
Setelah mengantar Lea, Chan tidak pulang ke SUN house atau ke rumah orang tuanya, melainkan ke apartemen pribadinya. Pekerjaan kantor serta jadwal latihan yang padat, membuatnya tak mempunyai waktu untuk memperhatikan diri sendiri.
Chan berbaring dengan nyaman di atas ranjang sambil mengurut leher yang terasa tegang karena lelah. Beberapa menit kemudian, tangannya sibuk mengotak-atik benda pipih yang tadi diambilnya dari nakas. Dengan lincah, lelaki itu membuka aplikasi ‘Say Hello’ yang sering digunakannya akhir-akhir ini. Hanya dengan Tara, Chan bisa menceritakan banyak hal tanpa rasa khawatir meski harus menyembunyikan identitas.
‘Baru kali ini, aku merasa sulit mencari topik pembicaraan. Setiap ingin mengirim pesan pada Tara, rasa takut tidak bisa membuatnya nyaman selalu muncul. Meskipun, dia selalu merespon dengan baik tapi aku tetap khawatir’ Monolog Chan.
Seperti bisa bertelepati, Tara justru yang lebih dulu mengirim pesan pada Chan. Tanpa menunggu, pria itu segera merespon dengan sumringah, dan kembali meletakkan gawainya setelah membalas pesan dari Tara.
‘Padahal, kami sudah sepakat untuk tidak penasaran tentang indentitas masing-masing, tapi... sekarang malah aku yang sangat ingin mengenal Tara secara nyata. Akh!!! Dasar tidak tahu malu!’ Umpat Chan pada diri sendiri.
Gawai yang tadi diletakkan kembali berbunyi, buru-buru Chan memeriksanya. Berharap Tara kembali membalas pesannya, tapi sayang... kenyataannya tidak demikian. Pesan itu ternyata dari staf yang mengingatkan jadwal untuk melakukan siaran langsung di sosial media.
Chan segera bangun dari ranjang, membenarkan posisi duduknya dan mengatur sedikit ruangan tersebut agar lebih rapi sebelum memulai siaran langsung.
“My Spring, apa kabar?” Dengan senyum lebar, pria itu menyapa penggemarnya. Tanpa menunggu lama, siara langsung yang baru saja dimulai, sudah ditonton ribuan orang. Bahkan, jumlah penontonnya terus bertambah setiap detiknya.
“Kakak apa kabar?”
“Kenapa kakak sendirian, ke mana member lain?”
“Kenapa tidak ada member lain? Apa kau sedang bersama pacarmu?”
“Apa maksudnya? Jadi, kakak juga sudah punya pacar?”
“Yang benar saja... sudah punya pacar sungguhan, ya?”
“Wahhh... aku bisa menangis sepanjang malam kalau kakak benar-benar sudah punya pacar!”
“Jangan jadi penggemar yang egois seperti itu, kak Chan juga pasti ingin punya orang yang disayangi”
“Kita nikmati saja karyanya, jangan ikut campur urusan pribadi para member”
“Tetap saja, jika mereka sudah terang-terangan begini, kita sebagai penggemar jadi khawatir”
“Dasar penggemar aneh! Berhentilah ikut campur!”
“Kau yang aneh! Apa kau rela jika mereka lebih memilih pacarnya dari pada penggemar yang sudah menemani sedari nol?”
“Kalau aku sedikit tidak rela hahaha. Kak Khai saja sekarang jarang melakukan siaran langsung karena sudah punya pacar”
“Wahhh... lucu sekali kalian ini. Kalian pasti penggemar baru, makanya bisa bicara seperti itu!”
Chan menghela napas panjang membaca semua komentar para ‘My Spring’.
‘Aku bahkan baru berniat untuk mengenal Tara secara nyata, tapi sudah seheboh ini. Ternyata, memang sulit, ya?!’ Gumam Chan pelan.
Dengan senyum mengembang, Chan segera menghentikan berdebatan para penggemarnya.
