
Dua hari sudah berlalu sejak kejadian Celia memberitahu publik tentang latar belakang Lea. Tak hanya penggemar Celia, tapi ada juga penggemar Chan yang tidak terima dan ikut menghujat Lea. Beberapa penggemar Chan ikut menghujat Lea karena mereka mengira jika Lea adalah orang ketiga diantara Chan dan Celia. Padahal sejak awal, Celia dan Chan memang tidak pernah memiliki hubungan spesial. Media hanya membuat berita yang berlebihan demi keuntungan semata.
Lea beranjak dari kamar menuju dapur untuk membuat cokelat hangat. Sejak dua hari lalu, ia mengalami insomnia yang parah. Suara ketukan pintu membuat Lea merasa takut juga penasaran. Ia lantas meletakkan cokelat hangat yang sudah dibuatnya di atas meja, lalu memberanikan diri mendekat pada pintu. Meski awalnya ragu, namun Lea akhirnya membuka pintu kayu itu lantaran suara ketukan yang tak kunjung berhenti.
Setelah pintu terbuka, Lea terkejut melihat seseorang yang kini ada di depannya. Belum sempat Lea mengatakan apa pun, lelaki itu telah lebih dulu memeluknya.
“Maaf... aku datang terlambat. Jangan takut lagi, aku di sini sekarang” Ujar Chan sambil mengusap lembut pucuk kepala Lea.
Lea menangis sesegukkan dalam pelukan Chan, rasa cemasnya berlahan memudar setelah melihat lelaki itu.
“Jangan menangis lagi, matamu sudah sangat sembab” Ujar Chan lagi.
Lea menganggukkan kepala, “Kenapa kakak...”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Dayyan yang mendengar kakaknya tengah bicara dengan seseorang langsung keluar dari kamar dan menghampiri Chan lalu melayangan pukulan tepat di wajah lelaki itu.
Lea terkejut dengan aksi Dayyan, ia segera menghalangi adiknya yang hendak memukul Chan lagi.
“Berhenti Dayyan...” Titah Lea, matanya membulat sempurna menatap Dayyan. Lea mengajak Chan untuk duduk setelah menutup pintu.
“Maaf atas sikap Dayyan” Ujar Lea sembari memberi salap pada pelipis Chan yang memar.
“Tidak apa-apa, aku mengerti perasaannya” Jawab Chan.
Lea melirik Dayyan yang berdiri di sampingnya, “Kau tak mau mengatakan sesuatu?”
Dayyan menatap Chan yang duduk di samping Lea, “Maaf” Ujarnya pelan.
Chan tersenyum ramah, “Kau tidak bersalah, wajar jika kau memukulku. Aku telah membuat kalian kesulitan, maaf” Ujarnya.
Dayyan hanya diam tak menanggapi ucapan Chan, sementara Lea tersenyum tulus.
“Kenapa kakak bisa ke sini?” Tanya Lea sambil menuangkan air ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Chan.
“Aku sudah tidak tahan lagi jika hanya berdiam di SUN house. Untuk sementara, kalian pindah saja ke apartemenku” Ucap Chan.
“Tidak... aku tidak mau!” Tolak Dayyan.
“Tidak akan lama, setidaknya sampai aku menyelesaikan masalah ini. Aku tidak bisa tidur karena mendengar kabar jika ada yang melepar batu hingga membuat kaca jendela ini pecah” Ujar Chan sembari menunjuk kaca jendela rumah kontrakan Lea yang kini di tutup papan karena belum sempat mengganti kacanya. “Aku juga tidak bisa tenang karena pesan ancaman itu. Aku mencemaskan kalian. Jadi, tinggallah di apartemenku. Ini demi keamanan kalian, kumohon” Ucap Chan sambil menatap Lea dan Dayyan secara bergantian.
Mata Lea membola mendengar perkataan Chan, ia tak menyangka jika lelaki itu mengetahui semua hal yang menimpanya, “Bagaimana kakak bisa tahu?” Tanya Lea penasaran.
“Aku mengirim orang untuk berjaga di sini” Terang Chan.
Lea diam sejenak, nampak menimbang perkataan Chan, “Jika itu yang terbaik untuk saat ini, maka aku setuju” Ujarnya kemudian.
Dayyan terkejut mendengar ucapan kakaknya, “Bagaimana bisa kakak semudah itu menerima tawarannya? Bagaimana jika kepindahan kita ke sana semakin menambah masalah?!” Protes Dayyan.
Dengan ekspresi memohon, Chan berkata, “Tolong percayalah, aku akan menyelesaikannya sesegera mungkin”
Lea menatap Dayyan sembari menganggukkan kepala. Sementara Dayyan hanya bisa pasrah dengan keputusan kakaknya. Ia tidak mungkin membiarkan kakaknya tinggal di apartemen seorang pria tanpa ditemani.
