
Kenapa hidupku seperti ini? Kupikir setelah waktu berlalu, aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Ibu.
Entahlah.. apa aku bisa. Atau... apa aku punya?
"Dojin..."
Spontan kepalaku menoleh mendengar namaku di panggil. Namun sedetik kemudian aku tertegun menyadari siapa yang memanggil namaku.
Senior Wonbin menghembuskan nafas panjang, lalu menghampiriku dan duduk di sebelahku.
Bagaimana mungkin dia tau dimana aku? Aku sengaja duduk diam di bangku panjang dekat kafe tempatku bekerja dulu.
"Kau kenapa sih? Tidak menjawab pesanku juga tidak mengangkat telepon." ucap Senior Wonbin pelan,
"Aku mencarimu kemana-mana."
Seharusnya aku tidak bertemu dengannya scepat ini. Tapi malah langsung bertemu, "Bagaimana kau tau aku disini?"
Mata Senior Wonbin menyipit, "Dimana lagi kau akan berada?"
Aku menghembuskan nafas panjang dan memandang ke bawah.
"Sebenarnya ada apa? Ada masalah lagi dengan proses magangmu?" tanya Senior Wonbin.
Masalah lebih besar, aku bahkan belum memprosesnya. Aku bisa gila! Tanganku mengusap wajahku frustasi. Aku bisa merasakan pijatan lembut di kedua bahuku.
"Tidak apa-apa.. Ayo bicara di rumah." ajak Senior Wonbin.
Aku menarik tangan dari wajahku, "Aku bertemu ibuku.." ucapku.
Senior Wonbin diam sejenak, "Ibumu?"
"Hmm.." jawabku membenarkan.
Senior Wonbin tampak bingung, "Ibumu datang ke Seoul?"
"Ya.." jawabku.
"Kenapa tidak memberitauku kau bertemu dengannya?" tanya Senior Wonbin ingin tau.
Aku juga menanyakan hal yang sama. Tanganku mengelus pelupuk mataku frustasi, "Aku tidak tau.."
"Mmm.. ada pembahasan yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Senior Wonbin.
Aku kembali diam sejenak. Jalanan Seoul tidak pernah benar-benar sepi walaupun hampir tengah malam.
Apalagi jika berada di tengah kota.
Senior Wonbin mengelus kepalaku, "Ayo.. Bahas di rumah saja." Tangannya merangkul kedua bahuku, menarikku bangkit bersamanya.
Apartemen.
Senior Wonbin berlutut di depanku yang duduk di sofa, ia memegang kedua tanganku dan mentapku lekat. "Sudah merasa baikan?"
Kepalaku menggeleng.
Senior Wonbin mengangguk mengerti, "Terlalu berat?"
Mendengar itu kedua mataku mulai berair, kepalaku mengangguk pelan. Lalu bulir-bulir air berjatuhan begitu saja dari mataku.
Senior Wonbin memegang kedua pipiku, menyeka air disana walaupun kembali jatuh.
"Aku berpikir dia datang untukku.." ucapku, mengatakannya dengan keras justru terasa semakin sakit. Aku menutup wajahku dengan tangan dan menangis tersedu-sedu. Dengan lembut, kedua tangan Senior Wonbin memelukku, mengelus belakang kepalaku lembut.
Seperti kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi. Tubuhku terasa sangat sakit keesokan harinya. Perutku terasa mual, hawa panas mengelilingiku. Aku terbangun, lalu tertidur lagi, terbangun dan tertidur lagi.
Saat aku terbangun, mataku terbuka sedikit merasakan sesuatu di dahiku diambil beberapa saat, lalu kembali di letakkan kesana. Terasa dingin. Samar-samar mataku melihat pergerakan seseorang. Sesuatu yang lembut menyentuh wajahku. Tak lama mataku terasa sangat berat dan kembali memejamkan mata.
+++
Dahiku berkerut, lalu membuka mata perlahan. Terasa hangat. Rasa kantuk di mataku masih bergelayut. Aku menghela nafas dalam, berusaha mengumpulkan kesadaranku beberapa saat. Lalu aku menyadari sepasang tangan memelukku dari belakang. Bukan hanya itu, aku tidak mengenakan apa pun dan di punggungku terasa hangat. Mataku berkedip-kedip bingung, lalu melirik ke belakang. Senior Wonbin masih terlelap. Dia juga tidak mengenakan apa pun. Kulit punggungku menempel ke dadanya yang putih bersih. Apakah sebelumnya kami melakukan 'itu'? Sepertinya tidak.
Tapi melihatnya tidur tenang begitu membuatku tenang. Hati-hati aku membalik tubuhku. Memeluk tubuhnya dan menyandarkan wajahku dengan nyaman di sudut lehernya.
Kedua tangan Senior Wonbin bergerak memelukku lebih erat. Namun nafasnya masih terdengar normal.
Beberapa saat kemudian.
Aku terbangun merasakan elusan di kepalaku. Hidungku menghirup aroma menenangkan, mataku bergerak terbuka sembari menghela nafas dalam.
Elusan di kepalaku berhenti, "Sudah bangun?"
Senior Wonbin menatapku antusias, tangannya di kepalaku berpindah ke dahiku. "Panasmu sudah turun."