“Kalian membuatku terharu, terima kasih atas perhatian kalian. Aku di rumah sendirian saat ini. Karena itu, aku melakukan siaran langsung agar kalian bisa menemaniku”
Perkataan Chan membuat kolom komentar semakin ramai, namun tetap saja mereka tidak melupakan topik pembicaraan sebelumnya. Para ‘My Spring’ masih penasaran tentang Chan yang sering mengaku sebagai playboy. Meski begitu, Chan dengan sabar menjelaskan pada para penggemarnya.
“Aku tidak punya pacar. Kalian tahu kan, bagaimana aku bekerja setiap harinya. Tentang perkataanku, itu hanya lelucon. Aku bukan playboy sungguhan” Ujar Chan sambil tertawa.
“Syukurlah, aku jadi tenang mendengarnya. Aku belum siap jika ada lagi member yang mengumumkan hubungan ke publik”
“Benar, aku juga belum siap!”
“Jangan mengatur hidup mereka, biarkan saja jika mereka ingin punya pacar. Kita dukung keputusan dan nikmati karya mereka saja”
“Wahhh... dia ini kenapa? Dari tadi selalu bicara yang tidak jelas!”
“Kaulah yang tidak jelas! Jika kalian penggemar lama, pasti akan mendukung SUN. Kak Chan, jangan dengarkan mereka. Lakukan sesuai kata hati kakak saja”
“Benar, kami akan selalu mendukung SUN, meskipun kalian sudah memiliki pacar bahkan istri!”
Chan tersenyum getir membaca setiap komentar penggemarnya, dengan tegas berkata, “Jika kalian terus meributkan hal ini, lebih baik kita akhiri saja siaran langsungnya. Aku jadi merasa sedih karena kalian tidak akur dan tidak percaya padaku”
Mendengar pengakuan Chan, para ‘My Spring’ langsung meminta maaf. Mereka lantas mengobrol kembali, Chan juga menyanyikan lagu untuk para penggemar sebelum siaran langsung berakhir.
‘Tara saja sudah banyak masalah, jika aku nekat mendekatinya... pasti hanya semakin membuatnya merasa kesulitan. Hah... ternyata memang tidak mudah, ya! Kak Khai bisa bertindak semaunya karena dia anak orang kaya. Meskipun tidak menjadi artis, dia tetap bisa hidup dengan baik. Berbeda denganku yang menjadi tulang punggung keluarga. Sepertinya, aku harus kerja lebih keras lagi agar kedepannya bisa melakukan sesuai yang ku mau’ Monolog Chan sambil beranjak dari kursi dan kembali ke ranjang.
***Di Kantor***
Seorang karyawan tengah mondar-mandir di ruang fotokopi sambil menenteng tumpukan kertas. Napasnya sedikit tersengal karena kelelahan.
“Masih belum selesai? Kau cukup lambat ternyata!” Ujar seorang lelaki paruh baya sembari meletakkan setumpuk dokumen yang harus Lea fotokopi.
Tak berapa lama, seorang wanita datang membawa setumpuk kertas yang juga harus Lea fotokopi.
‘Mereka sedang bertindak sebagai senior rupanya. Karena aku sedang berbaik hati, jadi akan ku kerjakan. Tapi, untuk selanjutnya... aku tidak mau menuruti kalian lagi! Dan juga... kenapa semua dokumen ini harus difotokopi?!’ Lea kembali bergumam saat wanita itu telah kembali ke meja kerjanya.
Hingga jam kerja berakhir, Lea masih berada di ruang fotokopi. Ia baru menyadari jika semua karyawan sudah pulang ketika melihat arloji di tangannya.
‘Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika sudah jam pulang?’ Monolog Lea sambil memutar knop pintu.
‘Tidak bisa dibuka? Bagaimana ini?!’ Lea mulai panik karena pintunya tidak bisa terbuka dan semua karyawan sudah pulang, tak ada yang lembur.
‘Tenang Lea, jangan panik. Pasti ada cara untuk keluar’ Ujar Lea meyakinkan diri sendiri.
Dengan sigap, Lea mengambil ponsel dari saku kemeja yang dikenakannya dan buru-buru mencari nama yang bisa memberi bantuan.
