Season Of You

Season Of You
— 15 —



Aku tidak menyangka waktu akan berjalan begitu cepat. Rasanya baru saja kemarin Senior Wonbin berkata akan membawaku ke rumahnya untuk liburan kenaikan kelas, lalu sudah tiba saatnya.


"Kau tidak akan pulang?" Terdengar suara ibu sedikit bingung mendengar ucapanku.


Aku menjilat bibir bawahku menghilangkan gugup, "Ya... aku... berpikir... akan tetap di asrama saja." Jawabku pelan.


"Kau yakin sayang?" Tanya Ibu.


Aku diam sejenak, mataku melirik ke luar ruang penjaga asrama. Dimana Senior Wonbin menunggu. "Hmm..."


"Jika kau berubah pikiran, kau bisa menghubungi ibu atau ayah. Kau mengerti?" Ucap Ibu lagi.


"Ya..." jawabku pelan.


"Baiklah, selamat liburan sayang." Ucap Ibu, lalu panggilan berakhir.


Aku meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Berterima kasih pada penjaga asrama dan keluar.


Senior Wonbin memandangku, "Bagaimana? Ibumu tidak keberatan?" Tanyanya.


Aku garuk-garuk kepala, "Ya..."


"Ow... aku tidak tau akan semudah itu." Ucap Senior Wonbin.


Aku tersenyum canggung, "Aku berkata akan di asrama saja..."


Senior Wonbin menatapku dengan tatapan tidak percaya, "Kau berbohong?"


"Ti-tidak kok..." jawabku cepat, "Lagi pula ayah akan berharap aku ke tempat ibu dan begitu juga sebaliknya." Jelasku, "Akan sangat rumit jika harus menjelaskan kenapa aku... ke rumahmu."


Senior Wonbin menghela nafas dalam mendengar penjelasanku.


Aku memandang ke bawah, "Maaf..."


"Tidak..." jawab Senior Wonbin, "Sudahlah..." ia merangkul bahuku, "Kita harus istirahat, besok akan berangkat." Ajaknya sembari berjalan.


Kami termasuk orang terakhir di asrama, jadi malam itu aku menginap di kamarnya karena rekan sekamarnya sudah kembali ke rumah setelah ujian usai.


Aku berbaring di sebelah Senior Wonbin, tidak bisa tidur karena terlalu gugup. Mataku meliriknya yang berbaring dengan tenang. Dia pasti merindukan keluarganya. Sebelumnya aku mendengarnya sampai tertawa-tawa mengobrol dengan keluarganya di telepon. Apa rasanya punya keluarga seperti itu?


Senior Wonbin menghela nafas dalam, ia memutar tubuh ke arahku. Tangannya terulur ke atas tubuhku. Dahinya menempel dengan nyaman ke sisi wajahku. Ujung hidungnya mengenai hidungku.


Mataku terpejam seiring bibirku membentuk senyuman. Rasanya nyaman berada dekatnya.


Keesokan harinya.


Senior Wonbin memasukkan koperku ke bagasi mobil bersama barang-barangnya. Dia sudah mulai mengangsur barang yang akan ia bawa pulang. "Sudah semua?" Tanyanya padaku.


"Ya..." jawabku.


Senior Wonbin menutup bagasi mobil, "Let's go, baby.." ajaknya sembari mengedipkan mata padaku dan berjalan ke pintu kemudi.


Bibirku menahan senyuman, lalu masuk ke mobil.


Senior Wonbin memperhatikanku mengenakan sabuk pengaman, "Siap berangkat?"


Kepalaku mengangguk.


Senior Wonbin tersenyum, kepalanya terjulur kearahku dan mengecup pipiku.


Aku menatapnya kaget, "Senior..." protesku dan memperhatikan sekitar.


Senior Wonbin tertawa kecil, "Aku ingin menciummu di parkiran sebagai siswa untuk terakhir kalinya." Jelasnya dan mengendarai mobilnya pergi.


