Season Of You

Season Of You
— 21 —



Aku tidak tau, ada hari dimana aku akan sangat membutuhkan Senior Wonbin. Kupikir aku akan selalu bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Sekeras apa pun keinginanku, aku tetap akan fokus pada persiapan ujian akhir yang akan segera datang. Sebelumnya, aku sudah mengalami titik paling rendah di hidupku berkali-kali, tapi aku bisa bangkit dan menjalaninya. Tapi.... setelah merasakan kepedulian seseorang padaku, aku tidak bisa lagi menjalaninya sendirian.


Aku sudah berdiri cukup lama di depan sebuah pintu kayu. Mataku di penuhi air yang terus-terusan berjatuhan. Tanganku menyekanya lagi dan lagi. Tanganku terangkat ke bel pintu, lalu kembali menariknya. Aku menghela nafas dalam, lalu hendak pergi. Tapi langkahku terhenti. Aku berdiam diri cukup lama lagi disana.


Klek!


Kepalaku menoleh pada pintu yang terbuka. Muncul sesosok pria bertubuh tinggi dengan sebuah ponsel di tangannya. Ia terpaku menatapku, "Dojin?" tanyanya.


Tangisku kembali pecah melihat pria itu, Senior Wonbin.


Senior Wonbin membuka lebar pintu, menarik belakang kepalaku ke pelukannya.


Setelahnya.


Senior Wonbin sama sekali tidak bertanya mengapa aku muncul di depan apartemennya, atau mengapa aku muncul seperti itu di depannya. Ia hanya membiarkanku berbaring di pangkuannya dan mengelus rambutku dengan lembut. Aku ingat setahun lalu ketika aku mendapat tekanan besar dan tidak bisa berhenti muntah, elusan tangannya di punggungkulah yang membuatku merasa lebih tenang dan berhenti muntah.


Aku tidak menyadari kapan aku berhenti menangis di pangkuannya di sofa. Terasa sangat nyaman dan aman.


"Kau naik apa kemari?" itu adalah pertanyaan yang terlontar dari mulut Senior Wonbin.


"Bis malam." jawabku pelan. Memerlukan waktu hampir 4 jam perjalanan karena  menggunakan transportasi umum.


Terdengar helaan nafas berat dari Senior Wonbin, "Kau menyelinap dari asrama?" tanyanya.


Pandanganku turun ke bawah, "Hmm..." gumamku. Aku tau, pasti aku akan terkena masalah karena hal yang satu ini. Kenapa tidak terpikir olehku tadi sebelum berangkat? Bagaimana jika pihak sekolah memberitau orangtuaku? Benar-benar bodoh.


Senior Wonbin mengelus rambutku sedikit dengan tekanan, "Bangkitlah... Aku akan mengantarkanmu kembali." ucapnya.


Aku tertegun mendengar itu, perlahan aku bergerak duduk dengan pandangan tak mengerti.


Senior Wonbin menatapku lekat, "Jika berangkat sekarang, kita akan tiba sebelum matahari terbit. Kau bisa menyelinap masuk lagi sebelum orang-orang tau." ucapnya memberitau.


Aku hanya terdiam menatapnya.


"Hei..." ia memegang kedua pipiku.


"Aku tidak ingin kembali." ucapku lelah, walaupun aku tau itu tidak mungkin.


Senior Wonbin menghembuskan nafas dalam, "Tinggal seminggu lagi sebelum ujian akhir, kau harus segera kembali." ucapnya memberi penjelasan.


Mengingat tempat itu membuatku merasa sakit lagi. Kedua mataku di penuhi air lagi.


Tatapan Senior Wonbin melembut, ia menarikku ke dalam pelukannya lagi. Mengelus belakang kepalaku lembut. "Aku tau... Kau pasti merasa terluka dan sangat sedih sekarang, tapi jika kau tidak kembali sekarang juga, kau bisa terkena masalah yang lebih besar." ucapnya pelan.


Aku sangat mengerti apa yang Senior Wonbin maksud, pikiranku bisa memahaminya. Hanya saja hatiku tidak. Aku semakin menangis di dadanya membayangkan akan kembali lagi ke tempat itu.


