Say Hello

Say Hello
SH 13



Pagi harinya, Lea baru membaca pesan dari Matahari. Sayangnya, ia memutuskan untuk tidak bertemu. Selain harus ke kampus, ia juga merasa belum siap untuk bertemu. Lea tidak pernah punya teman laki-laki yang dekat dengannya, sehingga ia takut akan goyah jika bertemu saat ini. Lea masih ingin fokus menyelesaikan pendidikan dan mengejar cita-cita, itu sebabnya ia masih menjaga jarak dengan Matahari meskipun juga sangat ingin bertemu.


Lea menghela napas dalam, mengatur emosinya agar tetap stabil, ‘Ayo Lea semangat! Tidak ada hal penting selain sukses untuk saat ini. Kau harus bisa hidup lebih baik!’ Gumam Lea menyemangati diri sendiri.


Lea bergegas saat suara klakson mobil milik Chayra berbunyi berulang kali.


“Tetanggaku bisa mengomel karena suara mobilmu tahu!” Protes Lea sambil berjalan mendekat pada Chayra yang tengah melambaikan tangan dan tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.


“Jika aku hanya membunyikan klakson sekali, telingamu tidak akan dengar” Ujar Chayra yang sudah sangat paham dengan kebiasaan Lea.


Lea berdecak, “Kau kan bisa meneleponku”


Chayra tertawa melihat ekspresi wajah Lea yang sedikit kesal, “Kita sudah hampir terlambat. Ayo, berangkat” Ujar Chayra, lalu melajukan mobil mewahnya.


Sepuluh menit kemudian, keduanya tiba di kampus yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan. Hanya beberapa bulan lagi, Lea dan Chayra akan menyelesaikan pendidikan di Universitas. Lea tentu saja akan mencari pekerjaan dan berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Sedangkan, Chayra akan melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri jika kakaknya mengizinkan.


“Kau kenapa?” Tanya Chayra pada Lea yang sejak di perjalanan menuju kampus hanya diam.


“Temanku ingin bertemu...”


“Teman di aplikasi itu maksudmu?” Potong Chayra sebelum Lea selesai menjelaskan.


“Dan kau mau bertemu dengannya? Aku tidak akan membiarkanmu menemuinya sendirian, itu berbahaya karena kau belum mengenalnya dengan baik” Chayra kembali membuka suara. Ia benar-benar khawatir jika Lea menemui lelaki itu sendirian. Meskipun, Chayra juga tidak punya pacar namun kakaknya sangat menjaganya jadi ia sedikit tahu bagaimana sifat laki-laki.


“Aku menolak untuk bertemu. Kita bahkan sedang di sini sekarang. Dan juga... aku takut goyah jika bertemu dengannya” Terang Lea sambil menatap sahabatnya dengan sendu.


Chayra memukul lengan Lea hingga membuat gadis itu mengaduh kesakitan, “Goyah bagaimana maksudmu? Kau menyukainya?! Yang benar saja, hah!” Ujarnya tak percaya.


“Aku tidak bilang menyukainya. Hanya saja... kau tahu kan, selama ini aku tidak pernah dekat dengan siapa pun. Dia datang saat aku membutuhkan seseorang untuk mengeluh dan dia selalu bisa membuatku yakin juga percaya akan kemampuanku...”


“Sebenarnya, apa yang mau kau katakan? Jangan berputar-putar atau membuatku berpikir” Chayra kembali memotong ucapan Lea karena merasa gemas.


“Aku tidak menyukainya, tapi aku merasa nyaman bicara dengannya. Jika bertemu sekarang, aku khawatir semakin dekat dengannya dan membuat rencana beasiswaku berantakan, aku juga tidak mau cita-citaku terganggu karena laki-laki” Ujar Lea dengan lirih.


Chayra hanya diam, merasa tertampar atas ucapan sahabatnya. Ia tidak memiliki pacar hingga saat ini karena larangan dari kakaknya, tapi Lea justru menjaga perasaannya karena ingin fokus pada beasiswa juga cita-citanya. Dan semua itu, Lea lakukan demi keluarganya yang bahkan bisa dikatakan sudah menelantarkan serta membuatnya sempat mengalami trauma.


Chayra merangkul Lea, “Kau selalu dewasa dalam bertindak, aku bangga punya sahabat sepertimu” Ujarnya, lalu kedua wanita itu tersenyum bersama.


.


.


.


Sementara itu, di tempat lain...


Chan menundukkan kepala sembari menggenggam erat ponselnya, berulang kali menghembuskan napas dengan kasar. Kelima member menjadi bingung karena Chan tiba-tiba diam dan tak bersemangat, padahal beberapa menit lalu ia masih ceria seperti biasa.


Khai menghampiri Chan, lalu ikut duduk di samping pria itu, “Kau kenapa?” Tanyanya.


Chan menoleh dan tersenyum pada Khai, “Tidak” Ujarnya sambil menggelengkan kepala.


