
Sementara itu di tempat lain, Chan juga tengah berbicara pada ibu dan adiknya mengenai rencananya menikah dengan Lea. Seperti dugaan Chan, ibu dan adiknya memberikan restu dengan senang hati, bahkan ibunya sudah menganggap Lea seperti putri kandung.
.
.
Setelah bicara pada keluarga masing-masing, kini saatnya Lea memperkenalkan Chan pada ayah dan ibunya. Pertemuan pertama Chan dan calon ibu mertuanya berjalan lancar, bahkan ia juga mengobrol dengan ayah tiri Lea. Chan sangat senang karena mendapat lampu hijau dari keluarga Lea. Usai pertemuan itu, Lea berganti mengajak Chan bertemu dengan ayah dan ibu tirinya. Berbeda dengan calon ibu mertuanya yang memberi sambutan hangat, calon ayah mertunya justru dingin, seolah tak begitu menyukai Chan.
Chan tersenyum ramah sambil mencium punggung telapak tangan lelaki paruh baya yang berbadan tegap itu, namun senyumnya hilang seketika lantaran lelaki parah baya itu hanya menatapnya lekat.
“Jadi kau yang akan menikahi putriku?” Tanya lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayah dari Lea.
Chan menganggukkan kepala, “Benar. Nama saya, Chan. Senang bisa bertemu langsung dengan Anda” Ujarnya.
“Iya” Lelaki paruh baya itu hanya menjawab seadanya. Ia diam sejenak, lalu kembali bersuara, “Kenapa kau ingin menikah dengan putriku?”
“Bagi saya, putri Anda adalah kekuatan yang nyata. Dengannya, saya bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura. Karena itu... saya juga ingin menjadi kekuatan untuk Lea. Saya tidak bisa menjanjikan hal besar untuknya, tapi saya akan selalu berusaha membuatnya bahagia serta melindunginya dengan cara apa pun agar dia aman dan tidak merasa takut lagi” Ujar Chan lantang.
“Orang tua, pekerjaan, dan penggemarmu, apa mereka bisa menerima putriku?” Tanya lelaki paruh baya itu lagi.
Dengan yakin Chan menganggukkan kepala, “Iya, saya sudah bicara dengan orang tua, kelima member, dan CEO perusahaan. Mereka tidak keberatan dengan pernikah ini. Soal penggemar... saya membebaskan untuk Lea memilih, mau mengakui atau menyembunyikannya dari publik, saya sudah siap dengan risikonya”
“Selain artis, kau juga CEO, apa itu benar?”
Chan kembali menganggukkan kepala, “Iya, saya menjadi CEO di perusahaan milik saya”
Lelaki paruh baya itu diam sejenak, lalu kembali menatap lekat pada Chan, “Mau artis atau CEO perusahaan atau malah keduanya, aku tidak peduli. Yang terpenting adalah kebahagiaan putriku. Jika kau berani menyakitinya, aku akan mencarimu meski kau bersembunyi keujung pelangi” Ancam lelaki paruh baya itu.
Chan menelan saliva melihat tatapan tajam calon ayah mertuanya, “Baik, saya mengerti”
Sementara, Lea justru menahan tawa melihat dua lelaki dengan ekspresi yang bertolak belakang.
“Ada tamu istimewa rupanya” Seruan seseorang membuat Chan, Lea, serta ayahnya menoleh bersamaan. Tanpa menunggu persetujuan, seseorang tersebut bergabung bersama mereka.
Menyadari jika seseorang tersebut adalah ibu tirinya Lea, Chan segera memperkenalkan diri. Wanita paruh baya itu merespon dengan baik, bahkan tanpa basa-basi meminta foto bersama Chan.
“Wah... lebih tampan dari yang terlihat di televisi, ya” Ujar wanita paruh baya itu.
Chan hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
“Teman-temanku pasti iri melihat ini. Mereka juga pasti ingin punya menantu artis terkenal sepertimu” Ujarnya lagi sambil memperhatikan foto yang baru saja diambil bersama Chan.
“Maaf, tapi tolong jangan sebarkan foto itu. Kami berencana menikah secara diam-diam” Ucap Lea.
Wanita paruh baya itu mendengus, tidak senang mendengar perkataan Lea. “Kau ini aneh sekali, pernikahan adalah hal yang membahagiakan, kenapa harus diam-diam? Apa lagi calon suamimu bukan orang biasa”
“Justru karena dia bukan orang biasa, makanya kami ingin merahasiakannya agar tidak menarik perhatian publik” Terang Lea.
Wanita paruh baya itu kembali mendengus, “Apa karena aku hanya ibu tiri, makanya kau melarangku mengakuinya sebagai menantu?” Tanyanya.
“Bukan begitu maksud...”
