Season Of You

Season Of You
— 28 —



Setelah mengetahui aku menghabiskan satu mangkuk bubur buatanya, setiap hari Ibu Senior Wonbin akan mampir ke rumah sakit untuk membawakan bubur masakannya dengan berbagai variasi. Tuan Putri juga datang untuk bermain denganku selama ibu mereka juga datang. Kesehatanku semakin membaik, aku tidak tau ternyata penyakitku lebih ke mental dari pada fisik.


"Ini... Karena dokter berkata kau belum bisa makan makanan yang padat, Ibu membuatkan makanan lunak yang tidak hanya bubur.." Ibu Senior Wonbin mengeluarkan makanan dari tas rantang yang ia bawa ke meja di depanku. "Kau pasti sudah sangat bosan makan bubur selama beberapa bulan."


Aku memperhatikan dengan canggung, "Ohh.. Bu... saya.. saya akan..." tanganku hendak membantunya menyusun.


"Sudah.." Ibu Senior Wonbin mendorong tanganku, "Tunggu saja." ia mengatur makanan di atas meja.


Bibirku menahan senyuman memperhatikannya menata makanan di meja, lalu bergerak duduk di samping tempat tidur.


"Nah... jangan lupa makan sayurnya. Ibu memasak semuanya dengan  waktu yang lebih lama sedikit agar tekturnya lebih lunak, agar perutmu pelan-pelan terbiasa dengan makanan biasa lagi." jelas Ibu Senior Wonbin dengan senyuman.


"Ohh.. Te-terima kasih, Bu.." ucapku canggung.


Ibu Senior Wonbin mengangguk, "Makanlah.." ucapnya mempersilahkan.


Kepalaku mengangguk, lalu mengambil sendok dan mulai mencicipi makanan di depanku. Tekstur nasi di wadah lebih lunak dan lembut. Semua makanan di sendok langsung menyatu di mulutku dan memberikan cita rasa yang luar biasa. Aku tidak bisa menahan senyuman.


"Kau suka?" tanya Ibu Senior Wonbin bersemangat.


Tanganku menutup mulut sembari mengunyah, kepalaku mengangguk. "Enak sekali, Bu." ucapku.


"Aww.. syukurlah.." ucap Ibu Senior Wonbin tenang, "Ibu hanya menggunakan bumbu herbal dan bahan yang sehat, kau harus menghabiskannya agar tubuhmu segera sehat."


Kepalaku mengangguk  dan melanjutkan makanku. Bisa di bilang, itu adalah makanan lengkap pertamaku setelah berbulan-bulan. Biasanya aku hanya bisa makan bubur, itu juga harus di bujuk habis-habisan oleh Senior Wonbin baru bisa kumakan.


Setelah makan.


Aku merasa tidak enak Ibu Senior Wonbin yang membereskan tempat makan yang sudah licin kumakan. Senior Wonbin harus bertemu rapat dengan pihak agensi tentang urusan novel online-nya, itu biasanya akan memakan waktu seharian.


"Bagaimana perutmu? Baik-baik saja?" tanya Ibu Senior Wonbin ingin tau.


Tanganku mengelus perut, memastikannya dulu. Lalu bibirku membentuk senyuman. "Perutku tidak pernah menolak makanan Ibu." jawabku.


"Ya ampun.. kemampuan berbicaramu itu sudah seperti Wonbin." ucap Ibu Senior Wonbin gemas.


Aku menahan tawa sembari mengelus belakang kepalaku, "Ahh.. itu benar, Bu." ucapku.


Ibu Senior Wonbin tersenyum senang, "Pokoknya selama pemulihan, Ibu akan terus memasakkanmu makanan sehat, jika perlu nanti kau tinggal di rumah kami saja dulu."


Walaupun masih canggung, tapi aku merasa sangat nyaman dengan keluarga Senior Wonbin. Mereka sangat hangat. Siang itu Ibu Senior Wonbin sama sekali tidak meninggalkan sisiku karena putranya masih ada keperluan.


Ibu Senior Wonbin yang sedang menonton tv menoleh ke arahku.


Aku sendiri tertegun menyadari aku terus menatapnya.


Ibu Senior Wonbin tersenyum, "Ada apa?"


"Oh.. ti-tidak.." jawabku malu dan memandang ke bawah.


"Tidak apa-apa, jika ada yang ingin kau katakan sampaikan saja." ucap Ibu Senior Wonbin mendesak.


Aku mengumpulkan keberanianku sejenak, "Mmm.. hanya... aku sedikit penasaran.." ucapku memulai, "Ibu dan anggota keluarga lain menerimaku dengan hangat." ucapku pelan, "Walaupun kalian tau siapa aku.


Ibu Senior Wonbin tertawa kecil, "Ahh.. maksudmu, tentang Wonbin yang membawa pria pulang bukannya wanita?" tanyanya memastikan.


