
"Yun Dojin!!"
Aku tersentak kaget saat seseorang memeluk leherku dari belakang dan menoleh, aku sudah lupa bahwa para perundung itu masih berkeliaran di sekolah. Kepalaku menunduk ke bawah dengan tangan saling tergenggam.
"Kau sibuk sekali akhir-akhir ini.. kami hampir lupa wajahmu.." ucap seorang senior sembari menepuk pipiku.
Aku hanya terdiam dengan kepala tertunduk.
"Ikut kami ke kafetaria, yuk.." ajak senior yang merangkul leherku.
Aku tidak berkutik dan hanya mengikuti mereka.
"Yun Dojin..."
Langkah para senior itu berhenti, kepalaku menoleh ke suara yang sepertinya tidak asing itu.
Senior Wonbin berdiri di depan lokernya, buku-buku di satu tangan. Menatapku heran, "Kau tidak lupa hari ini membantuku, kan?" Tanyanya.
Mataku berkedip-kedip bingung, membantu apa?
"Hong Wonbin, kau sudah ada janji dengannya?" Tanya senior yang merangkul leherku, dengan tidak nyaman ia melepaskan leherku.
Senior Wonbin memandang para senior itu sekilas, lalu kembali memandangku. "Jangan terlambat..." ucapnya dan berjalan pergi duluan.
Mataku berkedip-kedip bingung, apalagi senior yang lain langsung bergerak mundur.
"Pergi sana.. dia sudah menunggumu..." ucap salah seorang senior sembari mendorongku agar pergi.
Aku nyaris terjungkal karena dorongan itu, mataku memandang ke belakang. Mereka benar-benar menyuruhku pergi? Aneh sekali. Aku hanya memandang ke bawah dan berjalan mengikuti kemana Senior Wonbin pergi. Sembari berjalan, tatapanku bertemu dengan Eunwoo yang berdiri di depan loker bersama teman-temannya.
Gudang Penyimpanan.
Aku tidak mengerti situasi itu. Kenapa Senior Wonbin terlihat kesal? Ia melipat kedua tangan di dada, pinggulnya bersandar ke meja.
"Kenapa kau tidak pernah melawan mereka?" Tanya Senior Wonbin.
Aku menebak-nebak siapa orang yang ia maksud, "Maksudmu... para senior?" Tanyaku tidak yakin.
Senior Wonbin menatapku tajam.
Tatapan itu membuatku bergidik, aku memandang ke bawah ngeri. Kenapa dia marah?
"Tidak seharusnya kau menuruti ucapan mereka.." ucap Senior Wonbin, "Memangnya kau peliharaan?"
Ucapan itu membuatku tertegun menatapnya. Dia baru saja menyebutku apa?
"Jawab aku.. Kenapa kau membiarkan mereka melakukan itu padamu?!" Tanya Senior Wonbin lagi.
Aku menelan ludah mendengarnya, walaupun tau dia tidak bermaksud kasar namun aku tetap saja merasa terluka karena ucapan itu. "Aku..."
"Hanya karena mereka banyak dan bertubuh besar kau takut?!" Tanya Senior Wonbin.
Aku hanya terdiam mendengar ucapan itu. Karena memang benar. Aku takut pada mereka. Aku bisa merasakan kedua mataku memanas.
"Jangan menangis!" Tegas Senior Wonbin.
Kepalaku memandang ke bawah, bulir-bulir air malah berjatuhan dari mataku.
"Kau tidak seharusnya membiarkan mereka melakukan itu padamu! Mereka juga manusia! Sama sepertimu!!" Tegas Senior Wonbin.
Aku mulai terisak seperti anak perempuan lemah, meskipun sudah kuseka tetap saja air berjatuhan dari mataku. "Ti-tidak... aku tidak sama seperti mereka..." jawabku dengan suara bergetar.
Senior Wonbin berdiri tegap, kedua tangannya berpindah ke pinggang. "Kenapa?! Apa yang membuatmu tidak sama seperti mereka?!"
"Mereka... punya orang lain untuk mendukung mereka, aku tidak punya.." jawabku.
