Say Hello

Say Hello
SH 9



Lea sengaja mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi, gadis itu memilih jalan pintas agar tidak banyak kendaraan lain, sehingga ia bisa leluasa menjalankan aksinya untuk mengerjai Chan yang tentu saja panik. Terlebih lagi, pria itu kesulitan berpegangan karena tangannya masih terbungkus perban. Meskipun Chan terus mengomel, tapi Lea tidak mengindahkan, malah semakin senang melihat pria itu ketakutan.


.


.


Chan menendang ban sepeda motor bagian belakang saat mereka tiba di tempat tujuan. Dengan kesal, ia melepaskan helm yang masih terpasang di kepalanya lalu menyerahkan pada Lea. Sementara, gadis itu menatap sengit pada bosnya yang menendang ban sepeda motor cukup kuat sehingga membuatnya oleng dan hampir terjatuh.


“Kau pasti sengaja, kan?!” Tuduh Chan.


“Apa maksudnya? Saya sangat memikirkan Anda, sehingga tidak mempedulikan nyawa saya sendiri. Saya sangat takut Anda terlambat” Elak Lea sambil menepuk-nepuk pelan dadanya. Namun, hal itu justru membuat Chan mencibir dan menganggap Lea hanya membual.


“Kak...”


Panggilan seseorang membuat Lea dan Chan menoleh bersamaan. Kedua lelaki yang baru saja keluar dari mobil menghampiri Chan dan Lea yang masih berdiam di tempat parkir.


Meski Lea bukanlah penggemar SUN, namun bertemu member lain secara nyata cukup membuatnya gugup. Terlebih member itu adalah Khai dan Zhi yang memiliki visual paling menonjol.


Lea langsung memalingkan wajah saat kedua member itu semakin mendekat, ia bermaksud pergi dari sana kalau saja tidak dihalangi oleh Chan.


“Ada apa?” Tanya Lea.


“Hmmm... terima kasih sudah mengantarku. Akan ku ganti uang bensin saat bertemu di kantor” Ujar Chan dengan canggung karena terus diperhatikan oleh Khai dan Zhi.


“Iya” Jawab Lea sambil menganggukkan kepala, lalu berpamitan pada ketiga pria itu.


Khai merangkul Chan sambil berkata, “Wahhh... apa ini? Kau sengaja memanfaatkannya, ya?”


Chan menoleh pada Khai dan Zhi secara bergantian, lalu memperhatikan Lea yang semakin jauh dari pandangan. “Aku tidak sengaja bertemu dengannya di jalan. Karena kalian meminta untuk cepat, jadi aku tidak punya pilihan selain menerima tawarannya untuk mengantarku” Terang Chan. Namun, Khai dan Zhi justru tertawa mendengarnya.


Tak ingin terus mendapat ledekan dari kedua rekannya, Chan mencoba mengalihkan pembicaraan dan mengajak keduanya untuk segara masuk ke studio.




Lea memasuki pekarangan kontrakannya sembari bernyanyi, perasaannya menjadi lebih baik setelah sedikit berkeliling tanpa tujuan menggunakan sepeda motor atau mungkin justru karena bertemu Chan yang membuat perasaannya membaik. Entahlah, ia tidak memusingkan hal itu. Yang terpenting, pikiran menjadi lebih jernih saat ini.



“Kakak belikan makanan, makanlah. Kau pasti lapar” Ujar Lea pada Dayyan yang baru saja membukakan pintu untuknya.



“Kakak dari mana saja? Lama sekali” Jawab Dayyan, lalu mengambil kantong makanan yang ada di tangan Lea.



Lea hanya tersenyum melihat tingkah adik semata wayangnya. Ia lalu menuju dapur, mengambil piring untuk adiknya.



“Kak”



“Kenapa?” Tanya Lea sembari berjalan mendekati adiknya, meletakkan piring yang tadi diambilnya dan juga menuangkan segelas air putih.



“Bagaimana dengan uang sekolah?” Tanya Dayyan dengan hati-hati.



Lea menghela napas panjang, lalu berkata, “Setidaknya, berilah waktu untuk kakakmu ini tenang. Kenapa saat makan pun masih membicarakan uang?!”



Dayyan menundukkan kepala, “Maaf kak, aku hanya mengingatkan. Jika memberitahu mendadak, kakak pasti akan marah lagi”



Lea hanya diam, apa yang adiknya ucapkan memang benar. Ia sendiri yang sering mengatakan agar tidak meminta uang secara mendadak.



“Jangan pikirkan soal itu, kau belajar saja yang rajin” Ujar Lea sambil mengusap pucuk kepala adik lelakinya.



“Terima kasih, kak. Apa ibu...”



