
"Ibu tidak berkata yang tidak-tidak kan padanya?" Sepertinya samar-samar aku mendengar suara Senior Wonbin.
Terdengar suara tawa seorang wanita, "Tidak..."
"Ibumu juga khawatir karena kau terlihat sangat khawatir." Terdengar suara pria dewasa.
"Kau tidak apa-apa kami tinggal?" Tanya wanita tadi.
"Hmm..." suara Senior Wonbin menjawab.
"Ibu akan menghubungi ke sekolahmu... Jangan terlalu lelah ya." Pesan wanita tadi.
"Ya Bu.." jawab Senior Wonbin.
Aku mendengar suara-suara orang berbincang, namun tidak bisa langsung membuka mata. Tubuhku terasa sangat lelah, mungkin karena aku masih di pengaruhi obat. Setelah beberapa saat, aku membuka mata. Aku masih terbaring di salah satu tempat tidur rumah sakit tidak jauh dari gedung sekolah.
"Dojin?"
Mataku bergerak ke arah suara itu.
Senior Wonbin yang duduk di kursi menatapku antusias, "Kau mendengar suaraku?"
Aku menghela nafas dalam, lalu bergerak duduk.
Senior Wonbin memperhatikanku hingga duduk.
Aku memperhatikan sekitar.
"Kau sudah bisa berjalan? Dokter bilang setelah infusnya habis kau boleh pulang.." ucap Senior Wonbin memberitau.
"Sepertinya sudah." Jawabku pelan.
Senior Wonbin mengangguk mengerti, ia bergerak bangkit sembari memegang lenganku.
Setelahnya.
Mataku melirik ke lenganku, dimana tangan Senior Wonbin berada. "Aku... bisa berjalan sendiri.." ucapku pelan.
Senior Wonbin memandangku, "Aku tau..." jawabnya.
"Lalu..." aku melirik lenganku.
Senior Wonbin melirik lengannya yang melingkar di lenganku, lalu tersenyum tipis. "Aku hanya ingin menggandengmu.."
Kedua pipiku terasa panas, "Ta-tapi... orang-orang akan memperhatikan.." ucapku malu.
Senior Wonbin hanya tersenyum, "Ayo... disana mobilku." Ajaknya dan membawaku kesana. Ia membuka kunci otomatis menggunakan remote, lalu membawaku ke pintu penumpang.
Aku sedikit bingung ia membukakan pintu dan mendorongku masuk. Belum selesai rasa bingungku, ia memajukan wajahnya terlalu dekat dengan wajahku. Membuatku harus menahan nafas karena ujung hidungnya nyaris mengenai ujung hidungku.
Senior Wonbin menatapku, bibirnya membentuk senyuman. Lalu aku merasakan sabuk pengaman menyilang di tubuhku. "Wajahmu memerah..." godanya, lalu bergerak keluar.
Aku tau! Wajahku terasa sangat panas. Aku menyentuh wajahku begitu pintu di sampingku tertutup. Mataku melirik Senior Wonbin berjalan mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi.
Perjalanan kembali ke asrama.
Aku melirik pria di sebelahku, sangat tenang mengendarai mobilnya. "Sebelumnya ibumu berkata kau meminta di kirimi makanan dari rumah..." ucapku pelan, "Apakah yang kau berikan waktu itu?"
Senior Wonbin tersenyum tipis, "Apa lagi yang di katakan ibuku?" Ia terdengar malu.
"Mmmm.. hanya... tidak terlalu banyak." Jawabku ragu-ragu.
Senior Wonbin melirikku sedikit, "Kau suka makanannya? Ibuku sendiri yang menyiapkan makanan itu.."
Aku menatapnya kaget, "Benarkah?" Aku cukup terkejut tangan lembut itu bisa memasak makanan seenak itu.
Senior Wonbin mengangguk, "Ketika aku meminta di kirimkan makanan dari rumah, ibuku sendiri yang menawarkan untuk menyiapkannya."
Tanganku garuk-garuk belakang leherku, "Hmmm... aku... seharusnya berterima kasih padanya..." gumamku.
Senior Wonbin menahan senyuman, "Ayahku tidak bisa lama-lama, jadi mereka harus segera kembali. Nanti akan kusampaikan."
Mataku melirik wajahnya yang terlihat sangat tenang, "Kau... tidak bertanya apa pun?" Tanyanya.
Ia melirikku, "Haruskah?"
Aku memandang ke bawah, merasa sangat malu dan tidak nyaman.
Senior Wonbin diam sejenak, "Tidak perlu di jelaskan..." ucapnya pelan.
Mataku melirik ke arahnya.
Senior Wonbin memasuki area gedung asrama dan memarkirkan mobil di tempat biasa ia parkir. Ia tidak langsung mematikan mesin mobil, tanganya masih di stir.
Tanganku perlahan terulur ke sabuk pengaman yang menahan tubuhku. Tanganku berhenti saat merasakan satu tangan Senior Wonbin menahan tanganku, aku melirik tangan itu. Lalu memandang si pemilik tangan.
Senior Wonbin memandangku, "Aku tau itu sangat berat..." ucapnya pelan, "Kau tidak sendiri..."
Aku terpaku menatap ke dalam matanya, "Jika kau mengetahui hal lain tentangku..." ucapku memulai, "...apa kau tetap akan mengatakannya?"
