
Aku tidak tau pukul berapa percumbuan tanpa henti itu berakhir. Aku tidak lagi punya energi untuk menggunakan tubuhku, walaupun hasrat itu masih ada. Aku bisa mengatakan bukan aku saja yang masih ada hasrat yang sama dari kecupan-kecupan di sudut leherku dari belakang. Aku dan Senior Wonbin berada di sofa, terlalu lelah untuk pindah ke kamar. Aku menelungkup ke bantal sofa, ia berbaring miring di sebelahku.
Senior Wonbin di belakangku mengecup sudut leherku, punggungku. Meninggalkan suara kecupan yang manis.
"Senior.." panggilku lelah.
"Hm?" Jawab Senior Wonbin dan meneruskan kegiatannya.
"Aku akan memanggilmu hyung saja." Ucapku. Kecupan di kulitku terhenti.
"Hm?" Senior Wonbin terdengar tidak yakin.
Perlahan aku membalik tubuhku, berbaring dengan punggung untuk menatap wajahnya.
Senior Wonbin menatapku tak mengerti.
Bibirku membentuk senyuman, tanganku terulur ke pipinya. "Wonbin hyung.." panggilku.
Senior Wonbin atau yang mulai sekarang akan kupanggil Wonbin hyung, mengedip-kedipkan matanya.
"Panggil lagi.." pintanya.
"Hyung.." panggilku manja.
"Lagi.." pintanya gemas.
"Hyung... hyung.. hyung..." bisikku erotis.
Senior Wonbin mengerutkan hidung gemas, "Akhirnya.." ucapnya.
Aku tersenyum malu, "Habis.. kau memanggil mantanmu senior juga.."
Senior Wonbin menatapku gemas, lalu mencium pipiku.
Bibirku membentuk senyuman, juga menatap kedua matanya lekat. "Maaf aku sudah membesarkan masalah.." ucapku menyesal.
"Hmm.." Senior Wonbin menggeleng, "Kau pasti punya alasan kenapa merasa seperti itu, bukan salahmu." Ucapnya pelan, "Aku yang membiarkan semuanya menjadi rumit. Maafkan aku."
"Ya ampun, Kak Wonyoung benar.." ucapku sembari mengelus pipinya, "Kau bodoh jika tentang cinta." Candaku.
"Pffft.." Senior Wonbin menahan tawa, "Itu bukan bodoh.." ucapnya membela diri.
Aku menahan tawa, "Lalu apa?"
Senior Wonbin memajukan wajahnya mendekati wajahku, "Aku takut aku akan melukaimu." jawabnya. "Aku tidak ingin berpisah darimu. Sampai kapan pun!"
Aku jadi merasa bersalah sendiri.
"Ingat ucapanku? Jika masalah terlalu besar dan terasa tidak ada jalan keluarnya.. kita tenangkan diri dulu. Daripada putus, aku ingin kita break saja dulu. Kau dengar?" Ucapnya padaku.
Benar juga. Kami saling mencintai, seharusnya aku berpikir seperti itu.. hubungan kami terlalu berharga untuk selesai begitu saja. Aku menatap kedua matanya dalam, "Aku mencintaimu..." ucapku sepenuh hati.
Senior Wonbin tersenyum, "Terima kasih." Ucapnya lembut, bibirnya kembali menyentuh bibirku.
Mataku terpejam, ciuman itu terasa sangat hangat hingga ke hatiku. Aku bisa merasakan air mengalir dari sudut mataku. Tak lama mataku kembali terbuka dan bertatapan dengannya.
"Aku sangat ingin melanjutkan kegiatan **** kita." Ucap Senior Wonbin pelan, "Tapi energiku sudah habis."
Aku tidak bisa menahan tawaku, tanganku memeluk lehernya dan berciuman lagi dengannya.
+++
Mungkin... sesekali bertengkar itu ada baiknya. Hehehe...
Grek! Grek! Grek!
"Ahh... hyung!!! Ahhh!!"
"Eeerrgghhh!! Ahh!! Dojin!!! Aku keluar!!"
Hening...
Aku terbaring lemas di tempat tidur, dadaku naik turun. Mataku memandang ke bawah. Di dadaku berceceran cairan kental, di kepala kejantananku yang masih setengah ereksi terdapat sisa cairan kental yang sama.
Di sebelahku, Senior Wonbin terbaring juga sembari mengatur nafasnya. Matanya melirikku, tanganya terulur ke arah kepalaku, juga memutar kepalaku kearahnya.
Mataku menatapnya lekat.
"Aku tidak ingin berhenti.." bisik Senior Wonbin.
"Hmm.. aku juga.." jawabku.
Senior Wonbin tersenyum, ia bergerak bangkit sedikit ke dadaku. Menjulurkan lidah ke kulitku, membersihkan cairan kental tadi.
Mulutku terbuka menyaksikan itu, apalagi ketika kepala organ kejantananku masuk ke mulutnya. "Sssshhh.." desisku tertahan. Satu tanganku mencengkeram rambutnya, satu lagi mencengkeram bantal di bawah kepalaku. Kepalaku terdongak, "Ooohh... ssssssshh..." aku benar-benar tidak ingin berhenti!! Aku ingin rasa nikmat ini lagi!!