Mataku berkedip-kedip bingung, "Kenapa kita tidak berpakaian?" tanyaku dengan suara parau bangun tidur.
Mata Senior Wonbin menyipit, "Panasmu tidak kunjung turun, sudah kuberikan obat dan di kompres." ucapnya, "Sebelum terjadi kejang atau hal yang tidak diinginkan, aku membuka pakaianmu dan pakaianku. Kau tau? Tubuh manusia adalah kompres alami dan lebih cepat menetralkan panas tubuh."
Wow... dia mengompres tubuhku dengan tubuhnya. Terdengar menggairahkan.
Senior Wonbin mengelus pipiku dengan punggung tangannya, "Sudah merasa lebih baik?"
Tanganku memperat pelukan di tubuhnya, menempelkan pipiku lagi ke dadanya. "Hmm.." gumamku.
Senior Wonbin mengelus belakang kepalaku, "Syukurlah.. Aku khawatir sekali kemarin." ucapnya lega.
"Maafkan aku.." ucapku menyesal.
"Kenapa meminta maaf? Tidak ada yang tau kapan kita akan sakit." ucap Senior Wonbin lucu.
Benar, tapi aku tetap merasa bersalah. Kenapa aku selalu membuatnya sulit?
"Hmmm... menjagamu semalam, mengingatkanku lagi saat kau sakit di asrama." ucap Senior Wonbin membuka suara, "Bukankah ini seperti sedang bernostalgia?" tanyanya.
Aku menahan senyuman, "Aku terus-terusan menyusahkanmu.." ucapku pelan, "Saat masih di asrama dan sekarang juga."
"Apa maksudmu? Menyusahkan?" Senior Wonbin tertawa kecil, "Aku senang melakukannya.."
Dahiku berkerut, "Senang?"
"Ya.." jawab Senior Wonbin, "Aku sangat khawatir melihatmu sakit, tapi aku juga senang karena mendapat kesempatan untuk berduaan denganmu dan menjagamu." lanjutnya, "Bukankah itu terdengar romantis?"
Aku mengerutkan hidung menahan malu, lalu mengangkat kepala untuk memandangnya.
Senior Wonbin menatapku dengan senyuman di wajahnya, tangannya mengelus pipiku. "Kau punya tubuh yang rentan sakit, entah itu berkah atau musibah. Tapi aku senang sekali bisa mengurusimu ketika sakit."
Ucapan itu membuatku menahan senyuman, "Kau ingin aku sakit terus?"
Mata Senior Wonbin menyipit, "Apakah bisa?" candanya.
"Aissh!" aku menepuk dadanya gemas.
Senior Wonbin tertawa gemas, "Yang penting kau bisa melakukan apa pun yang kau mau dan yang terpenting sehat." ucapnya.
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Lalu kembali membaringkan kepala ke dadanya, "Aku akan tidur sedikit lagi." ucapku sembari memejamkan mata.
"Hmm.. bayi besarku tidurlah lagi." ucap Senior Wonbin sembari mengelus belakang kepalaku. Di setiap elusan seperti menambah rasa kantuk ke mataku. Semakn dalam dan hening.
+++
Masa magang lebih melelahkan dari yang kukira. Aku berjalan memasuki gedung apartemen sembari memperbaiki sandangan tas di satu bahu. Menghampiri pintu kaca menuju lift. Karena itu adalah apartemen yang termasuk mewah, sistem keamanannya juga lebih baik. Aku mengeluarkan kartu dari saku dan menempelkannya ke pemindai kartu.
TIT!
Pintu kaca terbuka, aku melangkah masuk. Pintu itu kembali tertutup di belakangku. Kakiku melangkah ke lift dan menekan tombolnya. Menunggu beberapa saat.
Cuph\~
Aku terkejut merasakan kecupan di pipiku dan menoleh.
Senior Wonbin tersenyum manis.
"Ohh.. Kau tidak di rumah?" tanyaku tidak menyangka.
Senior Wonbin tersenyum, memeluk lenganku sembari menyandarkan dagunya ke bahuku. "Aku pergi ke kantor agensi untuk membicarakan projekku selanjutnya." jawabnya.
Bibirku membentuk senyuman, aku selalu suka melihat penampilannya. Walaupun dia lebih sering di rumah, dia selalu terlihat rapi. Semua hal yang dia lakukan terorganisir dengan baik.
"Bagaimana harimu?" tanya Senior Wonbin tanpa mengangkat dagunya dari bahuku.
"Melelahkan.." jawabku lesu, lalu bibirku membentuk senyuman. "Tapi sekarang sudah lebih baik karena bertemu denganmu.." Tanganku mengelus tangannya di lenganku.
Senior Wonbin tersenyum memandangku.
Aku mendongak memandang kotak angka di atas pintu lift yang bergerak turun perlahan. Senior Wonbin masih bergelayut manja.
"Mmm.. Dojin, kau mengenal Ibu yang menatap kemari itu?" tanya Senior Wonbin.
Aku memandangnya bingung, "Siapa?" tanyaku, lalu memandang ke arahnya memandang. Sedetik kemudian aku terpaku, disana, diluar pintu kaca berdiri Ibu. Menatap ke arah kami dengan wajah tak percayanya.