
Mungkin karena peran istri sudah tersematkan padaku, aku bertugas mencatat keperluan rumah di ponsel dan memastikan semuanya sudah ada di keranjang.
Senior Wonbin mendorong keranjang perlahan, "Sepertinya kecap asin di rumah habis.."
Aku memandangnya bingung, "Kita butuh kecap asin?" tanyaku.
Senior Wonbin menahan tawa, "Tentu saja.. Itu bumbu untuk masak." jawabnya.
"Ahh.." ucapku mengerti. Tapi sepertinya aku istri yang tidak begitu berguna, karena aku tidak pernah masak di dapur. "Kecap asin disana.." ucapku dan berjalan duluan ke rak tempat benda yang kucari. Aku melihat-lihat dulu karena ada beberapa merk yang terpajang disana. Juga ada beberapa ukuran. "Kau biasanya menggunakan yang mana?" tanyaku.
Hening...
Kepalaku menoleh ke samping dan sekitar, tidak ada siapa pun disana. "Hm? Dimana dia?" gumamku sendiri, tanganku membawa salah satu botol kecap asin berukuran besar kembali ke tempat aku berpisah dengan Senior Wonbin. Langkahku terhenti melihat kekasihku itu berdiri bersama keranjang belanjaan sedang berbicara dengan seorang pria. Pria itu terlihat sangat keren, brewok tipis di wajahnya membuatnya terlihat semakin macho.
Senior Wonbin tertawa kecil dengan pria itu. Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman melihat keakraban mereka. Apalagi saat pria asing itu memegang bahu kekasihku dengan santai. Mata Senior Wonbin bergerak ke arahku yang sedang memeperhatikan, "Oh.. sudah dapat kecap asinnya?" tanyanya.
Aku tertegun menjadi pusat perhatian, "Oh... ya.." jawabku sembari menunjukkan yang kupegang, lalu berjalan pelan menghampiri keranjang sembari meletakkan botol kecapnya.
"Wuah.. kau ingat merek yang dirumah?" ucap Senior Wonbin kagum.
Aku bingung sendiri, karena aku hanya asal ambil saja. Kurasa aku tidak perlu menjawab itu, mataku memandang pria asing itu.
Senior Wonbin menyadari tatapanku, "Oh... Dojin, kau mungkin tidak mengenalnya. Dia senior kita di sekolah." ucapnya memperkenalkan.
"Selamat siang, senior." sapaku sembari mengangguk sopan.
"Hai.." pria itu mengulurkan tangannya padaku, "Pyo Taejo." ucapnya memperkenalkan diri.
Tanganku membalas uluran tangannya, "Yun Dojin." balasku.
"Dojin masuk ke sekolah ketika aku kelas tiga, senior." ucap Senior Wonbin memberitau.
"Ohhh.. junior sekali." ucap Senior Pyo padaku.
Aku tersenyum canggung, maksudnya apa?
"Oh ya? Tau tidak? Senior Taejo tinggal dekat gedung apartemen kita." ucap Senior Wonbin memberitau.
Kepalaku mengangguk-angguk mengerti.
"Kalian mampir saja ke tempatku. Aku baru pindah kesana, jadi belum banyak orang berkunjung." ucap Senior Pyo menawarkan.
Senior Wonbin tertawa kecil, "Mungkin nanti, Senior."
"Baiklah, aku akan mencari barang yang kuperlukan. Senang bertemu denganmu, Yun Dojin." ucapnya padaku, lalu menepuk bahu Senior Wonbin sembari berjalan pergi.
Aku mengangguk sopan pada senior itu, lalu memperhatikan ekspresi Senior Wonbin yang terlihat senang.
Perjalanan pulang.
Mataku melirik Senior Wonbin yang konsentrasi mengemudi, "Aku tidak tau kau akrab dengan seseorang di sekolah."
"Hm? Oh.. Ya.. Aku tidak akrab dengan banyak orang." jawab Senior Wonbin, "Senior Taejo banyak membantuku dulu." jawabnya.
Perasaan apa ini? Kenapa tidak nyaman? "Hmm.." gumamku mengerti.
"Kau ingin apa untuk makan malam?" Tanya Senior Wonbin bersemangat.
Mataku menoleh padanya, bibirku membentuk senyuman. Lagipula apa yang akan terjadi? Mereka hanya Senior-Junior dulu di sekolah. Tapi.... sejujurnya itu yang membuatku khawatir.
+++
Sore itu Senior Wonbin kembali ke apartemen setelah jadwal olahraganya. Dia biasanya pergi ke gym di gedung apatemen atau berlari di taman sekitaran gedung apartemen. Terkadang aku ikut dengannya, tapi hari itu aku merasa kurang sehat.
Aku berbaring di sofa menonton TV dengan selimut menghangatkanku ketika ia masuk. "Sudah kembali?" tanyaku sembari duduk.
Senior Wonbin tersenyum, menghampiri sofa dan berjongkok di sebelahnya, "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya sembari menyentuh dahiku dengan punggung tangannya.
Bibirku membentuk senyuman, "Sudah lebih baik.." jawabku.
"Kau masih demam." ucap Senior Wonbin sedikit khawatir, "Sudah minum obatmu lagi?"
Aku tertawa kecil, "Tidak perlu khawatir, aku sudah sering sakit. Demam seperti ini akan segera hilang.." jelasku.
"Ck.. jangan menganggapnya remeh, kau masih dalam masa pemulihan. Bisa saja demam itu membuatmu infeksi atau ada pembengkakan lain." jelas Senior Wonbin sembari mengelus pipiku.
Ucapan itu membuatku tersipu, aku memajukan wajah dan mengecup bibirnya. "Mandilah dulu.."
