
Hallo semuanya, apa kabar?
Maaf ya, author jarang update🙏🏻 semoga kedepannya bisa lebih rajin update, terima kasih untuk pembaca setia novel 'Say Hello' semoga kalian semua sehat dan bahagia, peluk online dari author 🤗🤗🤗
Selamat membaca~
Keesokan harinya, Chan langsung memanggil kepala divisi keuangan dan Yuna ke ruang kerjanya. Ia tak mau bertele-tele karena sudah mempunyai bukti yang kuat. Bahkan tanpa basa-basi, Chan langsung menunjukkan hasil pengauditan terbaru serta foto kencan kepala divisi dan Yuna. Tentu saja, hal itu membuat kedunya sangat terkejut. Bukan hanya kecurangan tapi perselingkuhan mereka pun terbongkar.
“Sa... saya bisa jelaskan ini Pak” Ujar kepala divisi dengan gugup. Sedangkan, Yuna hanya menganggukan kepala dengan raut wajah pucat serta ketakutan.
“Kalau begitu, cepat jelaskan dengan benar!” Jawab Chan dengan tegas. Meskipun tak akan percaya dengan penjelasan kedua karyawannya, namun hati nuraninya masih memberi kesempatan untuk kedua orang itu bicara.
Dengan suara bergetar, kepala divisi berkata, “Sepertinya ada yang sengaja ingin memfitnah saya. Laporan keuangan sudah saya periksa sebelum diserahkan pada tim audit. Jika terjadi kesalahan, sudah pasti tim administrasi penyebabnya karena tidak teliti saat menginput data. Jadi... tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki ini semua”
Tak mendapat respon dari Chan, kepala divisi kembali berkata, “Mengenai saya dan Yuna... kami benar-benar tidak memiliki hubungan apa-apa. Yuna... dia yang menggoda saya lebih dulu, dan saya memberinya beberapa hadiah kecil sebagai imbalan”
Mata Yuna mengembun mendengar ucapan kepala divisi, tak hanya dipermainkan tapi juga dipermalukan di depan atasannya.
Dengan suara parau, Yuna berkata, “Apa yang kepala divisi katakan tidak benar. Dia memang sengaja memanipulasi laporan keuangan demi kepentingan pribadinya. Dia membeli mobil baru, mengajak keluarganya liburan, serta pindah ke apartemen mewah berkat menggelapkan uang perusahaan”
“Dasar perempuan tak tahu malu!!! Kau juga ikut menikmatinya, jangan berlagak suci!” Umpat kepala divisi, matanya memerah karena menahan amarah.
Belum sempat Yuna membalas umpatan kepala divisi, Chan lebih dulu bergeming, “Hentikan!!! Aku tak mau mendengar pertengkaran kalian. Sekarang, kemasi barang-barang kalian dan surat pemecatan akan segera diberikan”
Mendapat tatapan tajam dari Chan, membuat kepala divisi serta Yuna terdiam dan menuruti perintah dari atasannya itu.
Kabar mengenai penggelapan dana serta perselingkuhan Yuna dan kepala divisi sudah menyebar di perusahaan. Ketika keduanya keluar dari ruangan Chan, para karyawan yang semula berkumpul untuk menggosip langsung kembali ke meja masing-masing dan berlagak seolah tidak tahu apa-apa.
Kepala divisi menghampiri Lea dan dengan lantang berkata, “Kau pasti penyebabnya!!!”
Tak hanya Lea, Yuna, tetapi para karyawan lain juga terkejut dengan tindakan kepala divisi. Meskipun terkenal arogan tapi kepala divisi belum pernah memarahi karyawan wanita, terlebih karyawan magang.
Lea bangun dari duduknya, menatap kepala divisi dengan tegas, “Memangnya apa yang saya lakukan?” Tanyanya.
“Jangan pura-pura tidak tahu. Dasar rubah kecil!” Umpat kepala divisi.
Lea mengepalkan tangan, menahan kesal, “Kenapa Anda jadi kesal pada saya? Anda sendiri yang melakukan kesalahan. Apa kebahagian Anda selama ini masih kurang? Apa Anda tidak kasihan pada anak-anak Anda yang liburan dengan menggunakan uang perusahaan, istri Anda yang tinggal di apartemen mewah, serta perusahaan yang telah Anda rugikan? Kenapa saat semuanya terbongkar, Anda justru menyalahkan saya?!”
“Mulutmu itu benar-benar racun, ya?! Kenapa kau mengurus yang bukan urusanmu?!”