Senior Wonbin menatapku tak percaya, "Hanya karena kau tidak punya orang lain, bukan berarti kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri kan?!"
Ucapan itu membuatku kembali mendongak memandangnya, yang tadinya terasa sangat sakit di dadaku mulai menyebar ke sekujur tubuhku. "Jika aku bisa..." ucapku pelan, "Kenapa aku seperti ini?" Tanyaku.
"Karena kau membiarkan mereka!" Tegas Senior Wonbin.
Aku diam cukup lama menatap kedalam matanya, "Jadi itu salahku?"
Batu karang dalam tatapan Senior Wonbin hancur perlahan mendengar pertanyaanku.
"Jadi semua yang terjadi padaku..." aku tidak tau aku bisa lebih terluka lagi dari sebelumnya, hingga hari itu tiba. "...adalah salahku?"
"Dojin..." suara Senior Wonbin melembut.
Aku memandang ke bawah dan mengangguk, "Aku mengerti.." ucapku pelan.
"Tidak apa-apa..." jawabku, aku kembali merasakan mual luar biasa di dalam perutku. Sangat tiba-tiba hingga aku tidak sanggup menahannya, "Hhhhhggg!!" Aku menutup mulutku dengan tangan.
"Dojin! Kau baik-baik saja?" Tanya Senior Wonbin.
Aku segera berbalik, berlari ke kamar mandi terdekat yang bisa kutemukan.
"Dojin!" Panggil Senior Wonbin.
Dan setelah sekian lama aku kembali memuntahkan semua isi perutku. Bahkan dengan banyak tambahan yang aku sendiri tidak tau darimana. Tenggorokanku sampai terasa sakit. Berhenti! Kumohon berhenti! Aku tidak ingin muntah lagi!! Kumohon... lalu semuanya gelap.
+++
Rasa tidak nyaman di perutku terus bersarang disana. Aku tidak merasa membaik, tapi aku harus berpura-pura tidak merasakannya. Jika tidak Dokter Kim akan menghubungi orangtuaku. Aku tidak ingin kembali ke rumah. Aku tidak ingin kemana-mana. Dan aku berakhir di kamar asramaku, tidak bisa bangkit dari tempat tidur karena rasa tidak nyaman di perutku.
Malam itu, sepertinya aku demam tinggi. Aku tidak bisa mendengar apa pun, juga tidak bisa bergerak. Sentuhan seseorang terasa di dahiku, namun aku tidak bisa membuka mata. Aku... juga ingin pulang ke rumah. Dimana pun aku bisa merasakan nyaman.
Tidak tau apa yang terjadi, aku terbangun dengan hawa panas di wajahku. Nafasku juga terasa berat. Apa yang terjadi? Tanganku menyentuh dahi, ada kain basah disana. Perlahan dan hati-hati aku bergerak duduk. Tubuku terasa lemas sekali. Sekelilingku gelap, berarti matahari belum terbit. Satu-satunya cahaya hanya dari lampu temaram di mejaku. Kepalaku menoleh ke arah meja belajarku, seseorang duduk di kursi kearahku. Matanya terpejam, tangannya menopang kepala. Aku diam dulu, apakah aku mimpi? Atau orang yang kulihat itu memang terlihat seperti Senior Wonbin? Tanganku yang lain menyentuh selimutku yang terasa sangat nyaman, kepalaku memandang ke bawah. Tunggu.. itu bukan selimutku. Dan saat itu aku terkejut menyadari aku tidak mengenakan pakaian yang kukenakan sebelumnya. Hm?! Apa yang terjadi? Kenapa janggal sekali?!
"Kau sudah bangun?" Suara mengantuk Senior Wonbin membuatku kaget.
Aku menatapnya horor, tanpa sadar menutupi tubuhku dengan selimut.
Senior Wonbin mengusap wajahnya, lalu memajukan duduk dengan tangan terulur ke dahiku.
Spontan aku memejamkan mata merasakan sentuhan di dahiku.
