Season Of You

Season Of You
— 17 —



Aku tidak pernah tau, hubungan jarak jauh itu bisa berjalan semulus seperti yang kualami. Atau mungkin karena kami jarang bertemu? Aku bahkan tidak menyadari aku sudah tahun akhir dan sudah tinggal satu semester sampai aku lulus dari SMA.


"Kau apa?" Tanya Ibu di telepon ketika aku menghubunginya.


"Aku akan memilih kampus di Seoul, Bu." Ucapku lebih jelas.


Ibu menghembuskan nafas panjang, "Sayang... Ibu mengerti kau ingin belajar di tempat yang lebih baik." Ucapnya, "Tapi kau tau kan biaya kuliah tidak murah, apalagi di Seoul."


Aku memandang ke bawah mendengar ucapan itu.


"Kau tau kan universitas di sini juga tidak kalah bagus? Kau juga dekat dengan ayah dan ibu." Ucap Ibu lagi membujuk.


"Bagaimana jika aku mendapatkan beasiswa?" Tanyaku.


"Hm?" Ibu terdengar tidak yakin.


"Beasiswa.." jawabku lagi, "Aku sudah berbicara dengan guruku, mungkin aku bisa mendapatkan beasiswa."


"Sayang..." Ibu terdengar khawatir, "Kau tau kan ayah dan ibu selalu berdebat tentang biaya pendidikanmu?"


Tanganku yang tidak memegang gagang telepon mengepal erat, "Aku akan mendapatkan beasiswa, juga akan berusaha keras untuk biaya hidupku sendiri. Apa aku bisa?" Tanyaku sedikit keras.


"Yun Dojin..." ucap Ibu lebih tegas.


"Kenapa ayah dan ibu berusaha menahanku tapi kalian tidak ingin aku disini?" Tanyaku tak mengerti.


"Sayang, apa yang kau katakan?" Tanya Ibu tak mengerti.


"Apa salahku hingga kalian memperlakukanku seperti ini?" Tanyaku tak mengerti, mengingat bagaimana hangatnya keluarga Senior Wonbin padaku membuatku merasa sangat terluka atas perbuatan keluargaku sendiri.


"Dojin..." panggil itu.


"Aku tidak akan pulang semester ini..." ucapku lagi, "Tidak perlu berbasa basi." Aku langsung menutup telepon walaupun ibu masih memanggil. Tapi aku merasa sangat tidak nyaman.


Setelahnya.


Tok! Tok! Tok!


Aku yang sedang merapikan buku-buku di meja belajar menoleh ke belakang, pintu kamar tidak tertutup. Aku bisa melihat Eunwoo berdiri dengan canggung disana.


Eunwoo mengelus belakang kepalanya canggung, "Boleh aku masuk?"


Sudah sangat lama kami tidak berbicara, ada apa ya? Kepalaku mengangguk pelan.


Eunwoo berjalan masuk ragu-ragu, lalu bergerak duduk ke ujung tempat tidurku.


Aku bergerak duduk di sisi lain tempat tidur, "Kau belum pulang ke rumah?" Tanyaku.


Eunwoo diam sejenak mendengar ucapanku, "Besok aku akan di jemput." Jawabnya.


Kepalaku mengangguk mengerti. Canggung...


"Mmm..." Eunwoo mengelus belakang kepalanya canggung, "Ibumu berbicara dengan ibuku..."


Sepertinya aku mulai tau apa yang akan ia bahas.


"Dia berkata kau sudah lama tidak pulang ke rumah..." lanjut Eunwoo, "Jadi ibuku memintaku membujukmu pulang semester ini."


Aku diam sejenak menatapnya, "Hmmm..." gumamku.


Eunwoo diam dulu menatapku, "Ibumu berkata kau hanya berada di asrama selama liburan semester.." ucapnya, "Tapi sepertinya aku tidak melihat namamu di daftar orang yang tetap di asrama semester lalu."


Pertanyaan itu membuatku mulai tidak nyaman.


"Kau kemana?" Tanya Eunwoo selidik.


Bibirku mengatup, "Mmm... ke... rumah teman." Jawabku pelan.


Mata Eunwoo menyipit, "Teman yang mana?"


"Kau tidak tau temanku." Jawabku berkilah.


"Semester ini kau akan pulang?" Tanya Eunwoo.


Aku diam sejenak, "Tidak."


Eunwoo menghembuskan nafas panjang, "Ada apa denganmu? Kemana kau sebenarnya?"


