
Semester baru di mulai lagi. Aku tidak tau aku masih bisa menghabiskan waktu bersama Senior Wonbin.
Senior Wonbin menahan senyuman mendengar pertanyaanku, "Kau mengetahui tentang itu?" Tanyanya balik.
Aku menatapnya tak percaya, "Kau benar-benar Penulis Yellow itu?!"
Senior Wonbin mengangguk pelan.
"Kau keren sekali! Bahkan nama pena yang kau pilih juga keren!" Pujiku, tidak ada hal lain yang bisa kukatakan.
Tampak rona merah di wajah Senior Wonbin, "Kuning adalah warna kesukaan adikku." Jelasnya.
Sial! Tiba-tiba aku merasa sangat iri pada adiknya! Bagaimana mungkin dia mendapatkan seorang kakak yang sampai menggunakan warna kesukaannya sebagai nama pena!
"Sepertinya nama itu membawa keberuntungan.." lanjut Senior Wonbin.
"Karena warna kesukaan adikmu?" Tanyaku ingin tau.
Senior Wonbin tersenyum lebar sembari memandang ke bawah, sepertinya ia memikirkan adiknya. Manis sekali. "Seharusnya aku menjadi anak bungsu. Aku menjadi anak bungsu hingga usiaku 12 tahun. Lalu adik perempuanku lahir..." ia menahan tawa, "Dia terlihat sangat manis, rumah kami jadi terasa berbeda karena akhirnya ada anak perempuan. Jadi kami memanggilnya Tuan Putri."
Cerita itu membuatku ikut tersenyum.
"Sampai sekarang kami semua masih memanggilnya Tuan Putri. Mungkin karena menggunakan nama dari warna kesukaannya ceritaku jadi terkenal." Lanjutnya lagi.
"Eeeeiii.. walaupun mendatangkan keberuntungan, tapi ceritamu memang patut menjadi terkenal." Ucapku memberitau.
Senior Wonbin tersenyum mendengar ucapanku, "Tolong rahasiakan tentang yang satu itu dari orang lain, ya.." pintanya.
Tanpa ragu aku langsung mengacungkan ibu jariku, "Selama aku bisa membaca lanjutannya duluan."
Senior Wonbin mengangguk setuju.
Menghabiskan waktu bersama Senior Wonbin membuat suasana di sekolah jadi lebih menyenangkan. Aku tidak pernah tau bahwa aku akan menyukai sekolah itu. Tempat seperti neraka yang mengerikan itu memiliki ruang kecil yang nyaman. Hari demi hari, aku bisa merasakan kupu-kupu di perutku semakin banyak. Melirik wajahnya dari dekat, melihatnya tersenyum ketika hanya ada kami berdua di ruangan tempat ia menyelesaikan ceritanya. Terasa sangat tidak nyata.
Senior Wonbin menoleh ke arahku, mata kami bertemu. Aku terkejut sedikit, tapi bukannya memalingkan wajah aku hanya terpaku menatap ke dalam matanya. Tatapannya terasa sangat hangat, ia tersenyum dan kembali memandang layar laptop.
Jantungku berdegup sangat cepat, wajahku terasa panas. Mataku memandang ke bawah, ke kertas di tanganku untuk membaca cerita yang di tulis Senior Wonbin sekaligus untuk menyunting ceritanya.
"Sangat menjijikkan..."
Degupan jantungku menurun perlahan. Panas di wajahku berubah menjadi rasa dingin. Mataku melirik Senior Wonbin yang terlihat sangat serius dengan laptop di depannya. Bersama helaan nafas berat aku kembali memandang kertas di tanganku. Aku harus tetap sadar, bahwa semua kupu-kupu yang kurasakan di perutku itu akan menghancurkan semuanya. Nantinya Senior Wonbin juga akan mengatakan hal yang sama, menatapku dengan cara yang sama, juga menjauhiku seperti bagaimana yang Eunwoo lakukan.
Setelahnya.
"Kau melakukan apa akhir pekan ini?" Tanya Senior Wonbin sembari berjalan kembali ke gedung asrama.
Aku berpikir sejenak, kapan aku punya agenda ketika akhir pekan? "Mmmm.. tidur.." jawabku.
Senior Wonbin menatapku dengan mata berkedip-kedip.
Aku memandangnya tak mengerti, "Ada apa?"
Lalu Senior Wonbin mulai tertawa.
DEG!!!
