Say Hello

Say Hello
SH 32



Akhir Pekan...


‘Akh... kenapa aku tidak punya pakaian wanita yang benar!’ Ujar Lea setelah membongkar isi lemari namun tak menemukan apa yang dicari.


Seketika, Lea tersenyum sumringah karena mengingat sesuatu. Ia beranjak dari lemari, lalu mengambil sebuah kotak yang ada di bawah tempat tidurnya.


‘Syukurlah, aku masih menyimpan ini’ Ucap Lea sembari membuka kotak yang berisi gaun pemberian dari Chayra sebagai hadiah ulang tahun. Gaun itu juga menjadi satu-satunya pakaian perempuan yang Lea punya selain kemeja dan rok kerja.


Meski pernah pergi berdua dengan Chan, tapi ini kali pertama mereka akan pergi setelah mengakui perasaan masing-masing.


Setelah membaca pesan dari Chan, Lea langsung bergegas keluar untuk menemui laki-laki itu.


‘Untung saja Dayyan tidak ada di rumah. Jika dia melihatku, bisa-bisa aku jadi bahan ejekkannya selama seminggu’ Monolog Lea sembari mengunci pintu rumah, lalu menghampiri Chan yang sudah menunggunya di mobil.


Chan membuka kaca jendela mobil, lalu bersiul sembari memperhatikan penampilan Lea. Gadis itu mengenakan gaun yang panjangnya selutut berwarna cokelat muda berlengan panjang dipadu sepatu serta tas berwarna putih, penampilannya semakin anggun kala rambut panjangnya dibiarkan terurai dengan menyematkan jepit rambut disisi kanan, “Kenapa bidadari ada di bumi?” Tanya Chan.


Lea berdecak, “Jangan mengejekku”


“Kau sengaja berpenampilan seperti ini untuk menemuiku?” Tanya Chan setelah Lea berada di dalam mobil.


“Apa ini terlalu aneh?”


Chan menggelengkan kepala, “Tidak. Kau cantik, tapi jangan merubah penampilan demi aku. Jadilah dirimu sendiri, gunakan pakaian ternyamanmu. Apa pun yang kau pakai, aku tetap suka” Ujar Chan.


Lea menundukkan kepala, “Tapi... kakak sering mengatakan jika penampilanku seperti laki-laki dan tidak jelas” Ucapnya pelan.


Chan menatap lekat pada Lea sembari mengusap pucuk kepala perempuan itu dengan lembut, “Jadi kau tersinggung karena ucapanku? ... Aku minta maaf. Aku memang sering bicara berlebihan, tapi aku tidak bohong... aku menyukaimu karena kau adalah Lea, bukan karena penampilan atau hal lain”


Lea mendongak, membalas tatapan Chan, “Terima kasih”


Chan tersenyum, “Ayo, berangkat”


“Kita akan piknik, tapi tidak menyiapkan apa-apa?!" Tanya Lea.


“Tenang saja, aku sudah menyiapkan semuanya” Ujar Chan, lalu melajukan mobil mewahnya.


1 Jam kemudian...


Lea sangat antusias karena baru pertama kali piknik sejak lima belas tahun lalu. Dulu, saat masih Sekolah Dasar, ia pernah piknik bersama keluarga, namun itu adalah piknik pertama dan terakhir kali baginya.


Chan tersenyum melihat Lea yang sangat bersemangat, “Padahal kau sudah memakai gaun begini, tapi aku hanya bisa mengajakmu piknik. Maaf” Ujar Chan.


Lea menoleh, tersenyum pada Chan yang kini ada di sampingnya, “Tidak apa-apa. Aku justru suka alam terbuka yang tenang, dibandingkan tempat yang ramai”


Lea menyiapkan makanan dan minuman yang tadi dibawa Chan, lalu mengajak lelaki itu untuk makan bersama.


“Duduklah” Ujar Lea sembari menepuk rumput yang dilapisi kain berwarna putih polos.


“Enak sekali... makan es krim di siang hari memang cocok” Ujar Lea lagi.


Chan tertawa melihat ekspresi Lea yang lucu, “Es krim dimakan atau diminum?” Tanya Chan.


Lea diam sejenak, “Dua-duanya. Kalau agak beku, dimakan. Kalau sudah cair, diminum” Terang Lea.


