Season Of You

Season Of You
— 20 —



Aku harus menghadapi pertarungan yang sesungguhnya di semester akhir ini. Aku benar-benar harus fokus pada beasiswa yang tinggal sedikit lagi kudapatkan. Dengan begitu aku bisa keluar dari kota kecil yang sangat kubenci ini.


"Yun Dojin..."


Aku yang sedang belajar di perpustakaan menoleh ke orang yang memanggil namaku.


Eunwoo bergerak duduk di sebelahku dan menatapku serius, "Kau benar-benar akan kuliah di Seoul?"


"Jangan ribut di perpustakaan." ucapku, lalu kembali memandang bukuku.


Eunwoo menarik buku yang sedang kubaca, membuatku menatapnya kesal. "Kau berencana ke Seoul karena pacarmu ada disana kan?" tuduhnya.


"Bukan urusanmu..." ucapku lalu menarik bukuku lagi.


"Kenapa kau sangat menyukainya?" tanya Eunwoo tak mengerti.


Dahiku berkerut menatapnya.


"Apa kau yakin tentang dia? Kau bahkan belum lama mengenalnya..." ucap Eunwoo lagi.


Aku menghela nafas dalam, "Untuk apa memikirkan orang menjijikkan sepertiku?" tanyaku.


"Aku juga tidak tau!" tegas Eunwoo dengan suara keras.


Aku terkejut mendengar ia berseru dan memandang sekitar.


Eunwoo menghela nafas dalam, ia mengepalkan tangan dan bergerak bangkit sembari menarik lenganku. Aku nyaris terseret saat ia menarikku keluar dari perpustakaan.


"Kau sedang apa sih?!" tanyaku sembari menyentak tangannya begitu keluar dari perpustakaan.


Eunwoo menatap kedua mataku, "Aku tidak ingin kau bersama Senior Hong Wonbin!" ucapnya di depan wajahku.


Mataku membesar, lalu mengedarkan pandangan. Orang-orang yang berlalu mengerutkan dahi melihat kami. "Hei! Jangan berteriak seperti itu!" bisikku memperingati, lalu berjalan melewatinya dengan cepat.


Malamnya.


"Ck! Aku tidak habis pikir apa yang terjadi... Kenapa dia malah menyebalkan." gerutuku di telepon.


"Mmm... sepertinya dia semakin agresif.." ucap Senior Wonbin, "Pastikan kau tidak beralih hati.."


"Pffhh.. yang benar saja." ucapku sendiri.


"Kau ingin aku berkunjung akhir pekan ini?" tanya Senior Wonbin dengan nada menggoda.


"Humm... kita sepakat untuk tidak bertemu dulu sampai ujian akhirku kan?" tanyaku mengingatkan.


"Hmmm\~\~ sebentar saja..." rengek Senior Wonbin.


Bibirku membentuk senyuman, membayangkan bagaimana ekspresinya saat mengatakan itu.


"Aku harus fokus belajar, jika bertemu denganmu nanti yang kupikirkan hanya kau." jawabku lagi.


"Ahhh... menyebalkan." gerutu Senior Wonbin.


"Sabar sedikit.." ucapku pelan, "Setelah aku lulus, kita bisa bertemu setiap hari."


"Mmm... Kau mulai pandai membujukku." goda Senior Wonbin.


Bibirku membentuk senyuman, "Jangan terlalu lelah.. Ingat untuk tidur juga."


"Kau juga.." pesan Senior Wonbin.


Obrolan manis itu berakhir untuk malam itu. Aku berjalan menuju kamarku sembari merenggangkan tubuh. Aku terkejut ketika tanganku di pegang oleh seseorang.


Eunwoo menatapku dengan wajah juteknya.


Aku langsug menarik tanganku, "Kenapa kau disini?"


Dahi Eunwoo berkerut, "Aku juga tinggal di asrama ini." jawabnya.


"Bukan itu..." ucapku, "Ini lorong menuju kamarku."


"Lalu?" tanya Eunwoo.


Aku menatapnya tak mengerti, "Apa maksudmu?"


Eunwoo melipat kedua tangannya di dada dan menatapku selidik, "Kau dari mana?"


