Say Hello

Say Hello
SH 7



Lea duduk di sebuah cafe sembari menikmati lemon tea kesukaannya, sesekali matanya melirik pada ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja.


Sebenarnya, ia ingin mengirim pesan pada Matahari, tapi takut jika lelaki itu sedang sibuk. Matahari pernah mengatakan jika pekejaannya tidak memiliki jam kerja yang teratur. Bahkan, pria itu bisa bekerja selama 20 jam dalam satu hari. Meskipun penasaran dengan pekerjaan Matahari, tapi Lea tidak berani untuk bertanya dan hanya menunggu sampai pria itu memberitahunya, sayangnya... hingga kini, Matahari tidak pernah membahas tentang profesinya secara detail.


“Lea...”


Si empunya nama menoleh pada seseorang yang baru saja memanggilnya.


“Kau sudah lama menunggu?” Tanya seorang wanita sambil menyeruput minuman Lea tanpa izin.


Lea hanya menggelengkan kepala melihat kebiasaan sahabatnya yang kerap meminum minumannya tanpa izin. Pasalnya, kedua sahabat itu sangat menyukai lemon tea.


“Kenapa tiba-tiba mengajak bertemu? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Chayra lagi.


Lea menganggukkan kepala, raut wajahnya juga nampak lesu.


Chayra menepuk lengan Lea, “Apa masalahnya?”


“Aku telah membuat kakakmu marah. Besok, dia pasti akan memecatku”


Chayra yang mulanya nampak panik, kini justru terlihat sangat santai, “Ku kira masalah yang sangat serius” Ujarnya kemudian.


“Kau bisa berkata seperti itu karena dia kakakmu, berbeda denganku yang hanya karyawan magang. Dia pasti akan memecatku besok. Bantu aku” Ucap Lea dengan menunjukkan ekspresi memohon.


Chayra terdiam sejenak, lalu tersenyum penuh arti. Melihat hal itu, tentu saja membuat Lea ikut tersenyum.


“Jadi, apa yang harus ku lakukan?” Tanya Lea antusias.


Chayra menggelengkan kepala sembari tersenyum lebar, “Tidak ada” Ujarnya.


Lea menghela napas dalam, menyeruput minumannya dan tak merespon Chayra yang masih tersenyum lebar.


Chayra menepuk pundak Lea sambil berkata, “Kau tenang saja, kak Chan tidak bisa lama ketika marah. Dia juga sedang sibuk pada groupnya, jadi mana ingat soal kejadian hari ini”


“Entahlah. Awas saja, jika tidak seperti yang kau katakan”


“Iya, kau bisa mempercayaiku. Ayo, pesan makanan. Aku lapar” Jawab Chayra, lalu membuka buku menu dan memesan dua porsi nasi goreng serta beberapa cemilan.


***Hari Berikutnya***


Sejak pagi, Chan tidak berada di kantor karena sedang ada pemotretan majalah. Meski hal itu membuat Lea sedikit lega, namun ia tetap khawatir kalau nantinya bertemu Chan.


“Mau makan siang bersama?”


Lea mendongak, matanya tertuju pada seseorang yang kini berdiri di depan kubik meja kerjanya. Mulanya, Lea ingin menolak namun cacing di perutnya tidak bisa diajak kompromi hingga berbunyi disaat yang tepat. Alhasil, ia menyetujui ajakan Felix.


.


.


.


Felix menunjukkan semua menu makanan dan minuman, ia juga merekomendasikan beberapa menu andalan. Lea yang memang tidak pernah pilih-pilih saat makan, langsung menyetujui usulan dari Felix tanpa pikir panjang.


“Kantinnya sangat luas dan bersih, saya baru pertama kali makan di sini” Ujar Lea berbasa-basi sembari menunggu pesanan mereka datang.


Felix tersenyum mendengar pengakuan Lea, ‘Dia sangat terus terang dan apa adanya’ Gumamnya.


“Apa Anda mengatakan sesuatu?”


“Tidak” Ujar Felix sambil menggaruk tengkuknya. “Jika ada waktu senggang, aku akan mengajakmu berkeliling kantin, di sini ada banyak makanan dan minuman enak. Dan juga... tidak usah bicara formal padaku, panggil saja aku kakak” Lanjutnya kemudian.


Lea mengangkat telapak tangan, mengajak lelaki di depannya untuk tos sambil berkata, “Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang kita berteman”


Felix menyambut ajakan tos dari Lea dengan senyum sumringah. Namun, tiba-tiba ia menjadi bingung melihat tingkah aneh Lea yang bersembunyi di bawah meja. Belum sempat bertanya, Lea telah lebih dulu meminta izin ke toilet sambil berlari.


“Kau makan sendirian?”


Suara seseorang mengalihkan perhatian Felix. Sigap, lelaki itu menoleh, “Iya” Jawabnya kemudian.


Baru saja Felix berkata demikian, seorang pegawai kantin datang membawa dua porsi makanan dan juga minuman. Sontak saja, hal itu membuat Felix menjadi salah tingkah karena ketahuan berbohong pada bosnya.


Sementara itu, Chan melipat kedua tangan di dadanya sambil menatap Felix dengan lekat. Lalu, bersiap memakan makanan yang sudah tersaji di atas meja, “Kau sudah memesan untukku juga rupanya” Ujarnya.


