Season Of You

Season Of You
— 12 —



"Sudah lebih baik?" Tanya Senior Wonbin yang duduk di pinggir tempat tidurku, sementara aku berbaring miring membelakanginya.


"Hmm.." gumamku pelan, terlalu malu untuk berbalik.


Rekan sekamarku bangkit dari kasurnya, "Sudah seperti kamar pribadi saja.." gerutunya dan berjalan keluar dari kamar.


Aku meliriknya yang malah pergi. Senior Wonbin juga menoleh ke pintu yang di tutup dari luar.


Senior Wonbin memandangku lagi, "Kau ingin akan sesuatu? Tadi sepertinya kau memuntahkan semua makanan yang kita makan tadi.."


Mendengar ucapan itu malah membuatku semakin malu. Aku tertegun merasakan elusan di pundakku.


"Istirahatlah.." ucap Senior Wonbin, lalu bergerak bangkit.


Sebelum Senior Wonbin benar-benar pergi, aku bergerak duduk sembari menahan tangannya.


Senior Wonbin berhenti dan menoleh memandangku.


Aku memang memegang tangannya, tapi tidak punya wajah memandangnya.


Senior Wonbin kembali duduk ke pinggir tempat tidurku.


"Aku... malu sekali..." ucapku pelan.


"Karena muntah?" Tanya Senior Wonbin lucu.


Kepalaku mengangguk pelan.


Senior Wonbin menahan tawa.


Mataku memandangnya bingung karena menahan tawa.


"Kau hanya muntah.. Kenapa malu?" Tanya Senior Wonbin.


Benar sih... tapi aku tetap saja malu. Aku mengelus dahiku, "Mmm... tadi... apakah Eunwoo.." hal yang satu itu akan jauh lebih memalukan lagi.


"Eunwoo? Kenapa dia?" Tanya Senior Wonbin.


Aku menelan ludah, "Hanya... apa dia... mengatakan sesuatu?" Tanyanya.


Senior Wonbin diam sejenak, "Tentang kau menyukaiku?"


Aku menatapnya kaget, Eunwoo benar-benar mengatakannya. Oh Tuhan! Jadi disini akhir dari semua sikap manisnya?


Senior Wonbin menatapku aneh, "Ada apa dengan ekspresimu?"


Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Aku benar-benar tidak ingin semua yang terjadi diantara kami berakhir. Dia mengundangku ke rumahnya untuk liburan semester.


Wajah Senior Wonbin berubah khawatir, "Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanyanya, "Perutmu sakit lagi? Kau demam?" Ia menyentuh wajahku dengan tangannya.


Aku tidak bisa mengendalikan air mata yang terus berjatuhan, kepalaku menggeleng dengan pandangan turun ke bawah.


"Ada apa sih? Kenapa?" Tanya Senior Wonbin khawatir.


Mataku kembali memandangnya, "Apa kau membenciku sekarang? Setelah tau bahwa aku menyukaimu?" Tanyaku sedih.


Sebelah alis Senior Wonbin naik, "Ada apa dengan itu?"


Pertanyaan balik yang tidak kumengerti. Dia bertanya apa? Sepertinya Eunwoo tidak memberikan respon seperti ini saat aku memberitaunya tentang perasaanku beberapa tahun lalu.


"Jika kau menyukaiku...." Ucap Senior Wonbin, "...aku juga menyukaimu.."


Aku tertegun mendengar ucapan itu, "Oh... su-suka... bukan seperti itu..." ahhh!! Bodoh sekali, kenapa aku malah berusaha menjelaskannya?!


Senior Wonbin menyeka air mata di pipiku dengan jari-jarinya, "Perutmu sudah baik-baik saja?"


Aku merasa bodoh sendiri. Sebenarnya aku ingin dia tau atau tidak?


Senior Wonbin menepuk pipiku pelan dengan telapak tangannya, "Istirahatlah..." ucapnya dan bergerak bangkit.


Tanganku menahannya lagi.


