
"Kau tidak apa-apa?” Tanya Khai sambil memegang bahu Chan. Namun yang ditanya hanya menjawab dengan anggukkan kepala.
Dalam hati, Chan merasa sangat bersalah. Sebenarnya, ia tidak bermaksud berkata demikian tapi karena tak ingin digoda para member sehingga ia jadi mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan.
Chan mengepalkan kedua tangan, ‘Dasar bodoh! Seharusnya aku mengejarnya, bukan malah berdiam di sini’ Ujarnya dengan geram.
“Anak-anak... apa kalian sudah siap?”
Kelima member menoleh dengan kompak ke arah Pak Arsel, namun tidak dengan Chan yang masih terdiam.
“Ayo, berangkat” Komando Pak Arsel.
“Hei... kau kenapa?” Tanya Pak Arsel pada Chan.
Tak mendapat respon dari Chan, Pak Arsel kembali hendak bertanya namun Khai lebih dulu memberi kode agar lelaki paruh baya itu tidak bertanya apa pun.
“Baiklah, aku tidak akan bicara lagi. Tapi kau harus tetap semangat, paham?” Pak Arsel menepuk pelan bahu Chan, lalu memberi komando agar para member bergegas.
.
.
“Sekali lagi, mohon lebih serius” Ujar seorang fotografer.
Kelima member menoleh pada Chan yang sejak tadi tidak fokus sehingga membuat proses pemotretan terus diulang.
“Ayolah kak, kami sudah lelah” Keluh Zhi.
“Maaf” Jawab Chan singkat.
“Setelah ini selesaikan masalahmu, tapi profesionallah sebentar. Mereka juga butuh istirahat” Bisik Khai sambil melirik para staf yang bertugas.
Setelah mengulang pemotretan beberapa kali, akhirnya para member bisa beristirahat. Dza mendapat urutan pemotretan lebih dulu, namun ia mengalah pada Chan yang terus gelisah sejak awal. Dan dengan bantuan Khai serta member lain, Chan mendapat izin dari Pak Arsel sehingga bisa pulang lebih dulu.
Chan bergegas menuju rumah Lea, tapi ternyata Lea tak ada di rumah. Padahal, Chayra sudah mengantarkan Lea pulang sejak tadi. Dayyan juga tidak tahu ke mana kakaknya pergi.
‘Akh... bisa-bisanya bocah itu membuat khawatir’
‘Kenapa mulutku bisa sejahat itu? Apa benar aku sudah menganggapnya adik?!’ Monolog Chan sambil menatap rumah Lea dari seberang jalan.
Dua jam berlalu... Lea belum juga kembali, hal itu semakin membuat Chan khawatir. Berkali-kali ia menelepon Lea namun tak ada hasilnya.
Sementara itu... dari balik jendela, seseorang tengah menatap sebuah mobil yang sudah terparkir sejak dua jam lalu.
“Kakak yakin tidak mau keluar? Ini sudah dua jam” Ujar Dayyan.
Lea menghela napas berat, “Biarkan saja, bukan aku yang menyuruhnya”
“Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi kakak sering mengatakan bahwa masalah tidak akan selesai jika saling diam. Kenapa sekarang malah kakak sembunyi?”
Lea memelototi Dayyan karena berani menirukan kata-katanya. “Abaikan saja dia. Aku mau tidur” Ujar Lea sambil melenggang ke kamar.
***Pagi Hari***
Lea menatap ke langit dengan senyuman yang mengembang, ‘Langitnya cerah sekali, semoga bos menyebalkan itu sakit perut jadi tidak bisa ke kantor hari ini’ Ujarnya.
“Apa kau sedang mengumpat Pak CEO?”
Lea menoleh, terkejut melihat Felix sudah berdiri di belakangnya, “Kakak mendengarnya?” Tanyanya sambil tersenyum malu.
Felix menganggukkan kepala, “Sesekali tidak apa-apa mengumpat atasan, aku juga sering melakukannya” Ujarnya sambil berbisik.
Lea tersenyum mendengarnya, “Ayo, masuk”
Keduanya lalu masuk bersama dan berpisah di ruangan masing-masing.
Sejak pagi hingga jam makan siang, Lea terus menghindar dari Chan. Tapi bukan Chan namanya jika tak punya akal untuk memaksa Lea menemuinya.
