Say Hello

Say Hello
SH 15



Mendapat tatapan tajam tak membuat Lea takut, ia justru membalas tatapan Chan. Mereka persis tikus dan kucing yang siap bertarung memperebutkan mangsa. Chan yang mulai terbiasa menghadapi sikap Lea yang keras kepala, akhirnya mengalah dengan mengalihkan pembicaraan.


“Aku akan memberimu waktu tambahan, jadi kau tidak perlu lembur lagi”


Kening Lea mengkerut mendengar penuturan Chan, ingatannya langsung tertuju pada ucapan Chayra saat di kampus, ‘Apa ini ulah Chayra?’ Batinnya.


“Kau mendengarku, kan?” Pertanyaan Chan membuat Lea tersadar dari lamunannya.


Tak ingin hanya menduga, Lea akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Maaf, apa Anda melakukannya atas permintaan Chayra?”


Melihat reaksi bingung dari Chan, Lea kembali bergeming, “Maksud saya... kenapa Anda memperpanjang waktunya? Apa biaya perbaikan mobil Anda sangat mahal?”


Chan menghela napas, ia lupa jika alasan Lea ada di perusahaannya karena kasus penabrakan mobil yang sebenarnya bukanlah masalah besar. Awalnya, Chan memang ingin mengerjai Lea tapi setelah mendengar tentang kehidupan Lea dari Chayra, ia jadi ingin membantu perempuan itu. Namun di luar dugaan, Lea justru bekerja dengan sungguh-sungguh dan bisa diandalkan. Hal itu yang akhirnya membuat Chan ingin memperpanjang masa kerja Lea agar terbiasa dengan pekerjaannya dan setelah kelulusan, ia berencana akan mempekerjakan Lea sebagai karyawan tetap.


“Ternyata sangat mahal, ya?” Lea mengulangi pertanyaannya dengan lirih.


Chan menggaruk tengkuknya, bingung harus menjawab apa. “Meskipun mahal, uangku cukup mengatasinya. Hanya saja...” Chan menjeda ucapannya, di detik berikutnya kembali berkata, “Kau harus menyelesaikan pekerjaanmu dengan benar. Jika terburu-buru maka hasilnya juga tidak akan maksimal. Pokoknya, kau harus menerima keputusanku dengan lapang dada. Kau boleh pulang sekarang!”


Lea menatap sengit pada Chan karena sudah mengambil keputusan sepihak, “Saya permisi!” Ujarnya dengan kesal, lalu beranjak dari ruangan tersebut.


Chan hanya menghela napas melihat kepergian Lea yang tengah kesal. Meski keputusannya sepihak, tapi ia sungguh-sungguh ingin membantu Lea. Chan melakukannya untuk menebus rasa bersalah pada Chayra juga bentuk rasa terima kasih pada Lea yang sudah tulus berteman dengan adiknya. Sejak Chan menjadi idol, Chayra tidak mempunyai teman yang tulus, bahkan adiknya itu sempat merengek untuk kuliah di luar negeri agar bisa mempunyai teman dan hidup dengan tenang tanpa ada media atau paparazi yang terus mengejarnya. Bagi Chan, Chayra dan Lea adalah adik yang harus dijaganya.


Sementara itu...


Lea membereskan meja kerjanya sambil menggerutu, kesal akan keputusan sepihak dari Chan.


‘Memang benar, aku bisa belajar banyak hal di sini tapi bukan berarti mau terus-terusan bekerja dengannya. Aku juga ingin mencari jalanku sendiri. Tapi... gajinya lumayan. Akh... aku jadi bingung’ Gumam Lea.


Setelah membereskan meja kerjanya, Lea bergegas pulang sebelum ketinggalan bus terkahir.