Kepalaku mengangguk membenarkan, sejujurnya aku sudah sangat penasaran sejak lama namun terlalu takut untuk bertanya.


Kepalaku mengangguk lagi dan mendengarnya dengan seksama.


"Mmm.. jujur saja, saat mengetahui tentang seksualitas putraku yang terlihat sangat tampan dan normal.


Kupikir semua orang tua akan terkejut." ucap Ibu Senior Wonbin pelan.


Mendengar itu aku jadi teringat reaksi ibuku. Apakah itu juga terjadi pada Senior Wonbin?


"Tapi.. saat itu aku tau bahwa dunia sudah berkembang, terjadi banyak hal yang tidak sesuai dengan bagaimana aku di besarkan dan apa yang selalu kuketahui." jelas Ibu Senior Wonbin melanjutkan, aku benar-benar kagum pada pola pikirnya. "Suamiku bisa langsung memahaminya karena dia sempat mengambil S2 di luar negeri. Sementara aku yang di besarkan di negeri ini dan dari keluarga yang cukup ketat perlu waktu cukup lama memahaminya." lanjutnya, terdengar sedikit menyesal. "Saat itu, Wonbin masih SMP. Dia mengaku bahwa dia tidak menyukai wanita melainkan pria, hal pertama yang kulakukan adalah membawanya ke psikiater. Kupikir mungkin ada yang salah dengan mentalnya."


Hmm.. Senior Wonbin mengalami yang lebih buruk dariku.


"Dan setelah bertemu psikiater pun, tidak ada yang berubah." ucap Ibu Senior Wonbin, "Wonbin tetap tidak tertarik pada wanita, bahkan dia terlihat sangat murung setiap hari." ia menghela nafas dalam setelah mengatakannya, "Ibu merasa sangat bersalah. karena adik mereka terlahir disaat Wonbin sangat membutuhkan support dari kedua orangtuanya, tapi ketika adiknya lahir semua perhatian langsung tertuju pada Wonhee.


Dia sangat bertanggung jawab dan jadi lebih dewasa.." Ibu Senior Wonbin memandang ke bawah sedih, "Ibu hanya berpikir, mungkin hal itu yang membuatnya merasa ia menyukai pria."


Ya, bagaimana pun orangtua mana yang ingin anaknya berbeda? Dan anak mana yang ingin jadi berbeda?


Ibu Senior Wonbin mengangkat wajah memandangku, "Tapi tidak ada anak yang 'rusak'.." lanjutnya, "Setiap anak memiliki karakternya sendiri. Dia punya hal yang hanya dirinya sukai atau tidak sukai. Juga termasuk dengan seksualitas." ia tersenyum setelah mengatakan itu, "Mungkin Ibu memang di takdirkan memiliki lebih banyak anak laki-laki daripada perempuan." candanya.


Ucapan itu membuatku tersenyum, "Kuharap Ibuku juga berpikiran seperti ibu.." ucapku pelan.


Ibu Senior Wonbin tersenyum lebar, ia mengambil tanganku dan mengelusnya dengan tangan yang lain. "Tidak apa-apa.. Pasti sangat mengejutkan baginya. Tunggu saja." ucapnya, "Mungkin akan lama, tapi kau tau kan kami juga adalah keluargamu?"


Aku sangat terharu mendengarnya, rasanya hangat sekali hingga mencairkan sesuatu di dadaku.


Tangan Ibu Senior Wonbin terulur ke pipiku dan mengelusnya gemas, "Humm.. bahkan caramu terharu juga mirip dengan Wonbin." candanya.


Aku tertawa kecil.


"Sepertinya kalian memang di lahirkan untuk satu sama lain." lanjut Ibu Senior Wonbin.


+++


"Anak memalukan!!"


Aku tersentak dari tidurku, seperti mendengar suara ayahku ketika itu. Nafasku terengah-engah, dahiku di penuhi keringat.


"Hei.. kau baik-baik saja?" Suara khawatir Senior Wonbin terdengar.


Mataku memandang ke samping.


Senior Wonbin yang tadinya berbaring di sebelahku bergerak duduk, "kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.


Aku menghela nafas lega, ternyata apa yang terjadi sebelumnya hanya mimpi.


"Mimpi buruk?" tanya Senior Wonbin, tangannya terulur ke kepalaku.


Kepalaku mengangguk pelan, lalu bergerak ke arahnya dan memeluk tubuhnya.


Senior Wonbin bergerak berbaring lagi disisiku, memelukku agar merasa lebih nyaman.


Sudah hampir seminggu sejak aku keluar dari rumah sakit. Tapi entah kenapa aku jadi kesulitan tidur dan sering mimpi buruk. Tapi elusan tangan ajaib Senior Wonbin di belakang kepalaku akan membuatku lebih tenang.


Kecupan di puncak kepalaku juga membuatku merasa lebih nyaman.