
Aku duduk di sofa dengan air mata terus berjatuhan, Senior Wonbin berlutut di hadapanku.
Senior Wonbin memegang kedua tanganku dan menatapku lekat, "Percaya padaku, Dojin.." ucapnya dengan suara bergetar, "Aku tidak melakukan apa pun! Semua itu hanya salah paham!"
Semakin lama skenario di kepalaku semakin banyak, mataku menatap wajahnya yang sudah basah karena air mata. "Kenapa kau masuk ke kamar itu?" tanyaku.
"Senior Taejo berkata akan membahas sesuatu, jadi aku ikut." jawabnya, "Kami hanya membahas pekerjan, lalu sesuatu tersangkut di celananya. Aku hanya membantunya saja."
Aku hanya terdiam menatapnya.
"Kumohon percaya padaku..." pinta Senior Wonbin memohon.
Aku percaya padanya. Sungguh. Aku ingin percaya. Tapi hatiku sangat sakit. Aku memandang ke bawah, bulir air terus berjatuhan dari mataku. "Aku tidak tau.." jawabku pelan.
"Aku tau kau pasti sangat marah padaku.." ucap Senior Wonbin, ia menarik tanganku. "Kau bisa memukulku! Pukul aku sampai kau puas!" ia memukul-mukul kepalanya dengan tanganku.
Aku menarik tanganku dari tangannya, "Senior.." pintaku.
Senior Wonbin terisak-isak, ia menelungkup di pangkuanku.
Malam itu terasa sangat melelahkan. Setelah sedikit lebih tenang, aku berbaring di tempat tidur seorang diri.
Senior Wonbin membiarkanku menenangkan diri malam itu, dia akan tidur di sofa depan. Namun aku tidak bisa tidur. Perasaanku campur aduk. Semuanya terasa sangat sempurna sebelumnya, tapi karena pesta sialan itu duniaku terasa porak-poranda. Bulir air masih mengalir dari mataku.
Aku hanya berpikir... Jika sesuatu terjadi pada hubungan kami, Senior Wonbin masih memiliki semuanya.
Apartemen itu, keluarga yang selalu mendukungnya, bahkan karir yang akan menunjang hidupnya.
Aku?
Tidak ada tempatku pulang. Aku belum lulus kuliah, saat ini sedang masa cuti. Tahun depan aku harus memikirkan cara untuk membayar semester jika beasiswaku di putus akibat cuti itu. Aku benar-benar kacau!
Tidak ada yang tersisa. Kenapa hidup tidak adil untukku? Apa yang harus kulakukan?
Mataku terpejam. Memaksa pikiranku tenang. Aku berharap, ketika bangun besok pagi semua ini hanya mimpi buruk saja. Kuharap...
Beberapa saat kemudian, aku tidak tau apakah aku tertidur. Ketika membuka mata, rasanya aneh sekali. Aku bergerak duduk, memperhatikan sekitar. Tidak ada siapa pun dikamar. Tanganku menyibak selimut, bergerak turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
"Ahh.."
Aku tertegun mendengar suara ******* itu. Jantungku berdegup kencang. Perlahan kepalaku menoleh ke arah suara. Tubuhku terpaku. Melihat Senior Pyo duduk di sofa, ia masih mengenakan pakaian di pesta sebelumnya. Celananya turun sedikit. Di antara kedua kakinya yang terbuka lebar, seseorang yang sangat familiar berlutut disana. Kepala pria itu bergerak naik turun di ************ Senior Pyo. Oh Tuhan! Apa ini?!
Senior Pyo mendesah erotis, matanya terbuka dan menatap kearahku. Seperti ia mengatakan padaku bahwa dia adalah pemenangnya.
Apa ini? Aku tidak bisa bergerak! Aku harus bergerak!
Dan aku tersendak dari tidurku. Mataku terbuka lebar. Keringat memenuhi dahiku. Nafasku terengah-engah.
Aku bergerak duduk dan memperhatikan sekitar, tidak ada siapa pun. Yang tadi hanya mimpi? Benarkah?
Tanganku menyibak selimut dan bergegas turun dari tempat tidur. Tanganku membuka pintu dan langsung menoleh ke sofa.
Tidak ada siapa pun di sofa, jendela di belakangnya sudah terbuka. Kepalaku menoleh ke arah dapur karena mendengar pergerakan disana.
Pandanganku bertemu dengan Senior Wonbin. Ada lingkar hitam di bawah matanya.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya, terdengar khawatir.