Ketika sedang berjalan menuju halte bus, Lea melihat dua bocah tengah berjalan sembari berpegangan tangan. Kenangan bersama Dayyan langsung berputar dengan cepat di kepalanya. Orang tua Lea sudah sering ribut sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, lalu resmi bercerai ketika Lea memasuki Sekolah Menengah Akhir. Saat itu, Lea ikut ibunya dan Dayyan bersama ayahnya. Karena ibunya Lea tidak bekerja, jadi Lea berusaha untuk mendapat beasiswa agar tidak membebani ayah tirinya. Bahkan, Lea tidak pernah meminta uang jajan. Ia selalu membawa bekal ke sekolah, bekal yang dibawanya pun sisa makanan saat makan malam. Memang miris, tapi bagi Lea bisa diberi tempat untuk tidur sudah cukup. Hingga suatu hari, ibu dan ayah tirinya bertengkar hebat dan dalam pertengkaran yang tak sengaja didengarnya, ayah tirinya merasa pengeluaran keluarga mereka semakin banyak karena adanya Lea di sana. Lea yang tidak ingin ibunya mengalami kegagalan rumah tangga untuk yang kedua kalinya, akhirnya memilih keluar dari rumah itu dan tinggal bersama neneknya. Sebelum menemui neneknya, Lea mengajak Dayyan yang juga sering diperlakukan tidak adil oleh ibu tirinya. Hidup Dayyan juga sama malangnya seperti Lea, ayahnya tidak pernah membela ketika ibu tirinya memperlakukannya dengan tidak adil. Ayahnya justru menutup mata dan telinga, meskipun Dayyan adalah putra kandungnya. Hal itulah yang akhirnya membuat Dayyan membenci kedua orang tuanya.


Kebahagiaan Lea dan Dayyan yang tinggal bersama neneknya pun tidak berlangsung lama, sang nenek meninggal tepat di hari kelulusan Lea. Tentu saja hal itu membuat Lea bersedih di hari bahagianya. Tiga bulan setelah neneknya meninggal, Lea dan Dayyan terpaksa harus keluar dari rumah neneknya karena rumah tersebut akan dijual oleh tante atau adik dari ibunya. Selain pasrah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena rumah tersebut memang milik tantenya. Nasib baik, tantenya masih berbaik hati dengan memberi Lea dan Dayyan uang dari hasil penjualan rumah tersebut sehingga Lea bisa menyewa rumah yang sekarang dihuninya.


Dengan langkah bergetar, Lea mendekati kedua bocah tersebut dan bertanya, “Kenapa kalian di luar malam-malam begini?”


Terkejut akan kedatangan Lea, bocah perempuan tersebut langsung menggandeng erat tangan adik laki-lakinya dan mundur beberapa langkah dari hadapan Lea.


“Jangan takut, kakak bukan orang jahat” Ujar Lea sambil tersenyum ramah, namun kedua bocah itu tetap diam tanpa reaksi.


Bukannya menyerah, Lea justru terus mencoba mengajak kedua anak tersebut bicara, “Apa kalian sudah makan?”


“Di dekat sini ada minimarket yang menjual banyak makanan, apa kalian mau menemani kakak ke sana?” Tanya Lea lagi.


Kakak-beradik itu saling pandang, lalu menganggukkan kepala dengan kompak. Meskipun belum mau diajak bicara, namun Lea sudah bisa tersenyum lega karena kedua bocah tersebut tidak menolak ajakannya.


Hanya berjalan kaki lima menit, mereka telah tiba di minimarket. Lea membiarkan keduanya memilih sesuai dengan apa yang mereka suka, namun kedua anak tersebut masih ragu hingga akhirnya Lea yang berinisiatif memilihkan untuk mereka. Saking semangatnya, keranjang yang ada di tangan Lea sudah penuh dengan berbagai makanan.


“Ayo, kita bayar dulu” Ujar Lea, lalu kedua anak tersebut mengekor di belakangnya. Ketika hendak mengeluarkan dompet, Lea baru menyadari jika uang yang ia punya hanya cukup untuk biaya hidup sampai akhir bulan, namun ia tidak mungkin bisa membuat kedua anak tersebut kecewa.


Setelah menimbang, akhirnya Lea memutuskan tetap membelikan makanan untuk kedua anak tersebut. Sebagai gantinya, mulai besok ia tidak bisa lagi makan di kantin dan harus membawa bekal untuk makan siang.


‘Ku rasa ini bukan masalah, aku juga sudah terbiasa membawa bekal saat masih sekolah dulu’ Gumam Lea pelan.


Setelah selesai membayar, Lea mengajak kedua anak tersebut duduk di depan minimarket yang memang menyediakan tempat duduk untuk pengunjung.


