Say Hello

Say Hello
SH 43



Lea tersadar dari lamunan karena seseorang menepuk pundaknya. Ia lantas menoleh, “Ada apa, kak?” Tanyanya.


“Ayo, kembali kerja” Ujar rekan kerja Lea.


Lea beranjak dari duduknya, mengekor pada wanita yang ada di depannya.


Di kubik kerjanya, Lea tak bisa fokus karena masih memikirkan Pak CEO yang ternyata adalah Khai.


‘Kenapa kak Chan tidak mengatakan apa-apa?’ Gumam Lea. Dalam hati, ia merasa kecewa karena Chan tak memberitahu latar belakang EM Fashion, namun ia juga bersalah lantaran tidak mencari informasi mengenai perusahaan tersebut secara benar.


Lea menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, lalu menyalakan komputer guna melanjutkan pekerjaan yang kemarin sempat tertunda.


***Apartemen***


Sepulang kerja, Lea memasak untuk makan malam. Kali ini, ia akan memasak udang saus asam, ikan goreng, dan capcay. Bagi Lea, memasak bukan hanya sekedar kebutuhan tapi sudah menjadi hobi yang bisa mengurangi rasa penat. Ia bahkan bisa menyelesaikan tiga masakan dalam waktu satu jam. Setelah masakan rampung, ia menyusunnya di atas meja, lalu mengupas buah untuk hidangan penutup. Senyumnya mengembang kala melihat meja makan sudah dipenuhi oleh makanan. Lea lantas mengajak adik laki-lakinya untuk makan malam bersama.


“Bagaimana jika kita pulang ke rumah?” Tanya Lea memecahkan keheningan.


“Apa terjadi sesuatu antara kakak dan kak Chan?” Tanya Dayyan.


“Tidak. Hanya saja... kita tidak bisa tinggal di sini terus. Meski rumah itu bukan milik kita, tapi itu tempat tinggal kita. Kakak rasa juga sudah aman jika kita kembali ke rumah. Berita tentang kami juga sudah mereda” Terang Lea.


Hanya dengan melihat ekspresi kakaknya yang datar, Dayyan sudah mengerti jika kakaknya sedang memikirkan sesuatu. Tak mau banyak bertanya, Dayyan akhirnya menyetujui perkataan kakaknya.


“Kapan kita akan pulang?” Tanya Dayyan.


“Malam ini. Selesai makan, berkemaslah” Ujar Lea.


“Apa tidak terburu-buru? Kak Chan juga belum pulang”


“Nanti kakak akan meneleponnya. Kau berkemas saja”


Dayyan menganggukkan kepala mendengar ucapan kakaknya yang tidak bisa lagi dibantah.


Makan malam selesai, Dayyan dan Lea masuk ke kamar masing-masing untuk mengemasi pakaian.


Lea memperhatikan tiap sudut ruangan itu, lalu duduk di tepi ranjang, mengambil pigura milik Chan yang berada di atas nakas. 'Maaf, kak. Untuk saat ini, aku memang egois, tapi aku butuh waktu untuk berpikir. Semoga kakak bisa mengerti keputusanku' Gumam Lea pelan.


.


.


Chan pulang pukul 01.00 dini hari, ia langsung menuju ruang kerjanya untuk istirahat. Karena sudah larut malam, ia jadi tak menyadari jika Lea dan Dayyan sudah pulang ke rumah mereka.


Keesokan harinya...


Chan menggeliat, menyibakkan selimut dengan sembarang, berjalan sempoyongan khas orang baru bangun tidur. Ia melihat ke arah meja makan yang nampak berbeda dari biasanya, tak ada makanan di sana. Lelaki itu ke dapur, tapi tak menemukan seseorang yang dicarinya. Menyadari ada kejanggalan, ia segera berlari ke kamar untuk memastikan.


Chan yang berada di ambang pintung berjalan dengan gontai menuju ranjang, lalu duduk di sana. Tak ada Lea, hanya ada secarik kertas berwarna putih di atas nakas. Chan meremas kertas itu, melemparnya dengan sembarang. Jika tak ada pekerjaan yang mendesak, ia pasti sudah menemui Lea detik itu juga.


‘Akh... kepalaku pusing jika tidak menemuinya sekarang. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Aku bahkan tidak tahu apa masalahnya, tapi dia malah pergi tanpa pamit’ Ujar Chan. Ia diam sejenak, mengurut pelipis sembari berpikir, ‘Apa dia sudah tahu soal EM Fashion?!’ Ujar Chan lagi.