Ahh.. benar-benar mimpi. Aku lega sekali.
Senior Wonbin menghampiriku, "Dojin.." Tangannya terulur ke bahuku.
Tubuhku merespon bahkan sebelum aku menyadarinya, aku sendiri terkejut bahuku bergidik menghindari tangannya.
Sekarang aku yang merasa bersalah.
"Kau tidak boleh melewatkan makan, aku sudah membuatkan sarapan." ucap Senior Wonbin memberitau.
Tiba-tiba aku sangat lapar setelah mendengarnya. Aissh.. tubuhku atau bukan sih? Kenapa berlaku sesukanya?!
Dan aku berakhir di meja makan. Aku tidak mengerti dengan tubuhku, tadi sangat lapar sekarang malah tidak selera makan setelah duduk disana.
Senior Wonbin menatapku khawatir, "kau ingin yang lain?" tanyanya.
Aku hanya diam.
"Dojin?" panggil Senior Wonbin.
"Berapa lama kalian berpacaran?" tanya mulutku tanpa memandang wajahnya. OH WOW!! Siapa yang memegang remot atas diriku? Kenapa aku bersikap seperti ini?
Senior Wonbin diam sejenak, "Mmm... tidak lama.. Hanya beberapa bulan hingga Senior Taejo lulus." jawabnya pelan.
Yang sangat menggangguku adalah kesamaan tentang kisah kami dan kisah mereka. Kenapa aku merasa seperti hanya pelarian?
"Dojin, kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Aku sudah tidak punya perasaan apa pun lagi padanya! Kami hanya sebatas Senior dan Junior saja sekarang.." ucap Senior Wonbin menjelaskan.
Aku diam sejenak, "Hmm.. bukankah kita juga begitu?" komentarku.
"Tidak! Sama sekali tidak!!" jelas Senior Wonbin, "Kita masih bersama setelah aku lulus, kau ada disini sekarang! Kita tetap bersama, kan?"
Aku diam sejenak lagi, lalu memandang wajahnya. "Kau pernah berhubungan **** dengannya?"
"Dojin, kami masih sekolah saat itu!" tegas Senior Wonbin, namun reaksi wajahnya setelah mengatakan itu mengatakan hal lain. Ia menurunkan pandangannya menghindari pandanganku. "Kami tidak berhubungan ****.." ucapnya pelan, "Hanya..." ia kesulitan mengatakannya.
Bayangan di mimpiku sebelumnya kembali muncul. Rasanya sakit sekali. Mataku kembali di penuhi air. "Di kamar itu..." aku kembali bersuara, Senior Wonbin kembali memandangku, "Kalian tidak melakukan apa pun, atau belum sempat melakukan apa pun?" tanyaku.
Senior Wonbin tertegun, "Apa maksudmu?!"
Bulir air berjatuhan ke pipiku, "Katakan sejujurnya!"
"Aku tidak melakukan apa pun! Aku hanya membantunya mengambil sesuatu yang terjepit di resleting celananya!" tegas Senior Wonbin.
"Lalu kenapa kau setuju masuk ke kamar itu bersamanya?!!" seruku mulai emosi.
Senior Wonbin terdiam karena seruanku. Tidak, mungkin karena rasa bersalah?
"Jika kau tidak punya perasaan apa pun padanya, kenapa kau masuk kesana dengan suka rela?" tanyaku terluka, "Sesuatu tersangkut? Tidak bisakah kau memberikan alasan yang lebih masuk akal?"
Senior Wonbin kembali menangis. ia memandang ke bawah sembari memegang dahinya. "Maafkan aku,
Dojin.."
Tanganku terkepal erat. Rasanya sakit sekali. "Aku sudah pernah berkata, jika kau menyukai orang lain kau bisa mengatakannya padaku.."
Senior Wonbin tertegun menatapku.
"Aku bisa pergi sendiri." lanjutku dengan air mata berjatuhan.
Senior Wonbin menggeleng cepat, tangannya terulur ke seberang meja dan menggenggam tanganku erat.
"Tidak! Aku tidak menyukai siapa pun sekali kau, Yun Dojin! Aku tidak ingin kau pergi! Kumohon!" tangisnya.
Kepalaku menunduk dan menangis tersedu-sedu.
Senior Wonbin berdiri, menghampiri sisiku dan memelukku erat. "Jangan katakan itu, Dojin. Aku tidak ingin kau pergi..." tangisnya.