
Pandangan Lea mulai buram, air mata yang sejak tadi ditahan, kini mengalir begitu saja dari kedua sudut matanya. Chayra benar-benar pergi tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Lea tak menyangka jika Chayra akan sangat marah hingga tak mau lagi bicara denganya. Sejak awal berteman, hubungannya dengan Chayra sangat baik, mereka tidak pernah bertengkar serius hingga membuat hubungan keduanya renggang. Meski kerap berselisih, namun tidak akan berlangsung lama. Bagi Lea, Chayra adalah salah satu orang yang berarti di hidupnya, bukan hanya sekedar sahabat tapi sudah seperti keluarga kandungnya.
Dengan langkah gontai, Lea berjalan menuju kamar. Ia sudah tidak bersemangat untuk melakukan apa pun. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Untuk kesekian kalinya, Lea merutuki kesalahannya pada Chayra.
.
.
Dayyan memperhatikan ruangan yang sejak tadi tertutup rapat. Ia bingung karena kakaknya kembali mengurung diri.
Chan bingung melihat Dayyan mondar-mandir di depan pintu kamarnya, ia lantas mendekat pada calon adik iparnya, “Ada apa?” Tanyanya.
Dayyan lega melihat Chan sudah pulang. Sejak tadi ia ingin menelepon lelaki itu, namun takut jika tindakannya malah membuat Chan panik, sehingga ia hanya diam menunggu kepulangan Chan.
“Kakak kembali mengurung diri” Ujar Dayyan.
“Sejak kapan?!”
“Sejak aku pulang sekolah, kakak sudah mengurung diri”
“Alasannya?”
Dayyan menggelengkan kepala, “Jika aku tahu alasannya, mana mungkin aku panik begini”
Chan menghela napas, meski kesal mendengar jawaban serta ekspresi Dayyan, namun ia tidak berani marah pada calon adik iparnya. Posisinya bisa terancam kalau sampai Dayyan tidak memberikan restu.
“Biar aku yang bicara padanya” Seru Chan.
Chan mengetuk pintu kamar sembari membujuk Lea untuk membukakan pintu, namun tak ada jawaban dari perempuan itu.
“Kakakmu tidak pingsan, kan?” Tanya Chan.
“Tentu saja tidak. Kakakku sangat kuat, dia bahkan bisa mengangkat karung beras” Terang Dayyan.
“Kenapa tidak kau saja yang mengangkatnya? Kakakmu kan bukan kuli panggul” Ucap Chan.
“Aku sedang sekolah. Jika kakak benar-benar menyukai kakakku, seharusnya kakak saja yang membantunya mengangakat karung beras” Ujar Dayyan tak mau kalah.
Kalau saja tak mengingat restu yang harus didapat dari Dayyan, Chan sudah pasti menoyor kening lelaki remaja itu karena tega membuat Lea mengangkat karung beras.
“Kau kembali saja ke kamarmu, biar aku yang bicara pada Lea” Titah Chan.
Dayyan memicingkan sebelah mata, “Awas saja jika berani mengambil kesempatan dalam kesempitan” Ancamnya pada Chan.
“Ya Tuhan... kau pikir, aku lelaki mesum?!”
“Mungkin saja, tak ada yang tahu hati seseorang” Ujar Dayyan sambil melanggang dengan santai dari hadapan Chan.
Chan menatap Dayyan yang semakin menjauh, ‘Sifatnya sama seperti Lea, tapi tetap saja dia lebih mengesalkan’ Gumamnya.
Chan mulai frustrasi karena Lea tak kunjung membukakan pintu, namun senyumnya mengembang setelah mengingat sesuatu. Dengan sigap, Chan membuka pintu itu menggunakan sidik jarinya.
‘Untuk apa aku membeli pintu semahal ini jika tidak bisa membantuku?!’ Gumam Chan sambil tersenyum, lalu melenggang menghampiri Lea yang tengah meringkuk di bawah selimut.
Chan duduk di tepi ranjang, “Apa yang terjadi?” Tanyanya.
“Kenapa menangis?” Tanyanya lagi.
Lea menyingkap selimut yang membungkus tubuh mungilnya, lalu duduk di samping Chan.
“Bagaimana kakak bisa masuk?” Tanya Lea sembari melihat ke arah pintu yang masih terbuka lebar.
Chan mengurut pelipis mendengar kalimat pertama dari Lea. Ia sudah panik sampai frustrasi, perempuan itu malah menanyakan hal yang tidak penting.
