Season Of You

Season Of You
— 04 —



Mulutku terbuka tak percaya, mataku bergerak dari kiri ke kanan mengikuti kalimat di paragraf. "Ohhhh.." ucapku tak percaya, tanganku mengganti kertas ke halaman selanjutnya dan membacanya dengan serius. Kepalaku geleng-geleng sendiri, "Bagaimana bisa?" Ucapku lagi.


Cerita itu... aku tidak percaya aku membaca kisah senyata itu. Senior Wonbin mendeskripsikan apa pun di kisah itu dengan sangat nyata, hingga aku bisa melihat sebuah film terputar di kepalaku. Itu kisah seorang pengelana di tahun 80-an. Bukan sekedar pengelana biasa, dia seorang pembunuh berantai yang punya trauma pada wanita yang menyerupai ibunya yang kejam. Begitu aku tiba di halaman terakhir, rasa penasaran mengumpul di kepalaku, "Aahhh!! Tidak!! Aku ingin tau bab selanjutnya!!" Jeritku sendiri.


"OI! Aku mencoba tidur disini!"  Protes rekan sekamarku yang sudah berbaring di kasurnya.


Aku sendiri terkejut menyadari aku berbicara dengan suara besar, "Ma-maaf.." ucapku menyesal, mataku melirik ke jam di meja belajarku. Aku terkejut sendiri sudah lewat tengah malam, aku tidak menyadarinya! Aku bergegas membereskan meja dan tidur. Aku ingin sekali segera pagi agar bisa langsung menanyakan bagaimana kelanjutannya pada Senior Wonbin. Aneh sekali aku merasa seperti itu.


Keesokan paginya.


"Senior! Bagaimana lagi selanjutnya?! Apakah dia akan membunuh wanita dengan skraf biru tua itu? Apakah dia akan langsung pindah ke kota lain lagi?" Aku memberondong banyak pertanyaan begitu bertemu Senior Wonbin di ruangan kemarin.


Senior Wonbin diam dulu mendengar itu, "Bagaimana menurutmu?"


Mataku berkedip-kedip tak mengerti, "Apa?"


"Haruskah dia membunuhnya?" Tanya Senior Wonbin.


Aku berpikir sejenak, "Ya!"


Senior Wonbin diam sejenak, lalu bibirnya membentuk senyuman. "Kenapa?"


"Jika dia membunuhnya, berarti itu membuktikan dia memang si pembunuhnya! Bukan tuduhan seperti yang dia sering dengar." Jelasku, "Jadi setelahnya dia akan tertangkap dan dia bisa di adili. Tidak ada yang terluka lagi."


Senior Wonbin manggut-manggut mendengar ucapanku, "Bagaimana jika dia membunuhnya di gang sepi itu.." ia memulai teorinya, "Mencekiknya dengan skraf itu..." ia mempraktekkan apa yang ia ucapkan, tangannya terangkat, mencengkeram sesuatu di udara. "...menatap wajah ketakutan wanita itu ketika ia di cekik, menunggu dengan sabar hingga wanita itu tidak lagi bergerak..." ia menggantung ucapannya, menatapku yang sangat serius mendengarkan. "Lalu meninggalkannya dan membawa skraf itu bersamanya..."


Spontan aku langsung memegang leherku, mendengarnya saja sudah membuatku bergidik.


Senior Wonbin menurunkan tangannya, "Bagaimana menurutmu?" Tanyanya lagi.


Aku menelan ludah, "Mengerikan sekali.." gumamku.


Senior Wonbin tersenyum, "Memang itu seharusnya yang kau rasakan ketika membaca cerita thriller.." ucapnya.


"Benar juga." Komentarku sendiri, aku memandang kertas di tanganku yang sudah tidak serapi kemarin. "Tapi... kau benar-benar menulisnya?" Tanyaku.


"Hmm.." jawab Senior Wonbin mengangguk sembari mengambil lagi kertas itu dari tanganku.


"Kau menceritakannya dengan sangat nyata." Ucapku pelan, mataku menatapnya lekat. "Apakah kau... menulisnya dari kisah aslimu?"


Senior Wonbin diam cukup lama meantap kertas itu, "Sebenarnya..."


