
Keenam member SUN masih berada di SUN house meski Pak Sugara dan Pak Arsel sudah pulang sejak satu jam lalu. Chan, Khai, Ez, dan Zal berkumpul sembari mengobrol. Mereka menunggu Zhi dan Dza yang sedang membeli cemilan. Saat ini, para member mempunyai jadwal kegiatan masing-masing, sehingga membuat mereka jarang berkumpul, namun begitu ada kesempatan untuk bersama, mereka tidak akan menyiayiakan.
“Kenapa tidak kau bantu saja Lea mencari pekerjaan?” Tanya Zal.
Chan menoleh pada Zal yang duduk di samping Khai, “Jika diizinkan, pasti sudah kulakuan. Dia adalah perempuan mandiri dan keras kepala. Kakak lupa kalau dia pernah menamparku?”
Zal tersenyum, “Kau sudah ditampar tapi tetap mau menikahinya. Cinta memang buta, ya” Ujarnya.
“Kakak tidak mengerti karena belum pernah jatuh cinta” Cibir Chan, Ez dan Khai tertawa mendengarnya.
Chan kembali bergeming, “Kak Khai yang galak saja bisa meleleh di depan Emira”
Zal dan Ez tertawa, sementara Chan meringis karena mendapat pukulan dari Khai.
“Kak...” Teriakan Zhi mengalihkan perhatian para member.
Zhi berlari kecil menghampiri keempat member, sedang Dza mengikuti dari belakang sambil menenteng cemilan yang tadi dibelinya.
“Ada apa?” Tanya Chan sembari mengambil ponsel yang diberikan oleh Zhi.
“Gila!!! Apa-apaan ini?!” Tanya Chan, lalu memberikan benda pipih itu pada Zal yang sudah menengadahkan tangan.
Zal mengusap wajah dengan kasar, “Dia... wah... kenapa dia melakukan ini?”
Khai berdecak, “Apa-apaan perempuan itu!”
Suara dering telepon membuat keenam member terperanjat, Zhi lantas menerima panggilan telepon tersebut.
“Berikan teleponnya pada Chan. Kau bersamanya, kan?” Tanya Pak Sugara dari seberang sana.
“Baik” Jawab Zhi, lalu memberikan ponselnya pada Chan.
Chan hanya menjawab singkat setiap perkataan Pak Sugara. Kekesalan lelaki paruh baya itu baru saja reda, tapi kini sudah memuncak kembali lantaran berita yang muncul menyeret nama Chan lagi.
“Jangan diambil hati ucapan Pak Sugara, kau sudah paham sifatnya, kan?” Tanya Zal.
Chan menganggukkan kepala, “Aku tidak memperdulikan diriku saat ini, tapi aku mencemaskan Lea”
Khai menepuk pundak Chan, “Aku mengerti perasaanmu. Memang tidak mudah, tapi kau pasti bisa”
Ez juga ikut menepuk pundak Chan, memberi semangat pada adiknya, “Bergurulah pada kak Khai” Ujarnya.
Dengan kompak, Zhi, Zal, dan Dza, mengernyitkan kening mendengar ucapan Ez, namun ketiganya memilih diam agar tak mendapat omelan dari Ez dan Khai.
“Apa Lea boleh ke sini?” Tanya Chan.
Kelima member menganggukkan kepala menyetujui.
“Iya. Kau perlu sopir untuk menjemputnya?” Tanya Khai.
Belum sempat Chan menjawab, Ez lebih dulu berkata, “Aku akan mengirim sopir untuk menjemput Lea. Berikan alamatnya!”
Ez lantas menelepon seseorang setelah mendapatkan alamat rumah Lea. Chan juga langsung menelepon Lea agar tak membuat perempuan itu bingung jika ada yang menjemputnya.
Satu jam berlalu, Lea sudah tiba di SUN house.
Chan yang sudah menunggu di luar, langsung mengajak Lea menuju taman belakang untuk bicara.
“Maaf, aku memintamu ke sini tiba-tiba” Ujar Chan membuka pembicaraan.
Lea menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa, tapi... kenapa kakak memintaku ke sini?”
“Aku tidak bisa menemuimu di tempat lain, hanya di sini kita bisa bicara dengan bebas” Terang Chan.
Lea mendekat pada Chan, “Ada apa?” Tanyanya.
“Mengenai berita yang beredar... aku tidak tahu jika Celia akan mengaku sebagai perempuan di foto itu”
“Tidak apa-apa. Itu justru menguntungkanku. Media akan percaya jika yang ada di foto itu benar Celia. Dengan begitu... keberadaanku tidak akan diketahui” Ucap Lea pelan. Meski mengatakannya dengan raut wajah biasa saja, tapi sebenarnya Lea sedikit merasa kesal. Namun lebih baik Celia yang muncul dibandingkan dirinya. Chan akan semakin mendapat hujatan jika ketahuan mendekati perempuan sepertinya.
