
Lea tengah fokus pada benda pipih yang kini diotak-atiknya. Beberapa detik kemudian, senyumnya mengembang setelah membaca pesan dari Matahari. Ia menghubungi Matahari karena ingin berbagi kebahagian atas jadwal kelulusan yang dipercepat. Seperti biasa, respon Matahari sangat positif dan selalu memberi dukungan untuk Lea.
Setelah menyelesaikan persyaratan administrasi, Lea bergegas menemui Chan yang menunggu di gerbang kampus.
Lea menoleh sekitar, mencari keberadaan Chan. Tak kunjung menemukan, ia lantas menelepon Chan yang ternyata tengah berdiam di dalam mobil yang terparkir berseberangan dengan Lea berdiri.
‘Dia pasti sengaja. Padahal sudah melihatku sejak tadi, tapi malah diam saja’ Ujar Lea sambil berjalan menghampiri Chan yang tengah melambaikan tangan sembari tersenyum lebar.
Sampai di depan mobil yang tengah menepi tersebut, Lea langsung duduk dengan nyaman di kursi penumpang. Wajahnya yang semula memerah karena terkena sinar matahari yang menyengat, perlahan menjadi normal.
“Kau benar-benar tidak melihatku, ya? Padahal, aku sudah di sini sejak tadi” Tanya Chan sembari melajukan mobilnya.
“Mana saya tahu jika Anda mengganti mobil begini” Jawab Lea dengan sedikit kesal, namun malah membuat Chan menyunggingkan senyuman.
“Kita mulai dari mana?” Tanya Chan.
“Saya juga tidak tahu” Jawab Lea.
“Sebentar...” Ujar Lea lagi sebelum Chan membuka suara. Semenit kemudian, Lea tersenyum sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Chan.
“Kau dan Felix cukup dekat, ya?” Tanya Chan penasaran.
“Tidak juga. Akan sangat mencurigakan jika saya bertanya langsung pada Yuna, itu sebabnya saya meminta bantuan kak Felix” Terang Lea.
Chan hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan Lea, lantas melajukan mobilnya menuju mall yang juga akan di datangi Yuna.
Lima belas menit kemudian, Chan dan Lea tiba di mall tersebut. Lea menoleh kanan-kiri mencari keberadaan Yuna. Namun, ia mulai kesal karena Chan terus mengekor sambil menarik jaketnya, persis seorang anak yang takut ditinggal ibunya, “Maaf, bisakah Anda berjalan dengan normal?” Tanya Lea.
Chan melepaskan jaket Lea yang sejak tadi ditariknya, “Aku takut ada paparazi” Ujarnya.
“Sudah tahu begitu tapi masih mau ikut” Jawab Lea sambil berjalan mendahului Chan.
“Padahal aku memikirkannya. Jika terkena paparazi, dia juga yang akan susah. Dasar bocah!” Gumam Chan dengan sedikit berlari mengejar Lea.
Sepuluh menit mengitari mall, akhirnya mereka menemukan Yuna dan kepala divisi keuangan berada di bioskop.
“Mereka akan masuk. Ayo, kita harus membeli tiket juga” Ajak Lea yang tanpa sadar menarik lengan Chan.
“Kau masuk duluan saja, aku mau membeli popcorn dulu” Titah Chan setelah menyerahkan tiket pada Lea.
“Pak...”
“Tidak apa-apa, biar aku saja” Potong Chan.
Kening Lea mengkerut melihat ekspresi lelaki di depannya, padahal ia tidak berniat menggantikan Chan mengantri popcorn.
“Bukan itu... saya ingin minta tolong belikan roti juga. Saya lapar karena belum makan sejak pagi” Ujar Lea disertai senyum lebar, namun justru membuat Chan menyunggingkan bibir.
.
.
Chan baru kembali menemui Lea saat lampu bioskop sudah dimatikan. Meskipun sudah memakai kaca mata, masker, dan juga topi, tapi ia tetap khawatir pada paparazi.
Sebenarnya, Chan tidak peduli jika wajahnya muncul di artikel tapi akan beda cerita kalau wajah Lea juga ikut muncul. Chan tak ingin Lea menjadi sorotan media yang bisa membuatnya menjadi bahan rundungan seperti yang pernah terjadi pada Emira.
Lea menoleh, “Terima kasih” Ujarnya saat menerima roti dari Chan, lalu memakannya dengan lahap.
Mulanya, mereka menonton dengan damai walaupun tidak menyukai alur film yang tengah diputar. Tapi setelah satu jam berlalu, Lea yang memang tidak terlalu suka menonton film akhirnya merasa bosan dan tanpa sadar tertidur.
‘Pantas saja dia diam. Di luar sana banyak wanita yang ingin menonton film denganku, tapi dia malah menyianyiakan waktu berharga seperti ini dan tidur dengan nyaman’ Gerutu Chan, namun ia tak tega membangunkan Lea yang nampak lelah.
