Season Of You

Season Of You
— 16 —



Tidak ada yang tau tentang apa yang akan terjadi pada hidupmu. Benar sekali.


Cuph.. cuph..


Aku menahan tawa sembari mendorong Senior Wonbin yang menciumi pipiku, "Senior..."


Senior Wonbin menatapku sebal, "Hanya aku yang sangat rindu padamu setelah sebulan tidak bertemu?" Tanyanya memprotes.


Aku menatapnya lucu, "Aku juga rindu padamu..." ucapku, "Tapi ini lorong asrama." Ucapku mengingatkan.


Senior Wonbin memperhatikan sekitar, lalu mendorongku mundur masuk ke kamar asramaku di tahun keduaku disana.


Aku berbalik dan memimpin jalan masuk, aku tidak bisa menahan senyuman merasakan pelukan dari belakang dan kecupan-kecupan lain di pipiku. "Senior..." ucapku mengingatkan.


"Kenapa?\~" protesnya manja, "Tidak ada siapa pun disini..." ucapnya sembari melirik sekitar kamar.


Aku memandang wajahnya yang masih memeluk pinggangku dari belakang, "Benar... tapi ini kamar bersama, rekan sekamarku bisa kembali kapan pun."


Senior Wonbin mengerutkan hidung sebal, "Sudah selesai ujian semester dia belum pulang juga?"


"Dia tinggal sangat jauh, mungkin dia tidak akan pulang." Ucapku memberitau.


Senior Wonbin menghembuskan nafas lesu, menyandarkan dagunya di sudut leherku. "Kalau begitu kita langsung berangkat saja... jadinya aku bisa memelukmu sepuasnya."


Aku tertawa kecil, "Bagaimana bisa langsung pergi jika kau memelukku seperti ini." Ucapku memberitau.


Senior Wonbin tersenyum mendengar ucapanku, lalu melirik wajahku. "Aku rindu padamu." Ucapnya berbisik.


Tanganku mengelus pipinya gemas, "Aku juga.."


"Juga apa?" Tanya Senior Wonbin.


Hidungku merengut gemas, "Rindu padamu."


Senior Wonbin mengangkat dagunya dari sudut leherku, mengecup bibirku berkali-kali.


Aku perlu mendorong tubuhnya untuk menjauh sembari menahan tawa. "Ayo pergi..." ucapku menahannya, "Aku sudah rindu pada Tuan Putri." Aku bergegas menghampiri koperku yang sudah kusiapkan.


Libur semester lagi, seperti pulang ke rumah keluargaku sendiri. Keluarga Senior Wonbin menyambutku dengan suka cita.


Dan kembali ke kamar pria yang sudah hampir setahun menjadi kekasihku. Malam itu setelah bercengkerama dengan keluarga Senior Wonbin, pergumulan di tempat tidur tidak terelakkan.


Nafasku terasa berat, sebuah tangan menggerayangi tubuhku. Cumbuan basah merangsang leherku. Walaupun aku menikmatinya, namun tanganku menahan bahu pria yang sudah siap memakanku malam itu. "Senior..." panggilku pelan, "Senior..." panggilku lebih keras.


Bibir Senior Wonbin melepaskan leherku, memandangku meminta penjelasanan.


Aku menatapnya, "Senior... kau berkata harus menahan diri tentang ini." Ucapku mengingatkan.


Senior Wonbin menjilat bibirnya mendengar ucapanku, "Hmm.." gumamnya.


Bibirku membentuk senyuman dan mengelus pipinya, "Apa kau ingin melakukannya sekarang?"


Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Belum saatnya.." jawabnya pelan, ia menyandarkan dahinya ke bahuku.


Aku tertawa kecil sembari mengelus belakang kepalanya.


Tak lama Senior Wonbin mengangkat kepala memandangku, tangannya mengelus rambutku. "Aku berpikir untuk tinggal sendiri..."


Ucapan itu membuatku tertegun, "Kenapa?"


