Say Hello

Say Hello
SH 29



Di dalam mobil, Lea hanya diam sambil menatap keluar jendela. Meski penasaran ke mana Chan akan membawanya, tapi ia enggan untuk bertanya. Chan juga tak menjelaskan apa pun sejak keluar dari rumah.


Mobil berwarna hitam itu menepi setelah hampir satu jam menyusuri jalanan kota yang padat.


Lea menoleh sekitar, tak tahu tempat apa yang kini ada di hadapannya.


“Ayo, masuk” Titah Chan setelah pintu terbuka.


Mata Lea berbinar menatap deretan bukit hijau di depannya. Lea menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, menikmati aroma tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitarnya.


“Ini adalah tempat yang dibuat oleh kak Khai. Dulu, di tempat ini... kami sering melarikan diri dari bisingnya penghuni dunia yang membenci SUN” Terang Chan sambil menoleh pada Lea yang masih memandang lurus ke depan.


“Sejujurnya, aku kesal denganmu karena melarangku untuk jujur” Ujar Chan lagi.


“Apa kakak tidak memikirkan perasaan Bu Cindy jika tadi kakak berkata jujur? Beliau akan merasa malu pada temannya, dan kecewa pada putranya. Beliau dan Chayra juga bisa jadi membenciku. Celia dan orang tuanya juga pasti mengumpatku. Hubungan pertemanan orang tua Celia dan Bu Cindy juga bisa renggang. Dan kakak... akan dilebeli sebagai laki-laki tak punya perasaan. SUN yang terkenal selalu menjunjung tinggi kesopanan, ternyata salah satu membernya melakukan hal sebaliknya” Ucap Lea tanpa menoleh pada Chan.


Chan mengusap wajah dengan kasar, “Kau selalu memikirkan perasaan orang lain, tapi kenapa kau tak memikirkan perasaanku? Kau tak memikirkan perasaan kita? Aku hanya ingin memperjelas semuanya”


Dengan suara bergetar, Lea berkata, “Saat melihat Celia, aku jadi sadar posisiku. Kehidupan yang kujalani tidak mudah, sampai aku berpikir bahwa tidak akan pernah mendapat kebahagian di dunia ini. Orang tuaku bercerai dan memiliki keluarga baru, aku harus bertahan hidup demi adikku. Mentalku tidak sesehat itu, kak. Aku benar-benar sudah merasa lelah. Jika bukan karena Dayyan, mungkin sudah sejak lama aku mengakhiri hidup” Air mata yang sejak tadi ditahan, kini lolos begitu saja dari kedua sudut mata Lea.


“Aku memang menyukai kakak, tapi pengakuan kakak menjadi beban untukku. Aku merasa tidak pantas menerimanya. Setiap aku merasa bahagia, maka kesedihan yang lebih besar akan menyambutku. Aku takut...” Ujar Lea lagi.


Chan menatap Lea dengan iba, ia tak tahan melihat perempuan di sampingnya menangis sampai sesegukkan. Chan memeluk Lea, “Maaf, aku benar-benar egois. Padahal aku tahu kehidupanmu, tapi malah tidak pernah memikirkan kondisimu”


“Menangislah sepuasmu, lepaskan satu persatu beban itu” Bisik Chan sambil mengusap kepala Lea.


Setelah tenang, Chan mengajak Lea untuk duduk. Lelaki itu lantas memberikan sebotol air mineral pada Lea setelah membukakan tutup botolnya, “Minumlah” Ujar Chan.


Chan menatap Lea dengan lekat dan berkata, “Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini. Mulai sekarang, kau harus melibatkanku dalam masalahanmu”


“Tapi aku tidak pantas...”


Chan tak memberi kesempatan untuk Lea menyelesaikan ucapannya, “Tidak ada yang bisa mengukur pantas atau tidaknya seseorang. Aku juga bukan manusia tanpa dosa. Biarkan aku bertanggung jawab atas hidupmu dan Dayyan, tolong percaya padaku” Ujar Chan dengan tulus.


“Aku tidak mau menjadi beban bagi siapapun”


Chan menghela napas, setiap menghadapi Lea, ia harus penuh dengan kesabaran karena sifat keras kepala perempuan itu, “Aku tidak pernah menganggapmu beban. Kalau kau berpikir begitu, maka aku siap menanggung beban itu”


Lea menatap Chan dengan lekat, “Apa aku boleh minta sesuatu?”


Chan menganggukkan kepala, “Katakan saja”


“Jangan mengatakan pada siapapun tentang hubungan kita sebelum aku mendapatkan pekerjaan. Aku ingin menjadi perempuan yang pantas untuk kakak. Mau bagaimanapun juga, kakak bukanlah orang biasa. Setidaknya, wanita yang mendampingi kakak adalah wanita yang kuat dan pekerja keras”


“Baik, aku tidak akan bicara apa-apa. Aku tidak salah dengar, kan? Kau bilang hubungan kita?” Tanya Chan sambil tersenyum simpul.