Dengan cepat, Felix menghentikan niat Chan dan berkata, “Baiklah, aku minta maaf. Tadi, aku bersama Lea dan sekarang dia sedang ke toilet. Jadi, jangan makan makanannya”


“Kau sudah mulai berani berbohong sejak bergaul dengannya, ya?”


“Jangan bicara seperti itu. Kau bisa makan punyaku” Jawab Felix lalu memberikan makanannya pada Chan.


Menyadari sesuatu, Felix kembali bertanya, “Kenapa pergelangan tanganmu?”


“Terkilir saat latihan”


“Apa sangat sakit?”


“Tidak, tapi dokter melarangku banyak bergerak selama tiga atau empat hari ke depan. Jangan khawatir seperti itu, kau membuatku takut”


“Dia tidak akan kembali” Jawab Chan dengan santai sambil memakan makanannya.


Felix menatap curiga pada Chan, “Apa dia sengaja menghindarimu?”


Chan hanya menganggukkan kepala mendengar pertanyaan Felix.


.


.


.


Jam istirahat telah berlalu, Lea menjadi tak bisa fokus bekerja karena menahan lapar.


‘Akh, kenapa dia harus muncul?! Malang sekali perutku’ Ujar Lea sambil mengelus perutnya.


“Hmmm”


Lea tak berani menoleh karena sangat paham dengan suara seseorang yang kini ada di belakangnya.


“HMMM...”


Tak ingin membuat orang tersebut semakin kesal, Lea akhirnnya berbalik, memberanikan diri menatap Chan yang berdiri tegap dengan kedua tangan di masukkan ke saku celana.


“Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?” Tanyanya dengan kikuk.


“Ikut ke ruanganku sekarang!” Ujar Chan, lalu berjalan mendahului Lea.


Lea memukul keningnya seraya bergumam, ‘Pasti akhirnya begini, sudah ku sangka’ Lalu mengekori Chan yang semakin jauh dari pandangan.


Sesampainya di ruangan kerja Chan, Lea terkejut karena mendapat tugas yang tak biasa. Ia diminta untuk menandatangani foto Chan yang akan dibagikan untuk para penggemarnya. Dan Lea, harus mau melalukannya jika ingin mendapat maaf dari Chan.


“Kau harus membuatnya sama persis, jangan sampai menimbulkan kecurigaan!”


“Bukankah, penggemar Anda akan kecewa jika tahu yang menandatangani orang lain?”


“Aku juga sangat menyayangkan hal ini, tapi tanganku terkilir. Jika digunakan dengan paksa, pulihnya akan semakin lama. Sedangkan, CEO kami sudah berjanji akan membagikan foto ini untuk perayaan hari ulang tahun perusahaan yang akan digelar lusa”


“Begitu rupanya. Totalnya ada 500 foto, banyak sekali. Tapi, untungnya tanda tangan Anda tidak sulit jadi bisa ditiru dengan mudah” Ujar Lea sambil tersenyum, namun ia segera menarik senyumannya karena mendapat tatapan maut dari Chan.


“Maksudmu, tanda tanganku sangat pasaran, begitu?”


“Ti... tidak, Anda jangan berpikir buruk dulu”


“Asal tahu saja, di luar sana banyak yang ingin mendapat tanda tanganku. Dan juga... ini bukan tanda tanganku yang asli”


Kening Lea mengkerut mendengar pernyataan Chan. Dengan cepat, lelaki itu segera menjelaskan, “Jika hanya menggunakan satu tanda tangan, bisa saja ada pihak yang menggunakannya untuk berbuat jahat. Maka dari itu, kami harus membedakan tanda tangan untuk media dan tanda tangan untuk hal pribadi”


“Apa semua artis melakukan itu?” Tanya Lea penasaran.


“Aku juga tidak tahu, tapi banyak yang melakukannya. Sudah, jangan banyak bicara. Cepat kerjakan!”


“Iya, baiklah”


Dua jam kemudian...


Lea mengurut pergelangan tangan sambil tersenyum lega, ia lalu bersiap hendak meninggalkan ruangan tersebut. Namun, suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya juga Chan.


“Letakkan saja di meja. Terima kasih” Ujar Chan pada lelaki paruh baya yang baru saja mengantarkan satu porsi nasi beserta ayam bakar dan berbagai lauk tambahan. Lelaki paruh baya itu berpamitan setelah tugasnya selesai.


“Makanlah sebelum kembali. Kau pasti kelaparan!”


“Benar, saya sangat lapar karena tidak makan siang”


“Siapa juga yang menyuruhmu kabur saat di kantin tadi?”


Lea terkejut karena ternyata Chan menyadari jika tadi ia sengaja menghindar. Sambil tersenyum malu, Lea mengucapkan maaf dengan tulus.


“Bagaimana Anda tahu jika saya suka ayam bakar?” Tanya Lea sebelum menyantap makanannya.


“Jadi, kau suka ayam bakar?” Bukannya menjawab, Chan malah bertanya.


Lea menghela napas panjang, “Lupakan saja. Terima kasih atas makanannya. Saya akan makan sekarang” Ujarnya kemudian.


Chan tak merespon perkataan Lea, namun ia tersenyum melihat perempuan itu sangat menikmati makanannya.


...***...


Happy reading...


Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih🤗😘🙏🏻