
Setelahnya.
Aku hanya terpaku di bangku di taman dekat gedung apartemen, Ibu juga terpaku di sisi lainnya. "Bagaimana Ibu tau tempat ini?" tanyaku.
"Apa itu penting sekarang?" tanya Ibu tak mengerti, ia memandangku tak percaya. "Yang Ibu lihat tadi, tidak seperti yang terlihat kan?" tanyanya memastikan.
Aku diam dulu, "Kenapa Ibu kemari?" Tanyaku.
"Dojin, jawab Ibu!" Desak Ibu.
Aku menatap Ibu tegas, "Kenapa Ibu kemari?!" Tanyaku lagi.
Ibu tertegun mendengar nada bicaraku, ia menatapku dengan tatapan terluka. "Jadi karena ini kau ingin ke Seoul? Agar kau bisa melakukan hal seperti ini?"
Aku berusaha keras menahan emosiku, wajahku berpaling. "Aku tidak mengerti ucapan Ibu." Ucapku.
Ibu memutar tubuhnya menghadapku, "Kau bersikap seperti Ibu adalah musuhmu karena semua ini kan?" Ia mulai terdengar menuduh.
"Aku tidak mengerti ucapanmu!" Tegasku walaupun tidak menatap wajahnya.
Ibu memegang lenganku, "Atau kau melakukan ini karena marah pada Ibu?! Katakan Dojin! Ini caramu menghukum Ibu?!" Tanyanya mulai emosional.
Aku menarik tanganku dan bergerak bangkit menatapnya. "Apa yang Ibu lihat tadi benar! Aku tinggal bersama kekasihku! Dan kekasihku adalah pria!" Tegasku.
Mulut Ibu terbuka tak percaya, tangannya naik untuk menutup mulut.
Kedua mataku mulai berair, "Ya Bu.. Anakmu ini tidak seperti laki-laki lain yang berkencan dengan wanita, aku berkencan dengan pria." Jelasku.
Ibu bergerak bangkit, namun tidak ada apa pun yang bisa ia katakan selain air mata yang bercucuran.
"Aku tidak melakukan ini untuk menghukummu, aku memang seperti ini Bu. Aku selalu seperti ini.." jelasku.
Kepala Ibu menggeleng, "Tidak mungkin! Kau terlahir normal! Kau tidak mungkin menyimpang seperti ini!"
Mataku terpejam mendengar sebutan itu dari mulut Ibuku sendiri, bulir-bulir air berjatuhan dari mataku.
Ibu memegang tanganku, "Kau sangat normal, Dojin! Jangan lakukan ini! Kau bisa lebih baik dari ini."
Aku menatap Ibu kecewa, "Aku memang seperti ini, Bu. Aku tidak seperti pria lain..."
Ibu menggeleng, "Tidak! Kau harus menjauhi pria itu!! Dia memberikanmu pengaruh buruk!! Pasti ada pengobatan untuk hal ini!"
Aku menarik tanganku, "Aku tidak sakit, Bu!"
"Kau sakit sayang! Kau harus sadar!" Tegas Ibu.
Kepalaku menggeleng, aku langsung berbalik pergi. Meninggalkan Ibunya yang terus memanggil-manggil namaku. Aku kembali ke gedung apartemen, buru-buru menggunakan kartu aksesku, aku menghampiri lift dan menekan tombolnya berkali-kali. Seolah-olah itu akan membuatnya segera terbuka. Begitu masuk, aku menghela nafas lega. Tidak selega itu. Paling tidak aku terlepas dari Ibu malam itu. Kakiku terasa bergetar. Tanganku berpegangan pada besi di dinding lift.
Aku tau Ibu mungkin akan membenci kenyataan bahwa anaknya adalah pecinta sesama jenis. Tapi tetap saja terasa sakit. Tanpa bisa kukendalikan, aku menangis disana. Tubuhku seperti terdorong ke bawah seiring lift yang bergerak naik. Akhirnya aku meringkuk di sudut lift, memegang kepala frustasi sembari terus menangis.
TING!
Aku tidak tau dimana lantai lift terbuka. Tapi yang pasti, aku mendengar suara Senior Wonbin. Ia menghampiriku, mengelus kepalaku lembut. Aku mengangkat wajah menatapnya sembari terus menangis. Aku bisa melihat kecemasan dalam tatapannya. Mataku terasa sangat berat, telingaku mendengar namaku dipanggil, dan semuanya gelap.