+++


"Hmm..." tanpa sadar aku bergumam. Lalu membuka mata perlahan. Aku tidak sadar sudah tertidur. Setelah beberapa saat, aku menyadari berada di dalam mobil. Kepalaku menoleh ke samping, Senior Wonbin bersandar ke kursi dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya terpejam. Mataku memperhatikan sekitar, kami sudah berada di parkiran asrama dan matahari belum terbit. Helaan nafas dalam keluar dari mulutku, lalu memandang Senior Wonbin. Dia pasti lelah sudah mengendarai selama 3 jam karena keteledoranku.


Tanganku terulur ke wajahnya, kulitnya sangat lembut. Mungkin karena lebih sering berada di dalam ruangan.


Dahi Senior Wonbin berkerut, tak lama ia membuka matanya.


Aku menarik tanganku dan memperhatikan ekspresinya.


Senior Wonbin mengusap wajahnya dan memandangku, "Sudah bangun?" tanyanya, ia menutup mulut ketika menguap.


Kepalaku mengangguk membenarkan.


Senior Wonbin menatapku dalam, tangannya terulur mengelus kepalaku. "Masuklah.. Kau harus bersiap untuk sekolah." ucapnya.


Aku juga tau tentang itu, tapi aku enggan untuk pergi sekarang. Tanganku mengambil tangannya di kepalaku dan memegangnya. "Terima kasih..." ucapku pelan.


Senior Wonbin tersenyum tipis, "Jika kau ingin berterima kasih, segeralah lulus dan susul aku ke Seoul." ucapnya.


Ucapan itu membuatku menahan senyuman,"Hmmm..."


Senior Wonbin memutar tubuhnya sedikit ke arahku, menatap kedua mataku lekat. "Aku tau apa yang kau rasakan pasti sangat berat..." ucapnya, "Tidak perlu menjelaskannya sekarang." tambahnya ketika aku membuka mulut, membuatku merasa lebih nyaman. "Aku merasa terhormat kau pergi jauh-jauh ke Seoul untuk menemuiku. Tapi jangan lakukan hal seperti ini lagi, kau mengerti?"


Mataku bergerak ke bawah menyesal.


"Kau bisa saja celaka di jalan." tambahnya lagi.


Aku kembali memandang kedua matanya. Tangannya mengelus pipiku.


"Bertahan sedikit lagi ya." pinta Senior Wonbin.


Aku jadi merasa sangat bersalah. Seharusnya aku tidak pergi ke tempatnya dan membuatnya harus mengantarkanku tengah malam kembali. Tadi ketika dia membuka pintu apartemen bahkan sebelum aku memencet bel, adalah karena salah seorang tetangga menghubunginya memberitau ada seorang pria mencurigakan berdiri di depan pintunya. Kepalaku bergerak mengangguk pelan.


Bibir Senior Wonbin membentuk senyuman dan mengelus pipiku dengan ibu jarinya, "Maaf karena aku sekarang terlalu jauh, jadi kau tidak bisa langsung mengungkapkan perasaanmu."


Aku hampir tersenyum mendengarnya, "Hmm.."


"Anak pintar.." ucap Senior Wonbin sembari menepuk pelan pipiku.


"Aku akan kembali ke asrama." ucapku berat.


Senior Wonbin mengangguk.


Dengan enggan aku memegang pegangan pintu dan hendak membukanya, namun aku kembali memandang Senior Wonbin.


"Sepertinya belum ada yang berkeliaran." ucapku pelan, "Boleh aku menciummu?" tanyaku malu-malu.


Senyuman Senior Wonbin semakin lebar, "Kemari..." ia memajukan tubuhnya kearahku.


Aku menghampirinya dan memejamkan mata begitu merasakan bibirnya di bibirku. Kupikir hanya akan menjadi kecupan saja, tapi bibirnya mengemut lembut bibirku. Selalu ada kupu-kupu di perutku saat kami melakukannya.


Senior Wonbin menarik wajahnya.


Aku membuka mata dan bertatapan dengannya.


Senior Wonbin tersenyum lebar, lalu mengecup dahi, kedua pelupuk mata, kedua pipi, hidung dan bibirku.


Aku tersenyum lebar ketika bertatapan dengannya.


"Nah.. masuklah." ucap Senior Wonbin.


Kepalaku mengangguk, "Sampai jumpa setelah ujian." pamitku.


"Hmmm.." gumam Senior Wonbin.


Akhirnya aku turun dari mobil dan kembali ke dalam asrama untuk bersiap ke sekolah.