‘Kau ingin mengujiku, ya? Baiklah, kita lihat saja nanti’ Gumam Chan sambil menyunggingkan senyuman.
.
.
Para karyawan tengah berkumpul mendengarkan pengumuman dari Chan. Entah apa yang pria itu sampaikan sehingga membuat para karyawan tersenyum sumringah. Meski semua terlihat antusias, namun Lea memilih tetap tenang di tempat duduknya tanpa penasaran dengan pengumuman tersebut.
“Ada pengumuman apa?” Tanya Lyli lagi.
“Pak Chan akan menteraktir kita setelah pulang kerja” Jawab seorang karyawan.
Mengetahui Lea baru saja bergabung, Chan sengaja mengeraskan suara dengan berkata, “Semuanya harus ikut, tanpa terkecuali!”
Dalam hati, Lea benar-benar mengumpat Chan yang sengaja membuatnya tidak bisa pulang lebih awal dan harus mengikuti permintaannya.
Waktu cepat berlalu, tanpa disadari jam pulang telah tiba, seperti yang sudah disepakati bersama, para karyawan segera menuju ke restoran dengan konsep vintage. Tanpa bertele-tele, semua karyawan memesan makanan sesuai selera masing-masing.
“Jangan segan untuk memilih menu apa pun. Makanlah yang banyak sampai kalian kenyang” Titah Chan.
‘Apa dia pikir dengan menghamburkan uang begini bisa membuatku menjadi karyawannya?!’Gumam Lea pelan, tatapannya tajam ke arah Chan yang tengah sibuk berbincang dengan karyawan lain.
“Kau mau makan apa?” Tanya Lyli sembari menyikut lengan Lea.
Lea menoleh pada Lyli yang telah membuatnya kaget, “Apa saja, aku suka semuanya”
Lyli berdecak, “Apa saja, ya? Baiklah”
Mulanya, para karyawan makan dengan lahap sembari mengobrol santai. Tapi tiba-tiba keadaan menjadi canggung karena perhatian para karyawan terpusat pada Felix saat tengah menaruh daging yang dipanggangnya ke piring milik Lea.
“Pak Felix nampaknya sudah dekat dengan Lea, ya?” Tanya seorang karyawan.
Felix hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Sontak saja hal itu membuat para karyawan heboh, bahkan ada yang bersiul mencandai Felix dan Lea. Sementara Lea hanya tersenyum simpul menanggapinya.
“Ehemmm...”
Semua karyawan langsung terdiam begitu mendengar suara Chan.
“Maaf, jika kami terlalu berisik” Ujar seorang karyawan, diikuti anggukan kepala dari para karyawan lain.
Acara makan bersama selesai, satu persatu karyawan berpamitan pulang. Begitu juga dengan Lea yang bersiap pulang, namun dihalangi oleh Chan.
“Aku akan mengantarmu pulang” Ujar Chan.
“Terima kasih, tapi saya akan pulang sendiri” Jawab Lea tanpa menoleh pada Chan.
“Ini sudah malam, kau mau pulang naik apa?”
“Bukankah, Anda yang membuat saya pulang malam begini? Kenapa sekarang jadi berlagak peduli?!” Tanya Lea dengan sinis.
Chan menghela napas, menahan emosi menghadapai Lea yang keras kepala, “Kita harus bicara” Rayunya.
“Jika ada yang ingin Anda katakan, silakan bicara sekarang!” Jawab Lea.
“Di sini masih ada karyawan...” Ujar Chan sambil menoleh sekitar.
“Kalau begitu...” Belum selesai Lea bicara, Felix telah lebih dulu menghampiri.
Menyadari situasi yang menegangkan, Felix berkata dengan pelan, “Sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat”
Lea segera menggelengkan kepala, “Tidak, kami sudah selesai bicara. Ayo, kita pulang”
“Kalian pulang bersama?” Tanya Chan.
“Kenapa kau merepotkan orang lain? Rumah kalian kan berlawanan arah!” Chan kembali bergeming.
Lea hanya diam, tak menanggapi pertanyaan Chan.
“Tidak apa-apa, memang aku yang ingin mengantarnya” Ujar Felix sembari mengedipkan mata pada Chan.
Karena Felix yang menginginkannya, Chan hanya diam dan membiarkan keduanya pergi bersama.
...***...
Selamat membaca...
Jangan lupa like, comment, gift, and subscribe temen-temen😘😍
Terima kasih🙏🏻🤗