“Lea, ada apa?” Tanya Felix dari seberang sana.
“Saya terkunci di ruang fotokopi dan semua karyawan sudah pulang, bisakah Anda menolong saya?” Jawab Lea.
“Kenapa kau bisa terkunci? Sebelumnya, ruang fotokopi tidak pernah di kunci”
“Entahlah, saya juga tidak tahu. Tapi, bisakah Anda menolong saya?” Tanya Lea penuh harap.
“Sebenarnya, aku baru tiba di rumah. Jika kembali ke kantor, kau pasti akan lama menunggu. Tapi, aku akan coba hubungi Pak Chan. Beliau bilang akan lembur malam ini, mungkin saja beliau masih di kantor”
“Baiklah, terima kasih atas bantuannya. Maaf sudah merepotkan”
“Jangan sungkan begitu. Tunggulah sebentar”
“Baik” Ujar Lea, lalu mengakhiri panggilan telepon.
‘Siapa pun yang mengunci pintunya, awas saja... akan ku balas! Mereka pikir, aku junior yang akan takut jika ditindas?!’ Monolog Lea dengan kesal.
Tiga puluh menit menunggu, akhirnya pintu terbuka.
Chan berjalan mendekat pada Lea, “Jadi, kau seharian hanya mengerjakan ini?” Ujarnya sambil menunjuk tumpukan kertas di atas meja.
Lea menganggukkan kepala tanpa menjawab.
“Apa kau ini karyawan magang? Hah?” Tanya Chan dengan suara yang sedikit meninggi.
Lea kembali menganggukkan kepala, “Benar, saya adalah karyawan magang karena belum memiliki ijazah”
Chan mengusap wajah dengan kasar, menyesali pertanyaannya, “Biarpun begitu, tapi aku sudah memberimu tugas lain. Kenapa kau malah seharian berada di sini?”
“Bagaimana aku bisa mengerjakan tugas lain jika mereka terus memberikan ini” Jawab Lea sambil menunjuk tumpukan kertas hasil fotokopi.
“Kau ini benar-benar bodoh, ya?! Kau berani menjawab semua perkataanku, tapi diam saja saat karyawan lain mengerjaimu!” Ujar Chan, matanya melotot karena kesal pada Lea.
“Kenapa terus menyebut orang bodoh? Bapak tidak tahu, seberapa saya berusaha agar mendapat beasiswa dan nilai yang tinggi?!”
Chan tercengang melihat ekspresi Lea yang sama sekali tidak takut padanya, “Hei bocah, kau jangan asal bicara, kapan aku terus menyebutmu bodoh?!”
“Sejak beberapa hari yang lalu dan juga... saya bukan bocah”
“Kau ini benar-benar pemberani atau bar-bar?! Kau tidak lupa siapa aku, kan?”
Lea menghembuskan napas dengan kasar, lalu berkata “Saya tidak peduli, bahkan jika Anda mau melaporkan saya ke polisi juga tidak masalah. Saya malah bisa tidur dan makan gratis di penjara!” Ujarnya, lalu meninggalkan Chan yang masih terdiam membisu di tempatnya.
‘Perempuan itu benar-benar menyebalkan, kau lihat saja! Meski Chayra memohon, aku tetap akan memberimu hukuman!’ Gumam Chan, lalu menyusul Lea yang telah hilang dari pandangan.
Sementara dilain tempat, Lea merutuki kebodohan yang telah dilakukannya.
‘Makhluk yang bernama Chan, pasti akan membunuhku besok. Tapi, dia sangat menyebalkan juga tidak peka... aku sudah kelelahan karena seharian berdiri di depan mesin fotokopi dan terkunci di sana, dia malah terus mengomel’
‘Meski begitu... tetap saja, aku salah karena sudah terpancing emosi. Akh... benar-benar merepotkan! Aku harus meminta saran dari Chayra’ Ujar Lea dengan raut wajah frustrasi.
...***...
Happy reading...
Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁
Terima kasih🤗😘🙏🏻