Aku memandang ke bawah, "Kupikir itu bukan urusanmu..."


Eunwoo menghembuskan nafas panjang, "Ibuku berkata akan menjemputku dan sekaligus dirimu besok."


Aku tertegun mendengar ucapan itu, "Ha?"


"Ibuku berkata begitu, aku hanya menyampaikan saja." Ucap Eunwoo, lalu bergerak bangkit. Matanya memandang koperku yang sudah rapi, "Sepertinya kau sudah siap berangkat." Sindirnya, lalu berjalan pergi.


Aissh... ada apa sih. Menyebalkan!


Setelah obrolan itu aku langsug ke ruangan penjaga asrama untuk menghubungi Senior Wonbin.


"Kau akan pulang ke rumah?" Tanya Senior Wonbin sedih.


"Hmm.." gumamku membenarkan.


"Ahhh..." Senior Wonbin terdengar kecewa.


"Maaf... Sepertinya aku membuat ibuku kesal, jadi dia menggunakan cara ini untuk memaksaku pulang." Ucapku pelan.


"Jadi aku tidak akan bisa bertemu denganmu liburan semester ini?" Tanya Senior Wonbin lesu.


Mendengar nada bicaranya membuatku tersenyum, "Bagaimana jika kau yang datang ke rumahku?" Candaku.


"Hm? Berikan aku alamatnya.." ucap Senior Wonbin langsung.


Mendengar itu justru membuatku kaget, "Hei... aku hanya bercanda."


Senior Wonbin tertawa kecil, "Tidak perlu sampai ke rumahmu kan? Kita bisa bertemu di luar."


Aku menahan senyuman, "Ya..." jawabku pelan.


"Kau sudah makan malam? Aku merindukanmu..." ucap Senior Wonbin.


Dan obrolan manis itu berlanjut sedikit. Aku baru bisa menggunakan ponselku setelah keluar dari asrama, jadi malam itu kami mengobrol dengan telepon di ruang penjaga asrama saja.


+++


"Kau tidak berjalan-jalan keluar? Kenapa hanya di rumah?" Tanya Ibu karena aku sudah berhari-hari di rumah.


Aku tidak tertarik melakukan apa pun. Aku hanya ingin masa liburan segera berakhir jadi aku akan segera kembali ke asrama. Aku menghela nafas dalam, meletakkan ponsel ke sebelahku. "Hanya... tidak ingin saja." Jawabku pelan.


Ibu menghela nafas dalam, "Sayang... kau ingin membicarakan sesuatu pada ibu?"


Aku memandang ibu, "Selain masalah kuliah, tidak ada." Jawabku jujur.


Aku diam lagi menatapku, "Kenapa kau ingin ke Seoul?"


"Hanya..." aku berusaha tidak membuat ibu marah lagi, malahan aku bisa di tahan tidak kembali ke asrama. "Ingin ke tempat yang lebih besar." Jawabku pelan.


"Apakah disini tidak cukup besar bagimu?" Tanya Ibu.


Aku memandang Ibu beberapa saat, "Bu.. aku sudah besar sekarang.." ucapku pelan, "Ibu dan ayah tidak perlu bersikap seperti aku anak kecil yang masih membutuhkan perhatian."


Dahi Ibu berkerut, "Apa maksudmu?"


"Aku tau Ayah dan Ibu akan saling lempar dimana aku akan menginap." Ucapku pelan, "Sekarang sudah tidak perlu lagi melakukan itu.. Aku bisa mengurusi hidupku sendiri sekarang."


Ibu tertegun mendengar ucapanku, ia terlihat terkejut juga. "Dojin.. Apa yang baru saja kau katakan?"


Aku menghela nafas dalam, "Aku akan ke kamarku.." ucapku pelan, lalu bergerak bangkit dan berjalan ke kamar.


Hari-hari berikutnya aku masih berkutat di kamar. Membaca draft cerita yang di kirimkan Senior Wonbin melalui email untuk kusunting untuk menghabiskan waktu.


Tok! Tok! Tok!


Kepalaku menoleh ke jendela kamar yang di ketuk, dahiku berkerut. Aku meletakkan ponsel di atas kasur dan turun dari tempat tidur untuk melihat jendela. Aku sedikit terkejut melihat Eunwoo di balik jendela. Tanganku membukanya dengan wajah bingung.


Eunwoo dengan wajah juteknya melipat kedua tangan di pinggir jendela, "Keluarlah..."


Dahiku berkerut, "Ibuku memintamu melakukan ini?"