Senior Wonbin kembali duduk, "Ada apa?"


Mataku memandang ke bawah, "Tadi..." aku mengumpulkan keberanianku, "Kau... mencium pipiku... kenapa?" Aku bahkan tidak bisa mengatur kata-katanya dengan benar.


Senior Wonbin diam sejenak, "Kau tidak suka? Aku minta maaf." Ucapnya.


Mataku bergerak ke matanya, "Kenapa kau melakukannya?"


Senior Wonbin menatap kedua mataku, namun ia hanya terdiam.


Aku menatap kedua matanya bergantian, kenapa dia menatapku seperti itu? Kedua tangannya bergerak ke wajahku, sedetik kemudian tubuhku terpaku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku tidak bisa memberikan respon apa pun.


Senior Wonbin menarik wajahnya sedikit, menatap kedua mataku lagi.


Aku tidak bisa mempercayainya, apakah ini kenyataan? Senior Wonbin baru saja...


Senior Wonbin memiringkan kepalanya, bergerak maju lagi dan menyentuh bibirku dengan bibirnya. Aku bisa merasakan ujung hidung mancungnya menyentuh pipiku.


Ketika itu, mataku bergerak terpejam. Aku bisa mengendalikan diriku. Tanganku bergerak pelan ke lengannya.


Setelahnya.


Aku berbaring di tempat tidur, menatap Senior Wonbin yang duduk miring bersandar ke tempat tidurku. Satu tangannya terulur ke wajahku, memijat dahi di antara kedua alisku dengan ibu jarinya.


"Kau sudah merasa baikan?" Tanya Senior Wonbin.


"Jika saat ini aku sedang bermimpi..." ucapku pelan, "...aku tidak ingin terbangun.."


"Tidak apa-apa jika tidak nyata..." jawabku, "Selama kau tidak akan membenciku keesokan harinya."


"Kau terdengar sangat konyol kau tau?" Canda Senior Wonbin pelan.


Aku berusaha menahan senyuman, "Tapi..." aku diam sejenak, "Apakah... kau..." aku bingung sendiri bagaimana menyebutnya, "...yang tadi kau lakukan..."


"Menyukai sesama pria?" Tanya Senior Wonbin lucu.


Aku mengatupkan bibirku, kepalaku mengangguk membenarkan.


Senior Wonbin menghembuskan nafas panjang, menjadikan satu tangan untuk menopang kepalanya. "Kau pikir... kenapa aku selalu sendirian?"


Pertanyaan itu membuatku terkejut, "Kau di rundung?!"


Senior Wonbin menahan tawa, "Tidak.." jawabnya.


Aku menghembuskan nafas lega.


"Selain karena aku memang tidak suka bergaul." Ucap Senior Wonbin, "Juga karena berada di tengah-tengah pria sangat tidak nyaman."


Benar... dia mengatakan apa yang kurasakan dengan benar!


"Tapi... setelah bertahun-tahun, aku sudah bisa membiasakan diriku." Lanjutnya lagi.


Aku diam sejenak, "Apakah... sejak awal kau tau aku...." Masih sangat sulit mengatakannya.


Senior Wonbin menahan senyuman, "Tentu saja tidak.." jawabnya, "Tapi kau tau? Seseorang yang kukenal berkata bahwa sesama gay memiliki radarnya sendiri.."


"Radar?" Tanyaku ingin tau.


Senior Wonbin mengangguk, "Walaupun aku belum tau tentang seksualitasmu..." ucapnya, "Tapi kau benar-benar terlihat manis..." ia setengah berbisik ketika mengatakan itu.


Aku menahan senyuman mendengar ucapan itu.


"Mungkin yang mereka katakan tentang radar itu memang benar..." lanjut Senior Wonbin.


Tiba-tiba aku merasa khawatir, "Apakah orang tuamu tau?" Tanyaku hati-hati.


Senior Wonbin menahan tawa, "Kau pikir kenapa ibuku menyiapkan makanan untukmu?"