"Sudah turun sedikit.." ucap Senior Wonbin lega, ia menarik tanganya dari dahiku dan merengganggkan tubuh.
Mataku berkedip-kedip bingung, "Kenapa aku disini?" Tanyaku tak mengerti, "Mengapa.. ini bukan selimutku.. aku tidak mengenakan bajuku yang sebelumnya..."
Senior Wonbin memandangku heran, "Kau berkeringat banyak sekali karena panasmu tinggi.." ucapnya, "Jadi aku mengganti pakaianmu dan mengambil selimut, alas kasur dan alas bantal dari kamarku." Jelasnya.
Hm? Dia apa? Apa yang dia lakukan?
Senior Wonbin menatapku aneh, "Kenapa kau bisa berdiam diri seperti itu? Jika sakit kau seharusnya ke ruang kesehatan.."
Kepalaku memandang ke bawah, "Aku... tidak ingin Dokter Kim menghubungi ayah atau ibuku.." jawabku pelan.
Senior Wonbin menghembuskan nafas dalam, tangannya terulur mengambil kain basah di tanganku. Juga memasukkannya ke dalam baskom. "Jika begitu jangan diam saja..." ia mengambil termos dan menuangkan sesuatu ke gelas, lalu menyodorkannya padaku. "Minum ini.."
Aku bisa mencium aroma sari jahe dari gelas itu, tanganku terulur untuk menerimanya.
"Tidak.. langsung saja minum." Ucap Senior Wonbin menyodorkan gelas ke wajahku.
"Aku bisa.." ucapku lemah.
Senior Wonbin menatapku sebal, "Sudah minum saja."
Kenapa dia marah lagi? Aku memajukan wajah, membuka mulut dan meneguk minuman hangat itu sedikit. Ahhh... enak sekali. Tenggorokanku terasa nyaman.
"Lagi.." perintah Senior Wonbin.
Aku berusaha menahan desakan itu, aku kembali meneguknya hingga setengah gelas.
"Hmm..." Senior Wonbin menarik gelas dan meletakkannya ke meja, "Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya.
Aku diam sejenak, "Mmm... sudah lebih baik." Jawabku pelan. Aku tidak tau apakah memang sudah membaik atau aku hanya tidak merasakannya saja.
Senior Wonbin diam sejenak menatapku, "Hmm.. berbaringlah lagi.." ucapnya.
"Tidak apa-apa.." jawabku, "kau bisa kembali ke kamarmu."
Senior Wonbin menatapku aneh, "Bukan saatnya mengkhawatirkanku."
Aku menghela nafas dalam, "Tidak... bukan begitu." Ucapku berusaha menjelaskan, "Hanya... kau tidak mungkin tidur di kursi."
Senior Wonbin diam sejenak, lalu bergerak bangkit dan mendekati tempat tidur.
Aku bergidik ngeri, "Apa yang.... Kenapa..." dia menyibak selimut dan naik ke tempat tidurku. "Se-senior..."
Senior Wonbin menariku berbaring di sisinya, "Sudah.. tidur saja..." ucapnya.
"Senior..." protesku dan hendak bangkit. Aku terkejut tubuhku tertahan di antara kedua tangannya. Tubuhku menempel semakin dekat dengan tubuh Senior Wonbin. Aku bisa merasakan dahiku menempel ke sudut lehernya.
Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Aku lelah setelah menjagamu semalaman.." ucapnya mengantuk, "Tidur saja.." lanjutnya. Tak lama aku bisa mendengar dengkuran lembut darinya. Ia sudah tertidur? Semudah itu?
Mataku melirik ke atas sedikit, tulang rahangnya tajam. Dari bawah aku bisa melihat ujung hidung mancungnya mencuat sedikit. Ia berkulit putih dan bertubuh tinggi. Sepertinya menjadi anak dari keluarga kaya membuatmu secara fisik sangat terjaga hingga menawan seperti ini. Aku mulai merasa ngantuk, mataku berat sekali. Perlahan mataku terpejam. Biarkan saja untuk kali ini, aku ingin merasakan kenyamanan ini.