Chan kembali tertawa mendengar jawaban Lea. Salah satu hal yang Chan suka dari Lea adalah, perempuan itu bisa menempatkan diri dalam semua situasi. Terkadang bertingkah lucu seperti anak kecil, tapi akan sangat dewasa ketika menghadapi masalah.


“Bagaimana wawancaramu kemarin?” Tanya Chan.


Lea menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar, “Tidak sesuai harapan. Aku tidak mengerti dengan aturan perusahaan, mereka ingin karyawan yang berpengalaman, tapi tidak memberi kesempatan untuk lulusan baru mendapat pengalaman” Gerutu Lea sambil memakan es krimnya.


“Kau mau surat rekomendasi dariku?”


Lea menggeleng, “Tidak. Biarkan aku bergerak sesuai kemampuanku. Meski sulit, aku tetap akan berusaha”


Chan mengusap kepala Lea, memberi semangat pada perempuan itu, “Baiklah, aku percaya padamu. Tapi... jangan terlalu lama, jangan sampai ayam bertanduk baru kita menikah”


Lea melotot sambil menepis tangan Chan dari kepalanya, “Jahat sekali... kakak mendoakanku supaya lama mendapat kerja?!”


“Bukan begitu maksudku” Ujar Chan sambil mengedipkan mata.


Menyadari ada kejanggalan, Chan segera menoleh ke belakang, “Akh... sial!” Umpatnya.


“Ada apa?” Tanya Lea.


“Menunduklah” Titah Chan sembari melepas jaket yang dipakainya dan menutupkannya di kepala Lea.


“Kak kenapa?” Tanya Lea penasaran.


Chan menggandeng tangan Lea dan berkata, “Jangan menoleh. Ayo ke mobil!”


Lea hendak melepas jaket milik Chan yang menutupi kepalanya, namun laki-laki itu melarang.


“Sebenarnya, ada apa? Kenapa aku harus menutup kepala?”


“Ada paparazi” Jawab Chan sambil melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Lea hanya diam. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi melihat Chan yang juga diam dan fokus pada jalanan, membuatnya jadi enggan bicara.


Chan menepikan mobil di depan supermarket, lalu berkata, “Aku tidak bisa langsung mengantarmu. Aku yakin mereka masih mengikuti. Kita menunggu di supermarket sampai sopirku datang. Setelah menukar mobil, baru aku bisa mengantarmu pulang”


Lea menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa, aku akan pulang sendiri. Kita berhenti di supermarket, lalu setelah lima menit, kakak pulang saja. Aku juga akan pulang”


“Kau marah, ya?” Tanya Chan dengan hati-hati.


“Tidak. Ini adalah resiko dari pilihanku. Cepat atau lambat, hal seperti ini pasti akan terjadi. Calon suamiku kan artis terkenal” Ujar Lea sambil tersenyum.


Lea memberi hormat pada Chan, “Siap komandan!” Ujar Lea dan Chan hanya tertawa melihatnya.


***Keesokan Harinya***


‘Siapa yang menelepon pagi-pagi begini?’ Monolog Chan sambil meraih benda pipih yang ada di nakas dekat ranjangnya.


“Aku belum melihat berita pagi ini” Ujar Chan pada suara di seberang sana.


“Ya. Terima kasih” Ujar Chan lagi, sebelum mengakhiri percakapannya.


Chan terperanjat setelah membaca berita dari layar ponselnya, ‘Akh... Sial” Gumamnya sambil beranjak dari kasur.


.


.


.


Chan bergegas menemui kelima member, Pak Arsel, dan Pak Sugara yang sudah menunggu di ruang rapat.


“Jelaskan ini!” Ujar Pak Sugara sambil memperlihatkan beberapa artikel pada Chan.


“Kau sedang ramai diberitakan karena kedekatanmu dengan Celia, kenapa kau malah ceroboh begini?!” Ujar Pak Sugara lagi.


“Maafkan aku” Ucap Chan.


“Kau benar-benar pacaran dengannya?” Tanya Pak Arsel.


Chan menggelengkan kepala, “Tidak. Perempuan itu bernama Lea” Terang Chan.


Kelima member terkejut mendengar pengakuan Chan.


