
Setelahnya.
Hujan turun sangat deras sekali. Rata-rata siswa memilih untuk tidak langsung kembali ke asrama. Aku juga melakukannya. Aku duduk di dekat jendela kelas, memperhatikan keluar. Air membasahi kaca, udara jadi sedikit lembab. Aku sedikit kaget merasakan sebuah tangan di bahuku dan menoleh.
Senior Wonbin memperhatikan keluar jendela dengan senyuman tipis di bibirnya.
Mataku melirik tangannya yang sangat santai di bahuku. Bibirku menahan senyuman dan memandang ke jendela lagi.
"Padahal ramalan cuaca berkata hujannya nanti malam.." ucap Senior Wonbin pelan.
Aku memandangnya bingung, "Kau melihat ramalam cuaca?"
"Sesekali..." jawabnya, ia memandangku. "Seru juga mengetahui kapan akan hujan, seperti cenanyang."
Ucapan itu membuatku tersenyum lucu, "Cenayang..." gumamku sendiri.
Senior Wonbin memandang jendela lagi, wajahnya berkilau saat kilat muncul di langit.
Spontan aku menoleh ke jendela.
JLEDAAAAARRRR!!!
Petir langsung menyambar dengan suara yang sangat besar. Aku tersentak kaget sambil memegang dadaku, "Ya ampun... rasanya dekat sekali." Gumamku sendiri, kepalaku menoleh dan menemukan Senior Wonbin menatap jendela dengan wajah senang. Dia... senang karena petir?
"Cantik sekali..." ucap Senior Wonbin.
Mataku berkedip-kedip, "Petirnya?"
Senior Wonbin memandangku, bibirnya membentuk senyuman lucu. "Jangan cemburu pada petir.." ucapnya.
Kedua pipiku terasa panas, apa maksudnya?
Senior Wonbin menepuk pipiku gemas, lalu kembali memandang jendela.
Sepertinya sekarang sudah ada selusin kupu-kupu di dalam perutku.
Senior Wonbin menoleh ke sekitar, juga ke pintu.
Aku meliriknya bingung karena menunjukkan gelagat seperti itu. Lalu matanya mengarah padaku, aku tidak tau dia bisa menatap seperti itu. Kenapa terlihat menggemaskan?
Senior Wonbin memajukan wajahnya, lalu yang kutau kecupan mendarat di pipiku.
Aku terkejut dan melirik ke pintu sembari memegang pipi, "Senior..." protesku.
Senior Wonbin tertawa kecil.
"Bagaimana jika ada yang melihat?" Tanyaku setengah berbisik.
"Kenapa? Kau takut?" Goda Senior Wonbin.
Aku menatapnya tak percaya, bukan karena aku tidak suka, lebih ke takjub. "Bagaimana jika ada yang melihat apa yang kau lakukan?"
Senior Wonbin membalik tubuhnya, menyandarkan punggung ke dinding di dekat jendela. Satu tangan menopang tubuh ke pinggir jendela, menatapku tepat di mata. "Aku tidak akan melakukannya pada orang yang tidak menginginkannya..." ucapnya, "Apa kau tidak menginginkannya?"
Pertanyaan jebakan. Jika aku berkata aku menginginkannya, apa dia akan berpikir aku murahan? Jika aku berkata aku tidak menginginkannya, apakah dia akan berpikir aku jual mahal? Sulit sekali.
Senior Wonbin menatapku menunggu jawaban. Tatapannya seperti menggelitik mentalku untuk segera menjawab.
"Aku... ingin." Jawabku pelan, wajahku terasa sangat panas. Mataku turun ke bawah, tidak bisa menatap ke dalam matanya.
Senior Wonbin tersenyum, "Manis sekali." Ucapnya.
Aku berusaha menahan senyuman mendengar ucapan itu.
"Akhir pekan kau akan melakukan sesuatu?" Tanya Senior Wonbin.
Aku tertegun menatapnya. Jadi ajakan itu benar-benar ajakan kencan?
"Aku lelah selalu belajar, jadi ingin bersantai sebentar." Ucap Senior Wonbin santai, "Kau ingin menemaniku?"
