Season Of You

Season Of You
— 34 —



Hari itu aku datang ke rumah sakit untuk check up, Senior Wonbin harus ke agensi untuk meeting setelah tiga bulan istirahat. Dokter berkata aku sudah jauh lebih baik, hanya perlu tetap hati-hati dengan makananku. Aku membaca hasil pemeriksaanku sembari berjalan menuju pintu keluar. Aku terkejut kertas itu diambil seseorang dan menoleh. Aku tersentak kaget melihat Dokter Jang.


Dokter Jang berhenti di sebelahku sembari membaca hasil pemeriksaan itu, "Hmm.. sudah cukup baik."


Aku memandang tangannya di kertas pemeriksaan itu, lalu kembali memandangnya.


Dokter Jang menatapku sembari mengembalikan kertas itu, "Jangan minum alkohol dan minuman bersoda, teh, kopi..."


Aku langsung mengambil kertas itu kembali, "Baik, Terima kasih.." jawabku sebelum ia menyelesaikan ucapannya, membungkuk sopan dan langsung berjalan pergi.


Sejujurnya, setelah obrolan kami di bathup, sebelum menjadi sangat erotis, aku jadi memikirkannya. Kejadian tadi di rumah sakit. Apakah Dokter Jang memang terlihat seperti itu? Kupikir dia hanya bermulut kasar saja.


Aku keluar dari lamunanku saat merasakan jentikan di pipiku.


Senior Wonbin yang duduk di sebelahku di sofa tampak bingung, "Ada apa?"


"Hm? Oh.. Tidak.." jawabku dan kembali memandang layar TV.


"Benarkah? Kau melamun terus." ucap Senior Wonbin, terdengar khawatir.


"Hmm.. hanya mengantuk." ucapku sembari menyandarkan kepala ke bahunya.


Senior Wonbin merangkul bahuku, juga mengelus rambutku dengan jari-jarinya yang panjang. "Maaf kau harus pergi ke rumah sakit sendiri." ucapnya.


"Aku bukan bayi.." jawabku sedikit sebal.


"Tapi kau bayi besarku." jawab Senior Wonbin.


Aku menahan tawa, "Siapa yang menyetubuhi bayinya?" godaku.


Senior Wonbin tertawa mendengar ucaan itu, "Ya ampun, bayiku belajar banyak. Sudah pintar membalas ucapanku." balasnya sembari mencubit pipiku.


Aku memutar tubuhku kearahnya. Memeluk lehernya manja,  juga menaikkan kedua kakiku ke atas pangkuannya. "Hmm.. bayi besarmu ini ingin menyusu.." godaku.


Senior Wonbin menahan tawa karena ucapanku, "Ingin menyusu? Disini?" Ia menarik baju kausnya ke atas, memamerkan perutnya yang berotot. Juga menyodorkan *********** ke wajahku.


Mulutku terbuka dan menggigit ****** payudara berototnya.


"Aww!" rintih Senior Wonbin sambil tertawa. "Jangan menggigit.." ucapnya gemas sembari mencubit pipiku.


Aku tertawa lucu.


Senior Wonbin mengerutkan hidung dan mencium bibirku.


Telapak tanganku mengelus perutnya dan naik ke dadanya dalam ciuman itu.


Ring.. Ring.. Ring..


Ciuman itu terputus karena bunyi ponsel.


"Siapa sih?!" seru Senior Wonbin sebal.


"Coba saja lihat dulu.." ucapku memberitau. Aku menarik tanganku dari dadanya.


"Stop!" Senior Wonbin menahan tanganku tetap di dadanya, di dalam baju kausnya.


Bibirku menahan senyuman.


Senior Wonbin menjangkau ponsel di meja, menggeser tombol hijau di layar dan menempelkannya ke telinga. "Ya." jawabnya, namun matanya menatap wajahku. Ia tertegun sedikit, lalu melirik ponsel. "Oh.. Senior Taejo.." ucapnya lebih santai.