Sesuatu mencelos di dadaku mendengar ucapan itu, kenapa terdengar seperti ucapan selamat tinggal?


"Perjalanan akan memakan waktu sekitar tiga jam, kau bisa tidur dulu jika mengantuk." Ucap Senior Wonbin.


Aku memandangnya, "Tidak apa-apa, aku ingin mengobrol denganmu saja."


Senior Wonbin tersenyum memandangku, "Hmmm.." ucapnya gemas.


Setelahnya.


Seperti yang selalu kuketahui, Senior Wonbin berasal dari keluarga pengusaha sukses. Dan aku benar-benar takjub wajah tampannya berasal dari ayahnya. Aku tidak menyangka keluarga mereka menyambutku dengan hangat. Seolah-olah aku adalah bagian dari keluarga mereka.


"Kakak nanti akan sering main kemari?" Tanya Wonhee, si Tuan Putri cantik jelita seperti deskripsi Senior Wonbin saat aku menemaninya bermain di dekat kolam renang.


Bibirku membentuk senyuman, "Kau ingin kakak kemari lagi?" Tanyaku.


Wonhee mengangguk membenarkan, "Seru jika ada banyak orang di rumah." Jawabnya.


Aku menahan tawa sembari mengelus kepalanya. Mataku melirik ke pintu belakang. Disana Senior Wonbin sedang mengobrol dengan kakak tertua mereka, Kak Wonyoung.


Senior Wonbin menoleh ke arahku, senyuman melebar di bibirnya.


Dan masa liburan pun berakhir.


Ibunya Senior Wonbin menatapku sedih, "Jika terjadi sesuatu kabari kami, ya..." pesannya.


Ibunya Senior Wonbin mengelus kedua bahuku, "Jangan sungkan datang kemari, kau sudah seperti bagian keluarga ini.."


Kepalaku mengangguk mengerti, "Ya, Bu..."


"Ehem..." Senior Wonbin di sebelah mobilnya berdehem.


Kepalaku menoleh.


"Bu, kami bisa kemalaman jika tidak segera berangkat." Ucap Senior Wonbin memberitau.


Ibunya Senior Wonbin menahan senyuman, "Iyaaa.." ucapnya.


Ayahnya senior Wonbin menghampiri istrinya, "Sudah... sudah... putra kita bisa sangat posesif." Bisiknya.


Aku menahan tawa mendengarnya. Setelah pelukan dulu dengan Wonhee yang terlihat sangat sedih setelah hampir dua minggu kami selalu menghabiskan waktu bersama, akhirnya kami melakukan perjalanan kembali.


Senior Wonbin melirikku sembari mengendarai mobil, "Kau senang menghabiskan liburan di rumahku?"


Bibirku tidak bisa menahan senyuman, "Sangat senang..." jawabku.


Senior Wonbin tersenyum lebar, "Kau tau Tuan Putri menyebutmu apa?"


"Apa?" Tanyaku penasaran.


"Istriku.." jawab Senior Wonbin menahan tawa.


Aku tertegun, "Dia... tau kita..." aku bahkan tidak bisa melanjutkan ucapanku.


Senior Wonbin mengangguk, "Dia cukup cerdas... walaupun masih berusia 6 tahun, dia sudah bisa menebak siapa yang kubawa pulang ke rumah."


Tiba-tiba aku merasa cemas, "Apakah... dia... mmmm... mengerti tentang kita?" Tanyaku.


"Orang tuaku saja mengerti, apalagi dia." Jelas senior Wonbin lucu, "Dia sangat menyukaimu, lebih dari aku."


Aku menahan senyuman mendengar ucapannya, "Tidak mungkin..." ucapku, "Dia sangat-sangat-sangat memujamu. Setiap kami bermain, yang keluar dari mulutmya hanya tentangmu."


Senior Wonbin tertawa lucu, "Terkadang aku dan kakakku akan berebut perhatiannya..."