Rasanya sangat menyenangkan, kenapa dia bisa sangat santai mengatakannya? "Apa..." aku diam sejenak, "...ini kencan?"
Senior Wonbin menatapku dengan mata menyipit, "Jika jawabannya 'Ya', apakah kau akan mempertimbangkannya?"
Aku mengulum bibir menahan senyuman, "Jika jawabannya 'Tidak', baru aku akan mempertimbangkannya.."
Senior Wonbin memandang ke atas dengan senyuman mengembang, ia terlihat memperhatikan ke arah belakangku.
Kepalaku menoleh ke belakang ingin tau apa yang ia lihat. Aku merasakan tangan hangat di pipiku, wajahku di arahkan kembali menghadap depan. Wajah Senior Wonbin bergerak semakin dekat. Nafasku tercekat, jantungku berdegup sangat kencang. Sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Ujung hidung mancungnya menyentuh pipiku. Tubuhku membeku, tidak bisa memberi respon apa pun. Pikiranku belum bisa mencernanya.
Senior Wonbin menarik wajahnya, matanya bergerak dari ke bawah ke arah mataku. Ia menatapku dalam, kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman lebar. Dia bahkan terlihat sangat tampan dari jarak sedekat itu.
Tanpa sadar aku mengulum bibirku, seperti tidak percaya apa yang baru terjadi. Namun aku tidak bisa mengatur ekspresiku.
Ibu jari Senior Wonbin mengelus pipiku pelan, "Sampai jumpa di akhir pekan..." ucapnya manis, lalu bergerak bangkit dan berjalan pergi.
Ya ampun... jantungku. Rasanya aneh sekali. Untuk pertama kalinya, aku berciuman di sekolah. Di tempat umum. Di tempat yang bisa di lihat siapa pun. Bibirku membentuk senyuman, mengelus belakang kepala malu. Kepalaku menoleh ke belakang sedikit, Senior Wonbin di ambang pintu berhenti sejenak untuk memandang ke arahku. Lalu berjalan pergi. Oh Tuhan! Apakah kami... resmi berpacaran? Atau... hanya... mmmm... teman tapi mesra? Atau.... Apa?
+++
Akhir pekan tiba, aku tidak pernah merasa pakaian yang kupunya bersamaku di asrama sangat biasa. Aku menatap pantulan diriku di cermin seluruh badan milik rekan sekamarku. Aneh sekali... kenapa aku tiba-tiba merasa wajahku aneh? Rambutku apa selalu seperti ini?
Aku memandang Yohan, "Aku terlihat aneh?"
Dahi Yohan berkerut, lalu bergerak duduk. "Hmm..." jawabnya sembari mengangguk tanpa ragu.
Aku menghela nafas dalam mendengarnya, lalu memandang pantulan wajahku lagi di cermin sembari merapikan rambutku.
Yohan bergerak bangkit, berjalan menghampiriku dengan kedua tangan di pinggang. Memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah.
Aku memandangnya bingung, "Ada apa? Aneh sekali?" Tanyaku sedikit cemas.
"Kau akan pergi kemana?" Tanya Yohan.
Aku tertegun mendengar pertanyaan itu, "Oh... mmm... aku... akan..."
Yohan menatapku curiga, "Kenapa mencurigakan..."
Mataku berkedip-kedip panik, "Ha? A-apanya?"
Kepala Yohan berat kesatu sisi menatapku, "Tunggu... jika kupikir-pikir, setiap akhir minggu kau selalu saja pergi keluar..." ucapnya, membuat jantungku berdegup sangat cepat.
Aku menahan nafas dan memandang ke bawah.
"Kau sengaja keluar asrama untuk cari pacar kan?" Tanya Yohan menebak.
Tebakan Yohan membuatku kaget, "Hm?"
Yohan menatapku aneh, "Hmm...sudah kuduga..." ucapnya seolah-olah dia tau apa yang dia katakan.
Apa yang harus kulakukan dalam situasi itu? Menjelaskan yang sebenarnya tentu bukan keputusan baik, "Ti-tidak kok!" jawabku dan langsung bergegas pergi meninggalkan kamar.
"Kau benaran akan pergi seperti itu?" tanya Yohan di belakangku.
