Season Of You

Season Of You
— 33 —



Aku membawa bungkusan sampah keluar dari gedung apartemen dan menghampiri tempat pembuangan sampah. Lalu berjalan menuju mini-market tak jauh dari gedung apartemen. Ponselku berbunyi ketika memasuki mini-market, tanganku mengeluarkannya lalu menempelkan ke telinga. "Ya, Senior.." jawabku, tanganku yang lain mengambil keranjang belanjaan dan berjalan ke rak minuman.


"Kau dimana?" tanya Senior Wonbin di seberang.


"Tadi aku membuang sampah, lalu ke mini-market sebentar. Aku ingin beli cemilan." jawabku.


"Apa?! Kenapa tidak mengatakannya padaku?" protes Senior Wonbin.


"Aku bukan bayi, aku bisa berbelanja sendiri." jawabku sembari melihat-lihat dari luar kulkas minuman.


"Aku akan menyusul kesana.." Aku bisa mendengar Senior Wonbin grasak-grusuk di seberang.


"Tidak perlu, aku akan segera kembali." jawabku.


"Sudah.. tunggu saja disana." Dan Senior Wonbin menutup panggilan.


Aku menghembuskan nafas panjang, memandang layar ponsel dan memasukkannya ke saku jaket. Tanganku membuka pintu kulkas, lalu mngulurkan tangan yang lain untuk mengambil minuman bersoda. Aku terkejut sebuah tangan menangkap tanganku sebelum menyentuh minuman itu dan menoleh. Seperti kejadian di film horor, aku melihat Dokter Jang!


Dokter Jang menatapku dengan wajah sebal, "Kau ingin naik ambulance lagi?" tanyanya Walaupun terdengar dingin tapi tetap saja seksi.


Mataku berkedip-kedip bingung, "Ow.. ini bukan untukku.." ucapku memberitau.


Dokter Jang mengedip-kedipkan matanya bingung, "Oh.." ia menarik tangannya dari tanganku, terlihat canggung.


Aku mengambil dua kaleng minuman bersoda dan memasukkannya ke keranjang, lalu menutup pintu kulkas. "Senior Wonbin menahan dirinya tidak minum-minuman bersoda atau pun bir karena aku tidak bisa ketika di rumah, jadi aku ingin membelikannya." ucapku menjelaskan.


Dokter Jang mendorong kacamatanya yang melorot di hidungnya. Kenapa mereka semua punya hidung mancung? Sedangkan aku sangat normal? "Hmm.." gumamnya dan berjalan melewatiku.


Aku meliriknya hingga hilang dari balik rak, lalu berjalan ke rak makanan ringan. Aku seperti sudah bisa merasakan mereka di mulutku ketika menatapnya. Tanganku mengambil beberapa dan memasukkannya ke dalam keranjang di tanganku. Asik dengan perbelanjaanku, aku terkejut seseorang menghadang jalanku.


Dokter Jang yang bertubuh tinggi perlu menunduk untuk melihat isi keranjang belanjaanku.


Aku memandangnya bingung.


Dokter Jang memandangku, "Jangan bilang semua ini untuk kekasihmu juga?"


Mataku berkedip-kedip, "Mmm.. ini..."


"Letakkan lagi." Ucap Dokter Jang, ia terdengar memerintah.


"Ya.." jawabku menurut, lalu berbalik dan mengembalikan makanan ringan yang sudah kuambil kembali ke tempat semula. Kepalaku menoleh ke arah Dokter Jang, ia masih menatapku dengan tatapan intimidasinya.


"Sudah.." laporku.


Dokter Jang menghela nafas dalam, "Kemari.." panggilnya.


Aku memandang sekitar, lalu mengikutinya. Aku hanya memperhatikannya memasukkan beberapa bungkus biskuit kraker, jajanan dari oatmeal, juga minuman dengan sari bubur kacang hijau.


Dokter Jang berbalik dan menatapku, "Semua ini lebih baik untuk lambungmu."


"Tapi... lambungku baik-baik---" ucapanku terhenti karena tatapan mengintimidasinya. "Terima kasih, Dokter Jang." jawabku sembari memandang ke bawah.


"Hei.. kenapa sih tidak menungguku?" protes Senior Wonbin begitu muncul. Ia tertegun melihat Dokter Jang disana, "Oh.. Selamat siang, Dokter Jang.." sapanya sembari mengangguk sopan.


Dokter Jang mengangguk, lalu menunjuk isi keranjang di tanganku. "Pelajari semua isi dalam keranjang ini, pastikan dia hanya mengkonsumsi ini."


Aku tertegun memandang Dokter Jang, dia juga seperti itu pada Senior Wonbin?


Senior Wonbin memandang keranjang di tanganku, lalu memandang Dokter Jang. Terlihat tidak mengerti.


"Taejo berkata kau cukup cerdas." ucap Dokter Jang lagi, ia mengangguk sopan dan berbalik pergi.


Aku dan Senior Wonbin terbengong-bengong memperhatikannya pergi, lalu saling berpandangan.


+++


Air di bathup terasa hangat di kulitku, juga aroma terapi dari sabun yang kugunakan membuatku merasa nyaman. Punggungku bersandar pada dada Senior Wonbin. ia sedang memainkan busa di jari-jariku.


