Say Hello

Say Hello
SH 20



‘Entahlah, aku hanya ingin bercerita’ Gumam Lea setelah pesannya terkirim.


Semenit kemudian, ponselnya memberi tanda bahwa ada balasan pesan. Dengan sedikit ragu, Lea membaca balasan pesan dari Matahari.


Matahari :


“Tidak apa-apa, kau sudah melakukan yang terbaik”


“Jangan memikirkan orang yang belum tentu memikirkanmu, lebih baik pikirkan aku yang pasti memikirkanmu😁”


Tara :


“Heh, apa itu? Kenapa kau memikirkanku?”


Matahari :


“Apa seorang teman tidak boleh memikirkan temannya?”


“Jika iya, aku jadi kecewa”


Tara :


“Baiklah, terserah kau saja”


Matahari :


“Tidak semua orang harus menyukai kita, dan tidak semua orang harus kita sukai. Fokus saja pada dirimu dan orang-orang yang selalu mendukungmu”


Tara :


“Iya, kau benar”


“Sesaat, aku merasa sangat rapuh hanya karena satu orang, padahal ada lebih dari satu orang yang akan mendukungku. Terima kasih telah membuatku sadar”


Matahari :


“Jika hanya fokus pada satu masalah, kita akan lupa pada jalan keluar yang ada lebih dari satu”


“Jika kau temanku, kau pasti penuh semangat dan optimis. Karena Tara temanku adalah orang yang seperti itu”


Tara :


“Terima kasih temanku”


Matahari :


“Sama-sama. Sekarang istirahatlah, kau harus bekerja besok”


‘Meskipun hanya obrolan biasa, tapi aku jadi lebih tenang. Kenapa aku merasa Matahari seperti seseorang yang sudah mengenalku di dunia nyata? Terserahlah, aku sudah sangat lelah hari ini. Otak yang pintar, jangan terus mengajakku berpikir. Ayo, kita tidur’ Monolog Lea, lalu menarik selimut kesayangannya dan perlahan terlelap.


Saat yang bersamaan, dilain tempat...


‘Kenapa aku merasa Tara mirip seseorang yang ku kenal? Hah... aku sudah mulai berhalusinasi, mana mungkin Tara mirip dengan dia’ Monolog Chan, lalu membuka laptop dan melanjutkan pekerjaannya.


Chan menghentikan sejenak pekerjaannya, ia melenggang menuju dapur untuk membuat kopi karena mulai mengantuk. Meski mampu membayar seseorang yang bisa membantunya mengurus apartemen, namun ia lebih nyaman tinggal sendiri. Tak hanya Chan, semua member juga tinggal sendiri, kecuali Khai yang sudah menikah dengan Emira.


Setelah kopinya selesai, Chan bermaksud kembali ke ruang kerja namun niatnya tertunda karena mendapat pemberitahuan jika Zhi sedang melakukan siaran langsung. Sambil tersenyum simpul, Chan menekan salah satu tombol pada ponselnya dan seketika wajah Zhi memenuhi layar ponsel tersebut.


Zhi : “Kenapa kakak langsung muncul? Aku bahkan tidak berharap ada member yang menonton”


Chan : “Dasar tidak sopan, aku menunda pekerjaan karena ingin melihat siaran langsungmu, tahu!”


Zhi : “Hahaha... kalau begitu, lanjutkan saja pekerjaan kakak”


Chan : “Tidak mau, aku masih ingin membuatmu kesal”


Zhi : “My Spring... tolong selamatkan aku!”


Percakapan Chan dan member termuda SUN itu sontak membuat siaran langsung semakin ramai ditonton. Meskipun lelah dan banyak pekerjaan, tapi melihat antusias para penggemar setia SUN membuat kedua member tersebut menjadi lebih semangat.


Chan meninggalkan siaran langsung setelah sepuluh menit berlalu. Ia masih harus menyelesaikan pekerjaan dan tak ingin mengganggu Zhi yang tengah bercengkerama dengan para penggemar.


