Season Of You

Season Of You
— 22 —



Dengan perasaan lebih nyaman aku menghampiri mobil Senior Wonbin, membuka pintu dan bergerak masuk.


Senior Wonbin sedang bermain game di ponselnya saat aku masuk, ia menoleh. "Sudah selesai..."


Bibirku membentuk senyuman dan mengangguk. Aku memandang bingung ponselnya yang langsung di matikan. "Game-mu sudah selesai?" tanyaku.


"Biarkan saja..." jawab Senior Wonbin santai, ia menyalakan mesin mobil dan memandangku.


Aku bingung karena dia memandangku seperti itu, aku sedikit terkejut saat ia bergerak maju ke arahku. Spontan mataku terpejam saat wajahnya bergerak terlalu dekat. Satu detik, dua detik. Aku tidak merasakan apa pun menyentuh wajahku. Jeratan sabuk pengaman di tubuhku memberitau bahwa yang terjadi bukan seperti yang ada di kepalaku. Mataku terbuka perlahan.


Senior Wonbin tersenyum lucu menatapku, "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.


Kedua pipiku terasa panas. Mataku memandang ke bawah.


Senior Wonbin menahan tawa, lalu mengecup batang hidungku gemas.


Aku mengerutkan hidung merasakan kecupan itu. Malu-malu aku memandang ke wajahnya.


Senior Wonbin tersenyum manis, "Kita berangkat sekarang?"


Kepalaku mengangguk membenarkan.


"Let's go.." ucapnya sembari mengenakan sabuk pengamannya sendiri, lalu mengendarai mobil pergi.


Aku memandang keluar mobil, memperhatikan pemandangan disana. Kota tempatku tumbuh besar, tidak banyak hal indah yang bisa kukenang disana. Selain harus pindah ke rumah satu dan satunya.


"Ingin mengunjungi suatu tempat dulu?" tanya Senior Wonbin.


Aku memandangnya, lalu menggeleng.


Senior Wonbin melirikku sekilas sembari mengendarai, "Kau mungkin akan pergi cukup lama, tidak ingin mampir ke suatu tempat dulu?"


Aku berpikir sejenak, lalu kembali menggeleng.


"Tidak ingin berpamitan pada ayahmu?" tanya Senior Wonbin lagi.


Benar sih, seharusnya aku berpatiman dan memberitaunya secara langsung. "Dia tidak pernah bertanya tentang kabarku, dia mungkin juga tidak tau bahwa aku akan berkuliah tahun ini."


"Bukankah lebih baik kau yang memberitaunya?" tanya Senior Wonbin.


Aku berpikir sejenak. Apakah akan terdengar seperti anak yang tidak tau diri jika menolak ide itu?


Senior Wonbin menunggu jawabanku.


"Baiklah.." jawabku pelan.


Senior Wonbin tersenyum, "Oke..."


Baiklah, aku menurut karena tidak ingin dia berpikir buruk tentangku. Tapi tidak salah juga berpamimtan dengan ayah kan?


Hanya saja....


Ting tong!


Aku menunggu di depan pintu apartemen keluarga ayah. Tidak ada jawaban. Tanganku kembali menekan bel.


Ting! Tong!


Kenapa tidak ada yang membuka?


"Hei, Nak.."


Kepalaku menoleh kearah suara itu. Tetangga di sebelah aparetmen muncul di pintu, "Oh.. Selamat siang.." sapaku sopan.


Ibu itu mengenaliku ketika aku menoleh, "Oh... kau putra tetangga sebelah ya?"


Bibirku membentuk senyuman, "Ya.."


"Kau tidak di beri kabar? Keluargamu sudah berangkat ke kampung ibumu beberapa hari lalu." ucanya dengan wajah bingung.


Mataku berkedip-kedip, "Ohh.. Ya... Mungkin aku lupa." jawabku.


Ibu itu tersenyum dan kembali masuk ke dalam.


Helaan nafas keluar dari mulutku, memandang pintu di depanku. Mungkin karena sebelumnya aku selalu berada di asrama, ayah tidak lagi perlu berunding dengan ibu akan kemana aku pergi saat liburan. Jadi saat seperti ini pun ia tidak merasa perlu lagi mengkhawatirkanku. Dan ya... lagi pula aku memang tidak pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Akhirnya aku berbalik dan berjalan pergi. Sedikit merasa kecewa memang, tapi mungkin lebih baik seperti ini. Bertemu dengannya langsung mungkin akan membuatku kesal.