Sekarang aku yang tidak bisa santai mendengar nama itu.


"Ohh.. maaf, kau tidak menggunakan nomormu." ucap Senior Wonbin menyesal, "Pesta? Mmm..." ia menatapku tidak yakin, "...Dojin tidak bisa minum.."


Aku jadi sangat penasaran, apa yang sedang mereka bahas.


Senior Wonbin menahan senyuman, "Ya.. Aku mengerti. Baiklah.." telepon berakhir.


"Ada apa?" tanyaku ingin tau.


"Mmm.. Senior Taejo berkata akan mengadakan pesta di apartemen mereka, mereka ingin kita datang." ucapnya, "Juga.. Senior Taejo berkata dia minta maaf karena kekasaran kekasihnya."


Ucapan itu membuatku menahan tawa, aku mengerti mengapa Senior Wonbin tersenyum tadi.


"Bagaimana? kau ingin pergi? Acaranya besok malam." tanya Senior Wonbin.


Aku berpikir sejenak, "Tapi.. apakah tidak apa-apa?"


"Senior Taejo berkata Dokter Jang yang memastikan makanan sehat." ucap Senior Wonbin.


Ucapan itu membuatku merasa tidak nyaman, "Mmm.."


"Sudah.. pikirkan nanti.." Senior Wonbin menarik rahangku dan kembali mencium bibirku.


Aku tertawa dalam ciuman itu.


+++


Akhirnya kami benar-benar datang ke apartemen Senior Pyo. Aku tau gedung di seberang adalah apartemen mewah, bahkan lebih mewah dari yang kutempati bersama Senior Wonbin, tapi aku tidak tau sangat-sangat mewah. Bahkan lobi-nya terlihat mewah. Lift-nya juga besar. Aku melirik Senior Wonbin yang terlihat selalu tampan apa pun yang ia kenakan, sedangkan aku terlihat sangat kampungan dengan baju kaus dan kemeja di luarnya. Jika tau tempatnya seperti ini, bukankah seharusnya aku mengenakan setelan jas?


"Tidak berat?" Senior Wonbin mengambil bungkusan yang kupegang.


Aku tidak perlu menjawab, dia sudah mengambilnya dari tanganku. Itu berisi sebotol wine. Senior Wonbin berkata itu adalah hadiah tangan yang cukup, padahal harganya hampir menyamai biaya semesterku. Untung ada beasiswa.


"Dari satu pintu ke pintu lain jauh sekali." komentarku.


Senior Wonbin menahan tawa, "Lihat-lihatlah.. Lingkungannya lebih bagus, juga tempatnya lebih besar. Jika kau suka, kita bisa pindah kemari."


Aku menatapnya aneh, "Apartemen kita sudah cukup." jawabku.


Senior Wonbin menahan senyuman, "Sekali-sekali cobalah minta sesuatu.." ucapnya menimpali.


"Kau pikir apa aku ini?" balasku sebal.


Senior Wonbin tertawa lucu, "Oh.. ini dia.." ia menunjuk salah satu pintu apartemen. "Bel.." ucapnya padaku.


Tanganku terulur ke bel di samping pintu dan menunggu. Aku jadi gugup. Apakah aku akan terlihat aneh?


Tak lama pintu terbuka, muncul Senior Pyo dengan penampilan rapinya. Aku saja terpesona melihat penampilannya. Rambutnya tertata rapi, aroma parfumnya langsung tercium begitu ia muncul.


Senior Pyo tersenyum lebar, "Kalian tiba!" ucapnya senang, "Mari.. mari.." ia membuka pintu lebih besar.


Senior Wonbin menarikku masuk.


"Wow.. tampan seperti biasa, Wonbin." puji Senior Pyo pada kekasihku.


Senior Wonbin tertawa lucu, "kau ingin aku berkata yang sama kan?"


Senior Pyo tertawa, "Kekasihmu lucu sekali.." ucapnya padaku.


