
Chan terbangun karena suara alarm yang sangat nyaring. Ia beranjak dari ruang kerja yang belakangan ini berubah fungsi menjadi kamar tidurnya. Lantaran pulang tengah malam, ia jadi tak sempat bicara pada Lea, padahal banyak hal yang pasti ingin perempuan itu ceritakan soal wawancara kerjanya.
“Selamat pagi nyonya” Sapa Chan sambil berjalan menghampiri Lea yang tengah menyiapkan sarapan.
“Selamat pagi tuan. Ayo, sini” Ujar Lea mengajak Chan agar duduk bersamanya.
Chan menarik kursi, duduk berhadapan dengan Lea. Ia lantas meminum teh hangat yang sudah tersedia di atas meja. Tak hanya minum teh, ia juga memakan sepotong roti tawar berselai cokelat.
Melihat Chan makan dengan lahap meski matanya belum terbuka sempurna, membuat Lea merasa seperti tengah mengurus seorang anak. “Sepertinya, kakak tidur nyenyak semalam” Ujar Lea.
Chan menggelengkan kepala, “Aku baru bisa tidur nyenyak jika di sampingmu” Jawab Chan santai.
Lea mendengus, “Terserah kakak saja mau bicara apa. Apa hari ini kakak juga sibuk?” Tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
“Eum... aku akan sering pulang tengah malam karena harus latihan untuk konser. Tidak apa-apa, kan?” Tanya Chan, matanya lekat mengarah pada Lea.
Lea tertawa, “Tentu saja, kenapa kakak bertanya?”
“Aku khawatir kau akan kesal karena kita tidak punya banyak waktu bersama”
“Kakak harus profesional” Jawab Lea singkat.
“Hah... tenyata hanya aku yang khawatir karena tidak punya banyak waktu bersama. Kau justru terlihat sangat santai” Ujar Chan sambil menyandarkan tubuh ke badan kursi.
“Itu adalah bagian dari pekerjaan kakak, mana mungkin aku melarangnya. Hanya saja... jagalah kesehatan dan jangan sampai terluka” Tutur Lea, lalu melihat ponselnya, “Gawat, aku bisa terlambat...” Ujarnya bersiap beranjak dari duduk.
“Mau ke mana?” Tanya Chan penasaran melihat Lea terburu-buru.
“Ah... aku lupa memberitahu kakak. Wawancaraku berjalan lancar, dan hari ini aku sudah mulai bekerja”
Chan ikut tersenyum melihat Lea yang tersenyum sumringah. Meski dalam hati, ia khawatir jika Lea bekerja di perusahaan milik ayahnya Khai.
“Selamat, ya. Akhirnya kau bisa bekerja” Ujar Chan datar.
“Kenapa ekspresi kakak tidak senang? Bukankah, kakak yang paling menginginkanku mendapat pekerjaan?” Lea memutus ucapannya, matanya menyipit melihat Chan, “Jangan-jangan... kakak sudah tidak berniat menikah denganku, ya?” Selidiknya pada Chan.
Chan menoyor kening Lea pelan, “Jangan bicara yang aneh-aneh. Jika ada yang berpikir seperti itu, justru kaulah orangnya”
Lea berdecak, “Aku akan bersiap, kakak lanjutkan saja sarapannya” Ucap Lea sembari berjalan menjauh.
“Biar kuantar” Teriak Chan agar terdengar oleh Lea yang sudah berada di depan pintu kamar.
20 menit kemudian, Lea menghampiri Chan yang sudah menunggu dan bersiap untuk mengantarnya di hari pertama bekerja.
“Bagaimana? Penampilanku tidak aneh, kan?” Tanya Lea.
Chan menggelengkan kepala, “Tidak aneh, tapi aku tidak suka melihatmu begini. Kau bisa menarik perhatian pria lain, tahu”
Lea menghela napas, “Kakak selalu berpenampilan keren setiap hari, orang-orang yang kakak temui juga lebih banyak dariku, tapi aku tidak pernah protes karena percaya pada kakak” Tutur perempuan itu.
Chan mengaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bersalah karena sudah bersikap tidak adil pada Lea, “Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya takut kau meninggalkanku. Aku tidak pernah menemukan perempuan yang tulus sepertimu, makanya aku takut jika kau berpaling” Ujar Chan pelan.
“Jika bicara rasa takut, sejujurnya akulah yang paling takut. Tidak ada yang spesial dariku, tapi kakak yang hebat ini malah mau bersamaku. Bagaimana aku bisa tidak takut dengan keadaan seperti itu?” Tanya Lea dengan serius.
