
Saat yang ku tunggu-tunggu tiba.
Bisa duduk di halaman belakang lagi bersama Senior Wonbin untuk menikmati sandwich buatannya. Tidak heran dia bisa meracik sandwich seenak itu, pasti bakat itu ia dapatkan dari ibunya. "Sepertinya kau pintar memasak seperti ibumu.." ucapku.
Senior Wonbin menahan senyuman, "Fisikku seperti ayahku.." ucapnya, "Tapi sifatku seperti Ibu." Jelasnya.
Ahh.. sayang sekali kemarin aku tidak sempat melihat ayahnya. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku betapa miripnya mereka. "Apa kakak dan adikmu juga mirip ayahmu?" Tanyaku ingin tau. Mendengar tentang keluarganya membuatku bersemangat.
Senior Wonbin berkerut sejenak, "Kakakku mirip Ibu, tapi sifatnya seperti ayah." Jelasnya, "Dia sangat berbakat di bidang bisnis..." bibirnya membentuk senyuman, aku tau dia mengingat siapa. "Tuan putri..." benar kan.
Bibirku ikut tersenyum melihat senyumannya.
"Dia... sangat cantik dan manis sekali seperti Ibu." Lanjut Senior Wonbin, matanya mengarah padaku. "Tapi sepertinya bakatnya tidak.." ia tertawa kecil mengingat adiknya itu.
Aku benar-benar iri bagaimana ia menceritakan tentang keluarganya.
Senior Wonbin menatapku antusias, "Bagaimana dengan keluargamu? Aku ingin mendengar cerita tentang mereka.." pintanya.
Permintaan itu membuatku diam sejenak, "Oh.. keluargaku..." aku berpikir sejenak, "Kupikir aku sudah menceritakannya..."
"Kau punya saudara lain?" Tanya Senior Wonbin.
Aku berpikir sejenak, "Ya..." jawabku pelan, "Aku punya dua saudari dari ibuku, juga punya seorang saudari dan saudara dari ayahku."
Senior Wonbin menatapku menunggu apa yang akan kuceritakan. Tatapannya sangat mengintimidasi, membuatku khawatir dia akan kecewa karena ceritaku yang sama sekali tidak menarik.
"Saudari dari ibuku, yang paling tua berusia 14 tahun. Dari ayahku paling tua... mmm... 9 tahun, kurasa..." jawabku tidak yakin.
Senior Wonbin tersenyum mendengar ceritaku, "Apakah ada yang akrab denganmu?"
Bibirku membentuk senyuman kecut dan menggeleng pelan.
Senior Wonbin tertawa kecil, "Kau ingin ke rumahku saat liburan nanti?"
Aku tertegun mendengar ajakan itu, "Hm? Aku... ke rumahmu?" Tanyaku tak percaya.
Kepala Senior Wonbin mengangguk tanpa ragu.
Aku mengedip-kedipkan mataku tidak yakin, "Apa tidak apa-apa?" Tanyaku, "Maksudku.... Liburan nanti kan kau sudah lulus sekolah.." lanjutku hati-hati.
"Ahhh.. benar juga.." ucap Senior Wonbin, "Maaf, pasti kau juga harus pulang ke rumah kan?"
Rumah. Kata yang selalu memberikan kekosongan di hatiku. Mataku bergerak ke bawah, "Aku tidak punya rumah untuk pulang..." ucapku pelan.
Ekspresi Senior Wonbin luntur perlahan.
"Ayah ingin aku ke tempat ibu saja, ibu ingin aku ke tempat ayah saja.." bibirku membentuk senyuman sedih, "Aku tidak punya rumah..."
"Kalau begitu..." Senior Wonbin memulai ucapannya, "Ke rumahku saja."
Aku tertegun memandangnya, dia mengatakannya dengan sangat santai.
Senior Wonbin tersenyum, "Bagaimana?"
Tatapannya seperti undangan resmi ke hatiku. Memang terasa aneh, karena aku pasti membayangkan apa yang ingin kubayangkan saja. Bibirku membentuk senyuman dan mengangguk pelan.
"Nice!" Ucap Senior Wonbin dan melanjutkan makan sandwich-nya.
"Tapi... bukankah kau sudah harus fokus pada ujian akhirmu?" Tanyaku.
Senior Wonbin mengangguk membenarkan, "Tinggal beberapa bulan lagi..." komentarnya sendiri.
Mendengarnya saja sudah membuatku sedih, tinggal beberapa bulan lagi dan Senior Wonbin akan pergi dari sekolah. Apakah aku bisa bertahan tanpa dia?
"Sepertinya aku akan cuti dulu menulis untuk belajar.." lanjut Senior Wonbin.
Aku tertegun mendengar ucapan itu, namun sangat benar untuk di lakukan. "Hmmm..."