Senior Wonbin yang berdiri di sebelah mobil mengerutkan dahi melihatku sudah kembali, "Sudah selesai? Cepat sekali.."


Aku berhenti di hadapannya, "Mmm.. ayahku dan keluarganya pergi berlibur." jelasku.


Senior Wonbin mengerutkan dahi, "Kau tidak di beritau?"


Kepalaku menggeleng pelan.


Ekspresi Senior Wonbin berubah prihatin, "Ahh.. begitu." ucapnya pelan, "Kita langsung berangkat saja?"


Kepalaku mengangguk.


Senior Wonbin tersenyum, ia memegang bahuku. Meremasnya sedikit untuk memberikan dukungan moril padaku. "Ayo..." ajaknya, lalu berjalan masuk ke pintu kemudi.


+++


Kehidupanku sebagai mahasiswa dimulai. Memang perlu pembiasaan baru lagi karena sebelumnya aku tinggal di kota kecil, Seoul memang terlalu besar untukku. Aku merasa selalu lelah.


Malam itu aku naik ke tempat tidur dan menyantarkan kepalaku ke bahu Senior Wonbin yang membaca sesuatu di ponsel.


Senior Wonbin menoleh memandangku, "Ada apa?"


Aku menghela nafas dalam, "Hidup di Seoul melelahkan." ucapku.


Senior Wonbin tersenyum lucu, "Benarkah?"


Aku mendongak memandangnya, "Hmm.." gumamku pelan.


Senior Wonbil meletakkan ponselnya dan merangkulku, "Bagaimana jika kau berhenti kerja paruh waktu saja? Jadi kau punya banyak waktu untuk tidur." usulnya.


Ucapan itu membuatku cemberut, "Aku hanya lelah sebentar." jawabku.


Aku mengangkat kepala dan memandangnya, "Aku tidak ingin bergantung padamu.. Aku akan mencari uangku sendiri."


Senior Wonbin menghembuskan nafas sebal, "Kenapa kau masih keras kepala?"


Aku menjulurkan lidah, lalu tersenyum. Aku memeluk tubuhnya, menempelkan pipiku ke dadanya dan memejamkan mata. "Aku akan beristirahat sebentar." ucapku.


Senior Wonbin mengelus belakang kepalaku. Ia berbaring hati-hati ke kasur. "Tidurlah..." bisiknya.


+++


Tanganku memasukkan buku yang masih tergeletak di meja belajar ke dalam tas, lalu membawanya keluar dari kamar. Sosok pria tampan bertubuh tinggi sedang menghidangkan makanan. Bibirku membentuk senyuman.


Senior Wonbin yang baru saja lulus semester lalu menoleh dan terseyum. Photo kelulusannya terpajang di dinding. "Segeralah sarapan."


Aku bergegas menghampiri meja makan.


Senior Wonbin duduk di hadapanku, "Hari ini kau akan pulang malam?" tanyanya.


Aku berpikir sejenak, "Part time-ku selesai jam 9 malam.." jawabku, "Ada apa?" tanyaku.


Senior Wonbin tersenyum, "Aku harus menyelesaiakn dua chapter ceritaku sampai akhir pekan ini, nanti sore aku akan ke kafe tempatmu bekerja untuk mengganti suasana." ucapnya sembari menggerak-gerakkan alisnya.


Bibirku membentuk senyuman, "Kau hanya ingin mengawasiku kan?"


Senior Wonbin tidak bisa menyembunyikan ekspresinya ketahuannya, "Hmm... Tidak juga." jawabnya.


Aku mengerutkan hidung, lalu menahan tawa dan mulai makan.


Dan seperti itulah hari-hariku. Pergi kuliah, sorenya kerja paruh waktu hingga malam, lalu kembali pulang. Aku sudah hampir terlihat seperti orang Seoul, selalu sibuk.


Sore itu.


Aku sangat sibuk di kafe karena itu hari Jumat. Orang-orang akan bersiap untuk bersenang-senang besok.


"Dojin..." panggil salah seorang rekan paruh waktuku, Hyeri. Kami satu kampus namun tidak satu jurusan.