.


.


‘Akh... aku lelah sekali. Padahal sudah tengah malam, tapi pekerjaan ini seolah tak ada habisnya’ Chan menggerutu sambil mengurut pelipis.


Untuk sedikit menghibur diri, Chan memutuskan berisirahat sejenak sembari menonton film. Saat tengah memilih film, tatapannya tertuju pada film yang belum lama ditontonnya bersama Lea.


‘Semakin mengenalnya, semakin aku tahu jika dia unik. Siapa sangka, perempuan sepertinya mempunyai hati yang lembut. Dia seperti... Ya Tuhan... apa yang baru saja ku pikirkan? Kenapa aku menyamakan Lea dengannya? Pikiranku mulai terganggu karena lelah. Besok, aku akan menagih janji bocah jadi-jadian itu karena sudah seenaknya mengganggu pikiranku’ Ujar Chan, lalu menghentikan pekerjaannya dan bergegas tidur.


***Pagi Hari***


Chan membaca majalah sembari menunggu Lea datang ke ruang kerjanya. Hari ini, ia tidak akan lama berada di kantor karena ada pemotretan bersama para member SUN.


“Masuk” Ujar Chan tepat setelah ketukan pintu berbunyi.


Setelah dipersilakan duduk, Lea bertanya, “Apa ada yang bisa saya bantu?”


Chan menganggukkan kepala, “Sore ini, aku ada pemotretan tapi kemeja yang akan ku pakai tertinggal di rumah. Sepulang kerja antarkan kemeja itu ke SUN house, Chayra yang akan menemanimu”


“Ini adalah tugas pertamamu” Ujar Chan lagi.


Sempat bingung dengan perkataan Chan, namun akhirnya Lea teringat janjinya saat hendak mencari bukti perselingkuhan kepala divisi.


“Baik. Apa masih ada hal lain yang bisa saya bantu?” Tanya Lea berbasa-basi. Sebenarnya, ia sudah ingin kabur dari ruangan itu secepat mungkin.


Chan diam sejenak, lalu menjentikkan jari dan berkata, “Buatkan aku kopi”


“Ba...”


“Ba...”


“Aku ingin roti bakar yang ada di kafe seberang kantor”


Lea menganggukkan kepala, “Baik, saya akan...”


“Rasa nanas, tapi nanasnya jangan terlalu matang agar rasa buahnya tidak berkurang”


Lea mulai geram karena Chan terus memotong ucapannya, namun ia tak mau membuat masalah karena sebentar lagi akan mengundurkan diri dari perusahaan setelah kelulusan.


“Saya akan buatkan kopi serta roti bakar yang Anda mau, mohon menunggu sebentar”


“Hanya kopi saja yang dibuat, roti bakarnya beli ke kafe di seberang” Chan sedikit berteriak karena Lea telah berada di ambang pintu.


‘Dia pasti menggerutu sekarang, orang dengan kesabaran yang tipis sepertinya mana bisa tenang saat dikerjai’ Monolog Chan sambil tertawa puas.


.


.


.


Sepulang kerja, Lea mendatangi rumah orang tua Chan untuk mengambil kemeja. Baru memasuki kawasan rumah mewah tersebut, seseorang telah menyambut Lea dengan senyum sumringah.


“Akhirnya datang juga. Ayo, masuk” Chayra menarik tangan Lea agar mengikutinya.


“Sepi sekali, apa ibumu tidak di rumah?” Tanya Lea sambil menengok sekitar.


“Ibu sedang menemui temannya yang punya anak perempuan untuk dijodohkan dengan kakak”


“Kau tidak apa-apa? Mau ku ambilkan minum?” Tanya Chayra saat Lea tiba-tiba terbatuk.


Lea menggelengkan kepala, “Aku baik-baik saja. Kakakmu mau dijodohkan?”


