
Aku keluar dari kamar setelah mandi.
Senior Wonbin tersenyum melihatku muncul, "Ayo sarapan." ajaknya.
Aku sudah bisa mencium aroma masakan dari tempatku berdiri. Kakiku melangkah ke meja makan dan tersenyum lebar melihat makanan disana, "Wuahh.."
Senior Wonbin meletakkan mangkuk nasi ke depanku, "Duduklah.." ucapnya.
Aku bergerak duduk sembari memperhatikan nasi di mangkukku, juga di mangkuknya. "Nasinya lunak sekali."
"Ya.. kau belum bisa makan makanan keras." jawab Senior Wonbin, "Makanlah..."
Bibirku membentuk senyuman mendengar ucapannya, lalu mulai makan.
"Pelan-pelan.." ucap Senior Wonbin mengingatkan.
"Hmm.." gumamku pelan.
Senior Wonbin tersenyum memandangku, ia juga mulai makan.
"Mmm.. kau tidak menulis apa pun beberapa hari ini.." ucapku membuka pembicaraan.
"Hmm.." Senior Wonbin mengangguk membenarkan, "Aku sudah menyelesaikan cerita yang terakhir, juga sudah menyerahkannya ke agensi. Jadi tinggal di terbitkan sesuatu jadwal saja secara online."
"Ohh.." aku manggut-manggut mengerti, "Tapi biasanya kau akan mulai mengumpulkan ide baru atau melanjutkan ke cerita selanjutnya."
Senior Wonbin meneguk air di gelas dulu, "Aku sudah membicarakannya pada agensi, aku ingin istirahat dulu selama dua atau tiga bulan ini." jawabnya, membuatku sedikit terkejut. "Sejak mulai menulis sebagai Penulis Yellow, aku selalu menulis setiap hari, mencari ide baru, mencari latar belakang untuk karakter baru... Ahh.. sudah hampir 6 tahun aku melakukan itu terus-menerus." Ia menghembuskan nafas frustasi dan menatapku, "Kau tau betapa lelahnya aku kan?"
Bibirku membentuk senyuman prihatin, "Ya ampun... suamiku sudah bekerja sangat keras.." tanganku terulur ke arahnya diatas meja.
Senior Wonbin memegang tanganku dan mengangguk sedih.
"Tapi, apa tiga bulan tidak terlalu cepat?" tanyaku.
Senior Wonbin menghembuskan nafas panjang, "Awalnya aku mengajukan enam sampai satu tahun, tapi pihak agensi merasa keberatan karena itu akan mempengaruhi ratingku novel online."
Helaan nafas berat keluar dari mulutku, "Benar juga, banyak penulis baru setiap hari." ucapku, "Kau harus tetap mempertahankan pembacamu kan?"
Senior Wonbin mengangguk membenarkan, "Tidak apa-apa.. Aku akan mikirkan jalan cerita baru juga, jadi bisa santai sedikit."
Aku mengelus belakang tangan Senior Wonbin dan menatapnya dalam.
Senior Wonbin tersenyum hangat, "Aku berencana hanya akan menyelesaikan kontrak dengan agensi, setelahnya aku berpikir untuk mulai menulis novel untuk di terbitkan dalam bentuk buku."
Aku menatapnya antusias, "Oh... novel di terbitkan dalam bentuk buku?"
Senior Wonbin mengangguk membenarkan, "Sudah ada beberapa penerbit yang menghubungiku, tapi aku belum memberikan jawaban karena masih terikat kontrak dengan agensi."
Mendengar itu membuatku sedikit tidak nyaman, "Mmm.. selama kau yakin dengan apa yang akan kau lakukan..." bibirku membentuk senyuman, "..aku akan selalu mendukungmu."
Senior Wonbin tersenyum, "Manis sekali.." ucapnya.
Kepalaku mengangguk membenarkan, lalu kembali makan.
"Mmm.. Dojin." panggil Senior Wonbin.
Aku memandangnya.
"Kau sekarang dalam masa cuti, fokus saja pada pemulihan kesehatanmu. Ya?" pinta Senior Wonbin.
Aku tidak bisa menahan senyuman mendengarnya, "Ya.."
Senior Wonbin tersenyum dan kembali makan.
Hal yang sudah lama tidak kami lakukan. Bermalas-malasan di rumah. Kenapa kmai bisa tidak pernah melakukannya lagi.
Senior Wonbin duduk bersandar di sofa sembari membaca sebuah buku, aku menyandarkan punggung ke dadanya sembari ikut membaca buku yang ia pegang. Satu tangannya menyandarkan siku ke perutku, tanganku mengelus lengannya.
Kepalaku melirik ke atas, memperhatikan wajah seriusnya dari bawah.