Wajahku terasa panas, rasa percaya diriku sudah sangat hilang. Aku tidak tau apakah aku harus muncul di depan Senior Wonbin saat itu atau tidak. Tapi tidak mungkin aku tidak muncul karena sudah janji akan ikut dengannya. Dengan sangat gugup aku mengintip keluar gedung asrama melalui pintu, aku bisa melihat mobil Senior Wonbin di tempat biasa terparkir. Dan si pemilik mobil berdiri di depannya dengan kedua tangan terlipat di dada, memandang ke bawah sembari menendang-nendang kerikil. Setelah beberapa saat, akhirnya aku pasrah saja dan melangkah keluar dari tempat persembunyianku. Aku tidak mungkin membiarkannya disana seharian.
Wow... seperti ada efek slow motion di sekitarnya, ia mengenakan kemeja berwarna biru tua, celana kain berwarna coklat. Ia menoleh ke arahku, wajah tampannya sudah pasti sangat-sangat-sangat menawan. Di tambah rambutnya yang saat itu tertata rapi. Wajahnya berubah antusias, senyuman mengembang di bibirnya. "Kau disini..." lipatan kedua tangannya terlepas dan menungguku dengan tubuh menghadapku.
Seperti seorang gadis yang di jemput pacarnya, aku nyaris menyelipkan rambut ke belakang telinga. Wajahku terasa panas. Aku sampai lupa untuk memikirkan penampilanku yang mungkin sangat buruk saat itu.
"Sudah siap pergi?" tanya Senior Wonbin begitu aku tiba di depannya.
Kepalaku mengangguk pelan.
Senior Wonbin berbalik sembari menepuk bahuku, "Ayo..." ajaknya, ia berjalan ke pintu kemudi.
Aku mengelus belakang kepalaku canggung, lalu berjalan ke pintu di samping kemudi.
Perjalanan hari itu terasa lebih istimewa karena aku tau orang di sebelahku bukan sekedar senior untukku. Tanpa sadar aku terus-terusan melirik ke arahnya.
Senior Wonbin tersenyum walaupun matanya masih ke depan, "Apakah aku setampan itu?" candanya.
Wajahku terasa panas dan memandang ke bawah, "Mmm.. maaf.." ucapku malu.
Senior Wonbin tertawa kecil, "Aku hanya bercanda..." ucapnya santai, ia melirik ke arahku.
Aku memandangnya malu-malu.
"Ada apa?" tanya Senior Wonbin.
Kepalaku menggeleng, "Aku hanya ingin menanyakan sesuatu..." ucapku memulai.
"Hm-hm..." jawab Senior Wonbin dan mendengarkan sembari menyetir.
"Apakah tidak masalah menjadi satu-satunya siswa yang membawa mobil pribadi?" tanyaku ingin tau.
Senior Wonbin tersenyum lucu, "Kau penasaran tentang itu?"
"Hmmm..." gumamku membenarkan.
Senior Wonbin menggaruk pelipisnya, "Hanya... tidak mudah saja kemana-mana jika tidak ada kendaraan." jawabnya, "Ayahku berpikir itu lebih baik..." jawabnya.
Beruntung sekali punya keluarga kaya. "Hmmm..." gumamku pelan.
Senior Wonbin tertawa kecil, "Aku terdengar seperti anak manja ya?" candanya.
Aku tertegun, "Ti-tidak! Tentu saja tidak..." jawabku pelan.
Senior Wonbin melirkku lucu, "Aku tau... Sejak dulu semua orang menyebutku anak manja." ucapnya membenarkan, "Tapi... aku tidak pernah merasa menjadi manja. Walaupun aku memang anak manja, aku tidak menyusahkan siapa pun."
Aku jadi merasa bersalah sendiri mendengar ucapannya, "Tidak kok... Kau sama sekali tidak terlihat manja.." ucapku cepat, "Hanya saja... tidak semua orang besar di keluarga sepertimu."
Senior Wonbin tertawa kecil lagi, "Manis sekali.." ucapnya.
Aku tersenyum malu, "Tapi kan benar..."
Senior Wonbin menjawab ucapanku dengan uluran tangan ke wajahku dan mencubit pipiku gemas.
"Senior..." ucapku malu.
Senior Wonbin tertawa kecil sendiri.