.
Lea terbangun tepat saat film berakhir. Hal itu membuat Chan menduga jika Lea memiliki alarm di kepalanya.
‘Haah... rasa bangun tidur yang menenangkan’ Ujar Lea sambil menggeliat. Sedang, Chan hanya memperhatikan tingkah Lea yang sama sekali tidak menjaga wibawa di depannya.
Lea menepuk lengan Chan sambil berkata, “Mereka akan keluar. Ayo, kita ikuti” Lea lalu beranjak, meninggalkan Chan yang masih duduk di tempatnya.
Chan sebenarnya sering merasa kesal pada Lea tapi entah mengapa, ia tidak bisa memarahi perempuan itu. Sepertinya, ia benar-benar sudah menganggap Lea seperti adiknya sendiri.
‘Setelah menonton, lalu makan di restoran mewah. Apa ini yang namanya kencan?’ Monolog Lea.
“Saya belum pernah punya pacar, wajar jika tidak tahu apa saja hal yang dilakukan saat kencan. Jadi, jangan memberikan tatapan ejekan seperti itu!” Ujar Lea lagi.
Sambil tersenyum mengejek, Chan berkata, “Aku bisa memaklumi jika tidak ada pria yang menyukaimu”
“Tidak pernah punya pacar bukan berarti tidak ada yang suka. Tanyakan saja pada Chayra, Anda akan terkejut jika tahu betapa banyaknya pria yang mengejar saya” Ucap Lea dengan bangga.
“Jangan tertawa seperti itu!” Lea kembali bergeming karena Chan tertawa.
“Sudah jangan ribut lagi, lebih baik kau cepat foto mereka. Momennya sedang bagus, bukan?” Tanya Chan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Lea menuruti perkataan Chan, dengan sigap mengambil ponsel dan memfoto target. Wajahnya yang semula serius menjadi sumringah saat berhasil mendapat beberapa foto.
Selesai makan, Lea dan Chan mengikuti Yuna serta kepala divisi menuju butik. Terlihat dari luar butik, Yuna tersenyum bahagia sambil menenteng beberapa gaun.
‘Akh... dasar laki-laki tidak tahu diri. Sudah punya keluarga tapi malah bersenang-senang dengan wanita lain!!!’ Meski Lea mengomel, tapi tangannya tetap fokus mengambil potret Yuna.
“Apa aku harus memukulnya?!”
“Tidak perlu... jangan kotori tangan Anda. Akan lebih baik jika tangan itu digunakan untuk menandatangani foto atau album saja”
Chan mengulum senyum melihat ekspresi kesal Lea. Kesabaran Lea sangat tipis untuk hal seperti ini.
Satu jam kemudian, Yuna dan kepala divisi keluar dari butik. Lea mengira, Yuna dan kepala divisi akan pulang namun dugaannya salah. Mereka terlihat menuju ke suatu tempat.
“Sebenarnya, mereka mau ke mana lagi? Saya bahkan sudah lelah, tapi mereka masih mau berkeliaran”
“Kita ikuti saja. Kakimu kenapa?” Tanya Chan saat melihat Lea melepas sepatu. Saat mengurus admistrasi kelulusan, Lea menggunakan sepatu hak setinggi 5cm. Karena tak biasa menggunakan sepatu setinggi itu, kakinya jadi sedikit lecet.
Sambil mengurut tumitnya, Lea menjawab, “Tidak apa-apa, hanya keram”
Chan mengambil sandal dari bagasi mobil, lalu menyerahkannya pada Lea, “Pakai ini”
“Terima kasih”
“Kau masih mau mengikuti mereka?”
“Tentu saja. Kita bahkan sudah seperti kencan sungguhan, masa mau menyerah dengan mudah”
Mendengar ucapan Lea yang penuh semangat, Chan akhirnya melajukan mobil mengikuti Yuna dan kepala divisi yang telah lebih dulu keluar dari kawasan parkir.
Dua puluh menit berlalu, Chan menepikan mobil di depan hotel KH.
“Kenapa tidak masuk?” Tanya Lea.
“Untuk apa?” Chan balik bertanya.
“Tentu saja mengikuti mereka”
“Memangnya apa yang akan dilakukan dua orang dewasa di hotel pada malam hari, selain...” Chan terdiam, tak mampu meneruskan kalimatnya.
“Selain apa? Kita tidak akan tahu jika terus di sini. Makanya, ayo ikuti mereka”
Chan menghela napas, tak habis pikir dengan tingkah polos Lea, “Sudahlah, kita pulang saja. Aku akan mengurus sisanya”
“Tidak bisa... ini sudah kepalang tanggung”
“Aku tahu pemilik hotel ini, jadi kau tidak usah khawatir. Sekarang, kita pulang saja” Ujar Chan, lalu melajukan mobil tanpa peduli pada Lea yang mengomel.
...***...
Happy reading...
Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih🤗😘🙏🏻