+++
Senior Wonbin benar. Tubuhku sangat rentan sakit. Aku masih merasa tidak enak badan keesokan harinya, tapi aku harus jadi orang dewasa dengan tetap datang ke kantor tempatku magang. Aku bisa terkena masalah jika tidak masuk.
Hari itu Senior Wonbin mengantarkanku karena aku berkeras akan pergi ke kantor. Ia menahan tanganku saat hendak turun dari mobil.
Aku memandangnya, kekhawatiran memenuhi wajahnya.
"Kau yakin tentang ini, sayang?" Tanyanya lembut.
Aku menghela nafas dalam dan tersenyum, "Ya.. jangan terlalu khawatir."
Jelas ucapanku tidak membuatnya tenang, "Wajahmu masih sangat pucat." Ucapnya sembari mengelus pipiku dengan punggung tangannya.
Tanganku mengambil tanganya dan menggenggamnya, "Jangan terlalu khawatir Penulis Yellow..." ucapku lebih meyakinkan, "Istrimu ini sangat kuat."
Senior Wonbin mengatupkan bibir, helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Namun akhirnya ia tersenyum tipis, "Jangan terlalu lelah.. Jika kau merasa lelah atau semakin sakit, segera hubungi aku. Kau mengerti?"
Bibirku membentuk senyuman dan mengangguk mengerti.
Senior Wonbin mengecup punggung tanganku dengan tatapan lurus ke mataku, "Aku akan stand by dengan ponselku, jadi hubungi aku kapan saja."
Kepalaku mengangguk lagi.
"Nanti sore kujemput." Tambahnya.
Senyumanku semakin lebar, "Terima kasih.."
Walaupun enggan, Senior Wonbin mengelus belakang kepalaku sembari mengangguk.
Aku turun dari mobilnya dan berjalan ke pintu depan, sebelum benar-benar pergi aku sempat memandang ke belakang. Ia sudah tidak lagi mengendarai mobil sedan putihnya, setahun lalu ia sudah mengganti sedan itu dengan model double cabin berwarna putih juga. Sejujurnya aku tidak mengerti mengapa ia membeli mobil model itu. Tapi selama dia suka, tidak masalah.
Bekerja dalam keadaan sakit memang sulit. Tapi aku harus bersikap professional demi masa magangku. Jika beruntung aku bisa mendapatkan kesempatan bekerja disana setelah lulus nanti.
Kupikir hari itu cobaan terberat hanya karena keadaanku yang masih sakit. Seperti janjinya, Senior Wonbin menjemputku ke tempat kerja. Aku jadi bisa sedikit bermanja-manja padanya.
Tubuhku sedikit bersandar ke tubuhnya. Kelebihan tinggal di apartemen dengan tingkat keamanan tinggi, adalah orang yang tinggal disana juga dengan tingkat privasi yang tinggi juga. Sudah bertahun-tahun tidak ada yang menatap kami aneh atau ingin peduli kenapa kami tinggal bersama atau kenapa terkadang kami bergandengan tangan. "Sedikit..." jawabku pelan.
Senior Wonbin mengelus kepalaku, "Tadi aku sudah membuatkan bubur, sampai di apartemen akan kupanaskan."
Ucapannya membuatku tersenyum, "Suamiku yang terbaik." Candaku. Lalu memberikan kecupan di pipinya. Julukan suami dan istri itu sudah biasa kami katakan untuk lucu-lucuan.
"Hmm..." gumam Senior Wonbin gemas. Kami berhenti di depan pintu kaca, ia mengeluarkan kartu aksesnya.
"Yun Dojin!"
Seluruh tubuhku merinding mendengar suara pria memanggil namaku dengan keras.
Senior Wonbin terkejut dan spontan menoleh.
Aku menelan ludah, perlahan kepalaku menoleh ke samping. Kemarin Ibu, sekarang ayah. Sempurna sekali!
Ayah menatapku dan Senior Wonbin tak percaya.
Aku tertegun dan spontan mendorong tangan Senior Wonbin dari bahuku.
Senior Wonbin tampak bingung.
Jantungku mulai berdegup kencang melihat Ayah berjalan cepat kearahku, "Y-Yah... dengarkan dulu." Ucapku sembari melangkah maju.