“Apa kita baru berkenalan hari ini, sampai kau tidak mau menceritakannya?!” Khai menatap lekat pada Chan.


Chan mendengus, paham akan tatap Khai, ia lalu memberikan gawainya dan menunjukkan isi percakapannya dengan Tara pada Khai.


Khai mengangguk-anggukkan kepala, “Ternyata ini masalahmu? Kau sudah mulai dewasa, ya?!” Tanya Khai sambil mengusap pucuk kepala Chan. Namun, hal itu malah membuat Chan kesal karena tahu jika Khai sedang menggodanya.


Khai membenarkan letak kaca matanya, tersenyum dengan bangga lalu berkata, “Kau harusnya tanya pada kakak yang lebih berpengalaman ini”


Khai lalu menceritakan apa yang tengah dialami Chan pada keempat member lain. Hal itu membuat Chan menyesal karena telah memberitahu Khai yang tidak bisa menutup mulut, tapi ia juga tidak bisa marah. Setelah banyak hal yang terjadi di antara mereka, Khai selalu berusaha mengajak semua member saling terbuka agar tak ada yang merasa sendiri, karena mereka adalah saudara meski bukan dari orang tua yang sama.


“Kau yakin menyukainya?” Ez membuka percakapan setelah mereka puas menggoda Chan.


“Aku belum bisa memastikan dengan benar, itu sebabnya aku ingin mengajaknya bertemu” Jawab Chan dengan jujur.


“Padahal belum bertemu, tapi kakak sudah ditolak” Ucap Zhi dan member lain malah tertawa mendengarnya.


Chan menoyor kepala Zhi dengan kesal, “Aku tidak ditolak, kau jangan mengada-ada!”


Bukannya takut, Zhi malah kembali berkomentar, “Tapi, dia sendiri yang mengatakan tidak bisa bertemu kakak. Tidak mau dan tidak bisa itu sama-sama penolakan, dia hanya memperhalus kalimatnya saja”


Chan melotot pada Zhi, namun tidak mengatakan apa-apa. Mau menjawab juga percuma, Zhi tetap akan mengoloknya.


Ez menepuk bahu Chan sambil berkata, “Kau berhak menyukainya, tapi setelah kalian bertemu. Kita tidak bisa membuat orang lain membenci atau menyukai kita, jadi aturlah hatimu agar kau tahu artinya ketulusan”


“Satu persatu dari kita pasti akan menemukan seseorang yang akan diperjuangkan dan dilindungi. Mungkin, sekarang adalah giliranmu” Ujar Dza sambil tersenyum manis pada Chan. Senyuman yang selalu memberi warna untuk para member.


“Kau harus menemukan kebahagianmu, carilah dia. Jika dia perempuan yang baik, dia juga akan mencarimu. Karena yang baik akan bertemu dengan yang baik” Khai yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan adik-adiknya, ikut bersuara.


“Temui dan kenalkan dia pada kami. Kau bukan hanya mendahului kak Ez, tapi aku dan juga Dza, jadi kami harus memastikan perempuan seperti apa dia. Karena jika kau sudah menjatuhkan pilihan, maka kau harus mempertanggung jawabkannya hingga akhir” Terang Zal, orang yang akan selalu menjadi perisai bagi SUN.


“Kalian semua mengatakan kata-kata mutiara yang keren. Meski aku paling muda, tapi aku akan segera menjadi playboy untuk menggantikan kak Chan. Jadi, aku juga akan mengatakan kalimat yang keren” Ujar Zhi, lantas mendekat pada Chan dan memegang bahu lelaki itu sambil berkata, “Aku akan meneruskan gelar playboy kakak dengan baik. Jadi, jangan khawatir dan kejarlah dia dengan hati serta perasaan yang damai”


Kelima member berdecak, lalu dengan kompak menoyor Zhi yang berlagak seperti seorang pujangga.


Setelah pembicaraan selesai, mereka bersiap menuju lokasi syuting.


Chan tersenyum melihat kelima member yang berjalan lebih dulu, ia merasa bersyukur karena memiliki sahabat yang saling memahami. Meski tak jarang juga beradu mulut, namun mereka tetap bisa menjaga kekompakan.


Chan mengambil ponsel dari saku celananya, membaca kembali pesan dari Tara.


Tara :


“Aku harus menemui dosen pembimbing hari ini, juga harus bekerja. Tapi... sebenarnya, aku belum siap untuk bertemu”


“Maaf”


“Suatu saat, kita pasti bertemu. Tolong tunggu sampai saat itu tiba”


Pesan yang sejak tadi hanya dibaca tapi tidak dibalas karena merasa kecewa hingga tidak tahu harus membalas apa. Namun, setelah bicara pada para member, ia menjadi tahu harus bagaimana sekarang.


Matahari :


“Aku mengerti. Semoga semua berjalan dengan lancar dan harimu menyenangkan”


“Iya, pasti bisa bertemu. Aku akan menunggu sampai kau siap, jadi jangan khawatir”


...***...


Happy reading...


Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih🤗😘🙏🏻