Mengingat keluarganya saja sudah membuatku tersenyum, "Aku senang bisa menghabiskan liburan ini di rumahmu.." ucapku, "Aku tidak pernah sesenang ini ketika libur semester."


Senior Wonbin melirikku sekilas, tangannya terulur ke kepalaku dan mengelusnya gemas. "Bagaimana jika tiap libur semester pulang ke rumahku?"


Aku menahan tawa mendengarnya, "Jangan bercanda..." ucapku.


"Kenapa? Tuan putri pasti berharap kakaknya membawa istrinya kembali ke rumah kan?" Ucapnya setengah bercanda.


Aku menatapnya lekat, namun senyumanku berubah kecut. "Aku juga ingin begitu." Ucapku pelan, "Tapi... aku bahkan tidak yakin tentang esok hari, kurasa terlalu cepat untuk berencana tentang itu."


Kebingungan meliputi wajah Senior Wonbin, "Ada apa? Kenapa kau berkata seperti itu?"


Aku diam sejenak, "Aku senang kau mengajakku bertemu keluargamu." Ucapku tulus, "Tapi... kau sudah lulus sekolah, kau akan meneruskan kuliahmu. Mungkin setelah tiba di asrama hari ini adalah pertemuan terakhir kita..." aku tidak bisa melanjutkan ucapanku.


Senior Wonbin tertegun mendengar ucapanku, ia sampai menepikan mobil untuk berhenti di bahu jalan. "Apa Maksudmu?" Tanyanya.


Aku memandang ke bawah, "Kau akan bertemu orang-orang baru, melakukan hal baru..." memikirkannya membuatku sedih, mataku bergerak ke matanya. "Aku akan berada sangat jauh di asrama, aku tidak akan bisa melakukan apa pun untukmu. Jadi..." aku menggantung ucapanku dulu, "...jika nantinya kau menemukan seseorang yang membuatmu jatuh hati, aku akan baik-baik saja.."


Senior Wonbin hanya terpaku menatapku. "Kenapa kau mengatakan itu?"


"Agar..." aku berusaha tersenyum, namun kedua mataku mulai di genangi air. "...jika nanti kau tidak sempat memberitauku, tidak perlu ada kata-kata perpisahan." Aku memalingkan wajah saat bulir-bulir air mulai berjatuhan dari mataku.


Tidak terdengar apa pun dari Senior Wonbin.


Aku menyeka air mataku dengan ujung langan bajuku.


"Bisakah kita..." akhirnya Senior Wonbin kembali bersuara, "...bersikap seperti pembahasan ini tidak terjadi selama perjalanan?" Tanyanya.


Aku memandangnya.


Senior Wonbin menatapku dalam, "Aku juga tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan, atau sebulan dari sekarang, atau besok." Ucapnya, tangannya terulur ke tanganku dan menggenggamnya erat. "Tapi hari ini aku ingin bersamamu.."


Aku menghela nafas dalam. Benar, terlalu kejam untuknya jika aku membuatnya sedih setelah dia membuatku bahagia selama libur semester. "Maafkan aku." Ucapku.


Senior Wonbin menggeleng, "Jangan minta maaf.." ia mengelus pipiku dengan tangannya yang lain, "Kita masih bersama sampai hari ini. Hanya karena aku lulus terlebih dulu bukan berarti kita akan putus." Ucapnya pelan. "Kecuali kau memang menginginkannya..."


Kepalaku langsung menggeleng.


Senior Wonbin menatapku dalam, kepalanya mengangguk mengerti. "Yang perlu kau ingat, kita masih bersama. Walaupun aku tidak akan bisa bertemu denganmu sesering sebelumnya, kita masih tetap saling berhubungan dengan email atau pesan kan?"


Ucapan itu membuatku tersenyum.


Senior Wonbin menatapku lekat, "Jangan pikirkan itu lagi, oke?"


Kepalaku mengangguk mengerti.


Senior Wonbin tersenyum tipis, memberikan kecupan ke dahiku dan kembali ke stir mobil.