Dahi Senior Wonbin berkerut, "Tentang apa?"
Haruskah kukatakan saja? Lagi pula, jika nantinya dia akan melakukannya. Tidak ada bedanya sekarang atau nanti kan? "Aku..."
Aku tersentak kaget mendengar ketukan di kaca jendelaku, kepalaku menoleh untuk melihat siapa orang itu. "Eunwoo?" Ucapku bingung.
Eunwoo membuka pintu dari luar namun tidak bisa, dari ekspresinya ia terlihat tidak senang.
Tanganku terulur ke kunci di pintu dan langsung terbuka ketika Eunwoo menariknya.
Eunwoo membungkuk ke pintu mobil sedan yang lebih pendek, menatapku dengan wajah juteknya, lalu menatap Senior Wonbin di sebelahku. Ia menghela nafas dalam, mengulurkan tangan ke sabuk pengaman yang masih terpasang di sebelah tubuhku. "Ayo..." ia menggapai tanganku dan menarikku keluar.
Aku sedikit meringis karena bekas jarum infusku di tarik Eunwoo.
Eunwoo menutup pintu mobil, "Ayo..." ia menarikku berjalan memasuki gedung asrama.
Aku hanya bisa memandang punggung Eunwoo dengan wajah bingung. Aneh sekali, apa yang terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Tidak sampai disana, ia juga membantuku hingga ke kamar tidurku.
Ia duduk di kursi di sebelah tempat tidurku untuk menatapku serius, "Kau sudah lebih baik?" Tanyanya.
Aku diam menatapnya, "Ya..." jawabku akhirnya.
Eunwoo menghela nafas dalam, ia hendak bergerak bangkit saat seseorang masuk ke kamar.
Kepalaku menoleh, Senior Wonbin masuk ke kamar dengan santai. Menghampiriku di tempat tidur.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanyanya.
Aku mengedip-kedipkan mata bingung, kepalaku mengangguk pelan.
"Silahkan kembali ke kamarmu, Senior." Ucap Eunwoo, terdengar tidak bersahabat.
Aku melirik Eunwoo tak mengerti.
Senior Wonbin memandang Eunwoo, "Aku?"
Eunwoo mengangguk percaya diri, "Aku akan menjaganya..."
Mataku membesar mendengar ucapan Eunwoo. Dia bilang apa? Menjagaku?
Senior Wonbin diam menatap Eunwoo, "Kenapa?"
Pandanganku berpindah pada Senior Wonbin, kenapa dia bertanya seperti itu?
Eunwoo bergerak bangkit, menatap Senior Wonbin lekat. "Aku yang akan melakukannya..."
Senior Wonbin melipat kedua tangannya di dada, tampak sama sekali tidak terintimidasi. "Bukan kau yang memutuskan." Ucapnya.
Aku terkejut saat mereka berdua menatapku, aku memandang mereka berdua bergantian.
"Kau bisa memilih, siapa yang akan menjagamu?" Tanya Senior Wonbin.
Situasi apa ini? Kenapa... aku... bingung?
"Segera jawab, kenapa kau selalu berpikir terlalu lama?' Protes Eunwoo.
Senior Wonbin menatap Eunwoo tidak setuju, "Jangan menekannya.."
Eunwoo menatap Senior Wonbin, "Apa sih?"
Aku menelan ludah saat mereka menoleh lagi padaku, "Kalian sedang apa sih? Aku lelah, biarkan aku tidur..." aku langsung berbaring sembari menyelimuti tubuhku dengan selimut membelakangi mereka.
Rasanya aneh sekali, ada apa dengan mereka?
+++
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Senior Wonbin saat kami bertemu di lorong sekolah keesokan harinya.
Bibirku membentuk senyuman, "Sudah lebih baik.." jawabku, "Terima kasih, senior..."
Senior Wonbin tersenyum tipis, "Aku tidak melakukan apa pun..." ucapnya pelan.
Mataku melirik wajah cerahnya, kenapa dia terlihat senang?
"Nanti ingin makan siang denganku di halaman belakang lagi?" Tanya Senior Wonbin menawari.
Aku tidak bisa menahan senyuman mendengar ajakan itu, lalu mengangguk setuju.
Senior Wonbin mengangguk mengerti, "Sampai nanti..." tangannya terangkat dan mengelus kepalaku sembari berlalu.
Aku tertegun merasakan elusan di kepalaku. Tidak percaya dia melakukannya sesantai itu.
"Dia berkata kau adalah adik kelas favoritnya, kau yang membantunya menyunting tulisannya kan?"
Ahh.. benar.. ibunya berkata dia menganggapku adik kelas favoritnya. Tidak apa-apa, karena dia juga favoritku. Bibirku membentuk senyuman memperhatikannya pergi, bahkan punggungnya saja terlihat sangat keren. Aku terkejut saat wajah Eunwoo masuk ke pandanganku.
Eunwoo berdiri di depanku dengan kedua tangan terlipat di dada, "Ada apa dengan ekspresimu itu?"
Aku segera menurunkan pandanganku.
Eunwoo mendengus kesal, lalu berjalan melewatiku untuk menuju kelasnya.
Mataku melirik Eunwoo pergi, kenapa dia suka sekali mengganggu kesenanganku. Mataku melirik ke arah Senior Wonbin pergi tadi, senyuman kembali ke wajahku. Lalu melangkah ke kelas.