Season Of You

Season Of You
— 05 —



Setelah hampir seminggu di rumah saja, akhirnya aku keluar dari rumah untuk ke pusat perbelanjaan bersama keluarga Eunwoo. Ibunya mengajakku, sangat sulit mengatakan tidak padanya. Alhasil, aku dan Eunwoo hanya berdiri bersebelahan dengan canggung.


"Sayang tunggu dulu.." panggil Ibu Eunwoo pada adik perempuan temanku itu yang sudah melesat untuk melihat sesuatu, ia memandang pada kami berdua. "Kalian jangan bermain terlalu jauh, mengerti?"


Eunwoo menghembuskan nafas panjang mendengar ucapan itu.


"Ya, Bi." Jawabku.


Ibu Eunwoo bergegas mengikuti putrinya.


Mataku melirik Eunwoo yang berdiri dengan wajah juteknya di sebelahku, "Mmm.. kau ingin melakukan apa?" Tanyaku.


"Jangan bicara padaku." Ucap Eunwoo dan berjalan pergi.


Aku menghela nafas dalam, itu berarti aku tidak akan punya kegiatan bersamanya. Aku memperhatikan dia duduk di sebuah bangku dan langsung asik bermain game di ponsel. Aku menghela nafas dalam, lalu berjalan ke bangku di dekatku. Tanganku mengeluarkan ponsel dari saku, tidak ada pemberitauan apa pun. Senior Wonbin berkata dia akan bermain ski bersama keluarganya hari itu. Terdengar menyenangkan.


"Cerita ini! Benar-benar luar biasa!!"


Tidak sengaja telingaku mendengar cerita dua wanita di sebelahku. Sepertinya kami seumuran. Mereka membaca sesuatu di ponsel.


"Aku yakin nanti wanita dengan skraf biru itu akan mati!" Ucap wanita satunya.


"Eeiii.. tidak mungkin.. dia baru saja pindah kesana. Walaupun akan dia bunuh, pasti perlu waktu dulu untuk memeriksa situasinya.." komentar yang satunya.


Tunggu.. kenapa sepertinya aku tau kisah itu ya? Wanita berskraf biru itu akan mati.


"Aisssh.. menyebalkan.. pengumumannya update cerita selanjutnya minggu depan, aku sangat tidak sabar!" Ucap wanita tadi frustasi.


Aku menggaruk leherku tak mengerti.


"Tapi bukankah cerita ini terlalu nyata? Jangan-jangan ini pengalaman pribadi penulisnya." Ucap wanita pertama tadi.


Bahkan komentarnya juga terdengar familiar.


"Mungkin saja...." Jawab yang satunya, "Kudengar penulis Yellow ini sudah tua.."


"Eeeeiii.. tidak.. dari cara penulisannya, dia sepertinya baru berusia 30-an." Komentar yang satunya lagi.


Dahiku berkerut, tanganku membuka laman pencarian di ponsel. Mengetikkan nama Penulis Yellow. Tidak perlu waktu lama, ada beberapa gambar benda berwarna kuning aneh. Beberapa artikel tentang warna kuning dan aku menemukan sebuah website novel online dengan Yellow sebagai nama penulisnya. Wow! Dia sudah punya banyak pembaca!


Aku memutuskan untuk membaca cerita yang sangat banyak peminatnya itu. Sebaris, dua baris. Bab satu dan bab dua. Aku mulai merinding. Ini... cerita Senior Wonbin. Oh Tuhan! Dia menulis ini?! Dia penulis Yellow yang mereka bicarakan? Jika benar, bayangan tentang si penulis sangat tidak tepat! Jika benar Senior Wonbin yang menulisnya, maka Penulis Yellow hanya seorang anak SMA tahun terakhir. Yang membuatku semakin merinding, aku tau ceritanya untuk sekitar 5 bab setelah bab terakhir yang sudah di update. Mataku melirik para wanita itu, tiba-tiba aku merasa hebat sendiri. Aku sudah tau kisah yang membuat kalian frustasi. Aku menahan tawa memandang layar ponselku. Sudut mataku menangkap pergerakan dari Eunwoo di bangku sana, aku terkejut dan spontan segera mengejarnya.


