Season Of You

Season Of You
— 14 —



Sore itu aku menghabiskan waktu di kamar Senior Wonbin, suasana asrama siswa tingkat akhir sangat berbeda. Karena teman sekamarnya lebih sering di perpustakaan untuk belajar, dia sering mengundangku ke kamarnya.


Senior Wonbin berbaring miring di tempat tidurnya, satu tangan menjadi penahan kepala. Ia tersenyum memandangi wajahku yang sedang asik membaca cerita yang sudah ia tulis di laptopnya di atas tempat tidur.


Konsentrasiku membaca jadi terganggu, mataku melirik wajahnya sembari menahan senyuman. Wajahnya mendapat pantulan cahaya matahari dari celah kain jendela.


Senyuman Senior Wonbin semakin lebar.


"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanyaku menahan senyuman.


"Aku senang melihat wajahmu." jawabnya.


Aku berusaha keras menahan senyuman mendengarnya, "Mulutmu manis sekali..." ucapku.


"Benarkah?" Senior Wonbin mengerucutkan bibirnya, ia memajukan wajahnya ke arahku.


Aku menatapnya malu.


"Terasa manis ketika kau menciumnya?" goda Senior Wonbin dengan mulut monyong padaku.


Aku tertawa kecil, "Senior..." ucapku malu sembari mendorong bahunya menjauh.


Senior Wonbin memegang belakang kepalaku, memajukan wajahnya ke wajahku.


Tanganku menahan bahunya, "Senior... nanti teman sekamarmu masuk.." bisikku di depan wajahnya.


"Sekali saja..." pintanya dan kembali memajukan wajah untuk menciumku.


Sekeras apa pun aku ingin menahannya, dia terlalu manis untuk kutolak. Aku membiarkannya mendekati wajahku, menempelkan bibir kami untuk beberapa saat. Hal itu terasa sudah cukup normal setelah beberapa bulan melakukannya. Ujian akhirnya sudah di depan mata, namun ia lebih nyaman belajar jika aku ada di sekitarnya. Begitu yang ia sampaikankan.


Senior Wonbin menahan tubuh dengan satu tangan, satu tangan lagi masih di belakang kepalaku. Ia menarik wajahnya sedikit dan menatap kedua mataku.


Aku menatap kedua matanya dari jarak sangat dekat, kenapa jantungku tidak juga terbiasa dengan ciuman itu?


"Dojin..." ucapnya pelan.


"Hmm..." jawabku.


"Boleh aku menggunakan lidahku?" tanya Senior Wonbin pelan.


Lidah? Ada apa dengan lidah? Dia menggunakan lidah untuk apa? Oh! Tunggu dulu... Aku sepertinya tau apa yang dia maksud. Kedua pipiku terasa seperti terbakar.


Senior Wonbin menatapku menunggu jawaban.


Tanpa sadar aku menggulung lidahku di dalam mulut, apakah rasanya akan aneh? Apakah aku akan suka?


"Hmmm..." bujuk Senior Wonbin lagi sembari menggerak-gerakkan alisnya.


Aku menghela nafas dalam dan mengangguk pelan.


Senior Wonbin menahan senyuman, ia memberi celah di bibirnya ketika mendekati wajahku.


Aku terlalu gugup memikirkan dia akan segera menciumku dengan cara yang berbeda dari biasanya. Juga, aku merasakan laptop di pangkuanku, yang menjadi batas di antara kami diambil pergi dari kedua tanganku. Kedua tanganku tergenggam gugup. Mataku bergerak menutup saat merasakan bibirnya kembali menyentuh bibirku. Semuanya gelap, aku hanya bergantung pada indera pendengaranku dan indera perasaku. Sesuatu yang lembut dan basah menyentuh permukaan bibirku, mengundangku untuk memberikan celah di antara bibirku. Bibirku terbuka sedikit, sesuatu yang lembut dan basah itu bergerak masuk ke mulutku. Rasanya aneh sekali. Tapi aku menyukainya. Bibir Senior Wonbin bergerak mengemut bibirku dari luar, sementara isi mulutnya berada di dalam mulutku. Memancingku untuk mengikuti gerakannya.


Tanpa kusadari tanganku bergerak naik ke leher Senior Wonbin, kulit lehernya terasa hangat. Seperti bukan diriku, mulutku bergerak tanpa komando. Membalas ciuman itu. Aku tidak sadar apa yang terjadi pada diriku, aku hanya membiarkan sesuatu di dalam diriku mengambil alih. Rasanya... ANEH.


+++


Udara sekelilingku terasa panas. Perasaan apa ini? Aku merasa seperti bukan diriku. Ada orang lain yang mengendalikan diriku. Aku tidak mengerti. Tapi rasanya menyenangkan. Terasa manis di mulutku, membuatku ingin menggigitnya.


"Hm!"


Aku terkejut dan spontan melepaskan apa pun yang ada di mulutku. Ada cairan yang menjadi rantai diantara bibirku dan bibir Senior Wonbin ketika aku melakukannya. Mataku menatap orang yang berada di bawah tubuhku tak percaya. Kapan... aku naik ke atas tubuhnya?! Bagaimana bisa?!