Jantungku membentur-bentur tulang dadaku melihatnya tertawa. Tanpa sadar tanganku memegang dada. Bagaimana seseorang bisa terlihat sangat menawan ketika tertawa begitu? Seperti ada efek slow motion di sekitar wajahnya saat ia tertawa, matanya terlihat benar-benar tulus. Memandangku seperti aku sesuatu yang lucu.
"Aku berencana ke toko buku, kau ingin ikut?" Tanya Senior Wonbin setelah tawanya mereda.
Aku merasakan sesuatu yang sangat aneh di dadaku. Dia ingin aku ikut bersamanya? Atau dia ingin menghabiskan akhir pekan bersamaku? Ahhh... drama di kepalaku semakin aneh saja.
"Kau tidak ingin?" Tanya Senior Wonbin.
Aku segera tersadar bahwa aku belum menjawab, "Oh.. baik! Aku akan ikut!" Jawabku cepat.
Senior Wonbin tersenyum, "Baiklah.. aku akan menunggu di depan gedung asrama pukul 9.."
Aku tau terdengar konyol, tapi itu terdengar seperti ajakan kencan di telingaku. Ahhh.. yang benar saja! Aku dan pikiran konyolku. Kepalaku mengangguk pelan.
Senior Wonbin menepuk bahuku pelan, lalu berbelok ke asrama senior tingkat akhir begitu memasuki gedung asrama.
Aku melirik bahuku yang tadi ia tepuk. Tanganku memegang bahu dan menahan senyuman, lalu berjalan ke arah lain menuju asrama tingkat pertama. Kupu-kupu di perutku mendadak mati saat mataku dan Eunwoo yang terlihat baru saja kembali dari pantri bertemu.
Eunwoo berhenti di tempatnya, matanya melirik ke arah aku datang tadi. Tak lama ia kembali memandangku, "Ikut aku.." ucapnya dan berbalik pergi.
Tanganku garuk-garuk kepala bingung, lalu mengikutinya ke pintu samping gedung asrama.
Eunwoo melipat kedua tangan di dada, lalu berbalik memandangku dengan wajah juteknya.
Wajahku memandang ke bawah, merasa tidak nyaman berada disana.
Eunwoo diam sejenak menatapku, "Kau sudah baik-baik saja?"
Hm? Tunggu... apa maksudnya ini? Hati-hati aku mengangkat wajah memandangnya, dia benar-benar menanyakan kabarku? "Mmmm..."
Eunwoo menghembuskan nafas kesal, "Langsung jawab saja..." ucapnya sebal.
Aku mengatupkan bibir, "Ya." Jawabku singkat.
Eunwoo menatapku aneh, "Tentu saja, kau sudah bisa berduaan dengan Senior Hong Wonbin.." sinisnya.
Ucapan itu memang aneh. Tapi entah mengapa dahiku berkerut, apa maksudnya?
"Kau tau dia orang aneh kan?" Tanya Eunwoo.
Apa dia menggunakan bahasa yang tidak kumengerti? Sepertinya tidak. Tapi kenapa aku tidak paham apa maksudnya.
"Dia lebih buruk dari para senior yang suka mengganggumu itu.." lanjut Eunwoo, "Kau pikir dia akan tetap bersikap seperti bagaimana dia setelah tau bagaimana kau?" Tanyanya.
Ucapan itu membuatku tertegun. Caranya menyebut itu, bagaimana aku? "Apa maksudmu? Bagaimana aku?"
Eunwoo menatapku seperti sesuatu yang menjijikkan, "Kau tau apa yang kumaksud.." ucapnya, ia berjalan melewatiku. Membentur bahuku ketika berlalu.
Aku terdorong sedikit karena benturan itu, aku hanya berdiri disana untuk beberapa saat. Apakah aku memang sangat menjijikkan?
+++
Sabtu pukul 9 pagi, aku sudah tiba dia depan asrama. Merasa sedikit gugup, namun juga bersemangat di saat bersamaan. Aku memperhatikan sekitar, mencari-cari orang yang berkata akan menunggu disana. Tapi dia tidak terlihat.
Din! Din!
Kepalaku menoleh ke suara klakson mobil di parkiran depan asrama. Itu tempat para orang tua yang mengunjungi anaknya atau mengantarkan anaknya parkir, ada sebuah mobil sedan putih disana.
Pintu di samping kemudi terbuka, seseorang keluar sembari melambai memanggilku.