Ponsel Chan berbunyi, memberi tanda jika ada seseorang yang meneleponnya, dengan malas ia menerima panggilan suara itu. “Ya, baik” Jawabnya pada suara di seberang sana, lalu mengakhiri panggilan suara tersebut.


Chan harus menahan keinginannya untuk bertemu Lea lantaran harus bekerja, perempuan itu juga tidak akan suka jika ditemui saat jam kerja.


.


.


Chan menepikan mobil, lalu berlari kecil sampai di depan pintu rumah Lea. Pintu itu masih tertutup rapat meski sudah diketuk berulang kali, namun Chan tidak menyerah hingga akhirnya pintu itu terbuka.


“Kakak sudah tidur” Ujar Dayyan tanpa basa-basi.


“Sejak mengetahui hubunganku dan kakakmu, kau jadi dingin begini, ada apa?” Tanya Chan yang penasaran akan perubahan sikap Dayyan.


Dayyan menatap lekat pada Chan, “Aku hanya ingin menjaga kakakku” Ujarnya.


“Biarkan itu menjadi tugasku, kau jangan khawatir”


“Aku tidak bisa melepaskan kakakku semudah itu” Ujar Dayyan lagi.


Chan menghela napas, “Baiklah, tapi... bisakah aku bertemu kakakmu?”


“Kakak sudah...” Belum selesai Dayyan bicara, Lea sudah lebih dulu muncul dari balik pintu. Perempuan itu menganggukkan kepala, memberi kode agar adiknya memberi ruang untuk Chan bicara. Dayyan yang bisa membaca kode dari kakaknya, segera undur diri dari hadapan keduanya.


“Kenapa kau pulang tanpa berpamitan?” Tanya Chan setelah memastikan Dayyan menghilang dari balik pintu.


“Aku sudah menulis pesan di surat” Jawab Lea.


“Bukan itu maksudku. Apa aku melakukan kesalah yang membuatmu marah?” Tanya Chan pelan.


Lea menggelengkan kepala, “Tidak”


Chan semakin bingung mendengar jawaban singkat dari Lea. “Soal EM Fashion... aku minta maaf karena tidak memberitahu sejak awal. Tapi, aku sungguh tidak tahu jika kau akan bekerja di sana” Jelas Chan.


Lea menoleh pada Chan, “Kenapa kakak tidak mengatakan apa-apa?”


Chan menundukkan kepala, tak mampu melihat raut wajah kecewa Lea, “Aku takut jika kau mengira aku terlibat dalam proses rekrutmen itu. Percayalah, aku benar-benar tidak tahu jika kau akhirnya bekerja di sana”


“Karena kakak tidak bicara, aku justru bisa salah paham” Ujar Lea pelan.


“Maaf. Mulai sekarang, aku tidak akan menyembunyikan apa-apa darimu. Jadi... ayo, pulang ke apartemen lagi” Ajak Chan penuh harap.


Lea menghela napas, menatap lekat pada Chan, “Aku ingin kembali ke rumah. Terima kasih atas tawaran dan tumpangannya selama ini”


“Meski kau tidak mau kembali ke apartemen, tolong jangan lepaskan aku” Pinta Chan tulus.


“Saat kak Emira memperkenalkan diri sebagai asisten kak Khai bukan sebagai istrinya, tiba-tiba rasa percaya diriku hilang. Kak Emira sangat hebat hingga mampu berpura-pura di depan semua orang. Sepertinya, aku tidak bisa menjadi sehebat kak Emira” Terang Lea sambil menundukkan kepala.


“Tidak, kau juga hebat. Kau tidak harus bersembunyi seperti Emira nantinya” Ujar Chan meyakinkan Lea.


Kali ini, Lea memberanikan diri menatap Chan, “Aku ingin memikirkan dengan sungguh-sungguh sebelum mengambil keputusan besar” Ujarnya kemudian.


Chan menarik napas dalam, lalu menghembuskannya pelan, “Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya. Tapi, kau harus tau ini... kau adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat. Meski risikonya besar, aku sudah siap menanggungnya. Jadi, tolong pertimbangkan dengan baik” Ujar Chan sambil mengusap pucuk kepala Lea lembut, lalu melanggang pergi. Sementara, Lea mengusap air mata yang hampir jatuh dipipinya sambil menatap Chan dari kejauhan.


...***...


...Happy Reading......


Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻🤗


Terima kasih 🙏🏻❣