Senior Wonbin yang berbaring di atas kasur dengan punggungnya, menatapku dengan tatapan tak percaya. Nafasnya terengah-engah. Aku bisa melihat ujung lidahnya keluar untuk menjilat bibir bawahnya yang sedikit membengkak.


Sedangkan aku duduk di atas perutnya, tubuhnya berada di antara kedua kakiku. Wajahku terasa sangat panas. Seperti ada larva yang akan menyembur keluar dari atas kepalaku. Aku tidak percaya apa yang sudah kulakukan! Dengan cepat aku meloncat turun dari tempat tidur dan berlari pergi.


Tapi aku terlalu malu untuk berhenti. Aku tidak punya wajah bertemu dengannya saat itu. Apa yang sudah kulakukan?! Ada apa denganku?! Aku pasti sudah gila! Tanganku di tarik dari belakang dan tubuhku terputar ke belakang.


"Hei!" panggil Senior Wonbin dengan wajah cemas.


Aku tidak bisa menatap wajahnya. Ya Tuhan! Aku malu sekali! Apa yang harus kukatakan?! Bahwa tadi aku kehilangan akal sehatku?


"Kau baik-baik saja?" tanya Senior Wonbin, suaranya terdengar lembut.


Aku menghela nafas dalam mendengar pertanyaan itu, mataku akhirnya bergerak naik memandang wajahnya.


Senior Wonbin menatap kedua mataku lekat, "Kau baik-baik saja?" ulangnya.


"Maaf.... aku.... aku tidak tau apa yang tadi kulakukan." jawabku terbata-bata. Sial!! Aku benar-benar malu! Bagaimana jika dia malah tidak ingin bertemu denganku lagi? Apakah tadi itu termasuk pelecehan seksual?


Senior Wonbin menggeleng, "Kenapa minta maaf?" tanyanya, ia memegang tengkukku.


Mataku terpejam dengan nafas terengah-engah, aku benar-benar malu. Bagaimana caraku menjelaskan apa yang terjadi tadi?


"Ayo... kita bicara di dalam kamar." Senior Wonbin menarik tanganku kembali ke kamarnya, juga menutup pintu.


Aku sangat malu. Kembali kesana membuatku ingin menangis.


Senior Wonbin dengan lembut menarik lenganku kembali ke tempat tidurnya dan mendudukkanku, ia duduk di sebelahku dan menatapku dalam. "Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi. Tangannya mengelus belakang kepalaku, terasa sangat lembut hingga aku merasa sedikit lebih tenang.


Aku menatapnya menyesal, "Maafkan aku, Senior. Aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi padaku tadi."


Senior Wonbin menghela nafas dalam sembari tersenyum, "Kenapa meminta maaf?" tanyanya lagi.


"Aku benar-benar malu.." ucapku lagi dan menutup wajahku dengan kedua tangan.


Senior Wonbin tertawa kecil, ia menarik kedua tanganku dari wajah dan menatapku lucu.


Aku memandangnya menahan malu.


Senior Wonbin melepaskan kedua tanganku, kembali memegang kedua sisi wajahku dan mencium bibirku lagi.


Mataku berkedip-kedip menatapnya.


Senior Wonbin tersenyum ketika mata kami bertatapan lagi. "Tidak perlu malu..." ucapnya pelan, tapi justru itu membuatku semakin malu. "Aku tau pasti sangat sulit menahan dirimu." lanjutnya, ia menahan tawa. "Karena aku juga kesulitan menahan diriku ketika di sekitarmu."


Ucapan itu membuatku terpaku. Menahan dirinya? Maksudnya... dia menahan dirinya dariku? Atau bagaimana?


Ibu jari Senior Wonbin mengelus pipiku lembut, "Usiaku akan segera 20 tahun, sedangkan kau masih 17 tahun..." ucapnya memberitau, "Itu berarti jika aku tidak menahan diriku, sama saja aku akan melakukan hubungan seksual dengan anak di bawah umur.."


Ucapannya membuatku tersipu. Tanganku mendorong tangannya dari wajahku dan memalingkan wajah menahan malu, "K-kenapa mengatakan itu?" tanyaku malu.


Senior Wonbin tertawa kecil, "Aku hanya memberitau..." ucapnya, ia mengelus belakang kepalaku. Ia mendekati telingaku, "Aku menyukainya, tapi sebaiknya tahan sedikit." Bisiknya.


Bulu kudukku berdiri mendengar bisikan itu. Tanganku mendorongnya menjauh. Wajahku terasa sangat panas.


Senior Wonbin tertawa kecil, lalu mengecup pipiku.


"Senior..." ucapku malu.


"Kau tidak lapar?" Tanya Senior Wonbin manis.


Aku memandangnya malu-malu, bibir bawahnya yang tadi membengkak sudah agak membiru sedikit. "Tapi..." aku menunjuk wajahnya.


Senior Wonbin meraba wajahnya, ia meringis sedikit ketika memegang bibirnya. "Ahhh... seseorang hanya sedikit nakal tadi." Ucapnya dengan alis naik menatapku.


Rasanya aku ingin menciut dan hilang, aku memandang ke bawah malu dan menutup wajah dengan tangan.


Senior Wonbin tertawa terbahak-bahak, kedua tangannya bergerak memeluk tubuhku.