Aku menoleh memandangnya, "Hm?" jawabku, aku mengenakan celemek kafe, tanganku menyeka gelas yang sudah di cuci.


Hyeri menatapku memohon, "Bisakah kau pergi sekali saja?" pintanya.


Aku sangat sulit untuk menolak, namun juga takut untuk menerimanya. "Mmm... Maaf.. aku tidak punya waktu melakukan itu." ucapku.


Hyeri menangkupkan tangan di depan wajahnya, "Kumohon... Tidak ada lagi pria yang kukenal untuk kuajak."


Aku menghela nafas dalam, "Masalahnya..."


"Aku ingin memesan.." terdengar suara familiar di meja kasir di belakangku.


Hyeri menoleh, "Ya!" jawabnya dan menghampiri meja kasir.


Aku memandang siapa yang berdiri di balik meja kasir, Senior Wonbin. Tiba-tiba aku merasa takut sendiri karena obrolanku dan Hyeri tadi. Aku hanya memandang ke gelas di tanganku lagi.


"Aku ingin dia yang melayani.." ucap Senior Wonbin.


Aku cukup bergidik mendengarnya.


"Hm?" Hyeri menoleh ke arahku.


Aku tertegun menyadari sudah jadi pusat perhatian. "Y-Ya.." jawaku sembari meletakkan gelas dan menghampiri meja kasir, "Aku akan melayaninya." bisikku pada Hyeri.


"Oh... oke.." jawab Hyeri dan menggantikanku menyeka gelas.


Senior Wonbin menatapku lekat, lalu menyebutkan pesanannya.


"Pesanan anda akan segera di antar.." ucapku sopan sembari memberikan struk dan kartunya.


Senior Wonbin menahan senyuman mendengar ucapan formalku, "Aneh sekali.." ucapnya sendiri, lalu berjalan menghampiri sebuah meja dekat jendela. Sudah pasti.


Aku hanya menahan senyuman karena ucapan itu, lalu mulai menyiapkan pesanannya.


Hyeri menghampiriku sembari melirik ke arah Senior Wonbin yang mulai mengeluarkan laptop dan beberapa buku. "Hei.. kau mengenalnya?" bisiknya.


"Hm?" Aku melirik Senior Wonbin, "Ohh... Ya." jawabku pelan.


Hyeri menatapku dengan mata berbinar, "Kenal dimana? Tampan sekali..."


Aku meliriknya aneh, "Seniorku di sekolah dulu." jawabku.


"Oh! Apakah dia sudah punya pacar? Bagaimana jika kau bertanya padanya tentang kencan buta itu?" tanya Hyeri bersemangat.


Klank!


"Ah!" aku terkejut kopi panas yang sedang kusiapkan mengenai tanganku.


"OH! Kau baik-baik saja?" Hyeri mengambil serbet dan menarik tanganku dari cangkir, ia meletakkan serbet di meja yang terkena tumpahan kopi.


"Kemari.." ia menarik tanganku yang terkena kopi panas ke wastafel pencucian, menyalakan air dan meletakkan tanganku di bawahnya.


"Shh.." rintihku pelan.


Hyeri menatapku sebal, "Aneh sekali kau seperti ini." ucapnya.


Aku meliriknya menahan sebal, namun hanya tersenyum canggung. "Maaf..." ucapku pelan. Tanganku mematikan kran air, "Aku akan mengantarkan pesanan." ucapku, lalu mengambil nampan dan memasukkan pesanan Senior Wonbin.


Senior Wonbin tersenyum melihatku menghampirinya.


"Kau benar-benar akan menulis?" tanyaku sedikit curiga sembari meletakkan pesanannya ke meja.


Senior Wonbin mengangguk membenarkan, ketika itu matanya menatap tanganku yang meletakkan cangkir kopi. "Hmm.." ia memegang tanganku dan melihat sesuatu.


Aku ikut memandang tanganku, ternyata bekas tersiram kopi panas tadi memerah.


Senior Wonbin menatap bekas merah itu, lalu mendongak memandangku. "Siapa yang berkata kau boleh terluka?" tanyanya.


Aku menatapnya aneh, "Namanya juga bekerja." ucapku sembari menarik tanganku darinya. "Selamat menikmati..." ucapku, lalu berbalik kembali ke belakang meja counter.