“Eum... menurut ibu, kakak sangat payah mencari pasangan jadi ibu yang akan mencarikan. Asal tahu saja, meskipun punya julukan playboy di antara member lain tapi sebenarnya kakak belum pernah punya pacar” Terang Chayra sambil sedikit berbisik.


“Tapi... apa kakakmu mau dijodohkan?”


Chayra mengangkat kedua bahunya, “Entahlah. Tapi kalau ibu yang merayu, pasti akan kakak pikirkan”


“Kau tunggu di sini sebentar, aku mau mengambil kemejanya” Ujar Chayra lagi, lalu meninggalkan Lea di ruang tamu.


‘Kenapa aku jadi aneh begini? Aku tidak senang mendengar perkataan Chayra’ Gumam Lea pelan.


Tak lama kemudian, Chayra kembali sambil membawa kemeja milik Chan. “Ayo, berangkat!” Ajaknya pada Lea yang mengekor di belakang.


***SUN House***


“Jadi kau sengaja mengerjainya?” Tanya Zal pada Chan yang tengah asyik bermain game bersama Zhi dan Khai.


“Eum, awalnya begitu tapi ternyata dia sangat bisa diandalkan” Jawab Chan.


“Maksudmu?” Dza yang sejak tadi menyimak obrolan rekannya, kini ikut bersuara.


Chan menjeda gamenya, lalu menoleh pada Zal dan Dza yang duduk berdampingan.


“Soal mobil yang rusak memang hanya keisenganku saja. Tapi setelah melihat kinerjanya, aku jadi tertarik untuk merekrutnya sungguhan”


“Bukankah, kau pernah mengatakan kalau dia ingin berhenti setelah kelulusan?” Tanya Ez.


“Memang benar, tapi sekarang ini sangat sulit mencari kerja tanpa relasi. Orang pintar sekalipun, bisa kalah oleh orang dalam. Mau atau tidak, dia pasti akan menerima tawaranku. Dia juga harus membiayai adiknya yang masih sekolah, jadi kecil kemungkinan dia akan menolak. Aku ingin membuatnya bergantung padaku” Terang Chan sambil tersenyum penuh kemenangan.


Khai juga ikut menjeda gamenya, lalu berkata, “Mendengar ceritamu... sepertinya hidup yang dia jalani tidak mudah, jadi jangan terlalu mengerjainya”


“Aku tidak mengerjainya, bahkan aku selalu membantunya. Dia adalah orang dengan kesabaran yang tipis, jadi sangat seru mendengarnya menggerutu sambil memasang ekspresi kesal”


“Hati-hati kalau bicara, nanti kakak bisa menyukainya” Ujar Zhi sambil memukul bahu Chan karena tertawa kencang.


“Mana mungkin aku menyukainya, penampilannya saja tidak jelas. Aku hanya ingin membantunya karena dia teman adikku dan kinerjanya cukup baik. Aku tentu bisa mencari perempuan yang beribu-ribu bahkan berjuta-juta kali lebih baik darinya” Ucap Chan sambil tertawa.


Menyadari sesuatu, Dza segera menyikut lengan Chan yang langsung terdiam karena melihat Lea dan Chayra ada di ambang pintu. Rupanya, kedua perempuan itu mendengar percakapan para member SUN.


Chan bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Lea yang juga berjalan ke arahnya.


“Ak... apa kau membawakan kemejaku?” Tanya Chan dengan gugup.


Melihat mata Lea sudah mengembun, Chan segera menjelaskan, “Aku...”


PLAKKK


Belum sempat Chan bicara, Lea telah lebih dulu menamparnya dan bergegas meninggalkan ruangan itu. Tak hanya Chan dan kelima member, tapi Chayra juga terkejut oleh kejadian yang baru saja terjadi.


“Kak...” Ujar Chayra lirih.


Chan mencegah adiknya yang hendak mendekat dan memberi kode agar adiknya mengejar Lea yang tengah emosi.


...***...


Selamat membaca...


Jangan lupa suka, komentar, beri hadiah, dan subscribe 🙏🏻🤗😁


Terima kasih🙏🏻😍