
Emira dan Lea kembali menemui para member setelah cukup lama bicara, mereka juga masak bersama untuk makan malam, seperti keluarga besar yang tengah berkumpul.
Meski baru pertama kali bertemu secara resmi, tapi mereka sudah akrab lantaran kelima member dan Emira menyambut Lea dengan hangat sehingga membuat perempuan itu merasa nyaman dan tidak lagi merasa canggung.
Emira dan Khai pulang lebih dulu setelah makan malam, lalu disusul oleh Lea dan Chan, sedang keempat member masih berada di SUN house.
Di dalam mobil, Chan bernyanyi riang seolah tak memiliki beban. Lea yang berada di sampingnya hanya tersenyum tanpa mau berkomentar.
“Kapan kita akan menemui orang tuamu?” Tanya Chan.
Lea menoleh, “Menemui orang tuaku?” Ujarnya mengulang pertanyaan dari Chan.
“Eum... kau sudah bekerja, kelima member sudah setuju, jadi kapan kita menemui orang tuamu untuk meminta restu?” Tanya Chan lagi.
Lea diam sesaat, meski Chan sudah tahu mengenai kedua orang tuanya, namun ia khawatir jika salah satu dari orang tuanya tidak menyetujui lantaran Chan adalah idol.
“Bagaimana jika aku dulu yang bicara pada mereka?” Tanya Lea.
“Kenapa tidak kita temui bersama saja?”
“Aku harus memberitahu mereka terlebih dulu agar tidak terkejut” Ujar Lea.
“Baiklah. Kalau begitu, aku juga akan memberitahu ibu terlebih dulu” Seru Chan, tatapannya lurus ke arah jalan.
“Bertemu ibunya kakak?”
“Iya. Kau sudah mengenal ibu, kan?”
Lea menganggukkan kepala, “Eum”
“Lalu, kenapa terkejut?”
“Biasanya aku bertemu beliau sebagai sahabat Chayra, jadi agak canggung jika nanti bertemu sebagai calon menantu” Ujar Lea pelan.
Chan tersenyum miring, “Tidak apa-apa, ibuku pasti langsung setuju” Ujarnya dengan yakin.
Chan dan Lea terlalu asyik mengobrol hingga tanpa disadari mereka telah tiba di tempat tujuan, rumah Lea. Chan membukakan pintu untuk Lea, lalu berjalan mengiringi wanita itu hingga di depan pintu rumah bercat abu tua.
“Kak... maafkan aku” Ujar Lea tulus.
Chan memandang lekat pada Lea, “Kenapa kau minta maaf?”
Lea menundukkan kepala, lalu berkata pelan, “Aku telah berprasangka buruk pada kakak. Aku mengira kakak yang sengaja meminta bantuan kak Khai untuk menerimaku di EM Fashion”
“Tidak apa-apa, aku mengerti kekhawatiranmu. Kau pantas bekerja di sana karena kemampuanmu” Ujar Chan. “Sekarang masuk dan istirahatlah” Ujarnya lagi sambil mengusap lembut pucuk kepala Lea.
Lea melambaikan tangan, “Sampai jumpa”
Chan membalas lambaian tangan Lea, kemudian berlalu setelah wanitanya menghilang dari balik pintu.
***Keesokan Harinya***
Sesuai janji Lea pada Chan, sepulang kerja ia langsung menemui ayah dan ibunya untuk memiberitahukan hubungannya dengan Chan. Senyum Lea mengembang kala melihat seseorang wanita paruh baya berdiri di depan rumah menyambutnya. Lea menyalami tangan ibunya dengan takzim, lalu memeluk sebentar wanita yang telah melahirkannya.
“Bagaimana kabar ibu?” Tanya Lea.
“Baik, kau bagaimana?” Tanya wanita paruh baya itu sambil membimbing Lea menuju kursi yang ada di pelataran rumah.
“Tidak apa-apa kan bicara di sini?” Tanya wanita paruh baya itu.
Lea menganggukkan kepala, sama sekali tidak keberatan jika hanya duduk di pelataran rumah. Ayah tirinya tidak begitu suka jika melihat Lea atau Dayyan berlama-lama di rumah itu, itulah sebabnya Lea tidak pernah mau ikut tinggal bersama ibunya.
“Hal penting apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya wanita paruh baya itu lagi.
“Ak... aku ingin menikah” Ujar Lea pelan.