"Hmm.." jawab Eunwoo jujur.


Aku menghela nafas, "Katakan saja kita sudah pergi keluar.." ucapku, lalu berbalik kembali ke tempat tidur.


"Hei..." panggil Eunwoo, ia memanjat jendela dan masuk ke kamarku.


Aku menatapnya aneh, "Kenapa sih?" Aku terkejut ia langsung memegang kedua tanganku dan mendorongku berbaring ke tempat tidur.


Eunwoo menatapku lekat, "Ayo keluar..." ajaknya.


"Tidak ingin!" Jawabku dan berusaha melepaskan kedua tanganku.


Eunwoo mempertahankan pegangannya, "Kau ingin berkuliah di Seoul karena Senior Hong Wonbin disana kan?!"


Aku tertegun mendengar ucapan itu, "Apa maksudmu?"


"Aku mendengarnya dari ibumu, kau berkata ingin kuliah di Seoul." Ucap Eunwoo.


Aku menghela nafas dalam, "Itu bukan urusanmu.."


"Tentu saja itu urusanku!" Tegas Eunwoo.


Dahiku berkerut tak mengerti, "Lepaskan aku Eunwoo.." protesku.


Eunwoo menatapku marah beberapa saat, wajahnya bergerak turun ke wajahku.


Spontan wajahku berpaling sebelum bibirnya menyentuh bibirku. Mataku terpejam, tidak ingin menatapnya dari jarak sedekat itu.


Eunwoo diam sejenak. Lalu menarik wajahnya menjauh namun masih tetap memegangi kedua tanganku.


Mataku terbuka hati-hati dan melirik ke arahnya.


Eunwoo menatapku tanpa ekspresi.


Aku menarik tanganku lagi, namun Eunwoo tetap tak melepaskan tanganku. "Eunwoo..." protesku.


Eunwoo bergerak bangkit, juga sembari menarikku duduk lagi. Ia melepaskan kedua tanganku.


Aku mengelus pergelangan tanganku, "Pergilah... aku tidak ingin kemana pun." Ucapku.


Eunwoo berdiri di depanku, melipat kedua tangannya. "Kau kenapa sih?"


Aku mendongak memandangnya, "Kau yang kenapa? Kenapa tiba-tiba bersikap seperti kau peduli?!" Tanyaku kesal.


Eunwoo menghembuskan nafas kesal, "Aku tidak peduli!"


Terlalu kesal aku bergerak bangkit, "Ya sudah pergi sana!!" Seruku.


"Kau pikir aku ingin disini?!" Seru Eunwoo.


"PERGI!!!" Teriakku hingga tenggorokanku terasa sakit.


Eunwoo menatapku marah.


Pintu kamarku terayun terbuka, muncul ibu dengan wajah paniknya. "Ada apa ini?" tanyanya.


Aku dan Eunwoo saling bertatapan dengan wajah marah.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Ibu tak mengerti.


Aku mendorong Eunwoo mundur, "Pergi..." ucapku penuh penekanan.


Eunwoo mendengus kesal dan berbalik, ia sempat mengangguk sopan pada ibuku dan bergegas pergi.


Ibu memperhatikan Eunwoo pergi dengan dahi berkerut, lalu kembali menatapku. "Ada apa dengan kalian? Kalian bertengkar?" tanyanya.


"Aku tidak tau!" jawabku ketus, aku bergegas menutup jendela agar tidak ada orang lain lagi yang menyusup dari sana.


Ibu menghela nafas dalam, ia menghampiriku sembari mengelus dadaku. "Sayang... tenangkan dirimu.." ucapnya pelan, "Kalian sudah lama berteman, jadi pasti akan segera baikan..."


Aku menatap Ibu tak percaya, "Sudah sangat lama kami tidak berteman lagi, Bu.." ucapku.


Ibu mengerutkan dahi, "Apa maksudmu? Kalian tidak terpisahakan sejak kecil..." ia mengelus kedua bahuku.


Aku menepis tangan Ibu dari kedua bahuku, menatapnya marah. "Ibu tidak tau apa pun tentangku?!" seruku, lalu bergegas pergi meninggalkan kamar.


"Dojin!" panggil Ibu.


Aku terlalu marah untuk berhenti. Aku hanya terus pergi meninggalkan rumah. Aku sampai lupa mengambil ponselku di tempat tidur. Aku hanya terus pergi. Aku sangat benci ada di sana. Tidak ada satu orang pun yang peduli padaku disana.