"Kau bukan ayahku, berhenti ikut campur." ucapku dan berjalan lagi.


Eunwoo mengikutiku, "Keluyuran malam-malam.." gerutunya.


"Kenapa kau terus berbicara pada pria menjijikkan sepertiku?" tanyaku aneh.


"Karena aku ingin..." jawab Eunwoo, menjengkelkan sekali.


"Aku tidak ingin berbicara padamu." ucapku malas.


"Terserah..." ucap Eunwoo cuek.


Aku memutar bola mata, lalu berhenti melangkah untuk menatapnya kesal.


Eunwoo berhenti juga dan menatapku.


"Apa sih maumu?" tanyaku tak mengerti.


"Aku tidak mau kau kuliah ke Seoul." ucap Eunwoo.


"Aku tidak peduli.." komentarku.


"Aku juga." jawab Eunwoo.


Aku tau dia sangat menyebalkan, tapi kenapa terasa sangat kesal? "Sudahlah..." aku kembali melangkah.


"Aku ingin kau tetap bersamaku." ucap Eunwoo di belakangku. Membuat langkahku terhenti.


Dia baru saja bilang apa? Perlahan aku berbalik untuk menatapnya, "Pria menjijikkan sepertiku?"


"Hmm.." gumam Eunwoo sembari mengangguk.


Jawaban itu malah membuatku semakin kesal. "Aku tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan, tapi aku hanya ingin menyelesaikan masa sekolah dengan tenang." ucapku pelan.


"Tidak bisa..." potong Eunwoo sebelum aku melanjutkan lagi.


Aku menatapnya aneh.


"Karena setelah lulus nanti, aku tidak akan bisa menjangkaumu lagi." ucap Eunwoo.


Hm? Apa maksudnya? Kenapa terdengar aneh sekali? Mataku berkedip-kedip bingung.


"Aku tidak akan mengganggu banyak waktumu." ucap Eunwoo, "Hanya... ayo kembali seperti sebelum....." ia ragu untuk berbicara.


Helaan nafas berat keluar dari mulutku, aku tau apa yang dia maksud.


Eunwoo memandang ke bawah, "Pokoknya.." ia kembali melanjutkan, "...aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa saja lebih baik dari Senior Hong Wonbin."


"Ya.. kau juga aneh." ucap Eunwoo di belakangku.


Aku masuk kamar dan mengunci pintu dari dalam. Tanganku memegang kepala tak mengerti,  "Apa yang terjadi?" gumamku tak mengerti. Mataku melirik ke pintu, lalu menempelkan telinga untuk mendengar pergerakan di luar.


Keesokan harinya.


Aku menghembuskan nafas kesal ketika belajar di halaman belakang. "Bisa tidak kau tidak tidur disini?"


Eunwoo berbaring di rumput di sebelahku dengan tangan menjadi bantalan kepala. "Jangan pedulikan aku..." ucapnya.


Aku melirik ke samping.


Eunwoo membuka mata sedikit mengintip ke arahku, lalu kembali memejamkan mata lagi.


Setelahnya.


"Kau sedang apa?"


Aku tersentak kaget mendengar suara seseorang ketika mengambil minum ke pantri nyaris tengah malam. Kepalaku menoleh dan melihat Eunwoo dengan wajah juteknya.


Eunwoo menghampiriku, "Kau masih bangun?" tanyanya.


"Jika sudah tidur tidak mungkin ada disini." jawabku, lalu berjalan pergi melewatinya.


Eunwoo mengekori tanpa mengatakan apa pun.


Langkahku berhenti dan menoleh padanya.


Eunwoo mengedip-kedipkan matanya bingung.


"Kembali saja ke kamarmu.." ucapku mengingatkan.


"Ya, ini akan ke kamarku." jawabnya santai.


Aku menggeser tubuhku ke samping, "Ya sudah... sana pergi."


"Kau saja duluan.." ucap Eunwoo.


"Tidak, kau saja." ucapku lagi.


Eunwoo menggeleng, "Aku akan berjalan di belakang."


Mataku menyipit menatapnya, "Kau ingin mengerjaiku ketika di lorong sepi kan?"


Eunwoo menghembuskan nafas sebal, "Memangnya aku anak 10 tahun?"