“Apa pun yang terkait dalam laporan keuangan perusahaan tentu menjadi urusan saya”
“Kau...” Kepala divisi yang tak bisa lagi menahan emosi hendak memukul Lea kalau saja tidak dihalangi oleh Felix.
“Kau sudah melakukan kesalahan, apa kau masih mau membuat keributan juga?”
Kepala divisi menarik tangan kanannya dari genggaman Felix, lalu melenggang tanpa berkata-kata.
“Kau tidak apa-apa?”
“Tidak. Terima kasih” Jawab Lea.
“Kau sudah bekerja keras, terima kasih” Ujar Felix sambil tersenyum manis.
Lea hanya menganggukkan kepala, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.
***Sepulang kerja***
Lea menunggu bus sambil melamun, perdebatan dengan kepala divisi membuatnya menjadi tak tenang. Meskipun terlihat tegas, namun sebenarnya Lea tidak bisa marah pada orang lain terlebih orang tersebut lebih tua darinya.
‘Akh... pikiranku jadi kacau balau begini’ Ujar Lea dengan lirih.
Setelah menemukan, Lea segera menghampiri seseorang yang tengah tersenyum sumringah sambil melambaikan tangan ke arahnya.
“Ada apa?” Tanya Lea sambil sedikit membungkuk agar sejajar dengan seseorang yang kini berada di dalam mobil.
“Cepat naik”
Lea menghela napas, lalu menuruti perkataan Chan.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Bukankah, kau baru saja menjadi superhero di kantor? Kau bahkan berani mencibir kepala divisi”
“Superhero apanya? Sekarang, saya jadi malah tidak tenang karena sudah berkata hal buruk pada kepala divisi. Walaupun beliau bersalah, tapi beliau tetap orang yang lebih tua dari saya. Seharusnya, saya bisa lebih menghormati beliau dan tidak berkata dengan nada tinggi seperti tadi”
Chan menoleh, menatap Lea sekilas lalu kembali fokus dengan jalanan. Dalam hatinya, ia merasa heran tapi juga kagum pada Lea. Dari luar, Lea nampak berani dan tegas, namun sebenarnya gadis itu sangat lembut dan penyayang.
“Ternyata kau orang yang seperti itu, ya?”
Lea mengerutkan alisnya, “Apa maksudnya?”
“Kau tidak bisa marah meskipun sudah diperlakukan dengan buruk. Padahal, kau tumbuh dikeluarga yang tidak utuh sepertiku, tapi kenapa hatimu bisa selembut itu?”
Lea terdiam mendengar pertanyaan Chan, hatinya merasa pilu saat ada orang yang memahami perasaannya.
Chan menjadi salah tingkah saat menyadari berubahan ekspresi wajah Lea, “Maaf, pertanyaanku berlebihan. Lupakan saja” Ujarnya.
Lea menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa. Saya juga minta maaf karena terbawa perasaan, padahal itu bukanlah pertanyaan yang sensitif”
“Apa kau mau singgah untuk makan?”
“Tidak, saya makan di rumah saja. Saya ingin cepat pulang dan istirahat” Jawab Lea jujur.
“Baiklah. Kalau begitu, biar ku pesankan saja”
Belum sempat Lea menjawab, Chan lebih dulu menyela, “Jangan menolak!”
“Terima kasih” Ujar Lea dengan pasrah. Jika sudah seperti itu, Chan tidak mungkin bisa dihentikan.
***Rumah Lea***
Lea meletakkan makanan yang tadi dibelikan oleh Chan di atas meja. Lalu berlalu begitu saja, meninggalkan Dayyan yang tengah menatapnya dengan bingung.
“Apa ini kak?” Tanya Dayyan sambil memegang sekotak makanan yang tadi Lea bawa.
“Tidak tahu, makan saja kalau mau” Teriak Lea dari balik pintu kamar.
Setelah membersihkan diri, Lea segera merebahkan tubuh mungilnya di ranjang yang sangat nyaman baginya. Pikirannya masih dipenuhi oleh kepala divisi. Lea merasa telah bersikap berlebihan pada kepala divisi.
‘Seharusnya aku tidak berkata seperti itu di depan karyawan lain. Aku merasa menjadi orang jahat karena membuka aib kepala divisi seperti tadi. Hah... kenapa perasaan bersalah seperti ini selalu muncul setelah emosiku keluar?’
Lea terdiam sejenak, lalu mengambil ponsel dari nakas.
‘Aku butuh teman bicara agar bisa tertidur’ Ujarnya sambil mencari aplikasi ‘Say Hello’ lalu mengirim pesan pada Matahari.
...***...
Happy Reading...
Jangan lupa suka, komentar, beri hadiah, dan subscribe 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Terima kasih🤗😘