Senior Wonbin mengerutkan hidung, "Aku bau ya?"
Kepalaku mengangguk pelan.
Senior Wonbin melirik dirinya. Baju yang ia kenakan memang basah karena keringat. Ia tertawa kecil dan bergerak bangkit, "Setelah aku mandi kita makan ya." ucapnya sembari berjalan ke kamar.
"Hmm.." gumamku menjawab, mataku kembali ke layar TV yang sedang menayangkan acara memasak.
Setelahnya.
"Hmm.. Segeralah sembuh, aku ingin berolahraga denganmu." ucap Senior Wonbin.
Aku tersenyum tipis, "Ya.." jawabku pelan.
Senior Wonbin tersenyum lebar, perhatiannya teralih pada ponsel yang berbunyi di sebelahnya. Ia meletakkan sendok dan mengambil ponselnya.
Mataku melirik ponsel di tangannya, jarang-jarang ia memegang benda itu ketika makan. Kecuali memang sesuatu yang sangat penting hingga ia tidak bisa menundanya. Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman melihat sudut bibirnya membentuk senyuman sebelum ia kembali meletakkan ponsel ke meja.
Senior Wonbin mengambil sendok, matanya kembali padaku. "Ada apa?" tanyanya.
"Siapa?" tanyaku ingin tau.
"Oh.. Senior Taejo.." jawab Senior Wonbin, "Tadi tidak sengaja bertemu dengannya saat jogging, lalu kami bertukar nomor ponsel." ucapnya memberitau.
Aku tau terdengar aneh, tapi aku tidak tau apa yang harus kukatakan. "Hmm.." gumamku berkomentar, lalu kembali makan.
Malamnya.
Aku sudah berbaring di tempat tidur saat Senior Wonbin keluar dari kamar mandi dan menghampiri tempat tidur. ia menyibak selimut dan masuk ke bawahnya.
Senior Wonbin mengulurkan tangan ke perutku, mendekat ke arahku sembari berbaring.
Bibirku membentuk senyuman kearahnya.
Senior Wonbin memajukan wajahnya, menempelkan dahinya ke pipiku, membuatku tertawa.
"Kau sedang apa?" tanyaku lucu.
Senior Wonbin memundurkan kepalanya dengan senyuman lebar di wajahnya, "Kau sudah tidak panas lagi.." ucapnya.
"Hmm.. Sudah kubilang kan?" ucapku memberitau.
"Ya.." jawab Senior Wonbin, "Tapi tetap saja kau harus minum obat jika di perlukan."
"Mengerti." jawabku pelan.
Senior Wonbin mengerutkan hidungnya, tangannya menarik tubuhku ke arahnya. Lalu kecupan manis ke pipiku.
"Senior.." aku mengelus bahunya.
"Kau kurus sekali sekarang." ucap Senior Wonbin, ia melakukannya sembari menciumi tulang dadaku yang semakin menonjol setelah sakit sebelumnya.
Aku memegang pipinya dan memandangnya, "Kau sedang ingin?" tanyaku.
Senior Wonbin mengulum bibirnya malu, "Hm-hm.." jawabnya.
Aku menahan tawa, memang sudah lama sejak terakhir kami menghabiskan waktu romantis di tempat tidur. Tanganku mengelus pipinya gemas.
Senior Wonbin bangkit sedikit, merayap naik dan menyentuh bibirku dengan bibirnya.
Ring... Ring... Ring...
Ciuman manis itu terhenti karena suara ponsel Senior Wonbin di meja sisi tempat tidurnya.
Senior Wonbin memandang ke belakang, "Siapa yang menghubungi jam segini?" tanyanya, ia memutar duduknya untuk mengambil ponsel.
Aku berbaring miring memperhatikannya.
"Oh.." Senior Wonbin menggeser tombol hijau di layar dan menempelkannya ke telinga, "Ya, Senior Taejo..."
Aku tidak menyangka nama itu yang akan disebut. Kenapa dia menghubungi kekasihku nyaris tengah malam begini?
"Hm? Besok? Ya.. tentu.." Senior Wonbin melirikku, "Aku akan membawa Dojin juga." ia tertawa kecil, "Ya.. Sampai besok, Senior." pamitnya dan menarik ponsel dari telinga.
Aku menatapnya antusias, "Ada apa?" tanyaku.
Senior Wonbin meletakkan ponsel ke meja lagi, "Senior Taejo bertanya apakah besok aku ingin bergabung dengannya untuk jogging.." jelasnya sembari menghampiriku, tangannya menyentuh pinggangku di bawah selimut, "Karena demammu sudah turun, aku setuju dan berkata kau akan ikut juga." ucapnya. Ia mendorongku berbaring dengan punggungku.
Nafasku mulai berat merasakan ciuman-ciuman di leher dan dadaku. Tanganku mengelus belakang kepalanya.
Senior Wonbin mengangkat kepalanya dan memandangku, "Tapi kau sudah cukup sehatkan untuk jogging?" ia terdengar khawatir.
Bibirku membentuk senyuman dan mengelus pipinya lembut. "Jika terlalu lelah aku akan beristiharat."
Senior Wonbin menghela nafas dalam, lalu mengecup pipiku. "Aku akan memastikanmu tidak kecapekan besok.." ucapnya lagi.
"Besok? malam ini bagaimana?" Tanyaku menggodanya.
Senior Wonbin menyipitkan matanya, "Aku akan yang akan membuatmu lelah sedikit.." jawabnya.
"Pffftt.." aku menahan tawa, "Sedikit?"
Senior Wonbin tersenyum nakal, "Baiklah.. Banyak." ucapnya memperbaiki, lalu mencium bibirku seperti ia akan menelanku hidup-hidup.