Lea tak menjawab pertanyaan Chan, ia justru memalingkan wajah karena merasa malu.


Chan tertawa melihat ekspresi Lea yang sangat lucu di matanya, “Aku juga punya satu permintaan”


“Apa?” Tanya Lea penasaran.


“Setelah kau mendapat pekerjaan, kita menikah”


Mata Lea membola mendengar perkataan Chan. Baru beberapa menit lalu mereka mengakui perasaan masing-masing, tapi Chan sudah berencana mengajaknya menikah. Benar-benar gila!


“Bagaimana kakak bisa seyakin itu?”


“Aku tidak suka pacaran, itu hanya membuang-buang waktu. Aku sudah cukup lama mengenal Lea, dan sudah cukup tahu banyak hal tentang Tara, jadi apa lagi yang membuatku ragu?”


Chan menjentikkan jari agar Lea tersadar dari lamunannya.


“Ta...tapi bagaimana dengan perjodohan kakak?”


“Lalu Celia?”


“Kenapa dia? Aku tidak pernah mengatakan setuju dengan perjodohan itu. Kami juga baru bertemu dua kali”


“Bohong, kakak sudah bertemu tiga kali dengannya. Itupun yang kutahu, entah sudah berapa kali yang sebenarnya” Cibir Lea.


“Maksudmu?” Tanya Chan bingung.


“Aku pernah melihat Celia keluar dari apartemen kakak, dan kalian pergi bersama”


“Ah, jadi kau melihatnya. Bagaimana... Ya Tuhan, jadi kau menguntitku?”


Lea menepuk lengan Chan karena telah menuduhnya, “Aku sedang mengantar pesanan ke apartemen kakak, lalu tak sengaja melihat kalian. Jadi, kenapa Celia ada di apartemen kakak?” Lea menuntut penjelasan dari Chan.


“Ibu berkunjung ke apartemen bersama Celia, lalu ponselnya tertinggal. Dan dia kembali untuk mengambil ponsel. Aku memberinya tumpangan karena tujuan kami satu arah” Terang Chan.


Mata Lea menyipit menatap pada Chan, “Awas saja jika berbohong” Ancamnya.


Chan tertawa sambil mengusap rambut Lea dengan lembut, “Jadi begini rasanya dicemburui oleh calon istri”


“Jangan meledekku. Tapi... kakak yakin mau menikah denganku?” Tanya Lea hati-hati.


“Aku sudah sangat yakin. Makanya, kau cepat mencari kerja agar kita bisa menikah”


“Kakak pernah berkata jika aku punya kesabaran yang tipis dan berpenampilan tidak jelas. Apa kakak sanggup hidup dengan wanita seperti itu?”


“Itu bukan aku yang bicara” Jawab Chan asal.


Mendapat tatapan intimidasi dari Lea, Chan kembali berkata, “Apa sejauh ini aku pernah marah menghadapi sifat keras kepalamu?”


Lea terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Chan kembali mengusap pucuk kepala Lea, “Aku benar-benar sudah yakin, jadi jangan terus-terusan bertanya dan jangan ragu. Kau hanya perlu mendapatkan pekerjaan, mengerti?”


“Eum... terima kasih” Ujar Lea beriringan dengan air mata yang kembali menetes.


“Kenapa kau menangis?” Chan bertanya dengan panik.


Dengan tatapan yang sendu, Lea berkata lirih, “Aku hanya belum bisa mempercayai semua ini. Ada seseorang yang mau menerimaku saja sudah hal baik. Tapi ini... orang seperti kakak yang ada di sampingku. Apa keberuntungan ini tidak terlalu besar untukku?”


“Ini adalah hasil dari kesabaranmu selama bertahun-tahun. Semua manusia pantas mendapat keberuntungan dan hidup bahagia”Ujar Chan sambil beranjak dari duduknya, “Ayo, kuantar pulang. Kau pasti sudah lelah”


Lea mendongak, menatap Chan yang sudah berdiri. Lelaki itu lantas membungkuk agar sejajar dengan Lea yang masih duduk di kursi kayu berwarna cokelat pekat.


Chan mengedipkan sebelah matanya dan berbisik, “Atau kau mau menginap bersamaku? Di sini ada satu kamar”


Lea melotot mendengar ucapan Chan, “Kak... jangan bicara yang aneh-aneh! Ayo, pulang” Ujarnya.


Chan tertawa puas, “Aku hanya bercanda”


“Tidak lucu tahu” Jawab Lea sambil mentoyor bahu Chan, lalu berjalan mendahului lelaki itu.


...***...


...Happy reading......


Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih 🙏🏻💛