Season Of You

Season Of You
— 08 —



Akhirnya aku terbangun dari tidur panjangku, aku benar-benar merasa baikan. Begitu mataku terbuka, seseorang yang mengenakan pakaian seragam sekolah berdiri di dekat meja belajarku. Perlu waktu sedikit lebih lama untuk mengenali seseorang itu.


Orang bertubuh tinggi berkulit pucat itu menoleh, dari wajah tirusnya aku mengenali siapa orang itu. "Kau sudah bangun?" Tanyanya. Benarkan aku mengenalinya...


Aku bergerak duduk, memperhatikan sekitar. Aku masih di kamarku, selimut yang kukenakan masih bukan milikku. Tempat tidur di sisi lain kamarku sudah kosong, "Jam berapa sekarang?" Tanyaku.


"10.." jawab pria yang tidak lain adalah Senior Wonbin itu.


Mataku membesar, "Apa?!"


Senior Wonbin melakukan sesuatu di meja belajarku, "Sudah istirahat saja.." ucapnya.


Aku menatapnya tak percaya, "Kau tidak di sekolah?"


"Jam istirahat.." jawab Senior Wonbin, ia memandangku. "Makan bubur ini dan minum obat, lalu istirahat lagi." Ia memberi intruksi.


Mataku melirik ke mangkuk stereofoam di meja belajarku.


"Aku kembali lagi nanti.." Senior Wonbin berbalik pergi.


Aku terbengong-bengong melihat Senior Wonbin pergi. Dia datang kemari hanya untuk membawakanku makanan? Kenapa dia bersikap seperti ini? Dia seperti sengaja mengembangbiakkan kupu-kupu dalam perutku.


Sorenya.


Aku bangun lagi setelah tidur karena pengaruh obat. Aku tidak merasa mual atau sakit lagi. Aku bergerak duduk dan berdiam diri dulu untuk menikmati waktu tenangku. Rasanya ketika sakit kemarin aku berada di tengah peperangan yang sangat menguras energi. Akhirnya aku bisa duduk tenang tanpa merasakan sakit di perutku atau rasa mual yang menyiksa. Mataku memandang permukaan selimut yang sangat lembut. Tanganku mengelusnya pelan. Dia sampai mengganti selimutku, manis sekali.


Tok! Tok!


Perhatianku teralih ke pintu, "Masuk..." jawabku. Lucu sekali Senior Wonbin mengetuk pintu. Bibirku sudah membentuk senyuman untuk mengatakan itu, tapi senyuman itu luntur perlahan menyadari yang masuk bukan orang yang kupikirkan.


Eunwoo dengan wajah juteknya berjalan masuk, kedua tangannya masuk ke saku celana baju seragamnya.


"Eunwoo.." ucapku bingung.


Eunwoo menghampiri tempat tidur dan menatapku serius, "Kudengar kau sakit."


Mataku berkedip-kedip bingung, "Sekarang sudah tidak apa-apa.." jawabku.


Eunwoo mengeluarkan satu tangan dari saku dan menyodorkannya padaku.


Aku mengedip-kedipkan mata melihat ia menyodorkan sebuah permen coklat.


"Biasanya kau akan senang jika makan ini setelah sakit." Ucap Eunwoo.


Dia ingat.. tanganku menerima permen itu.


Eunwoo memandangku sekali lagi, "Aku pergi.." ucapnya, ia berbalik dan pergi begitu saja.


Bibirku membentuk senyuman melihatnya pergi, lalu memandang permen coklat di tanganku. Bahkan dia memberikan merk yang sama seperti yang biasa ia berikan ketika kami kecil.


Sorenya.


"Sepertinya itu sangat berharga.." komentar Senior Wonbin saat membawakanku makanan sorenya. Ia bermaksud permen coklat yang masih kusimpan di sebelah bantal.


Bibirku membentuk senyuman, "Mmm... tidak juga." Jawabku malu-malu.


Senior Wonbin menatapku selidik, "Atau dari seseorang yang berharga." Tanyanya.


Kedua pipiku terasa panas, "Mmm... ti-tidak juga.." jawabku gagu.


Senior Wonbin menahan senyuman, "Hanya bercanda.." ucapnya, "Ini... makan dulu.. Kau mungkin bosan makan bubur, jadi aku membawakanmu makanan rumah saja."


Aku terpana melihat makanan di meja belajarku. Senior Wonbin bahkan sudah menatanya dengan sangat cantik.


Senior Wonbin memandangku, "Kau bisa duduk disini? Masih pusing?" Tanyanya.


"Aku bisa.." jawabku, menyibak selimut dan bergerak duduk ke kursi meja belajar.


Senior Wonbin bergantian duduk di pinggir tempat tidurku, memperhatikanku mengagumi makanan yang dia bawakan.


"Wuaaah... kelihatan enak sekali." Komentarku, melihat penampilannya di dalam setiap kotak bekal sudah membuat air liurku hampir menetes.


"Penampilan dan rasanya sama-sama enak." Ucap Senior Wonbin, senyuman di wajahnya membuatku semakin yakin untuk mencicipi.


Tanganku mengambil sendok dan mulai makan, seperti makanan itu mencair di mulutku. "Hhmmmpp!!" Jeritku dengan mulut penuh makanan, aku menatap Senior Wonbin tak percaya.


Senior Wonbin tersenyum lebar melihat ekspresiku.