"Eunwoo.. akan kemana?" Tanyaku.


Eunwoo berhenti dan menatapku kesal, "Sudah duduk saja sana.." ucapnya dan kembali berjalan.


"Eunwoo.." aku menahan tangannya.


Eunwoo menepis tanganku dengan kasar, membuatku sangat terkejut. "Jangan sentuh aku!" Tegasnya dengan gigi rapat.


Aku mengedip-kedipkan mata bingung, "Ma-maaf.. aku hanya..."


"Bisa tidak kau tidak muncul lagi di depanku?!" Ucap Eunwoo penuh kebencian.


Aku terpaku mendengar ucapan itu.


Eunwoo memalingkan wajah dan berjalan pergi.


Aku sudah sering mendengar ucapan menyakitkan dari mulutnya sejak kami tidak lagi menjadi teman baik, tapi aku masih saja terluka. Rasanya sangat sakit.


+++


Tring!


Aku duduk memeluk lutut di kamarku, mataku melirik ponsel di dekat kakiku.


Senior Hong Wonbin :


Bagaimana harimu?


Biasanya aku akan tersipu dan merasa sangat senang mendapat pesan darinya. Tapi saat itu sama sekali tidak.


"Sangat menjijikkan..."


Mataku terpejam mengingat ucapan Eunwoo itu. Kedua tangan menutup telinga dan menggeleng. Semakin lama, suara itu tidak tadi suara teman kecilku, melainkan terdengar seperti suara Senior Wonbin. Air mataku berjatuhan begitu saja. Aku tidak bisa menerimanya jika dia juga mengatakan itu padaku. Aku tidak akan sanggup. Rasa mual mulai berkumpul di perutku, setelah sekian lama aku kembali merasakannya.


"Hhhhggg!!" Tanganku menutup mulut, aku tidak bisa menahannya. Aku akan muntah!! Dengan cepat aku keluar dari kamar, berlari ke kamar mandi. Membuka toilet dan muntah.


Setelahnya.


Aku menikmati liburanku dengan keadaan sakit. Hal kecil bisa membuatku muntah, jadinya aku hanya berbaring di tempat tidur. Obat dari dokter hanya menyembuhkan rasa mualnya sebentar, lalu akan kembali lagi.


Ibu duduk di sebelah tempat tidur dan mentapku khawatir, "Sayang... kau baik-baik saja?" Tanyanya, aku bisa merasakan tangan hangatnya mengelus kepalaku.


"Aku sudah baik-baik saja, Bu.." jawabku berbohong, tubuhku terasa jauh dari baik-baik saja.


Ibu menghela nafas dalam, "Tinggal beberapa hari lagi sebelum masuk sekolah, kau yakin baik-baik saja?" Tanyanya.


Kepalaku mengangguk pelan.


Ibu menatapku dalam, "Ayah adik-adikmu berencana mengajak kita semua keluar kota, tapi kondisimu tidak kunjung membaik." Ucapnya pelan, "Ayahmu akan menjemputmu, kau tidak apa-apa tinggal di rumah ayah dulu sampai waktunya ke sekolah?" Tanyanya.


Tubuhku yang masih terasa tidak karuan semakin terasa sakit mendengarnya. Tapi apa pilihanku? Kepalaku hanya mengangguk mengerti.


Rumah Ayah.


Kehidupan ayahku dan keluarganya tidak sebaik ibu. Di apartemen yang tidak begitu besar itu aku bahkan tidak punya kamar sendiri. Aku tidur di ruang tengah. Karena itu aku tidak bisa beristirahat walaupun aku membutuhkannya, adik-adik cilik dari pernikahan kedua ayahku terus berlarian dan ingin mengajakku bermain.


"Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?" Tanya Ayah setelah sehari aku disana.


Bibirku membentuk senyuman tipis dan mengangguk pelan.


Ayah tersenyum dan menepuk pipiku pelan, "Syukurlah.."


Aku diam sejenak, "Mmm.. Yah, sebentar lagi sekolah akan di mulai." Ucapku memulai, "Bolehkah aku kembali ke asrama lebih cepat? Aku harus membereskan kamarku dulu."


Wajah ayah tampak berbinar mendengar permintaanku itu, "Tentu saja.. kau butuh bantuan membersihkan kamarmu?" Tanyanya.


Kepalaku menggeleng, "Tidak.. aku bisa melakukannya sendiri.


Dan aku kembali ke kamar asramaku. Disana, aku bisa berbaring dengan tenang. Melakukan semuanya sendiri. Asrama masih sangat sepi, hanya beberapa orang yang sudah kembali. Terasa seperti satu gedung milikku. Hehehe...


Disana, aku tidak menemukan apa pun untuk di lakukan. Jadinya aku kembali membaca cerita Senior Wonbin yang kubawa namun tidak sempat kuselesaikan karena sakit.


Tok! Tok!


Aku tersentak kaget mendengar ketukan di pintu, lalu menoleh ke belakang, aku membiarkan pintu terbuka karena sedikit pengap di dalam ruangan itu setelah cukup lama tertutup. Tidak mungkin membuka jendela karena udara diluar masih menggigit. Mataku berkedip-kedip tak percaya.


Senior Wonbin berdiri di ambang pintu memandangku, "Boleh aku masuk?" Tanyanya.


Kepalaku spontan langsung mengangguk.


Senior Wonbin melangkah masuk, bergerak duduk dengan canggung di pinggir tempat tidurku. "Kau sudah kembali.." ucapnya, terdengar seperti basa basi.


"Oh.. Ya.. aku harus merapikan kamar dulu." Aku memberi alasan.


Senior Wonbin mengangguk mengerti.


"Senior kenapa kembali cepat sekali?" Tanyaku ingin tau.


Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Sudah tidak ada yang bisa kulakukan dirumah." Jawabnya.


Mataku memandang ke bawah, 'Andai aku punya sebuah tempat yang kusebut rumah itu.' Batinku.


"Kau tidak membalas pesanku, ada apa?" Tanya Senior Wonbin langsung.


Pertanyaan itu membuatku tertegun, "Oh... aku... sakit, jadi tidak bisa memeriksa ponselku. Maaf..."


Senior Wonbin memperhatikan wajahku, aku langsung memandang ke bawah. Jantungku mulai berdegup cepat lagi. "Kau terlihat kurus sekali..." ucapnya pelan, "Kau muntah-muntah lagi?"


Aku tertegun memandangnya, "Mmmm.." walaupun sempat ragu, kepalaku mengangguk membenarkan.


Tatapan Senior Wonbin berubah khawatir, "Sudah memeriksakannya ke dokter?"


"Ya.. Dokter berkata asam lambungku.." jawabku mengulang apa yang dokter sampaikan.


Senior Wonbin menghela nafas dalam, "Kau sudah makan?"


Membayangkan makanan sudah membuatku mual lagi, "Mmm.. aku... tidak ingin makan." Jawabku.


"Jika tidak makan kau semakin sakit." Ucap Senior Wonbin, ia bergerak bangkit. "Tunggu disini, aku akan membuatkan bubur.." ia berucap sembari melangkah ke pintu.


Aku hanya terpaku di tempatku, dia pergi membelikanku bubur? Tapi tadi dia bilang membuatka? Aku merasakan sesuatu di perutku. Bukan rasa mual. Tapi... seperti ada kupu-kupu berterbangan disana. Apakah sakitku semakin parah?