"Aku sudah mulai sibuk dengan kegiatan kuliah, juga aku harus menulis teratur untuk cerita online-ku." Ucapnya mulai menjelaskan, "Aku sudah mengatakannya pada orangtuaku, mereka berkata tidak keberatan."


Aku diam sejenak, "Bagaimana dengan Tuan Putri? Dia setuju?"


Senior Wonbin tersenyum, "Aku akan memberitaunya nanti.." jawabnya, ia menurunkan wajah dan mencium bibirku.


Tanganku bergerak memeluk leher Senior Wonbin.


Senior Wonbin menatapku lagi, "Jadi... semester depan, kau pulang ke tempatku saja nanti." Lanjutnya.


Aku menahan tawa, "Tapi masih boleh ke rumah keluargamu kan?"


"Eeeiii.. kau pikir aku apa?" Protesnya, "Tentu saja aku tetap akan membawamu bertemu keluargaku." Ia menghujani wajahku dengan kecupan.


Aku memejamkan mata menahan tawa, "Senior..." pintaku.


+++


Siapa sangka, satu semester berlalu lagi. Aku tidak menyangka waktu akan berjalan secepat itu. Kupikir aku akan sangat tersiksa karena merindukan Senior Wonbin.


Akhirnya aku menginjakkan kaki ke apartemen Senior Wonbin, sebelumnya aku hanya melihat photonya saja. Bibirku membentuk senyuman merasakan pelukan di pinggangku dari belakang.


Senior Wonbin menempelkan pipinya ke pipiku, "Bagaimana? Kau suka?"


Aku menghela nafas dalam memperhatikan ruang tengah yang sangat nyaman itu. "Kenapa dinding ini di biarkan kosong?" Tanyaku sembari menunjuk dinding di depanku.


"Aku akan memajang photo kita disana." Jawab Senior Wonbin.


Aku menahan senyuman, mataku melirik wajah di sampingku.


Senior Wonbin memandangku karena tak menjawab, "Kau tidak suka?"


Aku menghela nafas dalam, melepaskan pelukannya dari pinggangku dan berbbalik memandangnya. "Mmm... Aku akan setuju jika kau menanyakannya padaku semester depan." Ucapku.


Mata Senior Wonbin menyipit, "Kau serius?"


Aku menahan tawa, "Dimana kamarnya? Aku lelah sekali..." ucapku dan berjalan menyusuri apartemen itu lagi.


Senior Wonbin mengikutiku sembari memegang bahuku dari belakang.


Senior Wonbin meletakkan semua masakannya ke meja dan bergerak duduk di hadapanku, "Kuharap kau suka.." ucapnya.


Aku memperhatikan masakan di depanku, terlihat menggiurkan. "Kau semakin mahir memasak..."


Senior Wonbin menahan tawa, "Aku tidak punya apa pun untuk kulakukan selain kuliah dan menulis, jadi aku lebih sering memasak." Ucapnya.


Bibirku membentuk senyuman, "Kau semakin mirip dengan ibumu."


Senior Wonbin mengulurkan tangan ke kepalaku dan mengelusnya lembut, "Aku akan mengurusmu dengan sangat baik, jadi jangan khawatir ya..."


Ucapan itu malah membuatku tertawa, "Hmm... Hmm..." komentarku sembari mengangguk.


"Makanlah.." ia sempat mengelus pipiku sebelum menarik tangannya.


Aku mulai mencicipi masakannya, "Hmm... bahkan rasanya mirip dengan buatan ibumu.." pujiku.


Senior Wonbin tertawa kecil, "Semua ini memang resep ibuku.. Selamat menikmati.."


Kami terasa seperti pengantin baru, kenapa terasa manis sekali. Aku menikmati makan malam itu dengan senang hati.


Sembari makan Senior Wonbin memperhatikan ekspresiku.


Aku memandangnya sembari mengunyah makanan di mulutku, bibirku membentuk senyuman.


