
Kupikir kami hanya akan pergi makan di tempat yang biasa kami datangi, tapi ternyata menjadi makan malam yang sangat romantis dan mewah. Aku melirik pelayan yang berdiri di sisi kami menunggu, aku melirik buku menu di tanganku.
Senior Wonbin tersenyum memandangku, lalu memandang si pelayan. "Kami pesan..." ia memesankan beberapa makanan yang aku sendiri tidak tau yang mana ia sebutkan.
"Baik, Tuan." Ucap pelayan wanita itu, ia menerima buku menu dari tanganku dan tangan Senior Wonbin, membungkuk sopan dan berjalan pergi.
Aku memperhatikan sekitar, terasa asing sekali berada disana.
"Bagaimana? Kau suka restaurannya?" Tanya Senior Wonbin.
Bibirku membentuk senyuman, "Ya.." jawabku pelan, "Kau pernah kemari sebelumnya?"
Senior Wonbin tersenyum, "Kak Wonyoung pernah membawa kekasihnya makan malam disini, dia merekomendasikannya padaku."
Aku jadi malu sendiri mengingat apa yang terjadi sebelumnya, "Mmm.. tentang Kak Wonyoung.." ucapku pelan, "Apa... dia... mmm...tentang sebelumnya.."
Senior Wonbin tertawa memahami ucapanku, "Aku akan menghubunginya untuk meminta maaf." Ucapnya.
Aku mengelus belakang leherku canggung, "Apakah ayah dan ibumu juga akan tau?" Tanyaku malu.
Senior Wonbin tertawa lagi, "Mungkin Tuan Putri sudah tau.."
"Ahh..." aku menutup wajahku malu.
Senior Wonbin mengelus kepalaku gemas, "Mereka pasti mengerti." Ucapnya.
Aku menarik tangan dari wajahku dan memandangnya malu, "Aku tidak tau hal seperti itu akan terjadi
padaku." Ucapku.
Senior Wonbin tersenyum gemas, "Tapi hal baiknya, kita sudah berbaikan.." ucapnya.
Hmm.. benar juga. Ucapan itu membuatku tersenyum.
Senior Wonbin mengulurkan tangannya padaku diatas meja.
Aku tertegun melihat tangannya menungguku membalas.
Senior Wonbin menatapku dalam, jarinya bergerak-gerak memanggilku.
Mataku memandang sekitar, apa kami akan melakukan itu di depan umum. Tapi mengingat apa yang baru saja terjadi diantara kami, pegangan tangan tidak seberapa. Akhirnya aku mengulurkan tangan diatas meja, memegang tangannya yang langsung menggenggam tanganku.
"Kau tidak tau bagaimana putus asanya aku selama menunggu kabar darimu. Kupikir kau tidak akan memaafkanku dan kita tidak bisa bersama lagi." Ucap Senior Wonbin dengan wajah di buat sedih.
Aku menahan senyuman karena ucapannya.
Senior Wonbin tersenyum, "Aku mencintaimu.."
"Aku mencintaimu.." balasku.
Malam itu tidak mungkin menjadi lebih baik lagi. Aku dan Senior Wonbin berjalan meninggalkan restauran bersebelahan sembari membahas tentang makanan yang sangat enak. Baru pertama kali aku makan makanan Prancis full dari makanan pembuka, makanan inti dan makanan penutup.
"Kupikir aku tidak akan bisa menikmatinya, tapi aku sangat suka.." ceritaku bersemangat.
Senior Wonbin tersenyum menyesal, "Aku terlalu sibuk dengan ceritaku, jadi tidak sempat membawamu ke tempat-tempat seperti ini." Ucapnya.
"Jangan merasa bersalah.. Aku juga sangat sibuk dengan kuliahku. Kita bisa punya waktu bersama juga karena aku cuti kan." Ucapku menjelaskan.
"Pokoknya... aku sangat-sangat senang bisa melakukan banyak hal bersamamu." Ucap Senior Wonbin.
Aku tertawa karena ucapan itu.
Senior Wonbin merangkul bahuku sembari berjalan, "Aku masih punya waktu beberapa minggu sebelum deadline ceritaku."
"Wow\~ Kita bisa melakukan banyak hal.." ucapku senang.
"Tidak sih.." jawab Senior Wonbin.
Aku menatapnya kaget, "Tidak?"
"Hmm.." jawab Senior Wonbin sembari mengangguk.
Mataku berkedip-kedip bingung, "Kenapa?"
"Karena kita akan melakukan satu hal dengan sering." Bisik Senior Wonbin menggoda.
"Ohh.. kita beli ****** dan pelumas lagi saja selagi di luar." Canda Senior Wonbin.