"Fokus pada buku.." ucap Senior Wonbin.
Aku menahan senyuman, pandanganku kembali memandang ke buku. "Hmm.. mengantuk.." ucapku pelan.
"Tidur saja.." ucapnya.
Kepalaku kembali mendongak memandang wajah Senior Wonbin.
Senior Wonbin memandangku, "Ada apa?"
Bibirku membentuk senyuman, "Bukankah sudah lama kita tidak bersantai seperti ini?"
Senior Wonbin berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Benar juga.." jawabnya.
Aku menaikkan kedua kaki ke sofa, memutar tubuhku ke arah Senior Wonbin. "Jika dipikir-pikir kita terlalu sibuk dengan kegiatan kita hingga melupakan hal-hal seperti ini.." ucapku.
Senior Wonbin menutup bukunya, lalu menggunakan kedua tangan untuk menahan tubuhku. "Hmmm.. benar juga.."
Kedua tanganku naik menggantung di lehernya, "Selama aku proses pemulihan dan kau isirahat dari menulis..." ucapku memulai, "Ingin melakukan hal-hal yang dulu biasa kita lakukan?"
Senyuman Senior Wonbin semakin lebar, "Seperti berkencan? Bermesraan seperti ini?"
Kepalaku mengangguk membenarkan, "Ya.. Hal-hal kecil yang biasa kita lakukan bersama sebelumnya." ucapku, "Seperti makan malam bersama keluargamu..."
Mata Senior Wonbin menyipit, "Kau hanya ingin makan masakan ibuku kan?"
Aku tertawa kecil, "Ya ampun, suamiku memang yang paling mengerti aku."
"Pfffftt.. bagaimana tidak?" tanya Senior Wonbin gemas, lalu mengecupi wajahku.
Aku tertawa mendapat kecupan itu, "Senior..." pintaku.
Senior Wonbin menatapku sebal, "Kita sudah tidak di sekolah lagi.. Sampai kapan akan memanggilku 'senior'?" tanyanya.
Aku memandangnya bingung, "Lalu aku memanggilmu apa? Itu sudah kebiasaan."
"Panggil yang lain." jawab Senior Wonbin, "Hyung, Oppa, atau Yobbo?" godanya.
Aku menahan tawa, "Yang benar saja.."
"Hmm.. ayolah.. pilih satu." pinta Senior Wonbin.
Hidungku berkerut, "Tapi rasanya aneh sekali memanggilmu dengan panggilan lain."
"Panggilan itu tidak imut.." protes Senior Wonbin, "Kita terdengar seperti kakak kelas dan adik kelas." ucapnya, "Memangnya kita tinggal bersama karena satu kampus?"
Aku menghela nafas dalam dan menghembuskannya, "Aku akan memikirkannya.." jawabku.
Senior Wonbin menatapku sebal, "Janji akan di pikirkan?"
Kepalaku mengangguk membenarkan.
Senior Wonbin tersenyum, menurunkan wajah dan mencium bibirku lembut.
Mataku terpejam dan membalas ciuman itu.
+++
Aku menutup pintu lemari dan berjalan sembari mengenakan kardigan di luar baju kausku. Saat itu aku sempat memperhatikan Senior Wonbin sedang merapikan rambutnya di depan cermin.
Senior Wonbin melihatku dari pantulan cermin, "Sayang, apakah sudah waktunya potong rambut?" ia mengenyampingkan rambut depan yang sudah membentuk poni menutupi dahinya.
Aku menghampirinya untuk melihat dari dekat rambutnya, "Kau terlihat tampan.." pujiku.
Senior Wonbin memandangku masih sembari memegang poninya, "Benarkah? Tidak perlu di potong?"
Kepalaku menggeleng, "Sepertinya kau selalu cocok dengan potongan rambut apa pun."
Senior Wonbin menahan senyuman, "Baiklah.. Jika istriku menyukainya.." ucapnya.
"Ayo.." ajakku dan berjalan keluar kamar duluan. Kami akan pergi berbelanja siang itu ke supermarket.
Di dalam lift. Aku bisa melihat pantulanku dan Senior Wonbin yang berdiri bersebelahan. Aku setinggi bahunya lebih sedikit. Bisa terlihat ia sangat maskulin. Setiap wanita akan menoleh ketika ia berlalu. Aku terlihat lebih feminim. Jika mengenakan wig aku akan terlihat seperti wanita. Namun aku selalu berusaha untuk tidak terlihat kemayu, orang tuaku tidak menyukai itu. Mungkin yang ayah katakan benar, karena aku lebih lemah lembut, aku memerlukan pria yang maskulin seperti Senior Wonbin untuk mendampingiku.