
Rasanya canggung sekali berjalan keluar dari gedung sekolah menuju gedung asrama yang tidak jauh dari sana bersama Senior Wonbin. Ia terlihat sangat rapi walaupun sudah bermalam di ruang kesehatan, sedangkan aku.... Huffttt... aku terlihat seperti pengemis. Karena itu hari Sabtu, tidak begitu banyak orang yang melakukan kegiatan di pagi hari. Hanya beberapa siswa yang memiliki kegiatan klub saja. Di kepalaku sedang melakukan rapat darurat untuk menemukan cara dan kalimat yang tepat untuk berterima kasih pada Senior Wonbin, aku belum pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya, jadi terasa canggung sekali.
"Kau suka membaca?"
Pertanyaan itu membuatku kaget, aku menatap Senior Wonbin yang tiba-tiba berbicara.
Senior Wonbin berjalan santai dengan kedua tangan masuk ke saku celana, sepertinya karena tidak mendengar jawabanku ia menoleh.
Aku tertegun saat mata kami bertemu, lalu menurunkan pandanganku.
"Kau suka membaca?" Ulang Senior Wonbin lagi.
"Mmm... suka." Jawabku pelan.
"Membaca apa?" Tanya Senior Wonbin.
Membaca apa? Apa ya? Kenapa pikiranku kosong? Aku mulai panik sendiri, "Mmm.. baca... mmm..."
Senior Wonbin menghela nafas dan kembali memandang ke depan, "Sudah.. tidak perlu di jawab."
Mendapat tekanan seperti itu membuat perutku mual, tanganku memegang perut dengan wajah meringis.
Senior Wonbin menatap tangan di perutku aneh, "Kenapa lagi?"
Kepalaku menggeleng, aku mungkin bisa muntah jika berbicara.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Senior Wonbin memastikan.
Kepalaku mengangguk pelan. Begitu memasuki gedung asrama, aku langsung membungkuk sopan dan bergegas pergi. Aku harus menahan rasa mualku agar tidak muntah saat itu juga.
Dan hari itu kuhabiskan dengan berbaring di tempat tidur, paling tidak itu tidak akan membuatku muntah.
Tok! Tok! Tok!
Aku nyaris tertidur saat mendengar ketukan keras itu, "Hmm.." gumamku tanpa sadar. Mataku melirik ke tempat tidur di sisi lain ruangan, tidak ada siapa pun disana. Siapa yang datang jika bukan teman rekan sekamarku itu? Aku bergerak duduk mendengar pintu terbuka dan seseorang masuk, sedetik kemudian aku terpaku melihat siapa itu.
Eunwoo menghampiri tempat tidurku dan duduk di pinggirnya, wajah juteknya terlihat seperti harinya sangat buruk. Kedua tangannya terlipat di dada.
Mataku memandangnya tak berkedip. Apakah aku sedang bermimpi? Benarkah?
"Kau kenapa?" tanya Eunwoo.
Wuaah.. tidak mimpi, bahkan suaranya saja membuatku merinding. "Mmm... hanya..." apa namanya penyakit karena rundungan? Aku juga tidak tau apa yang terjadi padaku.
"Aku melihatmu bersama Senior Hong Wonbin tadi pagi." Ucap Eunwoo langsung.
Hm? Pembahasan apa ini? Mendadak sekali..
"Bagaimana bisa?" Tanya Eunwoo.
"Mmmm... kemarin aku sakit, lalu... mmm..." aku berusaha menjelaskannya, tapi sepertinya aku tidak berbakat menjelaskan apa pun.
Eunwoo menghembuskan nafas kesal, "Bisa tidak kau langsung menjawab?! Kenapa seperti anak perempuan begitu?" Protesnya.
Aku tertegun mendengar ucapan itu.
Eunwoo melepaskan lipatan tangannya dan memutar tubuh menatapku, tatapannya tampak sangat kesal. "Dengar Yun Dojin.." ia terdengar sangat serius, ada apa dengannya? "..apa pun yang pikirkan, jangan lakukan disini. Jangan di sekolah ini! Kau mengerti?!" Tegasnya.
Walau pun tidak mengatakan semuanya dengan gamblang, aku bisa merasakan sesuatu terasa sakit di dalam dadaku. "Eunwoo?"
Eunwoo menjilat bibir bawahnya, tangannya menopang ke sisi lain tempat tidurku. Ia memajukan tubuhnya sedikit dan menatap kedua mataku lekat, "Kau dengar? Jangan lakukan disini..." ucapnya lagi, "Sangat menjijikkan..."
Aku bisa merasakan bibirku bergetar. Terdengar sangat menyakitkan.
Eunwoo menghela nafas dalam, lalu bergerak bangkit dan berjalan pergi begitu saja.
Aku masih terduduk di tempatku.
"Sangat menjijikkan..."
Ucapan itu... adalah hal terakhir yang kudengar dari Eunwoo sebelum dia berubah menjadi seseorang yang dingin seperti sekarang. Bukan hanya dirinya, aku juga merasa jijik pada diriku sendiri.