“Gara-gara ulahnya, ibu jadi menelepon berkali-kali. Meski aku sudah menyangkal, tapi ibu tetap tidak percaya. Agensinya jadi memburu Pak Sugara dan Pak Arsel untuk meminta penjelasan. Jika dia hanya bicara pada media, mungkin aku masih bisa memaafkan tapi jika sudah bicara pada ibu, aku jadi sulit memberinya maaf” Chan kembali menggerutu.
Lea menepuk-nepuk pundak Chan, “Jangan coba menyelesaikan masalah saat emosi begini. Kakak harus tenang” Ujarnya sambil tersenyum.
Chan tersenyum sambil menatap Lea, kekagumannya pada perempuan itu semakin bertambah. Lea memang pintar dalam bersikap, ia bisa menjadi keras dan sangat berani ketika menghadapi ancaman, namun bisa tenang saat menghadapi badai.
“Terima kasih. Meski badainya besar, jangan lepaskan aku. Tolong pertahankan aku sampai akhir” Pinta Chan dengan tulus.
Lea menganggukkan kepala, “Ayo, saling melindungi”
Chan juga menganggukkan kepala sembari tersenyum, “Iya. Kita harus saling melindungi” Ujarnya.
“Apa sekarang aku boleh pulang? Aku meninggalkan bahan bolu kukus yang sudah diadon. Bisa rugi jika bahannya mengembang dan tidak bisa diolah”
Chan mengedipkan sebelah matanya, “Aku akan mengganti kerugiannya, Nona”
Lea berdecak, “Dasar menyebalkan!”
Chan mengusap lembut pucuk kepala Lea, “Pulanglah. Beri kabar jika sudah di rumah” Titah Chan. Lea menganggukkan kepala menyetujui.
.
.
.
Jalanan yang sepi membuat Chan bisa leluasa melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam tiga puluh menit, ia sudah tiba di tempat tujuan. Chan sengaja meminjam mobil milik sopirnya agar tak ada paparazzi yang mengikuti.
“Aku sudah di bawah, cepat turun” Ujar Chan pada seseorang ditelepon.
Sepuluh menit berlalu, orang yang Chan tunggu akhirnya datang.
Chan membuka kaca jendela mobil, “Masuklah” Titahnya kemudian.
“Kau tak mau masuk saja?” Tanya Celia sambil menunjuk ke arah apartemennya.
Chan menggelengkan kepala, “Aku tidak ingin berbasa-basi. Kenapa kau membuat kehebohan itu?”
Celia menarik napas sebelum akhirnya berkata, “Aku kesal padamu”
Chan mengernyitkan kening, bingung dengan perkataan Celia, “Apa maksudmu?”
“Aku tahu, perempuan yang ada difoto itu adalah Lea. Tapi, penggemarku dan media mengira perempuan itu adalah aku. Banyak yang mendukung hubungan kita, jika mereka tahu perempuan itu bukanlah aku, maka harga diriku akan hancur. Reputasimu juga akan buruk, mereka akan menganggapmu sebagai laki-laki yang mudah gonta-ganti pasangan. Aku tidak mau dibanding-bandingkan dengan Lea, meski aku lebih unggul darinya” Terang Celia.
“Apa kau tahu, harga diriku terluka karena kau lebih memilih perempuan seperti itu” Ujar Celia lagi.
“Perempuan seperti itu? Apa maksudnya?” Tanya Chan dengan penuh penekanan.
Celia memalingkan wajah karena tatapan Chan yang menyeramkan, sedetik kemudian, ia membalas tatapan Chan dan dengan lantang berkata, “Aku jauh lebih baik darinya! Dan aku tak mau kalah dari Lea”
Chan berdecak, “Tidak ada yang membandingkan kalian, jadi berhentilah bertingkah konyol hanya karena kau ingin terlihat lebih baik!” Tegasnya.
“Pembicaraan kita sudah selesai, cepat turun!” Ujar Chan lagi.
Celia bersungut, kedua tangannya mengepal menahan kesal karena perlakuan Chan. Namun, ia tetap mengikuti perkataan lelaki itu.
‘Untuk kedua kalinya harga diriku terluka olehmu. Lihat saja, kau yang akan menyesal nantinya!’ Gumam Celia sambil menatap mobil yang dikendarai oleh Chan menjauh.
...***...
...Happy reading......
Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih 🙏🏻🤗