“Bisakah kau menanyakan hal yang lebih berbobot dari pada itu?”
Chan mengacak rambutnya, “Aku memakai ini” Ujarnya sambil mengangkat ibu jari.
“Jadi, kenapa kau menangis sampai mengurung diri?” Tanya Chan. Kali ini, ia benar-benar akan membenturkan kepala ke dinding jika Lea kembali mengatakan hal yang tidak penting.
“Chayra...” Ucap Lea sambil menghapus air mata.
“Kenapa Chayra?”
“Tadi dia datang ke sini. Dia masih marah padaku, bahkan dia tidak mau mendengarkan penjelasanku. Kakak tahu kan jika Chayra satu-satunya sahabat yang kupunya” Terang Lea, butiran bening kembali mengalir dari kedua sudut matanya.
“Matamu sudah sembab, berhentilah menangis” Titah Chan sembari mengusap lembut pucuk kepala wanita di sampingnya.
Lea kembali bergeming, “Dia mengira aku berteman dengannya karena ingin mendekati kakak. Tolong beritahu dia jika ini hanya salah paham. Aku memang salah karena tidak memberitahu tentang kita sejak awal. Sekarang, apa pun yang kukatakan, dia sudah tidak percaya lagi”
“Bocah itu memang belum dewasa, kau maklumi saja. Biarkan dia tenang dulu, nanti aku akan bicara dengannya” Ujar Chan menenangkan Lea.
Lea menoleh pada Chan, “Jika dia tidak mau mendengarkan kakak bagaimana?” Tanyanya.
Chan diam sejenak, menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, “Aku tidak akan memberinya uang saku lagi”
Lea berdecak, lalu memukul lengan Chan, “Dia akan semakin membenciku jika begitu! Kakak memang tidak paham perasaan wanita”
Chan melotot mendengar perkataan Lea, “Bagaimana bisa aku tidak paham? Selama ini justru aku yang selalu memahamimu. Ya Tuhan... kenapa kau tidak melihat pengorbananku, hei?” Tanyanya sambil mengacak gemas rambut Lea.
“Kenapa kakak senang sekali menggerutu?”
Chan menggelengkan kepala sembari menatap Lea. Ia heran dengan dirinya sendiri, padahal banyak wanita yang mengejarnya tapi ia malah tertarik pada wanita yang terus-terusan membuatnya frustrasi. ‘Cinta benar-benar buta’ Gumamnya pelan.
“Hah... apa? Kakak mengatakan sesuatu?” Tanya Lea.
“Tidak. Kalau begitu, aku akan meminta kak Dza untuk bicara pada Chayra. Jadi, kau jangan khawatir lagi”
“Kenapa kak Dza?” Tanya Lea penasaran.
“Selain aku, Chayra akan mendengarkan perkataan kak Dza. Mereka cukup dekat karena kak Dza sering menginap di rumah” Ujar Chan menjawab rasa penasaran Lea.
“Jika Chayra tidak memaafkanku, itu berarti salah kakak”
Mata Chan membola mendengar keputusan sepihak dari Lea, “Bagaimana bisa salahku? Kau sendiri yang meminta merahasiakannya”
“Memang benar, tapi kakak yang menawarkan diri untuk membujuk Chayra, jadi... jika tidak berhasil berarti kakak yang salah menjelaskan” Putus Lea dengan santai.
Chan menghela napas, “Kita salahkan saja kak Dza. Kan dia yang akan menjelaskan pada Chayra” Ujarnya.
Dalam hati, Chan berkata, ‘Lebih baik mengkambing hitamkan kak Dza dari pada aku yang disalahkan’
Chan lantas berdiri dari duduk, lalu mengulurkan tangan pada Lea, “Kalau begitu, ayo makan. Aku sengaja tidak makan agar bisa makan malam bersamamu”
Entah sengaja atau tidak, Lea justru berlalu begitu saja tanpa menyambut uluran tangan dari Chan.
“Kenapa diam? Ayo makan, aku juga sudah lapar” Ujar Lea dari ambang pintu. Perempuan itu lantas melenggang tanpa mempedulikan Chan yang masih terdiam di tempatnya.
Chan menyunggingkan senyuman, tak habis pikir dengan sikap Lea. Bisa-bisanya perempuan itu mengabaikan uluran tangannya, padahal di luar sana ‘My Spring’ berebut ingin berjabat tangan denganya.
...***...
...Happy reading......
Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻🤗
Terima kasih 🙏🏻❣