Senior Wonbin, "Akhir pekan aku ingin mencari sesuatu di toko buku..." ucapnya dan memandangku, "Ingin pergi bersamaku?"
Pertanyaan itu membuatku tertegun lagi, bibirku membentuk senyuman dan mengangguk setuju.
+++
Aku berjalan keluar dari kamar menuju pintu depan gedung asrama, tidak sabar untuk pergi bersama Senior Wonbin.
"Yun Dojin..."
Langkahku terhenti dan menoleh, dahiku berkerut melihat Eunwoo dengan wajah juteknya.
"Akan kemana kau?" Tanya Eunwoo, kenapa dia terdengar seperti ayahku?
"Akan ke toko buku..." jawabku pelan.
Eunwoo memperhatikan penampilanku, "Ke toko buku seperti orang akan berkencan."
Mataku membesar dan memperhatikan penampilanku, "Apakah berlebihhan!?"
Mulut Eunwoo terbuka tak percaya, "Apa maksudmu?" Tanyanya, sedetik kemudian wajahnya berubah kesal. "Kau akan pergi dengan senior Hong Wonbin?!"
Aku terkejut dia malah berseru, "Hei!" Bisikku dan melirik kanan dan kiri.
Eunwoo mendengus kesal, "Yang benar saja!" Ucapnya. Ia menatapku lekat, "Harus berapa kali aku mengingatkanmu?! Dia seperti itu karena tidak tau tentangmu!"
Oke, dia mulai mengganggu. "Sebenarnya apa pedulimu?" Tanyaku.
Eunwoo tertegun, "Apa maksudmu?"
Aku menghela nafas dalam, "Aku tau kau sangat membenciku, tapi apa semua orang juga harus membenciku?"
Eunwoo terdiam mendengar pertanyaanku.
Aku mulai emosional, "Hanya tinggal beberapa bulan sampai Senior Wonbin lulus sekolah.." ucapku pelan, "Tidak bisakah aku hanya mengaguminya sebentar sampai dia lulus?"
Eunwoo mendengus kesal, "Kau sangat..."
"...menjijikkan?" Potongku.
Mulut Eunwoo terbuka mendengar ucapanku.
"Lalu kenapa jika aku menjijikkan?" Tanyaku sedikit menantang. "Kau tidak perlu mengingatkanku setiap hari..." aku memalingkan wajah, berjalan cepat menuju pintu depan.
Berkat Eunwoo tadi, mood-ku jadi tidak baik. Menyebalkan.
Senior Wonbin yang mengendarai mobil melirikku kearahku, "Kau baik-baik saja?"
Aku tertegun dan menoleh, "Oh.. Ya.. maaf..." ucapku menyesal.
Senior Wonbin menahan senyuman, "Kenapa meminta maaf?"
Aku juga bingung, kenapa aku meminta maaf? Apa yang salah?
Kepalaku menggeleng pelan, "Tidak.. aku baik-baik saja." Jawabku.
"Kau bisa makan makanan pedas?" Tanya Senior Wonbin.
"Hm?" Tanyaku bingung.
"Aku sedang ingin makanan pedas.." jawab Senior Wonbin lucu.
"Ahhh..." aku tersenyum, "Jika tidak terlalu pedas aku bisa.."
"Oke!" Jawab Senior Wonbin sendang.
Dan hari seperti kencan itu berjalan dengan sangat manis. Dia bersikap seperti bagaimana dia biasanya. Membuatku merasa... spesial. Walaupun sebagai adik kelas favoritnya, aku sudah merasa sangat senang.
Perjalanan kembali ke asrama.
"Kau senang hari ini?" Tanya Senior Wonbin sembari melirik wajahku.
Aku sendiri tidak sadar senyuman tidak terlepas dari bibirku, "Ohh.. Yaa..." jawabku pelan.
Senior Wonbin tertawa kecil, satu tangannya terulur ke kepalaku.
Apa yang ia lakukan membuatku tersipu.
"Oh, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Senior Wonbin.
"Tentu.." jawabku.
"Eunwoo itu..." Senior Wonbin membuka pembicaraan, "...apakah kalian dekat?"
Pertanyaan itu membuatku memandang ke bawah. "Ohh... hanya... mmm... sedikit dekat." Jawabku ragu.
Senior Wonbin melirikku sedikit, "Teman dekat?"
"Hanya... dekat... sedikit.." jawabku, "Teman... sepertinya tidak juga." Aku bingung bagaimana menjelaskannya.
Senior Wonbin menahan tawa, "Dekat tapi sedikit, teman tapi tidak.." ucapnya menyimpulkan.
Aku garuk-garuk kepala, "Mmm.. hanya..."
"Aku nyaris berpikir kalian berkencan.." candanya.
Aku menatapnya kaget. Apa maksudnya?!
Senior Wonbin tersenyum lucu karena ekspresiku, "Hanya bercanda.." ucapnya.