"Sumpah ini enak sekali!" Ucapku, membuat beberapa butir nasi berterbangan.


Senior Wonbin tertawa lucu sembari melindungi dirinya dari semburan nasi.


Senior Wonbin mengangguk, "Makan saja.." ucapnya, "Pelan-pelan.."


Kepalaku mengangguk malu dan melanjutkan makanku lagi.


Setelahnya.


"Aku belum pernah merasakan makanan rumah seenak ini, bagaimana bisa? Kau memasaknya atau bagaimana." Tanyaku ketika Senior Wonbin membereskan kotak bekal yang sudah ludes masuk ke perutku.


Senior Wonbin tersenyum mendengar pertanyaanku.


"Aku tidak tau ada rumah makan seperti ini di sekitar sini... ohh.. enak sekali." Entah karena makanannya atau karena tubuhku baru sehat, mulutku tidak bisa berhenti berbicara.


"Ya... Ya... memang enak." Komentar Senior Wonbin sembari melirikku lucu, "Dari banyaknya kalimat yang kau gunakan, sepertinya kau sudah sembuh." Candanya.


Aku mengulum bibir malu, "Mmmm... sepertinya.." gumamku.


Senior Wonbin berdiri di sampingku dengan senyuman di wajahnya.


Jantungku kembali berdegup cepat melihat senyuman itu, kedua pipiku terasa panas.


Senior Wonbin memasukkan kotak-kotak bekal ke dalam tas yang ia bawa, "Jika kau memang sangat suka, nanti aku akan membawamu untuk makan ini lagi." Ucapnya.


Mataku langsung berbinar, rasanya jika dia ingin membawaku sekarang juga aku akan sangat bersedia. "Benarkah?"


Senior Wonbin memajukan wajah ke depan wajahku, "Dengan syarat, kau harus jadi anak baik." Ucapnya dengan nada menggoda.


Entah mengapa aku malah tersenyum. Dia semakin pintar menggoda seseorang. Aku bisa merasakan satu tangannya mengelus rambutku, lalu berdiri tegap bersama tas berisi kotak bekalnya.


Senior Wonbin berhenti sejenak, terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak langsung mengatakannya.


Aku memandangnya menunggu apa yang akan ia katakan.


Senior Wonbin kembali menatapku, "Bukan salahmu.."


Hm? Apa maksudnya? Apanya bukan salahku?


"Semua ini terjadi, bukan salahmu." Ucap Senior Wonbin lagi, "Maaf karena aku mengatakan hal yang sudah menyakitimu kemarin."


Ternyata aku mengerti maksudnya. Ucapan itu membuatku terpaku, tidak menyangka akan mendengar itu.


Senior Wonbin menatapku dalam, "Aku sepertinya tidak begitu mengerti tentang apa yang terjadi padamu.." ucapnya pelan, "Aku akan lebih berhati-hati lagi tentang itu dan melihat dari perspektifmu juga."


Ucapan itu membuatku merasa sangat nyaman, ikatan di dadaku jadi lebih lapang. Bibirku membentuk senyuman dan mengangguk pelan.


"Istirahat lagi.. Besok kau harus masuk sekolah." Senior Wonbin mengingatkan.


Kepalaku mengangguk mengerti lagi.


Senior Wonbin berjalan keluar dari kamarku, sebelum benar-benar pergi ia sempat menoleh ke arahku.


Hatiku berdesir saat mata kami bertemu. Ya Tuhan... sungguh maafkan aku karena mendapat getaran aneh justru dari sejenisku. Tapi bukankah dia terlalu tampan untuk tidak jatuh hati.


+++


Kegiatan paling kusukai, mengobrol dengan Senior Wonbin di taman belakang sekolah sembari menikmati sandwich. Aku tidak tau entah sejak kapan, dia sudah menjadi orang favoritku. Walaupun aku hanya bisa menyebutnya orang favoritku dalam kepalaku saja.


"Aku akan bertemu pihak dari Novel Online akhir pekan ini.." ucap Senior Wonbin memberitau, "Ingin ikut bersamaku?"


Aku tertegun mendengar pertanyaan itu, bibirku membentuk senyuman. "Tidak apa-apa aku ikut?"


Senior Wonbin mengangguk sembari mengunyah sandwich di mulutnya.


Aku tau itu bukan ajakan kencan, tapi tetap saja terasa menyenangkan pergi bersamanya. "Baiklah.."


Senior Wonbin tersenyum mendengarnya, "Oke.."


Aku menggigit sandwichku lagi dengan perasaan berbunga-bunga. Aku bisa seharian bersamanya diluar sekolah.


Senior Wonbin memandang ke satu arah, "Kau kenal anak itu?" tanyanya.


Aku memandang Senior Wonbin, lalu menoleh ke arahnya memandang. Aku cukup kaget menyadari tatapan Eunwoo yang duduk bersama gerombolan teman-temannya di bawah pohon tempat anak-anak populer di sekolah biasa berkumpul. Aku saja baru berani muncul di halaman belakanag karena ajakan Senior Wonbin.


"Dia menatapku?" Tanya Senior Wonbin tak mengerti.


"Oh... mungkin... mungkin dia hanya melamun saja.." ucapku berusaha mengalihkan perhatian.


Senior Wonbin tampak bingung, "Hmmm.." gumamnya dan fokus pada sandwich-nya.


Aku melirik ke arah Eunwoo lagi, ia masih menatap ke arah kami dengan wajah juteknya.