Rasa mual itu kembali lagi. Mendesak perutku lagi. Aku tidak bisa menahannya. Dengan cepat aku menyibak selimut, berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutku ke toilet.
"Huweeeekk!!!" Rasanya tidak nyaman. Rasa mual itu tidak kunjung hilang. Aku bisa merasakan sakit di perutku.
"Dojin\~\~"
Langkahku di lorong terhenti mendengar suara itu. Kepalaku memandang ke bawah saat para senior mengerubungiku. Setelahnya aku sudah tau apa yang terjadi.
Aku kembali terbaring di ruang kesehatan, tubuhku terasa tidak nyaman.
Dokter Kim duduk di sebelah tempat tidur yang terasa seperti milikku sendiri karena aku selalu menempatinya sejak dua bulan pertama aku masuk ke sekolah itu. "Dojin, bukankah sebaiknya kau menghubungi orang tuamu?"
Aku tertegun mendengar ucapan Dokter Kim, kepalaku menggeleng pelan. "Saya tidak apa-apa, Dok. Hanya tidak sehat saja."
Dokter Kim menghela nafas dalam, "Yun Dojin..." pintanya.
Seseorang masuk ke ruang kesehatan, "Dokter Kim.." panggilnya.
Dokter Kim menoleh, "Ya.." jawabnya, ia menatapku khawatir sebelum bangkit dan menghampiri mejanya.
Aku bisa menghembuskan nafas lega, paling tidak aku bisa berbaring disana tanpa harus menjawab pertanyaan apa pun.
Keesokan harinya.
Aku mulai meragukan apakah aku bisa menyelesaikan SMA-ku. Bahkan belum selesai semester ganjil di kelas satu sudah sangat berat. Aku hampir putus asa.
"Hei.."
Aku tersentak kaget saat mendengar suara itu di lorong sekolah, kepalaku langsung memandang ke bawah. Menunggu kerumunan usil itu menghampiriku, namun tidak ada yang mengerumuniku. Aku memandang sekitar bingung.
"Kau sedang apa?"
Kepalaku menoleh ke arah suara itu. Senior Wonbin menatapku aneh.
"Sesuatu terjatuh?" Tanya Senior Wonbin.
Perlu waktu beberapa saat hingga aku mengerti, "Oh.. bu-bukan.." jawabku malu.
Senior Wonbin mengangguk sendiri, "Kau bilang suka membaca kan?"
Aku memandangnya bingung.
"Ikut aku." Ucap Senior Wonbin dan berjalan duluan.
Hm? Maksudnya apa? Kenapa dia memintaku mengikutinya? Apakah ini jebakan? Haruskah aku mengikutinya? Aku tersadar dari drama di dalam kepalaku ketika Senior Wonbin menoleh ke belakang.
"Ikut tidak?" Tanya Senior Wonbin.
"Oh... Ya!" Jawabku dan bergegas melangkahkan kaki ke arahnya.
Senior Wonbin kembali melangkah.
Aku tidak tau apa yang akan terjadi, aku hanya mengikutinya. Dia membawaku ke ruangan yang terlihat seperti gudang, ada sebuah meja rapi dengan laptop dan printer di sebelahnya.
"Duduk.." ucap Senior Wonbin.
Sembari memperhatikan sekitar aku bergerak duduk di kursi.
Senior Wonbin mengambil sesuatu dari mesin print, lalu memeriksa kertas-kertas di tangannya. Tak lama ia beralih padaku dan menyodorkan kertas-kertas itu.
Tanganku menerima kertas itu dengan wajah bingung, ada paragraf panjang di setiap halaman kertas. Aku sedikit bingung menyadari kertas itu adalah kertas bekas. Sepertinya dari ruang guru.
"Ya, itu kertas bekas.." Senior Wonbin seperti bisa membaca pikiranku, "Sayang jika langsung di buang."
Aku mengangguk mengerti, walaupun aku tidak paham mengapa ia memberikanku kertas-kertas itu. Tapi tunggu dulu, ini... isi kertas itu bukan hanya sekedar paragraf. Itu sebuah cerita.
"Aku ingin meminta bantuanmu menyunting ceritaku." Ucap Senior Wonbin.
Kepalaku menatapnya kaget, "Ceritamu?! Ini?!" Aku kembali menatap kertas-kertas di tanganku kaget, "K-kau menulis cerita?!" Tanyaku tak percaya.
"Hanya hobi." Jawab Senior Wonbin, ia melipat kedua tangan di dada dan menyandarkan pinggulnya ka meja. "Aku tidak sempat menyuntingnya, bisakah kau melakukannya?"
Mataku berbinar mendengarnya, "Tentu!" Jawabku tanpa berpikir.
Senior Wonbin mengangguk pelan, sudut bibirnya tertarik. Membuat wajah panjangnya tampak friendly. "Santai saja mengerjakannya, aku tidak tau apakah kau suka ceritanya."
"Aku akan membacanya dan memberitaumu nanti." Jawabku. Paling tidak itu sangat mudah kulakukan sebagai balas budi dari kebaikannya. Hmmm... menyenangkan sekali.