+++
Relaksasi di bathup dengan air hangat dan aroma terapi membuat tubuhku lebih nyaman. Terutama dengan sentuhan lembut di wajah dan dadaku. Bibirku membentuk senyuman merasakan pelukan di tubuhku, juga pipi Senior Wonbin menempel di pipiku.
"Hmmm.." gumamnya sembari memelukku lebih erat.
Aku tertawa kecil, tanganku terulur ke belakang kepalanya. Mengelus rambutnya dengan jari-jariku.
"Sudah tidak marah lagi?" tanya Senior Wonbin.
Senior Wonbin melirikku menunggu.
"Mmm.. Sedikit marah.." jawabku pelan, "Tapi... lebih banyak rindunya.."
Senior Wonbin menahan senyuman, "Hmm..sebanyak apa?" godanya.
Aku memandang wajahnya sebal.
Senior Wonbin cengengesan, "Bercanda.." ucapnya.
Aku mendorong dadanya dengan bahuku.
"Hmm.. jangan marah lagi ya.." pinta Senior Wonbin sembari mengelus rambutku.
Aku menghela nafas dalam, "Aku sudah tidak marah lagi.." ucapku pelan, "Aku mengerti kok kenapa kau
tidak memberitauku, Kak Wonyoung sudah menjelaskan alasan yang masuk akal padaku."
Senior Wonbin tersenyum kecut, "Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman, jadi aku tidak mengatakannya.
Aku minta maaf.." ucapnya lagi.
Aku menghela nafas dalam, "Hmm.." gumamku sedikit sebal.
"Ya.." pinta Senior Wonbin sembari mengecup-kecup pipiku.
Aku menahan senyuman, "Ya.." jawabku sembari mendorong wajahnya.
Senior Wonbin tertawa kecil. Ia mengelus bahu dan dadaku dengan busa.
"Senior.." panggilku.
"Ehem!" Dehem Senior Wonbin karena panggilanku.
Aku cengengesan, "Maaf.. Belum terbiasa." Ucapku malu, "Hyung.." panggilku memperbaiki.
Senior Wonbin tersenyum, "Hm?" Gumamnya.
"Aku.. akan bertanya untuk terakhir kalinya." Ucapku hati-hati, Senior Wonbin menatapku antusias. "Kenapa
kau masuk ke dalam kamar itu?" Tanyaku lagi.
Senior Wonbin menghela nafas berat mendengar pertanyaan itu, "Aku menjawabnya dengan jujur.." ucapnya, "Ketika itu aku sama sekali tidak memikirkan apa pun. Aku hanya mengikutinya untuk berbicara. Kemudian, dia merasa kaget ada sesuatu yang menyangkut di resleting celananya. Lalu... kau dan Dokter Jang
masuk. Itu yang terjadi."
\Aku berusaha mencernanya dengan pikiran lebih terbuka, tidak ingin jadi emosional lagi.
Jangan marah ya.." pinta Senior Wonbin.
Aku mendongak memandang wajah Senior Wonbin, bibirku membentuk senyuman dan mengangguk.
Memperlihatkan bahwa aku tidak marah.
Wajah Senior Wonbin terlihat lebih santai. "Aku akan menjaga jarak dengannya mulai sekarang, jangan khawatir."
Ucapan itu membuatku berpikir. "Bukankah ada sesuatu yang aneh?" Tanyaku.
"Apa?" Tanya Senior Wonbin ingin tau.
"Apakah Doker Jang tidak tau ada orang di dalam kamar?" Gumamku sendiri.
"Tunggu! Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau dan Dokter Jang masuk ke kamar itu?" Tanya Senior Wonbin sebal.
Benar juga, kenapa aku masuk ke sana? "Dia menarikku secara paksa, dia bilang aku terlihat pucat.." ucapku, sedetik kemudian aku tertegun, ingatan malam itu menjadi semakin jelas. "Oh.. tunggu dulu.." aku bergerak duduk dan berbalik menghadap Senior Wonbin.
Senior Wonbin menatapku antusias.
"Di acara itu.." ucapku kembali mengingat, "Ada seorang pria mengajakku berbicara, dia bertanya apakah aku bottom.."
Dahi Senior Wonbin berkerut, "Ha? Kenapa?"
Aku menggeleng tak mengerti, "Bukankah aneh sekali semua tamu tadi malam hanya pria?"
Senior Wonbin tampak berpikir, "Oh.. benar juga.."
"Bukankah aneh? Senior Pyo berada bersamamu, Dokter Jang tidak mau pergi dari sisiku." Ucapku aneh.
Mata Senior Wonbin berkerut, "Benar juga.."
"Sepertinya ada sesuatu sangat aneh.." ucapku lagi.
Senior Wonbin menghela nafas, garuk-garuk kepala bingung. Ia tertegun memandangku.
Aku menatapnya antusias, "Ada apa?"
"Aku lapar.." jawab Senior Wonbin, lalu tersenyum lebar.
Aku menahan tawa karena ucapan itu, "Hmm.. aku juga."
Senior Wonbin mengulurkan tangan ke pundakku, ia menarik wajahku ke arahnya. Mengecup bibirku dengan senyuman di wajahnya.