Mulutku terbuka tak percaya, itu Senior Wonbin. Dia terlihat sangat tampan dengan tatanan rambutnya.
Senior Wonbin tersenyum, lalu kembali masuk ke mobil.
Setelahnya.
Aku melirik bagian dalam mobil, terlihat sangat mewah dan canggih. Mataku tertuju ke tangannya di stir mobil, dia terlihat sangat keren saat menyetir. Bagaimana bisa ada orang yang terlihat tampan setiap saat? Aku terkejut saat matanya melirik ke arahku dan segera memandang ke depan.
"Ada apa? Sesuatu di wajahku?" Tanya Senior Wonbin, satu tangannya menyentuh wajah.
"Ti-tidak.." jawabku gugup.
Aku tertegun mendengar ucapannya. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan sesuatu seperti itu tanpa beban? Dan lihat bagaimana ekspresinya... luar biasa.. dia tampan sekali. Ya ampun...
Hari itu memang terasa seperti kencan bagiku, setelah mendapatkan apa yang ia cari kami melanjutkannya dengan makan di sebuah restauran. Aku tau keluarganya kaya, tapi aku tidak menyangka dia memiliki selera semahal ini.
"Kau suka makanannya?" Tanya Senior Wonbin.
Bibirku membentuk senyuman tipis, "Hmm.." jawabku.
Senior Wonbin mengangguk mengerti, "Aku sudah mendapat bayaranku dari menulis cerita yang kau bantu sunting.." ucapnya, "Kurasa ucapan terima kasih seperti ini tidak cukup."
Aku tertegun mendengar ucapan itu, "Kau mendapat bayaran dari tulisanmu?"
Senior Wonbin mengangguk, "Menulis online juga menghasilkan uang.." jawabnya dengan senyuman di wajah.
Wuaahh.. dia sudah menghasilkan uang? Keren sekali! Bahkan untuk orang dari keluarga kaya sepertinya.
"Kau ingin sesuatu yang lain? Aku bisa membelikan apa pun sebagai ucapan terima kasih." Ucap Senior Wonbin lagi.
Aku segera menggeleng, "Ini sudah sangat lebih dari cukup.." jawabku "Terima kasih sudah memikirkanku, aku senang membantumu."
Senior Wonbin tersenyum, "Bantuanmu sangat besar, aku tidak perlu bekerja dua kali untuk menyunting ceritaku."
Aku tidak tau apakah dia serius tentang itu, tapi aku merasa senang mengetahui aku melakukan sesuatu yang membantunya.
"Terima kasih.." ucap Senior Wonbin lagi.
Ahhh.. Yun Dojin! Kau benar-benar! Kenapa kupu-kupu di perutku malah berterbangan lagi? Kedua pipiku terasa panas.
Senior Wonbin melanjutkan makannya lagi.
Aku hanya berharap hari itu tidak akan berakhir.
"Ingin menonton film setelah ini?" Senior Wonbin membuka suara lagi.
Aku menatapnya kaget mendengar itu, seperti ia bisa mendengar pikiranku.
Senior Wonbin mengunyah makanan di mulutnya dan memandangku, "Mumpung sudah di luar asrama..." lanjutnya.
Kedua pipiku terasa panas, bagaimana mungkin ini tidak terasa seperti kencan?
Pilihan film Senior Wonbin tidak buruk. Aku tidak bisa berhenti tertawa. Mataku melirik ke samping, dia terlihat sangat terhibur dengan tontonan kami. Area sekitaran matanya sampai berkerut karena tertawa, bisakah aku mengingat momen itu untuk waktu yang lama? Rasanya sangat menyenangkan. Namun sesuatu yang berat menggantung di dadaku, apakah dia masih akan tertawa selepas itu jika mengetahui tentangku? Apakah dia tidak akan berubah menjadi orang yang bahkan tidak bisa berada di satu ruangan denganku?
Kami kembali ke asrama ketika langit sudah mulai gelap.
"Ingin makan malam dulu?" Tanya Senior Wonbin sembari mengendarai mobil.
Aku memandangnya bingung, "Kau sudah banyak makan popcorn... Masih lapar?" Tanyaku.
Senior Wonbin melirikku aneh, "Popcorn itu bukan makanan yang membuatmu kenyang.." jawabnya.
Ucapan itu membuatku tersenyum, "Kau lapar?"