Aku tau itu hanya bercanda, tapi sekeras apa pun aku memaksa diriku untuk tersenyum, bibirku tidak bisa.
Ekspresi Senior Wonbin luntur, "Benaran?" Tanyanya.
Mataku membesar dan menggeleng cepat, "Tidak! Tentu saja tidak!" Jawabku.
Senior Wonbin tersenyum lagi mendengar jawabanku, "Lihat.. lihat.. aku bercanda lho..."
Aku jadi malu sendiri karena ucapannya. Kenapa dia suka sekali membuat kupu-kupu berterbangan di perutku?
Senior Wonbin memarkirkan mobilnya di depan gedung asrama. Sebelum mematikan mesin ia memandangku, "Terima kasih menemaniku hari ini.."
"Aku hanya mengekorimu saja.." jawabku, "Senior yang mentraktirku makanan enak terus.."
"Uangku banyak dari hasil menulis.." canda Senior Wonbin.
Aku tertawa mendengar ucapannya, "Sampai besok, senior.." pamitku sembari membuka sabuk pengaman.
Tangan Senior Wonbin menahan tanganku di sabuk pengaman.
Aku memandang tangannya, juga memandangnya. Mesin mobil mati, membuat lampu yang menyorot dari mobil juga padam. Parkiran jadi gelap gulita karena ia parkir di tempat yang tidak tersorot lampu.
Senior Wonbin menatap kedua mataku, "Jika aku bertanya sesuatu, kau akan menjawabnya?"
Apa ini?! Dia akan menyatakan perasaannya?! Yang benar saja! Kenapa tatapannya seperti itu?!
Bibir Senior Wonbin membentuk senyuman, "Apa sih hubunganmu dan Eunwoo?"
Semua drama di kepalaku hancur berantakan mendengar pertanyaan itu, "Ha?" Tanyaku tak mengerti.
"Tidak apa-apa, tidak perlu di jawab." Ucap Senior Wonbin, "Aku akan membiarkan dia menjawabnya."
Dahiku berkerut tak mengerti. Tubuhku membeku merasakan kecupan di pipiku. Dia... baru saja... menyentuh wajahku dengan bibirnya... Apakah aku mimpi!? Apa ini?!
DUAKKK!!!
Aku tersentak kaget mendengar suara pukulan di kap mobil. Dahiku berkerut tak mengerti melihat Eunwoo di depan kap mobil seperti akan menghancurkannya.
Senior Wonbin tersenyum memandang Eunwoo. "Jika kalian tidak berkencan, sepertinya seseorang menyukaimu..." komentarnya.
Aku menatap Senior Wonbin kaget.
Belum sempat aku berkomentar, yang kuketahui Senior Wonbin sudah di seret keluar oleh Eunwoo. Aku bergegas keluar dari mobil, "Eunwoo! Apa yang kau lakukan?!"
Eunwoo menatapku marah, lalu menatap Senior Wonbin. "Jangan sok menjadi orang baik! Kau bahkan tidak tau apa yang kau lakukan.." ucapnya.
Kepanikan memenuhi sel-sel di dalam tubuhku, "Eunwoo.." panggilku sembari menarik tangannya.
Eunwoo menyentak tanganku, "Anak ini..." ia menunjuk wajahku.
Aku tertegun mendapat tunjukan itu.
Senior Wonbin memandangku dan Eunwoo bergantian.
Oh tidak... aku mulai merasakan ketidaknyamanan di perutku. Setiap gerakan Eunwoo terlihat lambat, dia menatapku penuh kemarahan.
"Yun Dojin..." Eunwoo membuka mulutnya lagi, matanya berpindah pada Senior Wonbin.
Tanganku memegang perut, rasa mual itu datang lagi. Aku sudah bisa merasakannya di tenggorokanku. Aku bisa melihat Senior Wonbin bertatapan dengan Eunwoo. "Hhhhggg!" Aku tidak tahan lagi. Aku segera berbalik, dengan gontai berusaha pergi sejauh mungkin. Namun aku tidak bisa, "Huweeeeeek!!!" Aku memuntahkan isi perutku.
"Dojin!" Aku mendengar suara Senior Wonbin dari kejauhan.
Aku mengulurkan tangan ke belakang agar ia tidak mendekat, aku masih belum bisa menghentikan muntahanku. Aku merasakan sentuhan di tanganku, juga sebuah tangan mengelus punggungku lembut.
"Kau baik-baik saja?" Suara Senior Wonbin terdengar khawatir.
Aku mengatur nafasku dulu setelah tidak ada lagi muntahan yang keluar. Elusan di punggungku sangat membantu.
"Sudah lebih baik?" Tanya Senior Wonbin.
Bukannya aku tidak lebih baik, tapi terlalu malu untuk mengangkat wajah setelah dia melihatku muntah. Memalukan sekali!