Wanita paruh baya itu menutup mulut dengan kedua tangan, nampak terkejut dengan perkataan putrinya, namun sesegera mungkin kembali bersikap normal. “Apa artis itu orangnya?” Tanyanya kemudian.
Lea menganggukkan kepala, “Iya, namanya Chan. Aku ingin mengenalkannya pada ibu”
“Kau yakin mau menikah dengan artis? Maksud ibu... maaf, ibu tidak berhak melarang keputusanmu” Ujar wanita paruh baya itu.
Lea menatap ibunya lekat, “Tidak apa-apa, katakan saja apa yang ingin ibu katakan”
“Meski ibu tidak merawatmu dengan benar, tapi kau tetap putri ibu” Ujar wanita paruh baya itu sambil mengusap bahu Lea. “Ibu khawatir jika kau mendapat hujatan dan ancaman lagi. Menikah adalah keputusan besar, kau tidak bisa mundur dengan mudah jika sudah memilihnya. Bagaimana nanti kehidupanmu setelah menikah? Apa penggemarnya bisa menerimamu atau kau hanya akan bersembunyi di balik bayang-bayang suamimu?” Ucapnya lagi.
Lea diam, kekhawatiran ibunya ada benarnya namun tekadnya sudah bulat. Apa pun yang akan terjadi nantinya, ia akan tetap berada di samping Chan, seperti halnya lelaki itu yang selalu berusaha menggenggamnya.
“Terima kasih karena ibu sudah mengkhawatirkanku, tapi aku ingin tetap berada di samping kak Chan seperti halnya dia yang selalu berusaha melindungiku” Tutur Lea.
Wanita paruh baya itu tersenyum, “Putriku benar-benar sudah dewasa rupanya, ibu bangga padamu. Jika kau sudah seyakin ini, ibu juga pasti mendukungmu”
Lea memeluk erat ibunya, “Terima kasih, bu”
Wanita paruh baya itu membalas pelukan Lea sambil mengusap punggungnya, “Jadi, kapan ibu akan bertemu dengannya?”
“Besok, apa ibu bisa?” Tanya Lea.
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepala, “Ibu akan meluangkan waktu untuk kalian”
Lea melepaskan pelukannya, menatap ibunya dengan penuh kasih, “Terima kasih untuk hari ini, aku pamit. Aku akan menemui ayah”
Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca, lalu dengan pelan berkata, “Eum... hati-hati. Ibu selalu berdoa untukmu dan Dayyan. Tolong sampaikan salam ibu pada adikmu”
Lea menganggukkan kepala, mengusap lembut punggung tangan wanita itu, lalu melenggang pergi.
Tak mau menunda lagi, setelah menemui ibunya, Lea bergantian menemui ayahnya. Di rumahnya, lelaki paruh baya itu juga telah menunggu kedatangan putri sulungnya. Tanpa basa basi, Lea menceritakan kedatangannya untuk meminta izin menikah dengan Chan.
Lelaki paruh baya itu menatap haru putrinya, “Meski dia orang yang terkenal dan hidupnya mapan, ayah tetap tidak bisa melepasmu tanpa mengenalnya lebih dulu. Ayah tahu, jika ayah adalah orang tua yang buruk, setidaknya beri ayah kesempatan untuk menjadi orang tua yang baik meski hanya sekali ini saja. Biarkan ayah memastikan lelaki pilihanmu adalah lelaki yang benar-benar bisa menjaga dan menyayangimu dengan tulus” Pinta lelaki paruh baya itu.
“Besok aku akan mengenalkannya pada ayah” Ujar Lea menyetujui. Lea tersenyum pada ayahnya, lalu kembali berkata, “Aku akan pulang sekarang, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bicara”
“Kau berkata seolah-olah aku ini orang lain, nak” Ucap lelaki paruh baya itu sambil mengusap lembut kepala putrinya. Ia diam sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya, “Sampaikan salam ayah untuk adikmu. Ayah sangat ingin bicara pada Dayyan, tapi sepertinya... luka di hatinya masih belum sembuh”
Lea tersenyum masam, ia tak punya kuasa untuk memaksa adiknya. Meski begitu, Lea berjanji pada diri sendiri, bahwa ia akan berusaha membuat Dayyan berdamai dengan kedua orang tuanya sebelum hari pernikahan.
...***...
...Happy Reading......
Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻🤗
Terima kasih 🙏🏻❣