Melihat Lea seperti kebingungan untuk menjawab pertanyaan ibu tirinya, Chan segera memotong ucapan perempuan itu dengan berkata, “Tolong hargai privasi kami. Lea sudah memilih untuk menyembunyikannya, jadi saya harap... Anda bisa menghargai keputusannya”
Lelaki paruh baya itu menatap istrinya, “Apa yang mereka katakan benar, lebih baik foto itu disimpan untuk kenangan. Jangan membuat gaduh sesuatu yang sudah tenang”
Wanita paruh baya itu menatap kesal pada Lea, “Terserah kalian saja, aku tidak akan ikut campur” Ujarnya, lalu melenggang pergi.
“Maaf, ya” Ujar Lea pelan.
Chan tersenyum, “Jangan minta maaf, kau tidak salah” Ujarnya sambil mengusap lembut pucuk kepala Lea.
“Ehem... kau tidak lupa jika aku masih di sini, kan?!” Tanya lelaki paruh baya itu.
Chan menggaruk tengkuknya, salah tingkah karena pertanyaan calon ayah mertuanya, “Maaf” Ujarnya kemudian.
“Kami harus pulang sekarang. Lain kali, kami akan datang lagi” Ucap Lea mengalihkan pembicaraan.
Lelaki paruh baya itu menganggukkan kepala, sementara Chan tersenyum lega dengan keputusan Lea.
“Bisa-bisanya ayahmu berpikir akan mengejarku sampai ke ujung pelangi. Aku bahkan tidak tahu di mana letak pelangi” Ujar Chan di sela-sela obrolannya.
Lea menoleh pada Chan, “Aku akan memberitahu kakak di mana letak pelangi”
Chan melirik Lea dengan tatapan penuh tanya, “Dimana?”
“Di sini” Ujar Lea menunjuk diri sendiri sembari tersenyum lebar.
Chan tertawa, “Dasar... aku kira kau akan mengeluarkan teori-teori yang bisa membuatku semakin bingung” Ujarnya.
Lea tertawa sambil melenggang masuk ke dalam rumah, sementara Chan baru melajukan mobil setelah pintu rumah bercat abu tua itu tertutup rapat.
***Keesokan Harinya***
Setelah Chan berkenalan dengan orang tua Lea, kini giliran perempuan itu yang akan bertemu dengan ibu serta adiknya Chan.
Lea mengatur napas agar tidak gugup, meski sudah dekat dengan keluarga Chan, namun ini pertama kalinya ia berkunjung sebagai calon menantu.
Chayra berlari kecil menghampiri Lea yang tengah menunggu Chan memarkirkan mobil.
"Kenapa tidak masuk?" Tanya Chayra.
"Ak... aku menunggunya" Jawab Lea sambil menunjuk Chan yang kini sedang berbincang dengan petugas kebersihan.
Chayra menarik lengan Lea, "Hei... kenapa kau canggung begini? Ayo masuk, nanti kakak akan menyusul"
Lea tertegun di depan pintu, "Chay... tunggu..." Ujarnya.
"Kenapa? Ibu sudah menunggu sejak tadi" Ucap Chayra, namun Lea tetap diam tak bergeming.
Chayra menghela napas, "Jangan canggung begitu, ibu tidak akan menghukummu. Ayo, masuk!"
"Ibu... calon kakak ipar sudah datang" Teriak Chayra.
Lea memukul lengan Chayra, "Jangan begitu, aku malu" Bisiknya, sementara Chayra malah tertawa puas melihat wajah sahabatnya memerah.
Lea dan Chayra menoleh bersamaan ke arah wanita paruh baya yang baru saja bergabung bersama mereka. Lea lantas memberi salam pada wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Lea, "Jadi, ini calon menantu ibu" Ujarnya.
Lea tersenyum sembari menganggukkan kepala.
"Kenapa tidak pernah bilang sejak awal?" Tanya wanita paruh baya itu.
"Saya... juga tidak tahu jika akan begini jadinya. Maafkan saya"
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala, "Tidak perlu minta maaf, Chan yang harusnya minta maaf karena tidak pernah berkata apa-apa, ibu sampai mau menjodohkannya dengan orang lain. Maafkan ibu, kau pasti terluka saat ibu memperkenalkan Celia waktu itu"
"Tidak... Ibu tidak perlu minta maaf. Terima kasih sudah mau menerima saya" Ujar Lea pelan.
"Kau sudah seperti putri kandung ibu sejak Chayra membawamu ke sini. Tentu saja ibu senang jika akhirnya kau menjadi wanita pilihan Chan" Ucap wanita paruh baya itu tulus.
Butiran bening mengalir dari kedua sudut mata Lea. Setelah banyak kesulitan yang dialami, kini ia bisa merasa bahagia tanpa rasa takut.
Wanita paruh baya itu mengusap air mata Lea yang mengalir, lalu memeluk calon menantunya. Lea membalas pelukan itu, Chayra yang ada di sampingnya juga ikut bergabung.
Dari ambang pintu, Chan tersenyum sambil menatap haru ketiga wanita yang sangat disayanginya. Wanita yang akan ia bahagiakan dan lindungi seumur hidup.
...***...
...Happy Reading......
Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻🤗
Terima kasih 🙏🏻❣