Chan tersenyum, “Bagiku, kau sangat spesial jadi jangan merasa takut lagi. Terima kasih” Ujarnya sambil mengusap lembut pucuk kepala Lea.
Lea menganggukkan kepala, “Terima kasih. Ah... aku jadi lupa... ayo, berangkat sekarang!” Serunya pada Chan.
.
.
Hingga tak terasa, sudah satu minggu Lea bekerja di perusahaan milik ayahnya Khai. Dan ia masih belum mengetahui jika CEO perusahaan itu adalah sahabat dari Chan.
Di hari kedelapan bekerja, Lea berangkat lebih awal dari biasanya karena akan bertemu dengan asisten CEO EM Fashion guna memperkenalkan diri sebagai karyawan baru sekaligus mempresentasikan hasil kerjanya selama satu minggu sejak bergabung di perusahaan tersebut.
Sampai di kantor, Lea segera menemui rekan-rekan kerja yang sudah berada di ruang rapat. Berulang kali ia mengatur napas untuk mengurangi rasa gugup.
“Jangan gugup, asisten CEO kita sangat ramah dan baik” Bisik salah seorang wanita yang duduk di samping Lea.
“Syukurlah jika begitu. Ini pertama kalinya aku presentasi di tempat kerja, makanya sedikit gugup” Ujar Lea.
“Kau beruntung karena CEO kita tidak bisa hadir, jika beliau yang ada di sini, pasti suasana ruangan ini menjadi suram” Ucap wanita itu lagi.
Lea menelan saliva mendengar perkataan rekan kerjanya, ada sedikit rasa lega namun juga takut. Kali ini, ia memang beruntung karena tidak bertemu langsung dengan CEO perusahaan itu, tapi cepat atau lambat, mereka pasti akan bertemu juga.
Semua yang ada di ruang rapat terdiam kala seorang wanita muda melenggang masuk diikuti dua orang wanita paruh baya. Wanita itu tersenyum ramah, lalu duduk di kursinya.
“Namanya, Ibu Emira. Asisten dari Bapak Khair Daniel Madava, CEO kita” Bisik rekan kerja Lea.
Lea yang memang tidak tahu nama lengkap Khai hanya menganggukkan kepala mendengar penjelasan dari rekannya. Setelah memperkenalkan diri, Lea memulai presentasi di depan Emira dan rekan kerjanya. Usahanya selama seminggu ternyata membuahkan hasil yang memuaskan, presentasinya berjalan lancar sesuai harapan.
Lea bernapas lega sembari memperhatikan Emira yang menghilang dari balik pintu. Pertemuan pertama dengan asisten atasannya memberikan kesan baik.
“Kau tahu siapa Ibu Emira tadi?” Tanya rekan kerja Lea.
“Iya... orang kepercayaan dari Bapak Daniel Madava” Jawab Lea singkat.
“Kau tahu Pak Daniel Madava?”
“Eum... CEO kita” Jawab Lea lagi.
Wanita yang lebih tua dari Lea itu menghela napas, “Bukan itu maksudku. Apa kau tahu jika Pak Daniel Madava adalah artis?” Tanyanya.
Lea menggelengkan kepala tanpa berkata-kata.
“Pak Daniel Madava adalah leader dari boy group SUN”
Mata Lea membola mendengar kata SUN, “Bukankah leader dari SUN adalah Khai?” Tanyanya.
“Iya, nama lengkapnya Khair Daniel Madava”
“Bagaimana bisa? Saat mendaftar di perusahaan ini, aku tidak menemukan informasi semacam itu” Ujar Lea.
“Saat di kantor, beliau memang dikenal dengan nama Daniel. Perusahaan ini juga lebih sering diurus oleh Ibu Emira selaku orang kepercayaan beliau. Sebelumnya, tidak banyak yang tahu jika perusahaan ini dikelola oleh Pak Daniel, tapi setelah salah satu penggemar beliau menjadi karyawan di sini, perusahaan ini jadi dipenuhi oleh penggemar beliau. Sebenarnya, beliau tidak keberatan mempekerjakan penggemarnya, hanya saja... ada yang tiba-tiba menjadi paparazzi hingga membuat beliau merasa terganggu. Akhirnya, beliau menutup informasi di internet mengenai jajaran petinggi di perusahaan ini dan memakai nama Daniel jika di kantor” Terang rekan kerja Lea.
Lea memukul kening, merutuki kecerobohannya. Saat tahu salah satu perusahaan milik Madava Group membuka lowongan, tanpa berpikir panjang, ia langsung mendaftar karena tak ingin menyianyiakan kesempatan, sehingga lupa mencari informasi detail mengenai perusahaan itu.
...***...
...Happy Reading......
Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻😘
Terima kasih🙏🏻❣