahangku, memutar wajahku ke kanan dan kiri sembari memperhatikan. "Wajahmu merah sekali. Ini bukan hanya karena berolahraga."


Aku memandangnya bingung.


Pria itu mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi seseorang. "Ya, disini membutuhkan pertolongan medis." ia menyebutkan tempat kami berada saat itu.


Dahiku berkerut, kenapa dia meminta bantuan medis? Tapi kenapa pandanganku mulai berputar? Apakah karena mendongak terlalu lama? Atau air di kepalaku terlalu dingin? Wajahku terasa sangat panas. Pandanganku bergerak. Lalu kepalaku membentur sesuatu di belakang dan semuanya gelap.


+++


Aku kembali ke ruang gawat darurat. Tidak perlu sampai di rawat, hanya perlu menghabiskan satu botol infus saja. Dan pria yang menghampiriku di taman adalah Dokter Jang, kekasih Senior Pyo.


Dokter Jang melipat kedua tangan menatapku dari balik kacamatanya. Tidak heran ia terlihat sangat keren. "Melihat dari rekap medismu, kupikir kau sudah tau kau punya limit atas tubuhmu sendiri?" tanyanya.


Aku bersandar di kasur yang dinaikkan bagian kepala 45 derajat. Kepalaku memandang ke bawah menyesal.


Senior Wonbin di sisiku tampak sangat khawatir.


Senior Pyo di sisi Dokter Jang menepuk dada kekasihnya pelan, "Hei.. jangan di omeli terus, dia pasti sudah mengerti sekarang."


Dokter Jang menghela nafas dalam, "Jangan kemana-mana sampai infusnya habis." ucapnya padaku lagi, lalu berbalik pergi.


Senior Pyo memperhatikan kekasihnya, "Woo.." panggilnya, ia segera menyusul.


Aku sedikit lega setelah Dokter Jang pergi, mataku berpindah ke Senior Wonbin yang menggenggam tanganku erat. Wajahnya terlihat sangat cemas. Mataku memperhatikan sekitar, semua orang tampak sibuk dengan dirinya sendiri. Tanganku menutupi tangan kami yang saling menggenggam dengan selimut.


"Seharusnya aku tidak berpikir untuk jogging." ucap Senior Wonbin.


Mendengar ucapan itu aku malah merasa bersalah. "Senior.. Ini bukan salahmu." ucapku.


Senior Wonbin mengangkat wajahnya memandangku, tampak penyesalan di dalam tatapannya. Pria tampanku terlihat seperti akan menangis, "Seharusnya aku tidak meninggalkanmu disana."


Tanganku yang lain memegang lengannya, "Sudah cukup." pintaku.


Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Kau dengar ucapan Dokter Jang? Kau kelelahan sementara keadaanmu belum membaik." Ia mengelus dahinya, "Aku bahkan tidak bisa menahan diriku.." lanjutnya bergumam, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku tau yang dia maksud, kegiatan seksual kami tidak pernah sebentar.


"Senior.." ucapku lagi.


Senior Wonbin menghela nafas dalam, lalu kembali memandangku. "Aku akan menjagamu lebih baik setelah ini.." janjinya.


Bibirku membentuk senyuman mendengar ucapannya.


"Aku akan menebus kesalahan hari ini.." ucap Senior Wonbin lagi, "Maafkan aku.."


Kepalaku menggeleng, "Tidak ada yang perlu di maafkan." ucapku, "Kau sudah sangat menjagaku, mau menjaga lebih baik bagaimana lagi?"


Senior Wonbin menjilat bibir bawahnya, "Pokoknya.." ucapnya kembali menegaskan, "Aku akan lebih menahan diriku.. Selama kau masih masa pemulihan, aku akan memastikan kau beristirahat, makan yang sehat hingga pulih."


Aku tertegun mendengar ucapan itu, kenapa terdengar sedikit aneh? "Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti.


"Tidak perlu khawatir, aku akan benar-benar menahan diriku." janji Senior Wonbin lagi.


Aku diam dulu, berusaha mencerna ucapan itu. "Tunggu.." aku menahan Senior Wonbin sebelum kembali berbicara lagi. "Maksudmu... Kau akan menahan diri dari..." aku memberinya tatapan yang aku yakin ia pasti mengerti.


Senior Wonbin mengangguk tanpa ragu.


Aku tertegun, "Kenapa?"


"Kau tidak lihat? Aku membuatmu kelelahan dan kembali masuk rumah sakit." ucap Senior Wonbin.


Aku mengedip-kedipkan mata bingung, tanganku memegang bahunya. "Tunggu.." ucapku lagi.


Senior Wonbin menatapku antusias, "Ada apa?"


"Mmm.." bagaimana ya mengatakannya? "Aku... merasa lebih baik setelah kita berhubungan intim." ucapku pelan.


Senior Wonbin diam cukup lama mendengar itu, "Oh.. benarkah?"


Kepalaku mengangguk membenarkan, "Mungkin jogging-nya saja yang di hentikan." lanjutku lagi.


Senior Wonbin diam lagi. Tak lama bibirnya membentuk senyuman, "Jogging-nya?"


Kepalaku mengangguk lagi, "Berolahraga membuatku lelah.."


Senior Wonbin berusaha menahan tawa, "Jadi kau lebih ingin berhubungan intim dari pada jogging?"


Bibirku membentuk senyuman malu dan mengangguk lagi.


Senior Wonbin tersenyum sangat lebar, hingga gigi rapinya terlihat. "Tapi sembuh dulu.." ucapnya.


Kepalaku mengangguk lagi.


Senior Wonbin melirik sekitar, membuatku juga ikut memperhatikan sekitar ingin tau apa yang membuatnya melakukan itu. Lalu yang kuketahui ia mendekati wajahku dan mengecup pipiku.


Hatiku berdesir merasakan itu. kupu-kupu dalam perutku berterbangan lagi. Bibirku membentuk senyuman malu sembari memandang ke bawah. "Senior.. nanti ada yang lihat." ucapku mengingatkan.


Senior Wonbin tertawa kecil, "Istirahatlah lagi.. Kita tunggu infusnya habis."


Aku melirik botol infus di atas kepalaku, sudah tinggal setengah. "Hmm.." aku memandangnya lagi.


Senior Wonbin tersenyum dengan tatapan hangat padaku.


Kedua matanya sangat indah. Di bawah selimut tangannya mengelus tanganku.