“Iya, kakak sudah tahu” Ujar Lea sebelum Dayyan menyelesaikan kalimatnya. Menyadari sesuatu, Lea kembali bersuara, “Maksudmu, ibu kenapa?”



“Apa ibu meminjam uang pada kakak?”



Lea menggelengkan kepala, terpaksa berbohong pada adiknya. Dayyan belum bisa menerima perceraian kedua orang tuanya. Bahkan, tak mau bertemu dengan kedua orang tuanya. Jika berkata jujur, adiknya pasti akan marah dan semakin membenci kedua orang tuanya. Sebenarnya, Lea sudah pernah membujuk Dayyan agar memaafkan dan menerima keputusan kedua orang tuanya. Namun diusianya yang masih remaja, Dayyan masih sangat egois. Hingga Lea menyerah dan membiarkan Dayyan untuk menenangkan diri sampai nanti di waktu yang tepat ia akan kembali membujuk adiknya.



\*\*\*Keesokan Harinya\*\*\*



Meskipun hari senin, namun Lea tetap penuh semangat karena akan mengikuti rapat untuk yang pertama kalinya. Sejak pagi, ia sudah mempelajari materi yang akan dibahas saat rapat, bahkan juga sudah menyiapkan kata sambutan kalau saja tiba-tiba diminta untuk memperkenalkan diri karena ia adalah karyawan baru.




“Kau mau ke mana?” Tanya seorang wanita yang berdiri di depan pintu ruang rapat.



“Saya mendapat tugas dari Pak Chan untuk ikut rapat kali ini” Terang Lea.



“Kau ini hanya karyawan magang, kenapa bertindak sejauh ini?!” Tanya wanita itu lagi. Dari tanda pengenal yang melingkar di lehernya, perempuan itu bernama Yuna.



“Tapi, Pak Chan yang meminta saya untuk...”



Belum selesai Lea menjelaskan, seorang lelaki paruh baya telah lebih dulu memotong ucapannya.



“Jangan terus membawa nama Pak Chan meskipun kau dekat dengan beliau. Saya adalah kepala divisi keuangan, jadi untuk bisa mengikuti rapat harus mendapat persetujuan dari saya terlebih dulu”



Ucapan lelaki paruh baya itu membuat Lea tak bisa berkata-kata. Bukan karena takut, tapi Lea belum sepenuhnya tahu aturan yang ada di kantor, sehingga ia mengira jika apa yang dikatakan kepala disivi keuangan adalah salah satu aturan yang harus dipatuhinya.



“Apa ada masalah?”



Lea, Yuna, dan kepala divisi keuangan menoleh pada Felix yang entah sejak kapan datang, namun kini sudah ada di antara mereka.



“Lea merasa belum pantas untuk ikut rapat karena masih menjadi karyawan magang, padahal Pak Chan yang memintanya untuk mengikuti rapat kali ini”



Lea melotot mendengar ucapan Yuna, ia benar-benar tidak menyangka jika perempuan itu akan berkata bohong di depan Felix. Kepala divisi keuangan juga diam saja, seolah mendukung tindakan Yuna.



“Saya...”



“Wajar jika kau merasa canggung di hari pertama rapat, tapi kau tetap tidak boleh mengabaikan perintah Pak Chan” Sergah kepala divisi keuangan sebelum Lea menyelesaikan kalimatnya.



Dalam hati, Lea benar-benar mengumpat kedua rekan kerjanya yang telah berkata bohong di depan Felix selaku orang kepercayaan Chan.



‘Kalian mau bermain-main denganku, ya?! Berkat kalian, aku jadi seperti orang bodoh di depan Felix!’ Gumam Lea dengan pelan.



Felix melirik Lea, lalu berkata, “Aku akan ikut rapat juga!”



Kepala divisi keuangan dan Yuna menoleh bersamaan, nampak terkejut dengan keputusan Felix.



“Ta... tapi, bukankah Anda sedang sibuk mengurus proyek baru?” Tanya Yuna.



Felix menatap Yuna dengan lekat dan berkata, “Lalu kenapa? Apa aku juga harus mendapat izin dari kepala divisi terlebih dulu baru bisa mengikuti rapat ini?”



Yuna menundukkan kepala tak berani menatap Felix, “Maafkan saya” Ujarnya kemudian.



“Kalian rapat saja dengan tenang. Aku hanya akan menemani dan mengajari Lea agar tidak canggung, jadi kedepannya dia sudah bisa menyesuaikan diri” Ujar Felix, lalu mengajak Lea masuk lebih dulu ke ruang rapat, meninggalkan kepala divisi keuangan dan Yuna yang terlihat kesal.



...\*\*\*...



**Happy reading**...



**Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁**



**Terima kasih🤗😘🙏🏻**