“Lea teman adikmu?” Tanya Dza.


“Dia juga pernah menjadi karyawan magang di kantor kakak, kan?” Zhi ikut bertanya.


Chan kembali menganggukkan kepala, “Iya. Dia adalah Tara, temanku di aplikasi itu”


Kelima member kembali terkejut mendengar ucapan Chan.


“Bagaimana bisa?!” Tanya Khai penasaran.


Dengan tegas, Pak Sugara bertanya, “Tara, Lea, siapa mereka? Apa yang kalian sembunyikan dari kami?!”


Chan lantas menceritakan semuanya pada kelima member, Pak Sugara, dan Pak Arsel. Sebenarnya, Chan ingin berdiskusi lebih dulu dengan Lea sebelum memberitahu mereka, namun karena situasinya tidak memungkinkan, ia jadi harus bicara demi kebaikan Lea.


“Akh... Kepalaku jadi sakit!” Ujar Pak Sugara sambil memegang kepalanya.


“Padahal baru setahun yang lalu Khai membuat heboh, sekarang kau malah mau mengikuti jejaknya” Ujar Pak Sugara lagi.


Pak Arsel mendekat pada Chan, lalu menepuk pundak lelaki itu, “Kalian benar-benar sudah dewasa sekarang”


“Sudah berapa lama kalian pacaran?” Tanya Zhi.


“Kami tidak pacaran. Aku hanya menunggu sampai Lea mendapat pekerjaan, setelah itu... kami akan menikah”


Kelima member, Pak Sugara, dan Pak Arsel terkejut mendengar ucapan Chan yang sangat santai, bahkan lelaki itu bicara dengan penuh percaya diri.


“Bocah ini... Kau benar-benar ingin melihatku terkena serangan jantung, ya?!” Tanya Pak Sugara dengan kesal.


Chan tersenyum lebar, lalu berkata, “Bukan begitu, tapi tolong pahami aku. Bagaimanapun juga, aku ini laki-laki normal yang ingin menikah dan punya anak-anak yang lucu”


Khai mentoyor bahu Chan, “Aku saja belum punya anak, kau malah mau mendahuluiku!”


“Kalian memang tidak punya perasaan, kak Ez, kak Zal, dan kak Dza saja belum punya seseorang yang disukai, tapi kalian malah bicara hal seperti ini dengan enteng!” Ujar Zhi yang langsung mendapat toyoran dari ketiga kakaknya.


“Sudah hentikan... bisa-bisanya kalian bercanda disituasi begini!” Titah Pak Sugara.


Mendapat teguran dari Pak Sugara, membuat keenam member saling tatap, lalu diam secara bersamaan. Persis anak-anak yang tengah menyesali kesalahan dan membuat ayahnya kesal.


Setelah diam beberapa menit, Khai akhirnya membuka suara, “Saat kau mengatakan tak mau dijodohkan dengan Celia, aku sempat khawatir jika trauma karena perceraian orang tuamu muncul lagi, tapi setelah mendengar keinginanmu untuk menikah, aku jadi lega. Kau sudah dewasa, ya”


“Meski aku kasihan pada Lea, tapi aku bangga karena kau sudah berani mengambil keputusan besar untuk hidupmu” Ujar Ez.


“Sebenarnya, kakak mau memuji atau mencelaku?!” Tanya Chan pada Ez.


“Celaan adalah pujian yang tertunda. Mau kupuji atau cela, sama saja, kan?!”


Chan berdecak, sudah sangat paham dengan Ez yang suka bicara tanpa perasaan. Meski begitu, Chan tahu jika Ez menyayanginya dengan tulus.


Zal lantas mengusap kepala Chan, lalu diikuti oleh Dza, Ez, Khai, dan Zhi. Usapan itu lama-lama berubah menjadi tepukan, hingga membuat Chan berteriak. Sedangkan kelima member justru tertawa puas.


Melihat keakraban keenam member, membuat Pak Arsel dan Pak Sugara tersenyum. Kedua lelaki paruh baya itu jadi tak tega memarahi para member. Apa yang Chan katakan benar, mereka adalah lelaki normal yang ingin mempunyai keluarga kecil sebagai rumah untuk pulang.


...***...


...Happy reading......


Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih 🙏🏻🤗