Aku menghela nafas dalam, "Tetap disini." ucapnya padanya.


"Kenapa?" tanya Eunwoo.


"Tetap disini!" tegasku, lalu berlari pergi duluan.


"Hei!" panggil Eunwoo.


Aku terus berlari meninggalkannya menuju kamarku sembari menahan tawa.


Keesokan harinya.


Aku kebingungan mencari penaku yang tidak ada di sekitaran meja, sebuah tangan terulur memberikan pena. "Oh.. terima kasih." aku menerima pena sembari menoleh.


"Hmm.." jawab Eunwoo santai.


Aku menatapnya aneh, lalu memperhatikan sekitar. Aku yakin tadi tidak ada siapa pun di sebelahku di perpustakaan.


Eunwoo menempelkan jari ke bibirnya, "Ssshhh..." ucapnya memperingatkan dan membaca buku dengan tenang.


Aku hanya menghela nafas dalam dan melanjutkan kegiatanku lagi.


Akhir pekan.


"Pacarmu tidak berkunjung?" tanya Eunwoo saat aku sedang belajar di perpustakaan walaupun hari libur.


"Bukan urusanmu." jawabku sembari membaca.


"Kenapa tidak datang lagi? Kalian masih bersama?" tanya Eunwoo lagi.


Aku menghela nafas dalam, "Aku sedang belajar."


"Aku tau." jawab Eunwoo.


Mataku terpejam erat menahan emosi, lalu kembali membukanya untuk membaca lagi.


"Kau sudah pernah berhubungan seksual dengannya?" tanya Eunwoo tanpa memandang wajahku.


Aku nyaris terjungkal dari kursi mendengar pertanyaan itu, "Pertanyaan apa itu?"


Eunwoo memandangku, "Belum?"


Aku menatapnya jijik, "Kau pikir kami pasangan seperti apa?"


Eunwoo mengangguk mengerti, "Hmm.." ucapnya sendiri, "Berciuman?"


Aku membereskan barang-barangku dan hendak pergi.


"Bagaimana pun..." ucap Eunwoo, membuatku berhenti dan memandangnya. "Aku tetap ciuman pertamamu kan?"


Aku terpaku mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya.


Eunwoo tersenyum penuh kemenangan.


Bagaimana bisa semudah itu ia mengatakannya? walaupun itu benar, tapi kenangan itu sangat mengerikan untuk di ingat.


Senyuman Eunwoo luntur karena ekspresiku, "Dojin..."


Aku sendiri terkejut menyadari bulir air berjatuhan dari mataku, dengan cepat aku berbalik dan berjalan pergi.


Jika bukan karena ciuman pertamaku itu, mungkin hidupku tidak akan seburuk yang kualami. Hari itu, aku tidak bisa menahan diriku lagi. Aku menyatakan perasaanku pada teman kecilku, karena dia tidak mengatakan apa pun aku memberanikan diri untuk menciumnya. Berpikir semua itu akan berbalik baik padaku. Tapi nyatanya aku malah mendapat pukulan dari Eunwoo ketika itu, lalu dia memusuhiku, membuat hariku jadi sangat mengerikan.


"Dojin... Hei.." panggil Eunwoo sembari menarik tanganku.


Aku berusaha menahan emosiku yang sulit di hentikan.


"Hei.. kau baik-baik saja?" tanya Eunwoo khawatir.


Aku menyentak tangannya, lalu menatapnya tegas. "Menurutmu aku baik-baik saja?" tanyaku.


Eunwoo tertegun mendengar ucapanku.


Aku bisa merasakan kedua mataku memanas, "Setelah apa yang kau lakukan? Kau pikir aku akan baik-baik saja?"


Mulut Eunwoo terbuka untuk menjawab, namun tidak ada yang keluar.


Aku menghela nafas dalam sembari memalingkan wajah, sangat memalukan berada di situasi itu. Bagaimana mungkin aku juga merasakan yang seperti ini dalam percintaan sesama jenis. Aku melirik wajah Eunwoo, dia terlihat menyesal. Aku jadi merasa bersalah. Aissh... Aku memalingkan wajah lagi dan berjalan pergi.