Tapi memang ayahku. Jika terlalu emosi ia tidak perlu berkata-kata, tangannya sudah tiba di depan wajahku.
PAKK!!
Bukan tamparan biasa, itu pukulan keras ke sebelah wajahku. Membuatku langsung jatuh tersungkur.
"Paman! Hentikan!" Seru Senior Wonbin sembari menahan ayahku.
"Anak memalukan!! Kau pikir kau bisa melakukan apa pun hanya karena kau kuliah jauh dari rumah?" Seru Ayah sembari memunjuk wajahku.
Aku meringis memegang sebelah wajahku menatapnya, Senior Wonbin susah payah menahannya.
"Apa yang kau pikirkan?! Kau benar-benar ingin mencoreng wajah ayah dan ibumu?!" Seru Ayah marah.
"Paman.. tolong tenangkan dirimu.." pinta Senior Wonbin sembari menahan Ayah yang hendak menghampiriku lagi.
Ayah menatap Senior Wonbin, matanya menatap pria itu dari atas ke bawah. Tangannya mendorong tangan pria itu dari tubuhnya. "Kau!" ia menunjuk wajah pria yang sudah 5 tahun terakhir menjalin hubungan denganku itu.
Aku bergerak bangkit, menengahi mereka berdua. "Yah! Bicara denganku!" pintaku.
Ayah menatapku tak percaya, "Anak ini yang membuatmu berprilaku menyimpang seperti ini?! Ya kan?!" serunya padaku.
Aku mulai merasakan sesuatu di perutku. Rasa mual itu kembali menggerogoti perutku. "Yah..." pintaku tertahan.
"Paman, tolong tenang dulu." Pinta Senior Wonbin di belakangku.
Ayah menatap Senior Wonbin marah, "Apa maksudmu tenang?!" serunya. Tangannya terulur ke kerah baju Senior Wonbin di belakangku.
Senior Wonbin berusaha keras menahan tubuhnya agar tidak terarik.
"Yah!! Berhenti!" seruku sembari menarik mendorong ayah menjauh. Sejujurnya aku tidak sadar melakukan itu.
Ayah terdorong beberapa langkah dan menatapku tak percaya.
Aku merasakan tangan Senior Wonbin di lenganku, "Dojin.." pintanya.
"Ini bukan urusan ayah dan ibu seperti apa aku menjalani hidupku! Memangnya kalian pernah peduli padaku?!" seruku mulai emosi.
PAKK!!!
Pukulan lain mengenai sisi wajahku, membuatku hampir terjungkal lagi jika Senior Wonbin tidak menahan tubuhku. Telingaku berdenging karena pukulan itu.
"Paman! Paman! Berhenti!" Senior Wonbin memelukku dengan satu tangan dan tangan yang lain menahan pukulan dari ayahku yang akan datang.
"Kalian benar-benar menjijikkan!! Fisik sempurna seperti ini malah menyimpang!" seru Ayahku marah.
Tanganku memegang telinga yang masih berdenging, menatap ayahku yang terlihat sangat marah. Aku memaksakan diriku bangkit, "Semua ini tidak ada hubungannya dengan Senior Wonbin, pukuli saja kau sampai mati jika ayah ingin!!" seruku padanya.
"Dojin berhenti!" pinta Senior Wonbin, ia melindungiku dengan pelukannya ketika ayah kembali melayangkan tangannya.
"Kemari kau! Anak memalukan!" seru Ayah sembari berusaha menarikku.
"Paman! Saya mohon! berhenti!" pinta Senior Wonbin menenangkan, apalagi orang-orang yang berlalu dan penghuni apartemen yang baru tiba mulai berkerumun. "Kekerasan tidak akan menyelesaikan apa pun!"
Aku melepaskan pelukan Senior Wonbin dan menghadang ayahku tanpa ragu.
"Dojin!" panggil Senior Wonbin sembari menarik lenganku.
Aku berusaha menahan rasa mual di perutku, "Bicara di luar!" tegasku, lalu berjalan duluan keluar dari gedung apartemen.
"Dojin!" panggil Senior Wonbin.
Aku tetap melangkah hingga taman di samping gedung apartemen, itu merupakan fasilitas yang pihak apertemen tawarkan.