Jantungku mulai deg-degan, jika dia memang merasakannya langsung. Hidupnya benar-benar mengerikan.


Senior Wonbin melirikku, "Aku membayangkan bagaimana jika aku mengalaminya." Ucapnya, aku bisa melihatnya tersenyum lebih lebar begitu melihatku menghembuskan nafas sebal. Ia meletakkan kertas tadi ke meja, "Aku membaca banyak buku horor, misteri dan thriller sejak kecil. Jadi sudah sangat biasa bagiku.." jelasnya, "Semua yang kau tulis tidak perlu dari pengalaman pribadimu, bayangkan saja bagaimana jika kau merasakan kondisi itu."


Tadinya aku sebal dia mempermainkanku, tapi mendengar penjelasannya membuatku terperangah. Aku tidak tau dia bisa mengatakan hal seperti itu. "Boleh aku membaca ceritamu yang lain?" Tanyaku.


"Tentu saja.." jawab Senior Wonbin.


Setelahnya aku kembali dari ruangan itu dengan banyak tumpukan kertas-kertas bekas. Bibirku membentuk senyuman sendiri. Tidak tau aku bisa merasa senang hanya karena cerita di kertas bekas itu.


"Hei..." panggil Senior Wonbin dari pintu ruangan.


Kakiku berhenti dan menoleh ke belakang.


Senior Wonbin menghampiriku dengan sebuah bungkusan di tangannya, "Ini..." ia mengaitkan bungkusan itu ke salah satu jariku di bawah tumpukan kertas.


Aku berusaha melihatnya walaupun tidak bisa.


"Itu sari jahe.." ucap Senior Wonbin.


Aku tertegun memandangnya.


"Seduh dengan air hangat, minum sebelum tidur." Ucap Senior Wonbin.


Mataku berkedip-kedip bingung, "Kenapa?"


"Sepertinya kau punya perut yang lemah.." ucap Senior Wonbin, "Jahe bisa mengurangi mual." Jelasnya.


Senior Wonbin memandangku bingung, "Kau akan berdiri disini seharian?" Tanyanya.


Sedetik kemudian aku segera tersadar, "OH! Ya!! Aku.... Aku pergi.." kepalaku mengangguk sopan dan bergegas pergi.


DEG! DEG! DEG!


Aku bisa mendengar jantungku berdebar sangat cepat. Seperti ada gendang di dalam telingaku. Ada apa denganku? Kakiku berhenti melangkah, ragu-ragu kepalaku menoleh ke belakang. Tidak terlihat siapa pun. Namun bibirku membentuk senyuman lebar, aku kembali melangkah dengan riang.


"Sangat menjijikkan..."


Langkahku terhenti seiring ekspresiku yang luntur. Ucapan Eunwoo bergema di dalam kepalaku. Ekspresinya ketika mengatakan itu juga terpapar jelas. Mataku memandang ke bawah dan berjalan pelan meninggalkan tempat itu.


Malamnya.


Aku duduk di meja belajarku membaca cerita dari Senior Wonbin, itu kisah tentang seorang gadis cilik yang harus menyelamatkan dirinya dari mafia di daerahnya. Ia tanpa sengaja menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak ia saksikan dan para mafia itu harus membunuhnya agar rahasia itu terkubur selamanya. Tanganku mengambil cangkir berisi sari jahe hangat, menyeruputnya sedikit dan kembali fokus pada kertas-kertas di tanganku.


+++


Tanpa kusadari, hari-hariku berlalu sembari membaca kisah-kisah yang di tulis oleh Senior Wonbin. Dia sudah menulis banyak kisah seru yang membuatku tidak lagi fokus pada hari-hari berat di sekolah. Karena aku tidak sabar untuk membaca kisah menarik begitu kembali ke kamar asrama. Hingga tidak kusadari, ujian semester ganjil sudah usai.


"Kau akan melakukan apa selama liburan?" Tanya Senior Wonbin, udara sangat dingin menjelang akhir tahun. Kami semua akan segera kembali ke rumah untuk berlibur.


Aku berpikir sejenak, "Mmm.. tidak tau." Jawabku jujur.


Senior Wonbin merapikan barang-barangnya di ruangan yang ia jadikan tempat mencetak cerita untuk kubaca. "Tidak tau? Tidak liburan bersama keluargamu?"


