
Dokter Kim mengerutkan dahi mendengar pertanyaanku, tak lama matanya menyipit. "Kau hanya mencari alasan agar bisa beristirahat di ruang kesehatan kan?" Tuduhnya.
Aku tertegun mendengar tuduhan itu, "Saya benar-benar datang untuk bertanya, Dok.." jawabku membela diri.
Dokter Kim menghela nafas dalam, "Kau di rundung teman sekelasmu?" Tanyanya mengulik.
"Tidak, Dok. Saya tidak di rundung siapa pun." Jawabku sembari bangkit, mengangguk sopan dan melangkah pergi.
Jika bukan Dokter Kim? Lalu siapa? Pertanyaan yang membingungkan. "Tapi siapa pun dia, aku sangat berterima kasih." Gumamku, bibirku membentuk senyuman dan berjalan riang menuju kelasku. Hingga aku berpapasan dengan para senior yang sangat suka menggangguku.
"Dojin! Kau sudah sembuh?!!" Mereka mulai mengerubungiku seperti benda menarik untuk di elus-elus dan di goda.
Kepalaku menunduk takut. Berusaha untuk tidak bertatapan dengan siapa pun dari mereka. Kakiku tanpa sadar bergerak mundur selangkah demi selangkah. Tubuhku terkejut merasakan tubuh seseorang membentur punggungku. Mataku menatap ke belakang ngeri.
Di depan salah satu loker, seorang senior bertubuh tinggi menoleh ke belakang. Oh Tuhan!! Dia senior yang kutabrak di depan mesin makanan ringan!! Bisa tidak hidupku tidak lebih sial dari ini?
"Ow.. Hong Wonbin? Kau tidak apa-apa?" Tanya para senior yang mengitariku.
"Hei... kau harus minta maaf." Seorang senior menepuk punggungku sedikit keras hingga aku bisa merasakan dentumannya sampai ke dadaku.
Aku meringis merasakan tepukan itu dan segera membungkuk sopan, "Ma-maafkan aku!" Ucapku menyesal pada senior yang di panggil Hong Wonbin itu.
Senior Wonbin memandangku sejenak, lalu memandang yang lain. "Jangan buat keributan di lorong." Ia menutup lokernya, memutar kunci dan berjalan pergi begitu saja.
Aku meliriknya pergi, diam-diam menghela nafas lega. Tepukan di belakang kepalaku membuatku tersentak.
"Lihat! Kau membuat kami di tegur!" Ucap senior di belakangku.
Aku hanya memandang ke bawah, "Ma-maaf..."
Ya, lagipula apa yang kuharapkan? Akan ada seseorang yang bertingkah seperti pahlawan dan mengeluarkanku dari neraka itu? Aku hanya berharap... besok ketika aku bangun tidur, SMA sudah selesai.
Pak!
Aku tersentak kaget merasakan tepukan di pipiku ketika aku di kafetaria. Sendok di tanganku sampai terlepas dan jatuh ke nampan makananku. Dan aku tau, aku tidak akan bisa menghabiskan makanan yang baru mulai kumakan.
"Kau makan apa?" Tanya seorang senior.
Aku hanya memandang ke bawah.
Seorang senior yang memegang botol soda meneguknya dulu, "Oh... di tambah ini pasti lebih enak.." ia menuangkan soda ke dalam nampanku.
Terdengar yang lain tertawa.
Aku hanya bisa menatap nampan makananku. Tidak berani untuk menatap mereka. Kepalaku menoleh ke samping, Eunwoo menatapku dari meja lain. Ia duduk disana dengan teman-temannya. Aku menatapnya meminta bantuan, tapi dia kembali menunjukkan padaku bahwa dia tidak peduli padaku lagi. Ia hanya memalingkan wajah dan berpura-pura tidak lihat.
Pak!
Tepukan lain kembali mengenai wajahku.
"Kenapa bengong? Ayo makan..." perintah senior yang menuangkan soda tadi.
'Aku baik-baik saja..' batinku berusaha menghibur. Tanganku mengambil sendok, menyendokkan nasi dengan soda, walaupun aku tidak ingin, tapi aku hanya ingin semuanya segera berakhir. Tanganku memasukkan sendok ke mulut.
"Ooooohhh... hahahaha..." para senior itu tertawa puas.
Aku berusaha keras mengunyahnya, juga menelannya walaupun belum terkunyah semua. Rasanya aneh sekali. Mereka mengambil sendok dari tanganku, menyendokkan sayuran dan lauk-pauk dengan soda, memaksaku menerima sendok. Mataku terpejam erat, memaksa untuk menelannya walaupun aku ingin muntah. Tidak! Aku akan menelannya! Aku harus menelannya!
"Hhhggg!!" Aku nyaris muntah. Aku berusaha keras menahannya.
Senior di depanku menatap wajahku dari jarak sangat dekat, "Kenapa?! Kau akan memuntahkannya?! Coba saja jika kau berani!" Ancamnya.
Setelahnya.
"Huwwwwwwweeeeekkk!!" Aku memuntahkan semua yang masuk ke perutku di toilet. Sepertinya makanan tadi malam juga. Aku tidak bisa muntah lagi namun rasa mualnya masih menyiksaku. Aku bergerak duduk ke lantai dan memeluk lutut. Aku sangat benci mengakuinya, tapi aku sangat cengeng. Aku tidak bisa membela diriku, aku hanya bisa menangis diam-diam seperti anak perempuan manja. Kapan semua ini akan berakhir?