Aku tersenyum lucu, tanganku mengaitkan jari-jari kami dan mendongak untuk memandang wajahnya.


Senior Wonbin memandangku, ia terlihat sangat seksi ketika rambutnya basah seperti itu. "Sepertinya kita harus memasukkan mandi bersama seperti ini.." ucapnya, tangannya yang lain mengelus dadaku yang di penuhi busa.


Aku tertawa kecil sembari menahan tangannya di dadaku, "Ya.. Aku akan menyetok sabun aroma terapi seperti ini lebih banyak." ucapku.


Senior Wonbin mengangguk, lalu mengecup bibirku.


"Hmm.." Gumamku manja.


Aku menggeser punggungku sedikit ke samping agar bisa memandang wajahnya lebih jelas. "Hm?"


Senior Wonbin memandangku bingung, "Bukankah dia terlihat agak aneh?"


Aku berusaha keras menahan senyuman, "Mmm.. Ya.."


"Tadi rasanya aneh sekali mendengarnya berbicara seperti itu." ucap Senior Wonbin tak habis pikir, "Apa dia selalu berbicara seperti itu padamu?" tanyanya.


"Mmm.. Ya.." jawabku lagi. "Senior Pyo berkata dia memang seperti itu."


Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Aku tidak suka dia." ucapnya pelan.


Aku cukup terkejut mendengar komentar itu, "Hm? Kenapa kau berkata seperti itu ?" tanyaku tak mengerti.


Senior Wonbin menatapku, "Entahlah.. Aku merasa.. Dia sepertinya terlalu terobsesi padamu."


Hm? Kenapa terdengar aneh? Apa perasaanku saja?


"Aku tau dia seorang dokter, tapi apa harus sekeras itu padamu?" tanya Senior Wonbin sebal, "Sebelumnya Senior Taejo menghubungiku untuk menyampaikan apa yang kekasihnya itu sampaikan." ia terlihat kesal.


Bibirku membentuk senyuman menatapnya.


Senior Wonbin menatapku aneh, "Apa?"


"Humm.. kenapa terdengar seperti..." aku menyentuh pipinya dengan ujung jariku, "..seseorang cemburu?" godaku.


Senior Wonbin mengambil tanganku di pipinya, "Jangan menggodaku.." ucapnya.


"Pffftt.." aku tidak bisa menahan tawa, "Bukankah seharusnya aku yang cemburu?" tanyaku.


Senior Wonbin menatapku aneh, "Kenapa?"


"Kau dan Senior Pyo terlihat sangat akrab.. Kalian juga dulunya adalah Senior-Junior seperti kita. Bukankah sudah wajar aku cemburu?" tanyaku tak mengerti.


Mulut Senior Wonbin terbuka tak percaya, "Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" tanyanya.


"Apa?" sekarang aku yang bertanya padanya.


Senior Wonbin mulai tertawa, "Kau benar-benar.." ucanya gemas sembari meremas daguku.


"Senior.." ucapnya sembari mendorong tangannya dari daguku.


Senior Wonbin memelukku dari belakang dan menempelkan pipinya ke pipiku gemas. "Kau manis sekali.." bisiknya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan.." ucapku.


Senior Wonbin tertawa lagi, "Kau benar-benar cemburu? Padahal aku yang sedang cemburu."


Aku cemberut mendengarnya, "Dokter Jang hanya mengatakan hal-hal tajam saja padaku, kenapa cemburu?"


"Hal tajam?" Senior Wonbin menertawakan kalimatku, "Setajam apa?"


"Bukankah dia sedikit menakutkan?" tanyaku.


"Benarkah? Kenapa aku merasa dia terlalu peduli padamu?" tanya Senior Wonbin.


Dahiku berkerut dan mendongak memandangnya tak mengerti, "Apa maksudnya?"


Senior Wonbin menatapku aneh, "Dia bersikap seperti sangat mengerti kau, itu membuatku kesal."


Aku terbengong-bengong, apa hanya aku yang merasa dia menakutkan?


"Memerintahku mempelajari makanan yang dia pilihkan untukmu, apa dia pikir aku tidak tau akan hal itu?" Senior Wonbin kembali kesal sendiri. "Aku memasakkanmu makanan sehat setiap hari... cih..."


Wow.. dia benar-benar kesal. "Hei.. kenapa kesal begitu?" tanyaku sembari mengelus pipinya dengan punggung tanganku.


Senior Wonbin menghembuskan nafas kesal, "Benar juga.. kenapa aku jadi kesal?" ucapnya, ia menurunkan wajah dan mencium bibirku.


Aku menahan tawa sembari mendorong bahunya, "Heii.."


Senior Wonbin memandangku bingung, "Kenapa? Aku sedang kesal.." ucapku dan kembali mencium bibirku.


Aku menaikkan daguku, membuka sedikit mulutku merasakan lidahnya menggoda bibirku. Tubuhku sedikit tersentak merasakan tangan Senior Wonbin di area sensitif tubuhku di dalam air. Tanganku bergerak naik ke belakang lehernya, mencengkeram rambutnya sebagai respon.