"Jika sudah kembali ke asrama tidak akan semudah itu mendapat makanan yang kuinginkan." Jawab Senior Wonbin, "Kau ingin segera kembali?" Tanyanya.
"Mmm... aku... tidak juga." Jawabku pelan.
Senior Wonbin tersenyum tipis, "Let's go!" Ajaknya dan membelokkan mobil.
Tidak seperti bayanganku, kami makan malam di sebuah restauran tua yang memiliki banyak hidangan mi. Meskipun begitu tempatnya sangat antik.
"Kau suka tempatnya?" Tanya Senior Wonbin ketika kami menunggu pesanan.
Kepalaku mengangguk, "Ya.." jawabku.
"Ini tempat langganan keluargaku ketika mengunjungiku disini." Ucap Senior Wonbin memberitau.
Aku tertegun mendengarnya, "Oh ya?"
Senior Wonbin mengangguk membenarkan, "Dulu ayahku juga lulusan sekolah kita, jadi dia ingin anak-anak laki-lakinya lulus disana juga."
Aku diam sejenak, "Tapi... bukankah sekolah ini terlalu jauh dari rumah?" Tanyaku.
Senior Wonbin tersenyum lucu, "Ya..." jawabnya.
Aku menatap ekspresinya yang sama sekali tidak terlihat sedih karena jauh dari rumah, "Apakah... tidak berat berada jauh dari rumah?" Tanyaku lagi.
"Tentu saja." Jawab Senior Wonbin santai, "Tapi bukankah ini yang akan terjadi ketika kita dewasa nanti? Memiliki kehidupan sendiri dan tinggal di rumahmu sendiri?"
Ucapan itu membuatku terdiam beberapa saat, entah mengapa terdengar sangat masuk akal.
"Lagi pula, hidup di rumah atau tidak. Aku tau keluargaku akan selalu ada untukku." Lanjut Senior Wonbin.
Ya... dia punya sesuatu yang di sebut keluarga itu. Iri sekali.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Senior Wonbin.
"Hm? Aku?" Tanyaku bingung.
"Ya.. apa rumahmu jauh juga?" Tanya Senior Wonbin.
Aku berpikir sejenak, apa aku punya rumah? "Mmm.. ayah dan ibuku tinggal di kota ini.." ucapku pelan, "Hanya saja... mereka di rumah yang berbeda."
Ekspresi Senior Wonbin berubah tidak nyaman, "Oh.. maaf.."
Bibirku membentuk senyuman dan menggeleng, "Mereka memang tidak pernah akur ketika bertemu." Ucapku.
Senior Wonbin menatapku menyesal, "Kemana kau biasanya pulang? Rumah ayahmu atau ibumu?" Tanyanya ingin tau.
"Biasanya aku akan ke rumah siapa pun yang siap dengan kedatanganku." Jawabku pelan, tidak ingin terdengar sarkasme, tapi itu memang terjadi.
Senior Wonbin mengangguk pelan, "Hmmm.." gumamnya mengerti.
"Tapi ketika kecil aku lebih sering di rumah ibu." Lanjutku menaikkan suasana, "Aku punya teman kecil di sebelah rumahnya, kami sering menghabiskan waktu bersama dan bermain apa saja yang seru."
Senyuman kembali ke bibir Senior Wonbin, "Terdengar menyenangkan."
Sesuatu terasa mencelos di dadaku mendengarnya, namun bibirku masih membentuk senyuman. "Hmmm..."
Makanan kami tiba, kami mulai makan dengan tenang.
"Ketika lulus nanti, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Senior Wonbin membuka suara lagi.
Aku diam sejenak, "Entahlah.. aku bahkan belum menyelesaikan tahun pertamaku." Jawabku.
Senior Wonbin tersenyum lucu, "Benarkah? Waktu akan berjalan sangat cepat, tau-tau kau akan lulus dalam beberapa bulan.."
Ucapan itu membuatku tersenyum, rasanya sedih juga mengingat dia akan segera lulus. "Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku?" Senior Wonbin berpikir sejenak, "Ayahku berpikir aku mempelajari bisnis seperti kakakku.." ucapnya, "Tapi sepertinya aku hanya akan terus menulis."
Aku menatapnya kagum, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui apa yang akan ia lakukan semudah itu? "Wow.. penulis Yellow akan sangat terkenal." Godaku.
Senior Wonbin tersenyum lucu, "Jangan menggodaku.."
Aku tersenyum lucu dan mulai makan lagi.