Aku tidak tau berapa lama aku duduk disana, tapi akhirnya aku punya tenaga untuk bangkit lagi. Tidak lupa menekan flash toilet beberapa kali memastikan tidak ada bekas muntahan yang tersisa. Aku tertatih-tatih keluar dari bilik toilet, satu tangan memegang perut. Langkahku terhenti menyadari ada seseorang berdiri memandangiku.
Senior Wonbin ada disana, menatapku tanpa ekspresi. "Kau baik-baik saja?"
Oh.. suara itu. Kenapa terdengar familiar? Namun pandanganku terasa berat. Lalu duniaku bergoyang, aku seperti melihat senior Wonbin melotot kaget dan dengan cepat menggapaiku.
+++
Aku membuka mata perlahan. Nafasku terasa panas. Terlalu dingin. Setelah beberapa saat aku menyadari ada sebuah kain basah di dahiku. Dan aku ada di tempat favoritku, ruang kesehatan.
"Sudah sadar?"
Hm? Itu bukan suara Dokter Kim. Mataku mencari-cari asal suara itu, lalu wajah seorang pria berkulit putih muncul di depan wajahku. Siapa itu?
Pria itu menatap kedua mataku, tangannya terulur ke kain basah di dahiku dan melakuan sesuatu di sisi yang tidak terlihat oleh mataku. "Dokter Kim tidak disini hari ini." Ucapnya, lalu kembali ke arahku untuk meletakkan kain basah tadi.
Mataku berkedip-kedip bingung, aku ingin bergerak atau berbicara, tapi tubuhku tidak membiarkanku melakukannya. Kenapa mataku terasa berat lagi? Sekeliling wajahku terasa panas. Apa yang terjadi? Apakah aku akan mati? Seperti ini?
Dan semuanya hening...
Setelah beberapa waktu kemudian. Aku tidak tau berapa lama, aku kembali membuka mata. Kali itu aku merasa lebih nyaman. Aku tidak tau apa yang terjadi. Namun aku bisa melihat sekitarku di terangi lampu, bukan lagi cahaya matahari. Aku menghela nafas dalam, akhirnya aku bisa menggerakkan tubuhku. Hati-hati aku bergerak duduk, tanganku mengambil kain basah dari dahiku. Kepalaku menoleh ke samping, baskom berisi air ada disana. Kepalaku menoleh ke sisi lain, pemandangan yang tidak bisa kupercaya terlihat. Ada seorang pria menelungkup ke kasur di sampingku. Dia mengenakan baju seragam juga, terlihat jelas sudah berantakan.
Pria itu terbangun, mungkin karena gerakan di kasur. Ia menatapku mengantuk, "Sudah bangun..." ucapnya pelan.
Hm?! Senior Wonbin?! Benarkah?! Aku tidak salah lihat?!
Senior Wonbin mengelus matanya, lalu memperhatikan ekspresiku. "Sudah baikan?"
Ia hanya berbicara dengan nada biasa, tapi kenapa terdengar lembut sekali? Kepalaku memandang ke bawah dan mengangguk.
Senior Wonbin menghela nafas dalam, bergerak bangkit sambil mengambil kain basah di tanganku. Ia berjalan memutari tempat tidur dan meletakkan kain itu ke dalam baskom. "Tadi aku sempat membeli makanan sebelum gedung sekolah di kunci.." ucapnya dan melakukan sesuatu pada bungkusan di meja.
Mataku membesar, "Di kunci?!" Tanyaku dan memandang sekitar, diluar ruang kesehatan memang sudah gelap.
"Tidak perlu khawatir, kita bisa keluar besok pagi." Ucap Senior Wonbin santai, ia meletakkan tempat dengan steorofoam berisi bubur ke tanganku, "Makan saja dulu, kau harus minum obat."
Aku memandang makanan itu, "Oh.." aku mengenalinya, itu... makanan di atas mejaku tempo hari. Aku memandang Senior Wonbin tak percaya.
Senior Wonbin tampak bingung mendapat tatapanku, "Kenapa? Tidak suka?"
"Senior..." ucapku pelan, "Apakah... hanya... jika..." aku memberi penegasan, "Kau yang meletakkan makanan di kamarku tempo hari?" Tanyaku hati-hati.
Senior Wonbin mengedip-kedipkan matanya bingung, "Ahhh.. kau mengigau ketika itu.." ucapnya sendiri.
Ucapan itu membuat kedua pipiku terasa panas, "Mengigau?! A-aku?" Tanyaku kaget.
Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Sudah... makan saja dulu. Aku akan membersihkan ini." Ia berjalan ke kamar mandi di ruangan itu, biasanya itu hanya boleh di gunakan oleh dokter atau guru.
Apa maksudnya? Kenapa dia malah pergi? Aku mengigau apa? Apakah aku mengatakan sesuatu yang bodoh? Ya ampun... rasanya ingin pingsan lagi saja.
Setelahnya.
Aku berbaring canggung di tempat tidur, sedangkan Senior Wonbin berbaring di kasur kosong di sebelahku. Mataku melirik ke samping, ia terlihat tidur dengan nyaman. Aku tidak begitu tau tentangnya, dia selalu menyendiri di sekolah namun tidak ada yang merundungnya. Bukan, tidak ada yang berani. Kudengar dia berasal dari keluarga kaya. Dia terlihat sangat keren karena nyaman pergi kemana pun di sekolah sendirian. Jika aku bisa seperti dia, sayangnya aku hanya pecundang yang bahkan tidak bisa berbicara untuk dirinya sendiri. Aku menghela nafas dalam dan memejamkan mata untuk tidur.