“Kalian mau ke mana malam-malam begini?” Lea kembali mencoba mengajak kedua anak itu bicara.


Lea menganggukkan kepala sambil tersenyum, “Dia adikmu?” Tanyanya kemudian.


“Iya” Jawab anak laki-laki tersebut, diikuti anggukan kepala anak perempuan di sampingnya.


“Apa kalian tinggal di dekat sini?”


Kedua anak itu kembali menganggukkan kepala.


“Sangat bahaya jika kalian berkeliaran malam hari seperti ini. Jika kakak boleh memberi saran, sebaiknya kalian berjualan sampai sore saja. Dan... jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa menemui kakak di depan kantor yang tadi. Kalian mau kan menemui kakak lagi?”


“Iya” Jawab keduanya secara bersamaan.


“Kantor kakak besar sekali. Kakak pasti sangat pintar, saya juga mau bekerja di tempat yang keren dan besar seperti itu” Ujar anak lelaki itu dengan polos hingga membuat Lea tertawa.


“Kalau kalian sudah besar, pasti juga bisa bekerja di tempat yang keren karena kalian anak yang giat”


Dengan mata berbinar, anak perempuan tersebut bertanya, “Benarkah?”


“Tentu saja. Kalian harus belajar yang rajin mulai sekarang” Jawab Lea dengan yakin.


“Karena sudah malam, kalian harus pulang sekarang. Kakak juga akan pulang” Ujar Lea lagi, lalu kedua anak tersebut berpamitan setelah mengucapkan terima kasih.


‘Alasanku ingin mempunyai uang yang banyak agar bisa membantu orang-orang seperti mereka, tolong kabulkan Ya Tuhan’ Gumam Lea sambil menatap kedua anak yang mulai menjauh dari pandangannya.


Setelah melihat jam di tangannya, Lea langsung bergegas menuju halte, ‘Dasar Lea pintar... bisa-bisanya malah bersantai. Sepertinya, aku sudah ketinggalan bus’ Monolog Lea sambil sedikit berlari.


Dan benar saja, Lea sudah ketinggalan bus terakhir.


‘Jika menggunakan taksi, pasti sangat mahal. Meminta Dayyan kemari juga percuma, aku malah akan lebih lama menunggu. Akh... bagaimana, ya?’ Lea kembali bermonolog.


Suara klakson mobil membuat Lea terkejut sekaligus tersadar dari lamunannya.


“Ayo, naik!” Ujar Chan setelah membuka kaca jendela mobil.


‘Bantuan memang selalu datang di saat yang tepat’ Batin Lea. Lalu bergegas menemui Chan sebelum pria itu berubah pikiran dan meninggalkannya.


“Maaf, jika sikap saya tadi berlebihan” Ujar Lea setelah duduk dengan nyaman di kursi penumpang. Ia merasa tidak enak hati karena Chan tetap mau memberi tumpangan meskipun ia sudah menunjukkan kekesalan.


Chan hanya menganggukkan kepala mendengar permintaan maaf dari Lea, “Apa kau mengenal kedua bocah tadi?” Tanyanya kemudian.


“Anda melihatnya?” Bukannya menjawab Lea justru bertanya.


“Iya”


“Kami tidak saling kenal. Melihat mereka, seperti melihat diri saya dan Dayyan di masa kecil. Saya yang sudah sebesar ini saja masih merasa berat menjalani hidup hanya berdua dengan Dayyan, apa lagi mereka yang masih anak-anak. Saya jadi merasa lebih bersyukur setelah bertemu mereka” Terang Lea dengan suara lirih.


Chan memang sudah tahu tentang latar belakang Lea dari Chayra. Tapi, ketika mendengar dan melihat sorot mata Lea, entah mengapa hatinya merasa sakit. Sama seperti Lea, Chan juga tumbuh di keluarga yang tidak utuh. Ia sangat paham bagaimana perasaan Lea saat ini. Dibalik penampilannya yang tomboy, Lea sangatlah rapuh dan kesepian juga butuh perlindungan.


...***...


Happy reading...


Jangan lupa like, comment, vote, gift, and subscribe 🙏🏻😁


Terima kasih🤗😘🙏🏻