"Hei!" Bisikku sembari memperhatikan sekitar, memastikan tidak ada yang mendengarnya.
Senior Wonbin tertawa gemas.
Hari-hari setelah kami berbaikan terasa lebih manis. Kami sudah bersama hampir enam tahun, kejadian kemarin adalah masalah kami yang paling besar yang pertama. Kami jadi lebih mengenal lagi satu sama lain, aku tidak takut lagi untuk mempercayainya.
+++
Aku melambai pada rekan magangku di sebuah perusahaan yang menerimaku untuk magang disana sejak sebulan terakhir, mataku sudah melihat mobil kekasihku yang sudah menunggu. Mobil double cabin-nya sangat mencolok di tengah kota. Aku membuka pintu dan perlu meloncat sedikit untuk naik ke kursi.
"Aku tidak akan menjualnya untuk dijadikan film, kenapa masih saja membahasnya?" Senior Wonbin sedang berbicara di telepon, terdengar kesal.
Aku menutup pintu hati-hati, bibirku membentuk senyuman saat matanya memandangku.
"Jangan hubungi aku lagi untuk membahas ini." Ucap Senior Wonbin, lalu menarik ponsel dari telinganya.
Tanganku terulur ke kepala Senior Wonbin dan mengelus rambutnya, "Kau baik-baik saja?" Tanyaku khawatir.
Senior Wonbin menghembuskan nafas dalam, "Maaf.. Agensi terus-terusan membujukku untuk projek film itu." Keluhnya.
Aku diam sejenak, "Kau masih tidak ingin ceritamu di film-kan?"
Senior Wonbin mengambil tanganku dari rambutnya, menggengamnya erat. "Bukannya aku tidak ingin.." ucapnya, "Tapi mereka ingin mengubahnya menjadi cerita cinta.."
"Bukankah kisah cinta itu memang penghias cerita?" Tanyaku.
"Tapi ceritaku bukan tentang cinta, Dojin." Jawabnya tegas.
Bibirku mengatup dan mengangguk mengerti.
Senior Wonbin menghela nafas dalam, ia menggenggam tanganku erat dan mengecup punggung tanganku.
"Aku juga ingin karyaku di film-kan." Ucapnya pelan, "Hanya saja..." ia diam sejenak, "...aku tidak ingin mereka mengubah ceritaku menjadi apa yang mereka mau. Mereka tidak menyampaikan pesan yang ingin kusampaikan."
Aku berpikir sejenak, "Ceritamu yang terbaru ini.." ucapku, "...tentang pembunuh yang menggunakan seksualitas untuk membunuh." Ucapku lagi, "Apa pesannya?"
"Jangan gunakan seksualitas untuk menghukum siapa pun." Ucap Senior Wonbin, "Jika tidak, akan ada seseorang yang rapuh dan sangat terluka hingga menjadikannya cara untuk menghukum orang lain juga."
Wow! Aku sama sekali tidak memikirkannya. Bagaimana bisa dia memikirkan pesan sedalam itu? "Wuaah.. kau benar-benar penulis."
Senior Wonbin menahan senyuman, "Istriku lapar?" Ia kembali menjadi kekasihku yang manis.
"Lapaaar\~\~" jawabku manja.
"Baiklah!" Ia mengecup punggung tanganku lagi dan mengendarai mobilnya pergi.
+++
"Aku sudah sangat-sangat-sangat sehat sekarang.." ceritaku di telepon pada kekasihku yang tidak bisa menemaniku untuk check up terakhir. "Yang penting tetap harus jaga makanan."
"Syukurlah.." ucap Senior Wonbin di seberang, "Kau sudah akan pulang? Aku akan masak makan malam untukmu."
Bibirku membentuk senyuman, "Baiklah.."
"Segera pulang yaa." Bisik Senior Wonbin.
"Ya\~" jawabku malu-malu, lalu menarik ponsel turun dari telinga. Tak lama berjalan menuju pintu keluar
rumah sakit, langkahku terhenti saat berpapasan dengan Dokter Jang.
Dokter Jang mendorong kacamatanya yang melorot dengan tatapan padaku.
Aku membungkuk sopan, lalu berjalan melewatinya.
"Yun Dojin.." panggil Dokter Jang.
Langkahku terhenti, dalam hati aku mengumpat karena dia malah memanggilku. Hati-hati aku berbalik dan memandangnya.
"Ada waktu sebentar?" Tanya Dokter Jang.
Apa yang harus kukatakan? Kenapa sulit sekali menjawabnya? Bibirku membentuk senyuman dan mengangguk canggung.