Aku hanya tersenyum kaku.


"Ayo.. yang lain sudah di dalam." ajak Senior Pyo dan berjalan duluan memasuki lorong menuju ruang tengah.


Aku terkejut melihat di ruang tengah berkumpul pria-pria bertubuh tinggi, berbahu lebar, berpenampilan menarik. Pesta apa ini?! Kenapa membuatku merasa jelek?!


Senior Wonbin juga terkejut melihat orang-orang disana, "Senior, mereka teman-temanmu?"


Senior Pyo tertawa kecil, "Mereka rekanku dan Woo, santai saja. Mereka semua seru kok.."


Senior Wonbin mengangguk kaku, "Oh ya.. ini.." ia menyodorkan bungkusan kertas yang kami bawa.


"Hei.. kenapa membawa seuatu." ucap Senior Pyo menahan tawa dan menerima bungkusan itu. "Kalian berbaur saja dulu, aku akan mengobrol dengan yang lain sebentar." ucapnya, ia menepuk bahu Senior Wonbin dan berjalan pergi.


Aku saling berpandangan dengan Senior Wonbin canggung.


Senior Wonbin membunguk ke telingaku, "Kita disini 30 menit, lalu pulang. Oke?"


Kepalaku mengangguk setuju.


Senior Wonbin tersenyum, "Ayo berkeliling.." ajaknya dan menggandengku ke meja berisi makanan.


Aku memperhatikan sekitar bingung, apakah karena tuan rumahnya gay, yang di undang hanya pria?


"Kita hindari makanan laut, makan  cake saja." usul Senior Wonbin.


Kepalaku mengangguk setuju.


"Kalian sudah tiba.." terdengar suara berat seksi diantara musik klasik yang terputar.


Aku langsung mendapatkan perasaan tidak enak.


Senior Wonbin orang pertama yang menoleh, dari ekspresi wajahnya aku sudah bisa menebak siapa yang muncul.


Kepalaku menoleh. Dokter Jang terlihat sangat tampan dengan kemeja berwarna hitam dan kancing atasnya terbuka memperlihatkan tulang dadanya.


"Sudah menikmati makanan? Kalian pasti suka." ucap Dokter Jang.


"Ya.." jawab Senior Wonbin, "kami akan mencari makanan.." ia memotong sebelum Dokter Jang membuka mulut lagi, lalu menarikku ke sisi lain ruangan.


Aku melirik Senior Wonbin lucu, ia benar-benar cemburu padanya? Ketika berjalan ke sisi lain ruangan, aku menyadari orang-orang sekitar memperhatikan kami. Mata pria-pria tampan bak model itu tertuju pada kekasihku. Kenapa rasanya aneh sekali?


Senior Wonbin menghampiri meja berisi cake warna-warni. Ia mengambil satu dan memberikannya ke tanganku.


Mataku melirik ke sekitar, para pria itu... entah kenapa terlihat... aneh?


"Hmm.. manis.." ucap Senior Wonbin padaku.


Bibirku membentuk senyuman dan menggigit cake di tanganku.


"Wonbin.." Senior Pyo muncul dari keramaian.


Senior Wonbin menoleh.


"Maaf, bisakah kau ikut denganku sebentar?" tanya Senior Pyo pada kekasihku.


Mataku melirik Senior Wonbin.


"Hm? Kemana?" tanya Senior Wonbin.


"Disini agak ribut.." ucap Senior  Pyo, lalu memandangku. "Aku pinjam kekasihmu sebentar.." ijinnya, lalu menarik lengan Senior Wonbin pergi.


Dan aku tinggal sendirian. Canggung sekali. Mataku melirik ke sekitar, lalu menggigit cake di tanganku dan pura-pura sibuk sendiri. Aku meraskan keberadaan seseorang di belakangku, terasa sangat jelas menggesek pantatku. Kepalaku menoleh dan menemukan Dokter Jang mengambil Cake di sebelahku.