+++


Ujian akhir berlalu. Aku tinggal menunggu hasil. Hasil dari pengajuan beasiswa ke dua universitas di Seoul juga sudah keluar, memang tidak di terima di universitas Senior Wonbin, aku berhasil mendapatkan beasiswa ke Seoul!! Tapi... hal lain yang terlupakan olehku. Karena aku masih di bawah umur, aku perlu tanda tangan wali untuk pengajuan surat terakhir beasiswaku sebagai tanda aku akan kuliah disana. Itu berarti tanda tangan Ibu.


Dan disinilah aku. Duduk di ruang tamu di rumah Ibu, menyodorkan map berisi surat persetujuan pada Ibu yang tampak sedih. "Bu.." pintaku.


"Setelah pergi seperti itu, kau kembali untuk mengemis tanda tangan?" Sindir suami ibuku yang berdiri tak jauh dari kami.


Aku hanya menghela nafas dalam sembari meliriknya, lalu kembali memandang ibuku. "Bu... aku hanya butuh tanda tanganmu, kumohon." Pintaku lagi.


Ibu memandangku nanar, "Kau benar-benar akan ke Seoul?" Tanyanya.


Kepalaku mengangguk, "Aku sudah mendapatkan beasiswanya, Bu." Ucapku, "Bukankah aku hebat?"


"Sayang..." Ibu memegang tanganku, "Bisakah kau memikirkannya lagi?"


"Bu... aku sudah memutuskannya." Ucapku pelan.


"Tapi Seoul sangat jauh... kita tidak punya kerabat disana. Bagaimana kau tinggal disana seorang diri?" Tanya Ibu terdengar khawatir.


"Aku sudah besar, Bu. Aku bisa mengatasinya." Ucapku meyakinkan, "Kumohon Bu.."


Ibu menatap kedua mataku dalam, tangannya terulur ke pipiku. "Kau yakin?"


Aku langsung mengangguk, tidak ada keraguan lagi di dalam hatiku. Aku hanya ingin keluar dari kota terkutuk itu.


Walaupun masih terlihat berat hati, Ibu mengambil pena dan menandatangani berkas itu.


Aku sangat lega melihatnya.


"Sekali kau keluar dari kota ini..." suami ibuku kembali bersuara, aku memandangnya sembari membereskan map. "Tidak ada bantuan dana lagi untukmu dari kami."


"Sayang.." ucap ibuku mengingatkan suaminya.


"Anda tidak perlu khawatir..." ucapku pada suami ibuku, lalu bergerak bangkit. "Walaupun aku akan tinggal di jalanan, tetap saja lebih baik mati daripada mengemis uang padamu."


Wajah suami ibuku berubah marah.


Aku mengangguk sopan padanya, lalu memandang Ibu yang sekarang mulai menangis. "Aku akan memberikan kabar padamu." Janjiku, lalu berbalik pergi.


Menginjakkan kaki meninggalkan rumah itu, senyuman lega mengembang di wajahku. Akhirnya... kebebasan yang kunantikan. Aku keluar dari pekarangan rumah, terus berjalan di trotoar melewati rumah keluarga Eunwoo. Senior Wonbin menungguku di mobil di ujung jalan sana.


"Yun Dojin..." panggil Eunwoo yang menyusulku keluar dari rumahnya.


Langkahku terhenti, kami tidak pernah lagi berbicara sejak hari itu. Aku menghela nafas dalam, lalu berbalik menatapnya.


Eunwoo berjalan mendekatiku dengan wajah canggung, "Mmm.. kau... akan langsung ke Seoul."


"Ya." Jawabku singkat.


Eunwoo mengangguk mengerti, ia memandangku sesaat. "Aku minta maaf." Akhirnya ia bersuara.


Lagi pula, bisa jadi itu pertemuan tetakhir kami kan. Kepalaku mengangguk.


Eunwoo menatapku lekat, "Semoga berhasil, Dojin." Ia menahan tangis saat mengatakan itu.


Ekspresiku melembut sedikit, "Kau juga.." balasku, sebelum obrolan itu menjadi panjang, aku berbalik dan berjalan pergi meninggalkan teman masa kecilku itu.


"Dojin..." panggil Eunwoo dari kejauhan.


Langkahku terhenti dan menoleh ke belakang.


Eunwoo menatapku, "Mungkin aku akan bekerja ke Seoul nanti... jika kau sudah tidak bersama pacarmu itu..." ia tersenyum, "Boleh aku mendekatimu?"


Ucapan itu seharusnya membuatku kesal, namun aku hanya tersenyum. "Berharap saja..." jawabku, lalu melangkah pergi.