
Chan melambaikan tangan tepat di depan wajah Lea, “Kenapa malah melamun?” Tanyanya setelah Lea mengedipkan mata.
‘Bisa-bisanya masih bertanya, jelas saja aku terkejut’ Gumam Lea pelan.
“Apa yang kau katakan?”
Lea menggelengkan kepala, otaknya masih belum bisa mencerna perkataan Chan dengan baik. “Aku mau pulang. Otakku perlu istirahat sekarang juga” Ujar Lea.
“Biar kuantar!” Seru Chan sambil beranjak dari tempatnya duduk.
“Jangan!!!” Sergah Lea. “Aku semakin tidak bisa berpikir kalau kakak yang mengantar. Biarkan aku pulang sendiri” Ujar Lea lagi.
Meski mendapat larangan, Chan tetap bersikeras hendak mengantar Lea. Namun, perempuan itu kembali bergeming, “Besok kita bicara lagi. Jadi, tolong biarkan aku pulang sendiri”
Chan akhirnya mengalah dan membiarkan Lea pergi begitu saja. Setelah Lea menghilang dari balik pintu, Chan langsung menenggak segelas air putih hingga tandas. Jantungnya berdegup sangat kencang, bahkan terasa hampir berpindah posisi.
‘Meski mengatakannya dengan penuh percaya diri, tapi aku sangat gugup. Wah... aku tidak menyangka akan seberani ini. Apa aku terlalu terburu-buru? Bagaimana jika dia malah menjauh? Akh!!! Lagi-lagi aku bertindak gegabah’ Gerutu Chan pada diri sendiri.
‘Tapi... bukankah perempuan lebih senang dengan laki-laki yang jelas dari pada menarik ulur. Entahlah, aku jadi tidak bisa fokus berpikir’ Monolog Chan.
Deringan ponsel membuat Chan terperanjat, dengan malas ia menerima panggilan telepon tersebut.
“Baiklah, aku akan ke sana sekarang” Ujarnya pada suara di seberang sana. Setelah panggilan telepon berakhir, Chan lantas pergi menuju SUN house untuk berlatih bersama para member.
.
.
Di kamarnya, Lea sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Kata-kata Chan terus berputar di kepala, seakan tak memberinya waktu untuk memikirkan hal lain.
‘Bisa-bisanya dia mengungkapkan perasaan dengan mudah. Aku bahkan tidak bisa berkata-kata sedikit pun. Tapi... apa ini artinya... kami akan...’ Lea segera memukul kening, merutuki pikirannya yang sudah melayang jauh.
‘Kak Chan adalah idol dan CEO perusahaan, mana mungkin perempuan sepertiku mendampinginya’ Gumam Lea. Meski Chan sudah terang-terangan mengakui rasa sukanya, tapi tetap saja Lea merasa tidak sebanding dengan lelaki itu. Alih-alih senang, Lea justru merasa khawatir. Ia takut jika Chan hanya terbawa suasana karena senang bertemu Tara, orang yang selama ini memang ingin ditemuinya.
Lea mengambil ponsel hendak menelepon Chayra, namun ia mengurungkan niat tersebut. Hal seperti ini tidak mungkin diceritakan pada Chayra tanpa kompromi lebih dulu dengan Chan. Mau bagaimanapun juga, Chayra dan Chan adalah kakak adik, akan semakin rumit jika Chayra tahu saat ini.
Ponsel yang masih digenggamannya berdering, hingga membuat Lea terkejut dan hampir melempar benda pipih itu.
‘Chayra...’ Gumam Lea sambil menatap layar ponsel. ‘Jangan-jangan dia sudah tahu... tapi tidak mungkin kak Chan menceritakannya pada Chayra’ Gumam Lea lagi.
Benda pipih itu berhenti berdering karena Lea tak kunjung menjawab panggilan telepon tersebut. Beberapa detik kemudian, benda pipih itu kembali berdering. Dengan cepat, Lea menjawabnya.
“Kenapa lama sekali? Apa kau sudah tidur?” Cecar suara di seberang sana.
“Jangan mengomel terus. Ada apa kau menelepon?”
“Kau ini... Ibuku mau memesan bolu kukus untuk besok”
“Berapa banyak?”
“10 kotak, bisa?”
“Bisa, tapi untuk apa sebanyak itu?”
“Ada teman ibu yang mau berkunjung. Apa kau bisa mengantar bolu kukusnya ke rumah? Aku tidak bisa ke sana karena harus memilih universitas"
“Iya, biar aku yang mengantar. Apa akhirnya kau mau kuliah di sini?”
“Tentu saja tidak, aku memilih beberapa universitas yang ada di Paris. Makanya, besok aku akan konsultasi dengan salah satu dosen yang juga pernah kuliah di sana”
“Dasar keras kepala. Akan kututup teleponnya, sampai bertemu besok” Ujar Lea mengakhiri panggilan suara dengan sahabatnya.
***Keesokan Harinya***
Lea memeriksa kembali kotak-kotak yang sudah tersusun dengan rapi di atas meja guna memastikan kelengkapannya. Sepuluh menit menunggu, taksi yang sudah dipesannya tiba. Dengan senyum ramah, sopir taksi tersebut membantu Lea menyusun kotak kue ke dalam mobil. Jalanan yang tidak begitu ramai, membuat lelaki paruh baya itu bisa melajukan mobilnya dengan cepat, hingga tiga puluh menit kemudian, Lea sudah sampai di depan rumah Chayra.