Meskipun Dayyan tidak mengatakan apa-apa, namun Chan tersenyum lega karena akhirnya Dayyan mau menerima tawarannya, “Terima kasih” Ujar Chan pada Dayyan. “Berkemaslah, kita pergi sekarang” Ujar Chan lagi.
Selesai berkemas, Lea dan Dayyan meninggalkan kontrakan untuk sementara waktu demi menghindar dari para wartawan dan paparazzi. Jalanan malam yang mulai sepi membuat mobil berwarna hitam itu melaju dengan cepat. Diantara Chan, Lea, dan Dayyan tak ada yang membuka suara, ketiganya seperti tengah berdiskusi dengan pikiran masing-masing, hingga tak terasa mereka tiba di tempat tujuan.
“Ayo, turun” Titah Chan setelah mobil terparkir sempurna.
“Benar” Jawab Lea, dan Dayyan hanya menganggukkan kepala.
Chan mempersilakan Lea dan Dayyan masuk ke apartemennya, lalu mengajak kakak beradik itu berkeliling ruangan sembari menunjukkan kamar mereka.
“Di sini hanya ada dua kamar, jadi Dayyan akan tidur di kamar tamu dan Lea akan tidur di kamarku”
Perkataan Chan membuat kakak beradik itu menoleh bersamaan ke arahnya.
Mendapat tatapan elang dari Dayyan, Chan segera menjelaskan, “Aku akan tidur di ruang kerja, jadi kau jangan khawatir”
‘Calon adik iparku ternyata posesif juga!’ Gumam Chan pelan, hingga tak disadari Dayyan, namun terdengar oleh Lea yang berdiri di sampingnya.
“Kau istirahatlah, aku akan mengantar Lea ke kamar” Ujar Chan lagi.
Dayyan kembali menatap Chan dengan tajam, “Ya Tuhan... jangan terus menatapku seperti itu. Aku benar-benar hanya akan menunjukkan letak kamarnya saja” Terang Chan.
Lea mengulum senyum melihat interaksi kedua lelaki di depannya, sangat lucu tapi juga membuat was-was.
Chan mengedipkan mata, “Ayo ke kamar kita” Ujarnya setelah Dayyan menutup pintu kamar.
Lea melotot, lalu mencubit lengan Chan sembari berakata, “Awas saja berani macam-macam!”
Chan tersenyum melihat ekspresi kesal Lea, lalu mengacak pelan rambut perempuan itu.
Mereka berhenti di depan kamar utama, Chan lantas membuka pintu kamar, “Masuklah, gunakan kamar ini sesukamu. Toh, sebentar lagi... ini akan jadi kamarmu juga” Ujar Chan.
Lea menoleh, menatap lekat lelaki yang berdiri di sampingnya, “Fokus dulu pada masalah yang tengah kita hadapi, jangan terus memikirkan pernikahan”
Chan menghela napas dalam, “Hmmm... baiklah. Lea... aku benar-benar minta maaf atas semua yang menimpamu. Selama tidak bertemu, aku sangat khawatir padamu, aku takut jika kau akan menjauhiku. Terima kasih sudah mau menungguku. Kedepannya, akan lebih banyak hal yang akan kita hadapi, jadi tolong terus bertahan dan jangan pernah lepaskan aku” Ujar Chan tulus.
Mata Lea mengembun, namun tak mau menangis di depan Chan. Selama ini, ia tak pernah berani membuka hati untuk seseorang karena tak percaya diri dan takut jika orang itu tidak bisa menerima kehidupannya yang rumit. Tapi siapa sangka, bak cerita negeri dongeng, ia justru mendapatkan cinta dari pria hebat seperti Chan. Meski akan mengalami hal yang mungkin lebih buruk dari saat ini, namun ia bersyukur dan bahagia karena Chan selalu mengulurkan tangan untuknya.
“Sekarang, istirahatlah. Kau pasti lelah” Titah Chan, lalu berbalik hendak meninggalkan Lea.
“Kak...”
“Eum... kenapa?”
Lea menggaruk tengkuknya, dengan pelan berkata, “Kakak tidak apa-apa tidur di ruang kerja?”
Chan tersenyum simpul, “Kau bertanya karena kasihan padaku atau... memberi kode agar aku tidur di sini?” Tanya Chan sembari menunjuk kamarnya.
Mata Lea membola sempurna, “Tidak... lupakan saja. Aku akan tidur sekarang” Ujarnya, lalu dengan cepat menutup pintu kamar.
Chan tertawa karena melihat Lea salah tingkah, ‘Dia pasti menggerutu sekarang’ Gumamnya sambil melenggang menuju ruang kerja.
...***...
...Happy reading......
Jangan lupa bersyukur, bahagia, like, comment, gift, and subscribe 🙏🏻🤗
Terima kasih 🙏🏻❣