Season Of You

Season Of You
— 35 —



Dan aku tinggal sendirian. Canggung sekali. Mataku melirik ke sekitar, lalu menggigit cake di tanganku dan pura-pura sibuk sendiri. Aku meraskan keberadaan seseorang di belakangku, terasa sangat jelas menggesek pantatku. Kepalaku menoleh dan menemukan Dokter Jang mengambil Cake di sebelahku.


Dokter Jang menggigit cake di tangannya, matanya mengarah padaku. "Kenapa?" tanyanya, ia menjilat krim di sudut bibirnya.


Kepalaku menggeleng dan memandang sisa cake di tanganku. Aku sedikit bergidik saat merasakan tubuhnya mendekatiku.


"Kau suka?" tanya Dokter Jang di telingaku.


Aku bergeser sedikit, "Cake-nya enak." jawabku. Tapi dia semakin mendekat.


"Bukan Cake-nya.." ucapnya, "Pestanya."


Aku menelan ludah, "Oh.. ini.. keren." ucapku pelan.


"Hmm.." Ucap Dokter Jang.


Mataku melirik ke arah Senior Wonbin pergi tadi, berharap dia akan segera kembali. Mataku berpindah ke


bahuku, dimana sebuah tangan bertumpu, lalu melirik si pemilik tangan.


Dokter Jang mendekatkan wajahnya ke telingaku lagi, "Kau terlihat pucat, kau baik-baik saja?" tanyanya.


"Hm? Y-Ya..." jawabku pelan.


Dokter Jang memasukkan sisa cake di tangannya ke mulut, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahiku.


Aku bergerak mundur, "Aku baik-baik saja.." jawabku dan bergegas pergi, aku masuk ke antara orang-orang disana. Melirik ke belakang memastikan dokter Jang tidak mengikutiku.


Duk!


Aku terkejut bahuku mengenai seseorang, "Oh.. ma-maaf." ucapku menyesal.


Pria bertubuh besar itu tersenyum, "Kau seperti di kejar hantu.." candanya.


Aku menahan senyuman, mengangguk sopan dan hendak pergi. Tanganku di tarik hingga kembali ke tempat tadi.


"Kenapa buru-buru? Kenapa tidak mengobrol sebentar?" tanya pria tadi, satu tangannya memegang gelas minuman.


"Hm? Oh.." mataku melirik ke belakang, mungkin jika mengobrol dengannya akan lebih baik daripada dengan Dokter Jang.


"Siapa namamu? Sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya.." ucap Pria itu.


"Oh... ya.. aku... baru pertama kali kemari." jawabku pelan.


"Pertama kali? Pantas saja." Pria itu tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangan. "Namaku Changmin."


Ragu-ragu tanganku menjabat tangannya, "Yun Dojin." jawabku.


"Hai.. kau bekerja?" tanya Changmin.


"Aku.. masih kuliah." jawabku.


Changmin tersenyum tak percaya, "Ahh.. pantas saja kau terlihat imut sekali."


Hm? Apa maksudnya?


Changmin memajukan wajahnya ke telingaku, "Bottom?"


Pertanyaan itu membuatku tertegun. Kenapa dia menanyakan itu?  Belum kekagetanku terjawab seseorang menarikku dari belakang, ketika aku menoleh wajah Dokter Jang kembali terlihat.


"Dia tamu kekasihku, jangan ganggu dia." ucap Dokter Jang pada pria bernama Changmin itu.


Pria itu langsung membungkuk sopan dan berjalan pergi.


Aku memandang Dokter Jang.


"Maaf, dia terkadang sedikit lepas kendali ketika mabuk." ucap Dokter Jang menyesal.


Aku jadi merasa bersalah sekarang, "Ohh.. ya.."


"Kemari.." Dokter Jang menarik lenganku ke sebuah pintu.


Aku terkejut, "Dok-Dokter Jang.."


Aku hampir membentur punggungnya, lalu memandangnya tak mengerti. Sedetik kemudian, aku tertegun menyadari apa yang membuatnya berhenti. Darahku seperti mengalir ke arah sebaliknya.


Di ruangan itu, sepertinya itu kamar utama, Senior Wonbin dari posisi berlutut bergerak bangkit dengan wajah kaget. Senior Pyo yang berdiri membelakangi kami bergegas memperbaiki celananya.


Tunggu.. situasi apa itu?


"Ada apa?" tanya Senior Wonbin bingung karena di pandangi.