Melihat rumah bercat putih itu agak ramai, Lea jadi ragu untuk masuk. Untungnya penjaga keamanan sadar akan keraguan Lea, sehingga mau mengantar Lea sampai di ambang pintu.
“Ayo, masuk” Ujar wanita paruh baya sambil tersenyum ramah menyambut uluran tangan Lea.
“Kau duduk saja, biar bibi yang menyusunnya” Titah Ibu Cindy selaku ibunya Chayra dan Chan saat melihat Lea hendak menyusun bolu kukus ke atas meja.
Melihat Bu Cindy memperlakukan Lea dengan ramah, membuat Celia beserta orang tuanya penasaran dengan sosok perempuan yang kini duduk di samping Chayra, namun rasa penasaran itu segera terjawab setelah Bu Cindy memperkenalkan Lea sebagai sahabat putrinya.
“Lea juga sudah seperti adik bagi Chan”
Ucapan Bu Cindy membuat Celia beserta kedua orang tuanya menganggukkan kepala, sedangkan Chan justru menggelengkan kepala tak setuju. Chan memang sempat menganggap Lea seperti adiknya, tapi itu sebelum ia menyadari perasaannya.
“Lea kenalkan, ini Celia dan kedua orang tuanya” Ujar Bu Cindy memperkenalkan tamunya. “Dia perempuan yang ingin ibu jodohkan dengan kak Chan. Mereka cocok, kan?” Bu Cindy kembali bergeming.
Chayra menyikut lengan sahabatnya, “Lea...” Bisiknya.
“Senang mengenal Anda. Iy... iya, mereka sangat cocok” Jawab Lea dengan pelan sambil melirik ke arah Chan. Semua yang mendengar jawaban Lea tersenyum kecuali Chan yang terlihat kecewa.
Obrolan dua keluarga itu membuat Lea menjadi kikuk. Baik orang tua Celia maupun ibunya Chan, sama-sama mendukung dan mengunggulkan anak mereka masing-masing. Semakin tak paham dengan obrolan para orang tua, Lea akhirnya beranjak dari tempatnya dengan alasan ingin ke toilet. Dan tanpa Lea sadari, seseorang mengikuti dari belakang.
‘Akh... benar-benar, ya. Jika tahu akan begini, aku pasti menyuruh Dayyan yang mengantar ke sini. Mereka memang serasi, tapi kenapa aku tak rela melihatnya. Aku tidak mau serakah, tapi aku juga tidak tahan mendengar dan melihat mereka dijodohkan’ Monolog Lea sebelum menghilang dari balik pintu toilet.
Sepuluh menit berlalu, Lea belum juga keluar, Chan yang menunggunya di depan pintu toilet menjadi gusar. Bahkan, ia hampir terjungkal karena hendak mendobrak pintu toilet yang sudah Lea buka.
“Kau ini... aku hampir jatuh karena ulahmu” Protes Chan.
Kening Lea mengkerut mendengar ucapan Chan, “Kenapa kakak di sini? Kakak mengintip, ya?” Tanyanya.
Chan mentoyor pelan kening Lea karena telah menuduhnya, “Ayo bicara. Kau bilang akan bicara hari ini” Ujarnya kemudian.
“Tidak ada lagi yang akan kita bicarakan. Semua sudah jelas, kakak dan Celia memang sangat serasi” Ucap Lea, lalu melenggang dari hadapan Chan. Dengan cepat, Chan menahan Lea agar tidak pergi.
“Lepaskan” Pinta Lea sambil berusaha melepaskan tangan Chan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tak menghiraukan ucapan Lea, Chan justru menarik tangan perempuan itu, “Ikut aku!”
“Ke mana?”
“Mengatakan pada mereka jika kita saling menyukai dan menolak perjodohan itu!”
Lea terkejut mendengar ucapan Chan, namun lelaki itu sangat serius dengan ucapannya.
“Kak... tolong jangan begini, kumohon!” Meski Lea memohon, Chan tetap melangkah tanpa ragu. “Ayo, kita bicara baik-baik” Kali ini Lea mencoba bernegosiasi, tapi Chan tetap tak mendengarnya sehingga Lea hanya bisa pasrah.
Tak hanya Chayra dan ibunya, tapi Celia serta kedua orang tuanya terkejut karena Chan muncul sambil menarik tangan Lea.
“Kalian kenapa?” Tanya Bu Cindy.
Chan menatap Lea, mata perempuan itu sudah mengembun hendak menangis.
“Aku harus ke SUN house karena ada pembicaraan penting dengan Pak Sugara dan para member...”
Belum selesai Chan bicara, Bu Cindy sudah memberi kode agar putranya memberi penjelasan karena menggandeng tangan Lea.
“Dia akan pulang karena harus mengantar pesanan. Karena sangat lambat, jadi aku menariknya”
Lea menarik napas lega mendengar perkataan Chan, begitu juga Celia dan kedua orang tuanya yang sempat panik.
"Jangan perlakukan Lea seperti ini lagi. Dia kesakitan karena kau menggandengnya terlalu kuat" Ujar Bu Cindy sambil melepaskan tangan Chan dari tangan Lea.
"Jika ingin mengantarnya, ajaklah dengan baik" Ujar wanita paruh baya itu lagi.
Lea dan Chan pergi setelah berpamitan. Meski tersenyum melihat keduanya pergi, namun Celia jadi semakin penasaran oleh sosok Lea yang sangat akrab dengan keluarga Chan.
...***...
...Happy Reading......
Jangan lupa bersyukur, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih 🙏🏻🤗