Informasi itu membuatku tertegun, "Ibumu? Tapi dia berkata... aku hanya adik kelas favoritmu."


Senior Wonbin mengangguk membenarkan, "Aku memintanya berhati-hati, jangan sampai mengatakan apa pun yang aneh padamu."


Wow... aku semakin iri pada keluarganya. Bagaimana mungkin mereka sesantai itu dengan kenyataan bahwa salah satu anak mereka tidak normal? "Apakah mereka selalu tau? Tentang... mmm... seksualitasmu?"


Senior Wonbin mengangguk, "Aku menyadari aku tidak seperti pria lainnya ketika SMP. Awalnya aku cukup takut, berpikir aku mungkin akan di buang atau di sakiti keluargaku sendiri.." ucapnya, "Tapi ternyata aku mendapatkan respon yang sangat baik..."


Benarkan... sangat iri. "Beruntungnya..."


Senior Wonbin tersenyum, "Ya..." jawabnya, "Beruntung kau juga gay.." candanya.


Ucapan itu membuatku nyaris tertawa, "Senior..."


Senior Wonbin mengelus pipiku gemas, "Sudah.. tidurlah.. Aku akan pergi setelah kau tidur..." tangannya yang lain bergerak ke tanganku di atas lipatan tangan di atas perutku.


Aku menatapnya beberapa saat lagi, mataku bergerak menutup. Tanganku menggenggam tangannya. Terasa angat nyaman.


+++


Aku melirik ke samping, Senior Wonbin terang-terangan menatapku saat kami di halaman belakang menikmati sandwich buatannya. Kedua pipiku terasa panas dan memandang ke bawah.


Senior Wonbin menahan senyuman, "Kau tau? Tentang temanmu Eunwoo itu?"


Aku tertegun memandangnya.


"Wajahku seperti akan bolong karena tatapannya.." ucap Senior Wonbin.


Ucapannya membuatku mengerutkan dahi, lalu mengedarkan pandangan. Aku tertegun menyadari Eunwoo di sisi lain halaman menatap ke arah kami dengan wajah juteknya.


Senior Wonbin menoleh ke arah Eunwoo, "Tatapan itu..." ucapnya, "... seperti aku sudah mencuri miliknya..."


Aku menatap Senior Wonbin kaget, "Apa maksudmu?!"


Senior Wonbin memandangku, tatapannya terlihat penuh intrik. "Atau miliknya yang datang padaku?"


Aku terpaku beberapa saat menatapnya, "Aku dan Eunwoo tidak dalam hubungan seperti itu.." ucapku pelan.


Senior Wonbin menatapku ingin tau, "Oh ya? Lalu seperti apa?"


Aku memandang ke bawah, "Dia... sebenarnya..." aku tidak punya pilihan lain sekarang, "Dia... teman kecil yang kuceritakan waktu itu.." ucapku pelan, "Itu Eunwoo.." lanjutku berat.


"Hmmm... teman masa kecil..." ucap Senior Wonbin mengerti.


"Beberapa tahun lalu, aku menyadari bahwa aku tidak menganggapnya hanya sebagai teman saja..." kisah memalukan yang selalu kusimpan sendiri, "Kupikir dia juga menganggapku sama, jadi aku menyatakan perasaanku..." rasa sakit itu kembali terasa, "Dia... hanya... berubah menjadi orang yang sangat membenciku. Dia menyebutku menjijikkan."


Senior Wonbin diam cukup lama, "Kau yakin dia tidak cemburu?"


Aku memandangnya tak mengerti, "Eunwoo?"


Senior Wonbin tersenyum, "Menurutmu... dia melakukan semua yang dia lakukan karena dia membencimu?"


Dahiku berkerut tak mengerti, tapi bukannya penjelasan aku mendapat cubitan lembut di pipiku. "Coba kau pikirkan lagi.."


Mataku berkedip-kedip tak mengerti.


Senior Wonbin menggerak-gerakkan alisnya, lalu memakan sandwich buatannya sembari melirik ke arah Eunwoo.