"Kau sudah punya rencana akan kuliah dimana?" Tanya Senior Wonbin.


Pertanyaan itu membuatku berpikir, "Hmm..." gumamku dulu, "Entahlah... Aku masih memikirkannya...."


"Kuliah di tempatku saja..." ucap Senior Wonbin menawari.


Helaan nafas keluar dari mulutku, "Di Seoul?"


Senior Wonbin tersenyum lebar dengan alis bergerak-gerak menggoda.


Aku tertawa karena responnya, "Aku juga mau..." ucapku pelan, "Tapi... aku tidak yakin orangtuaku akan setuju."


Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Apakah tentang biaya?"


Aku berpikir sejenak, "Ya.."


"Tapi kan kau bisa mencari beasiswa, kau cukup pintar." Ucap Senior Wonbin memberi usulan.


"Benar..." ucapku pelan, "Tapi Seoul terlalu mahal, aku tidak yakin bisa hidup disini secara mandiri."


Mata Senior Wonbin menyipit menatapku, "Apa maksudmu dengan 'hidup mandiri'?" Tanyanya.


Mataku berkedip-kedip tak mengerti, "Hidup tanpa bantuan orang tua." Jawabku.


Bibir Senior Wonbin manyun, "Aku tidak terhitung?"


"Terhitung untuk apa?" Tanyaku tak mengerti.


"Seseorang yang akan menghidupimu.." jawab Senior Wonbin lagi.


Aku bahkan tidak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa, "Jangan bercanda.."


Senior Wonbin meletakkan sendok di tengannya dan melipat kedua tangan di dada, "Apa maksudmu?"


Dahiku berkerut tak mengerti, "Apanya?"


"Memangnya kenapa aku memilih untuk tinggal sendiri? Aku sudah punya penghasilan dari menulisku." Ucapnya.


Aku bengong dulu mencerna ucapannya, "Untuk apa?" Tanyaku tak mengerti.


"Ck!" Senior Wonbin berdecak kesal, "Kau benar-benar..."


Dahiku berkerut tak mengerti, "Apa sih..." komentarku dan melanjutkan makanku lagi.


"Huuuffff..." Senior Wonbin menghembuskan nafas sebal, mengambil sendoknya lagi dan mulai makan.


Bibirku menahan senyuman dan melirik wajah sebalnya yang manis.


Setelahnya.


Aku masih sempat berbalas pesan dengan Ibu di ponselku, aku masih berkata bahwa aku menginap di asrama. Masih belum bisa menjelaskan kenapa aku bukannya pulang ke rumah orangtuaku tapi ke rumah orang lain. Ya walaupun sebenarnya ayah dan ibu pasti senang karena aku tidak mengganggu masa liburan keluar mereka.


Senior Wonbin di sebelahku memutar tubuh ke arahku, mengulurkan tangan ke atas tubuhku dan menatapku dari samping. "Dojin..."


"Hmm.." jawabku sembari menoleh sedikit.


Senior Wonbin menatapku lekat, "Bisakah kau memikirkannya? Kuliah disini?"


Aku diam sejenak menatapnya, tanganku mematikan layar ponsel. "Aku akan memikirkannya..." ucapku.


Senior Wonbin tersenyum, wajahnya mengantuknya terlihat senang. Ia mencium pipiku gemas.


Aku tersenyum, mengelus pipinya lembut dan menatapnya lekat.


Tatapan Senior Wonbin semakin dalam, "Aku tau kau pasti punya pilihan hidupmu sendiri..." ucapnya, "Tapi kumohon pertimbangkan sedikit ya." Pintanya.


Kepalaku mengangguk pelan, "Ya..."


Senior Wonbin memajukan wajah dan menyandarkan dahinya ke leherku.


Tanganku mengelus pipinya beberapa saat, "Kau bisa sangat menggemaskan.." ucapku pelan.


Senior Wonbin menahan tawa, terdengar jelas ia mengantuk.