"Sedang apa kalian?" tanya Dokter Jang.


"Hm?! Oh.. itu... kami... hanya..." Senior Pyo gelagapan.


Senior Wonbin memandang Senior Pyo, "Kenapa senior?" tanyanya aneh, lalu memandangku dan Dokter


Jang. "Aku hanya membantunya membuka...." ia terdiam dan menatapku lebih serius. "Dojin! Ini tidak seperti


yang kau pikirkan!" jelasnya cepat, ia bergegas menghampiriku.


Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi respon tubuhku ketika ia mendekat adalah bergerak mundur.


Senior Wonbin terpaku karena responku. "Dojin... dengarkan aku dulu. Semuanya tidak seperti yang terlihat!" ucapnya berusaha menjelaskan, ia mendengus kesal dan menoleh ke belakang. "Senior! Jangan diam saja!"


Senior Pyo garuk-garuk kepala, lalu menghampiri Dokter Jang. "Sayang.. Tadi.. ada benang menyangkut.. Jadi.."


DUAK!


Aku tersentak kaget melihat Senior Pyo terhuyung karena pukulan dari tangan Dokter Jang.


Senior Pyo memegang rahangnya dan menatap Dokter Jang tak percaya.


Dokter Jang menatap Senior Pyo dengan wajah tanpa ekspresinya, "Aku tau dia mantan pacarmu.." ucapnya, yang membuatku lebih terkejut lagi.


Aku menatap Senior Wonbin yang terlihat tidak menyangka itu akan di sebutkan. Dan aku melihat rasa bersalah tersirat di wajahnya.


"Tapi kau melakukan itu di rumah kita?" tanya Dokter Jang.


"Tidak Woo! Dengar dulu!" Senior Pyo memegang tangan Dokter Jang.


Aku tidak bisa berada disana lebih lama lagi. Aku segera berbalik dan berjalan pergi.


"Dojin!" panggil Senior Wonbin dan menyusulku. Ia berhasil menarik tanganku begitu keluar dari pintu


apartemen. "Sayang.. dengar dulu! Yang kau lihat tadi hanya kesalahpahaman!"


Aku tidak tau apa yang paling menyakitku saat itu. Melihatnya berada di kamar itu, atau mengetahui apa yang berusaha ia tutupi. Aku bisa merasakan kedua mataku memanas, mataku menatap wajahnya yang terlihat panik. "Kenapa kau tidak pernah memberitauku dia mantan pacarmu?"


Senior Wonbin membuka mulut, namun tidak ada yang keluar.


Air mulai berkumpul di mataku, terasa sangat sakit di dalam dadaku. "Kenapa?"


Senior Wonbin menatapku menyesal, ia memegang kedua tanganku. "Aku... aku tidak ingin kau berpikir


yang tidak-tidak, jadi aku tidak mengatakannya."


Bulir air berjatuhan ke pipiku, "Karena itu kau berniat..." aku berusaha mengontrol emosiku, "...pindah ke gedung ini?" Aku tau, terdengar tidak rasional memang. Tapi otakku menciptakan banyak skenario yang membuatku semakin sakit.


Mata Senior Wonbin membesar, lalu menggeleng. "Tidak! Tidak sama sekali!" ia memegang kedua pipiku dan menatap ke dalam mataku. "Kumohon percaya padaku... tidak ada yang terjadi dan aku tidak ada hubungan apa pun lagi dengannya. Oke?"


Aku melepaskan kedua tangannya dari wajahku.


"Dojin.." pinta Senior Wonbin memelas.


Aku mendorongnya menjauh, "Kenapa sejak awal kau tidak jujur saja dia mantan pacarmu?! Aku tidak mungkin setuju untuk datang kemari!!" seruku padanya.


Mata Senior Wonbin mulai di penuhi air, "Ya! Aku bersalah! Seharusnya aku memberitaumu!" ucapnya menyesal, ia kembali berusaha memegang tanganku, namun aku tidak membiarkannya.


Melihatnya ikut menangis membuat perasaanku campur aduk. Aku merasa bersalah karena merasa terluka, juga membencinya karena membuatku terluka.


"Dojin..." pinta Senior Wonbin sembari menahan lenganku, "Ayo pulang.. kita bicara di rumah.. Oke?" pintanya, ia terisak-isak penuh sesal.


Aku bahkan tidak ingin memandang wajahnya saat itu. Namun jika tidak pulang dulu, kami bisa menyebabkan keributan disana.