Memikirkan kata itu, 'keluarga', sesuatu mencelos di dalam dadaku. "Tidak.." jawabku.


Senior Wonbin menoleh padaku.


Bibirku membentuk senyuman, "Aku akan membawa cerita senior pulang, lalu membaca sisanya di rumah. Tidak apa-apa kan?"


Senior Wonbin mengangguk mengerti, "Jangan lupa kirimi aku pesan selama liburan." Ucapnya, lalu kembali sibuk dengan kegiatannya.


Aku tau itu hanya ucapan basa basi, tapi terasa sangat hangat. Aku jadi salah tingkah. Di asrama punya peraturan tidak boleh membawa ponsel, jadi kami tidak pernah berkirim pesan. Tapi dia memberitauku nomor ponselnya agar kami bisa melakukannya di luar sekolah. Manis sekali.


Kembali ke rumah tidak pernah menjadi favoritku. Ayah dan ibu perlu berdebat dulu ke rumah siapa aku harus kembali. Ayah adalah pemenangnya, karena aku harus ke rumah keluarga ibu. Ya.. perdebatan mereka bukan karena ingin aku ke rumah mereka. Tapi siapa yang harus merubah rencana liburan mereka karena aku tidak pernah masuk dalam rencana itu. Dan tinggal di rumah Ibu tidak akan semudah itu, karena Eunwoo tinggal di sebelah rumahnya.


Dan disinilah aku, duduk canggung di kamar Eunwoo. Mataku melirik pria itu yang duduk membelakangiku di meja belajar. "Mmm... aku akan kembali ke rumahku saja..." ucapku, lalu bergerak bangkit.


Eunwoo menghela nafas kasar, "Ibuku akan bertanya kenapa kau pulang." Ucapnya tanpa memandangku.


"Aku akan menyelinap lewat pintu belakang..." ucapku memberitau, kami biasa melakukan itu ketika kecil. "Nanti katakan saja aku pulang ketika ibuku sudah pulang ke rumah." Jelasku.


Eunwoo tidak berbicara lagi.


Aku berjalan ke pintu, membukanya dan menoleh ke arah Eunwoo sedikit. Sesuatu yang berat menggantung di dadaku. Pasti sulit baginya, harus membiarkanku masuk ke kamarnya disaat dia tidak ingin. Ibunya berpikir kami masih berteman baik dan dengan senang hati memintaku bermain ke kamar Eunwoo saat ibu menitipkanku karena ia akan pergi bersama suami dan dua putrinya. Maksudku, adik tiriku.


Kembali ke kamarku di rumah ibu. Aku tidak pernah merasa itu kamar yang nyaman, aku selalu berpindah-pindah dari rumah ibu ke rumah ayah. Tidak ada dari pasangan mereka yang menyukai anak 'tambahan' sepertiku. Udara hari itu dingin. Rumah yang kutempati sangat hening. Aku tidak lagi bersahabat dengan Eunwoo. Tepat disaat aku hampir menangisi kemalanganku, aku teringat cerita Senior Wonbin yang kubawa. Aku bangkit sedikit, menghampiri koper dan membukanya. Cerita itu tersusun rapi di antara baju-bajuku.


Berkat cerita itu, aku tidak perlu keluar rumah atau keluar kamar terlalu lama. Itu benar-benar sangat menghiburku.


Tring!


Mataku melirik ponsel di karpet di sebelahku yang duduk bersandar ke tempat tidur di lantai, tanganku mengambil benda itu. Mungkin ibu mengabari jika dia pulang terlambat. Hm? Tunggu... bukan ibu yang mengirimkan pesan itu. Mataku berkedip-kedip cepat dan kembali menatap layar ponsel, aku mengelus mata dan kembali menatapnya.


Senior Hong Wonbin :


Bagaimana liburanmu?


Aku terpaku cukup lama.


DEG! DEG! DEG!


Bibirku membentuk senyuman tak percaya. Dia mengirimiku pesan. Ya Tuhan... aku bahkan tidak punya keberanian untuk membayangkan mengirimkan pesan padanya. Tanganku meletakkan kertas-kertas di tanganku ke samping dan membalas pesan itu.